PROPOSAL
HUBUNGAN
LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN KEBIASAAN BELAJAR EFEKTIF
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan
bermaksud membantu siswa untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi
kemanusiaannya. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan
sebagai suatu kegiatan yang sistematis kepada terbentuknya kepribadian siswa.
Strategi belajar-mengajar atau kegiatan belajar-mengajar dapat menjadi peluang
pengembangan kebiasaan belajar efektif dimana siswa dituntut mengambil prakarsa
dan memikul tanggungjawab belajar di sekolah.
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan suatu
hubungan timbal balik antara guru dan siswa yang dibimbingnya bertujuan untuk
membantu siswa mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti
pendidikan sekolah dan belajar secara efektif sehingga dapat berprestasi dengan
baik.
Kenyataan yang ada dilingkungan SMP Negeri I
Pulokulon, beberapa siswa kebiasaan belajar efektifnya rendah. Ciri-ciri siswa
yang kebiasaan belajar efektifnya rendah antara lain : Tidak memiliki target,
penurunan konsentrasi, tidak mampu mengulangi apa yang dipelajari, sering
belajar sistem kebut semalam,tidak dapat memilih waktu belajar yang tepat,
selalu terforsir, suasana belajar tidak mengasyikkan, dan tidak dapat mengatur
jadwal belajar. Belajar diartikan sebagai proses mendapatkan pengetahuan dengan
menggunakan pengalaman yang mengarahkan perilaku pada masa yang akan datang
ditandai dengan adanya interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang disengaja
diciptakan.
Siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif
berpikir, menyusun konsep dan makna tentang hal-hal yang dipelajari. Kegiatan
ini merupakan suatu proses bukan suatu hasil dengan demikian belajar
berlangsung aktif dan interaksi dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan
untuk mencapai tujuan.
Kebiasaan belajar, baik dari segi cara belajar,
waktu belajar, keteraturan belajardan suasana belajar merupakan faktor
penunjang keberhasilan siswa. Kebiasaan ini perlu diketahui oleh guru bukan
hanya untuk menyelesaikan pengajaran dengan kebiasaan yang menunjang prestasi
atau sebaliknya. Kebiasaan belajar yang salah harus ditinggalkan dan harus
diperbaiki oleh guru dengan mencoba untuk mengembangkan kebiasaan belajar yang
baru dan lebih bermakna dengan layanan bimbingan belajar.
Belajar dalam penelitian ini adalah belajar efektif,
sehingga apabila siswa mempunyai kebiasaan belajar efektif maka akan bisa berdampak positif terhadap
prestasi belajar. Efektif artinya sejauh mana materi itu dapat dikuasai dengan
hasil yang memuaskan. Kenyataan menunjukkan SMP Negeri I Pulokulon sebagaimana
diharapkan di dalam tujuan pendidikan nasional belum dapat diwujudkan secara
maksimal terbukti ada beberapa siswa berperilaku negatif yaitu kebiasaan
belajar efektifnya rendah. Gejala kebiasaan belajar kurang efektif dapat
dilihat antara lain tidak adanya target prestasi di semester ini, hilangnya
konsentrasi ketika mendengarkan pelajaran di sekolah, tidak pernah mengulangi
apa yang dipelajari, tidak memiliki buku catatan, sering belajar kebut semalam
ketika mau ujian. Gejala tersebut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa,
sehingga siswa tidak dapat berprestasi dengan baik.
Guna mengatasi kebiasaan belajar yang kurang efektif
tersebut, diperlukan kemampuan guru memberikan layanan bimbingan belajar di SMP
Negeri 1 Pulokulon kepada beberapa siswa yang mempunyai kebiasaan belajar
efektifnya rendah untuk mengarahkan pemahaman siswa akan pemanfaatan waktu
khususnya untuk kegiatan belajar meraih prestasi dan memahami semua pengetahuan
dengan mudah, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan saja melainkan
juga pengertian tentang memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat
diterima dalam kehidupan sosial lebih luas terhadap kegiatan belajar.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti
tertarik untuk membuat judul: Hubungan layanan bimbingan belajar dengan
kebiasaan belajar efektif siswa SMP Negeri I Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun
Ajaran 2013/2014.
B.
Identifikasi Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut,
maka diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.
Kurangnya pemberian layanan bimbingan
belajar kepada siswa dalam kegiatan
belajar.
2.
Beberapa siswa yang memiliki kebiasaan
belajar efektif rendah sehingga prestasi belajarnya mengalami penurunan.
3.
Kebiasaan belajar efektif siswa rendah
sehingga pentingnya pemberian layanan bimbingan belajar.
C.
Pembatasan
Masalah
Agar penelitian ini lebih terpusat dan terarah pada
tujuan penelitian maka diperlukan pembatasan masalah. Diharapkan masalah dapat
dikaji secara lebih mendalam untuk memperoleh hasil yang maksimal. Permasalahan
penelitian ini dibatasi pada “Hubungan layanan bimbingan belajar dengan
kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Pulokulon
Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014”.
D.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, rumusan
masalah pada penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana layanan bimbingan belajar pada
siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon?
2.
Bagaimana kebiasaan belajar efektif pada
siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon?
3.
Adakah hubungan yang signifikan antara
layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada SMP Negeri 1
Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun pelajaran 2013/2014?
E.
Tujuan
Penelitian
Tujuan yang
hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data empiris
tentang :
1.
Layanan bimbingan belajar pada siswa
kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
2.
Kebiasaan belajar efektif siswa kelas
VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
3.
Ada tidaknya hubungan layanan bimbingan
belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran
2013/2014
F.
Manfaat
Penelitian
Segala
sesuatu yang dimulai dengan suatu prosedur yang sistematik, pasti mempunyai
kegunaan baik secara teoritis maupun secara
praktis. Demikian juga dalam penelitian ini, adapun penelitian yang
diharapkan adalah sebagai berikut :
1.
Manfaat teoritis
Secara
teoristis, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan
dalam layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif siswa.
2.
Manfaat praktis
a.
Bagi Peneliti
Penelitian
ini dimaksudkan untuk menambah pengalaman, wawasan serta menambah pengetahuan
dalam melaksanakan proses belajar mengajar secara professional terutama dalam
layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif siswa.
b.
Bagi Sekolah
Hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan khususnya
pelaksanaan bimbingan belajar.
c.
Bagi Orang Tua
Dapat
dijadikan pedoman bagi orang tua dalam usaha meningkatkan kebiasaan belajar
anak dirumah. Setelah orang tua atau wali murid mengetahui keadaan putra
putrinya maka orang tua bisa lebih memperhatikan, bisa memberikan dorongan atau
motivasi yang diperlukan sehingga dapat mencapai hasil yang sesuai dengan yang
diinginkan orang tua.
d.
Bagi Siswa
Sebagai
masukan bagi siswa agar dapat meningkatkan kebiasaan belajar dan upaya lebih
mengetahui arti penting kebiasaan belajar efektif bagi kelanjutan
pendidikannya.
BAB
II
KERANGKA
TEORITIS
A.
Deskripsi
Teori
1.
Tinjauan
Tentang Layanan Bimbingan Belajar
a.
Pengertian
Layanan bimbingan belajar
Prayitno dan Erman Amti
(1999:279) memandang layanan bimbingan belajar sebagai salah satu bentuk
layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah, sebagaimana
dikemukakan bahwa :
layanan
bimbingan belajar adalah salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting
diselenggarakan disekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan
yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau
rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak
mendapat layanan bimbingan yang memadai.
Layanan
bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap: (1) pengenalan siswa yang
mengalami masalah belajar, (2) pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah
belajar, dan (3) pemberian bantuan pengentasan belajar.
1)
Pengenalan siswa yang mengalami masalah
Siswa yang mengalami masalah belajar dapat dikenali
melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar,
skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar, dan pengamatan.
a)
Tes hasil belajar yaitu suatu alat yang
disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan
pengajaran yang diterapkan sebelumnya.
b)
Tes kemampuan dasar yaitu hasil belajar
yang dicapai siswa dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimiliki.
Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula. Bilamana seseorang siswa
mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya,
maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah
dalam belajar.
c)
Tes Diagnostik merupakan instrument
untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam
bidang pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata oelajaran berhitung/matematika
apakah dijumpai kesalahan-kesalahan dalam operasi berhitung, atau pemakaian
rumus-rumus; untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam operasi
berhitung, atau pemakaian rumus-rumus; untuk pelajaran bahasa dijumpai
kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. Untuk
semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya
masing-masing.
d)
Analisis hasil belajar atau karya
merupakan bentuk lain dari tes diagnostik. Tujuannya yaitu mengungkapkan
kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu.
Analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan
jalan memeriksa secara langsung materi
hasil belajar yang ditampilkan siswa,
baik melalui tulisan, bentuk grafik atau gambar, bentuk tiga dimensi
yang berupa model, maket, dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan
keterampilan tangan lainnya, serta gerak dan suara. Bentuk hasil belajar yang
lain dapat berupa foto, film, ataupun rekaman video.
2)
Pengungkapan sebab-sebab timbulnya
masalah belajar
Mengungkapkan sebab-sebab timbulnya masalah belajar
siswa yaitu :
a)
Melakukan observasi kelas untuk melihat
perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
b)
Memeriksa penglihatan dan pendengaran
siswa.
c)
Mewawancarai orangtua untuk mengetahui
keharmonisan dalam keluarga.
d)
Memberikan tes kemampuan intelegensi
(IQ).
e)
Melakukan observasi lingkungan sekolah.
f)
Mewawancarai teman sepermainan siswa.
Faktor-faktor penyebab
timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam yaitu :
a)
Faktor intern siswa
Faktor
intern siswa meliputi gangguan psikis-fisik siswa yaitu :
(1)
Bersifat kognitif (ranah cipta), antara
lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/inteligensi siswa.
(2)
Bersifat afektif ( ranah rasa), antara
lain seperti labilnya emosi dan sikap.
(3)
Bersifat psikomotor ( rasah karsa),
antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar
(mata dan telinga).
b)
Faktor ekstern siswa
Faktor ekstern siswa
meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung
aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi :
(1)
Lingkungan keluarga, contohnya:
ketidakharmonisan hubungan ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi
keluarga.
(2)
Lingkungan perkampungan/masyarakat,
contohnya: wilayah perkampungan kumuh ( slum
area ), dan teman sepermainan ( peer
group) yang nakal.
(3)
Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi
dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan
alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
3)
Pemberian bantuan pengentasan belajar
Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapat
bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi
proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
(a) pengajaran perbaikan, (b) kegiatan pengayaan, (c) peningkatan motivasi
belajar, dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.
a)
Pengajaran perbaikan merupakan suatu
bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang
menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan
dalam proses dan hasil belajar. Dalam hal ini, bentuk kesalahan yang paling
pokok berupa kesalahpahaman, dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Apabila
kesalahan-kesalahan itu diperbaiki, maka siswa mempunyai kesempatan untuk
mencapai hasil belajar yang optimal.
b)
Kegiatan pengayaan merupakan suatu
bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang
sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang
terencana untuk menambah memperluaskan pengetahuan dan keterampilan yang telah
dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. Siswa-siswa seperti ini sering
muncul dalam kegiatan pelajaran dengan menggunakan sistem pengajaran yang
terencana secara baik. Misalnya, sistem pengajaran dengan modul, paket belajar,
dan pengajaran yang terprogram lainnya.
c)
Peningkatan
motivasi belajar
Di
sekolah sebagian siswa mungkin telah memiliki motif yang kuat untuk belajar,
tetapi sebagian lagi mungkin belum. Disisi lain, mungkin juga ada siswa yang
semula motifnya amat kuat, tetapi menjadi pudar. Tingkahlaku seperti kurang
semangat, jera, malas, dan sebagainya, dapat dijadikan indikator kurang kuatnya
motif (motivasi)dalam belajar.
Prayitno dan Erman Amti
(1999:286) memandang guru dan staf sekolah lainnya berperan meningkatkan
motivasinya dalam belajar, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Guru dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan
motivasinya dalam belajar. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan yaitu :
1)
Memperjelaskan
tujuan-tujuan belajar. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila
siswa mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapai.
2)
Menyesuaikan
pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa.
3)
Menciptakan suasana
pembelajaran yang menantang, merangsang, dan
menyenangkan.
4)
Memberikan hadiah
(penguatan).
5)
Menciptakan suasana
hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan siswa, serta siswa dan siswa.
6)
Menghindari
tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu (seperti suasana yang
menakutkan, mengecewakan, membingungkan, menjengkelkan)
7)
Melengkapi sumber
dan peralatan belajar.
d)
Pengembangan sikap
dan kebiasaan belajar yang baik
Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang
efektif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan
kebiasaan tidak diharapkan atau tidak efektif. Apabila siswa memiliki kebiasaan
seperti itu, maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai
hasil belajar yang baik, karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui
usaha atau bahkan perjuangan yang keras.
Prayitno dan Erman Amti (1999:287) mengemukakan bahwa sebagian siswa
memerlukan bantuan untuk melihat sikap dan kebiasaan belajarnya, sebagaimana
dikemukakan bahwa :
Sebagian siswa memerlukan bantuan untuk mampu melihat
secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang siswa miliki.
Melalui bantuan ini, siswa diharapkan dapat menentukan kelemahan-kelemahannya
dalam belajar, selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki
kelemahan-kelemahan itu. Untuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau
sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar yaitu :
1)
Belajar berarti
melibatkan diri secara penuh, lebih dari sekadar membaca bahan-bahan yang
tercetak dalam buku-buku teks.
2)
Efektifitas belajar
akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau
tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur.
3)
Kata-kata,
ungkapan-ungkapan, dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari
baru dibaca dengan penuh pengertian.
4)
Sebagian bahan
belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode
belajar.
5)
Belajar dalam
suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik.
6)
Untuk dapat melaksanakan
kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati
yang nyaman, kesehatan yang baik, tidur teratur, dan rekreasi yang memadai.
Prayitno dan Erman Amti
(1999:287) mengemukakan bahwa kebiasaan belajar perlu ditumbuhkan melalui
bantuan terencana, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara
kebetulan, melainkan sering kali perlu ditumbuhkan melalui bantuan terencana,
terutama oleh guru dan orang tua siswa. Untuk itu siswa hendaklah dibantu dalam
hal
sebagai berikut :
1)
Menemukan
motif-motif yang tepat dalam belajar.
2)
Memelihara kondisi
kesehatan yang baik.
3)
Mengatur waktu
belajar, baik di sekolah maupun di rumah.
4)
Memilih tempat
belajar yang baik.
5)
Belajar dengan
menggunakan sumber belajar yang kaya, seperti buku-buku teks dan referensi
lainnya.
6)
Membaca secara baik
dan sesuai kebutuhan, misalnya: kapan membaca secara garis besar, kapan secara
terinci dan sebagainya.
7)
Tidak segan-segan
bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru, teman atau siapa pun
juga.
Di sekolah, di samping
banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula
dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti, angka-angka rapor rendah, tidak naik
kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa-siswa yang
seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa yang mengalami masalah belajar.
Upaya membantu siswa yang mengalami masalah belajar melalui pengajaran
perbaikan, yaitu bentuk bantuan yang diberikan kepada seseorang atau kelompok siswa
yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki
kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar siswa, sehingga siswa
mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
Achmad Juntika Nurihsan (2010:15) mengemukakan bahwa layanan bimbingan
belajar adalah layanan bimbingan dan konseling yang diarahkan untuk membantu
siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah akademik.
Adapun yang termasuk
masalah-masalah akademik, yaitu pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi,
cara belajar, penyelesaikan tugas-tugas dan latihan, cara belajar,
penyelesaikan tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber
belajar, perencanaan pendidikan, dan lain-lain. Siswa akan lebih berhasil dalam
belajar apabila guru menerapkan prinsip-prinsip dan memberikan bimbingan waktu
mengajar. Layanan bimbingan belajar yang dapat dilakukan oleh guru berupa
menjelaskan tujuan dan manfaat belajar, cara belajar, dorongan untuk
berprestasi, dan membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa.
Menurut Achmad Juntika
Nurihsan (2010:25), bimbingan yang dapat diberikan guru sambil mengajar adalah
(1) mengenal dan memahami siswa secara mendalam; (2) memberikan perlakuan
dengan memerhatikan perbedaan individual; (3) memperlakukan siswa secara
manusiawi; (4) memberikan kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal;
dan (5) menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Menurut Achmad Juntika
Nurihsan (2010:25), suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan
prinsip-prinsip bernuasa bimbingan yaitu sebagai berikut :
1)
Tercipta iklim kelas yang permitif, bebas dari ketegangan dan
menempatkan individu sebagai subjek pengajaran.
2)
Adanya pengarahan/orientasi agar
terselenggaranya belajar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya,
maupun dalam keseluruhan proses belajar.
3)
Menerima dan memperlakukan siswa sebagai
siswa yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan
masalah-masalahnya.
4)
Mempersiapkan serta menyelenggarakan
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.
5)
Membina hubungan yang dekat dengan
siswa, menerima siswa yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan.
6)
Guru berusaha mempelajari dan memahami
siswa untuk menentukan kekuatan, kelemahan, kebiasaan, dan kesulitan yang
dihadapinya, terutama dalam hubungannya dengan bidang studi yang diajarkannya.
7)
Memberikan bantuan kepada siswa yang
menghadapi kesulitan, terutama yang berhubungan bidang studi yang diajarkannya.
8)
Pemberian informasi tentang masalah
pendidikan, pengajaran, dan jabatan/karier.
9)
Memberikan bimbingan kelompok di kelas.
10)
Membimbing siswa agar mengembangkan
kebiasaan belajar yang baik.
11)
Memberikan layanan perbaikan bagi
individu yang memerlukannnya.
12)
Bekerja sama dengan tenaga pendidik
lainnya dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh siswa.
13)
Memberikan umpan balik atas hasil
evaluasi.
14)
Memberikan pelayanan rujukan (referal) bagi siswa yang memiliki
kesulitan yang tidak dapat diselesaikan oleh guru sendiri.
. Layanan bimbingan
belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar-mengajar yang
kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar. Guru membantu siswa mengatasi
kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif, membantu siswa agar
sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan
program/pendidikan.
Dewa Ketut Sukardi
(2008:62), mengemukakan bahwa layanan bimbingan belajar adalah layanan
bimbingan dan konseling yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan
dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan
kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan
belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
Dewa Ketut Sukardi
(2008:62-63), mengemukakan bahwa adanya materi kegiatan dalam layanan bimbingan
belajar. Sebagaimana dikemukakan bahwa :
Didalam layanan
bimbingan belajar perlunya materi kegiatan yang diberikan kepada siswa. Materi
kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi :
a.
Mengembangkan
pemahaman tentang diri, terutama pemahaman sikap, sifat, kebiasaan, bakat,
minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahan dan
penanggulangannya, dan usaha-usaha pencapaian cita-cita/perencanaan masa depan.
b.
Mengembangkan
kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam hubungan sosial dengan teman
sebaya, guru, dan masyarakat luas.
c.
Mengembangkan
sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secara efektif dan
efisien.
d.
Teknik
penugasan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi, dan kesenian.
Sukiman (2011:93),
mengemukakan bahwa layanan bimbingan layanan belajar adalah layanan yang
membantu siswa dalam menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau
kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Terkait dengan pendapat
di atas dapat diketahui bahwa layanan bimbingan belajar adalah layanan bantuan
kepada siswa untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui
kegiatan belajar dengan mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti
pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Bimbingan belajar
dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif agar
terhindar dari kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif, membantu
siswa agar sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua
tuntutan program/pendidikan. Bimbingan belajar dapat dilakukan dengan
pendekatan remedial yaitu pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada siswa yang
mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuannya untuk membantu memperbaiki
kekurangan/kelemahan yang dialami siswa.
b.
Pengertian
Belajar
Belajar adalah key term, istilah kunci paling vital
dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah
ada ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan
makna yang terkandung dalam belajar yaitu kegiatan yang berproses dan merupakan
unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang
pendidikan.
Menurut Muhibbin Syah
(2012:68) mengemukakan bahwa belajar secara kualitatif adalah proses memperoleh
arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara menafsirkan dunia disekeliling
siswa. Cara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan tingkahlaku
individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan.
Rita L. Atkinson
(2001:420) mengemukakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan
yang relative permanen pada perilaku yang terjadi akibat latihan, perubahan
perilaku yang terjadi karena maturasi (bukannya latihan), atau pengkondisian
sementara suatu organism (seperti kelelahan atau akibat obat) tidak dimasukan.
Udin S. Winataputra
(2010:14) mengemukakan belajar adalah sebagai proses mendapatkan pengetahuan
dengan membaca dan sebagai proses mendapatkan pengetahuan yang memandu perilaku
pada masa yang akan datang.
Abu Ahmadi (2003:127)
memandang belajar merupakan perubahan tingkahlaku, sebagaimana dikemukakan
bahwa :
Belajar
merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia
melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkahlakunya
berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari
belajar. Belajar berlangsung aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai
bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan.
Ngalim Purwanto (1997:85)
memandang belajar merupakan perubahan tingkahlaku mengarah kepada perubahan
lebih baik, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Belajar adalah
merupakan suatu perubahan dalam tingkahlaku, dimana perubahan itu dapat
mengarah kepada tingkahlaku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan
mengarah kepada tingkahlaku yang lebih buruk. Tingkahlaku yang mengalami
perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik
maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu
masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan,kebiasaan, ataupun sikap.
Dalyono (2009:213)
mengemukakan belajar merupakan perubahan yang harus relative mantap, harus
merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang. Beberapa lama
periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan
itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung
berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
Terkait dengan pendapat
di atas dapat diketahui bahwa belajar itu membawa perubahan dalam hal ini
diperolehnya kecakapan baru yang terjadi karena usaha. Belajar merupakan suatu
proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa.
Siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan
memberikan makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
c.
Cara
Belajar Efektif
Menurut Slameto
(2013:73) mengemukakan cara belajar efektif yang dapat diberikan kepada siswa
yaitu :
1)
Perlunya bimbingan
Siswa perlu pengawasan dan dibimbing dalam proses
belajar.
2)
Kondisi dan Strategi Belajar
Belajar
yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan cara belajar yang
efektif perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini :
a)
Kondisi Internal
Yaitu
kondisi (situasi) yang ada di dalam diri siswa itu sendiri misalnya
kesehatannya, keamanannya, ketenteramannya, dan sebagainya. Siswa dapat belajar
dengan baik apabila kebutuhan-kebutuhan internalnya dapat dipenuhi. Menurut
Maslow ada 7 jenjang kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yakni :
(1)
Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan
jasmani manusia.
(2)
Kebutuhan akan keamanan.
(3)
Kebutuhan akan kebersamaan dan cinta.
(4)
Kebutuhan akan status (misalnya
keinginan akan berhasil).
(5)
Kebutuhan self-actualisation.
(6)
Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti.
(7)
Kebutuhan estetik.
b)
Kondisi Eksternal
Yaitu kondisi
yang ada di luar diri pribadi manusia. Untuk dapat belajar yang efektif
diperlukan lingkungan yang baik dan teratur, misalnya:
(1)
Ruang belajar harus bersih, tidak ada
bau-bau yang menganggu konsentrasi pikiran.
(2)
Ruangan cukup terang, tidak gelap yang
dapat menganggu mata.
(3)
Cukup sarana yang diperlukan untuk
belajar, misalnya alat pelajaran, buku-buku, dan sebagainya.
c)
Strategi belajar
Belajar yang efektif dapat tercapai apabila dapat
menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar diperlukan untuk
dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin.
Hal
yang perlu diperhatikan dalam strategi belajar yaitu :
(1)
Keadaan jasmani.
(2)
Keadaan emosional dan sosial.
(3)
Keadaan lingkungan.
(4)
Memulai belajar.
(5)
Membagi pekerjaan.
(6)
Adanya control.
(7)
Pupuk sikap optimis.
(8)
Waktu bekerja.
(9)
Buatlah suatu rencana kerja.
(10)
Menggunakan waktu.
(11) Belajar
keras tidak merusak.
(12)
Cara mempelajari buku.
(13) Mempertinggi
kecepatan membaca.
(14)
Jangan membaca belaka.
3) Metode Belajar
Metode Belajar adalah cara atau jalan yang harus
dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Belajar bertujuan mendapatkan
pengetahuan, sikap, kecakapan dan ketrampilan
a) Membuat jadwal pelajaran
Pembagian waktu untuk sejumlah
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang setiap harinya.
b) Membaca dan membuat catatan
Membaca buku dan kemudian membuat catatan
untuk dibaca sebagai proses pengulangan atau mengingat materi yang dipelajari.
c) Mengulangi Bahan Pelajaran
Adanya
pengulangan materi yang belum dikuasai dalam belajar.
d) Konsentrasi
Pemusatan pikiran terhadap suatu hal atau materi
yang dipelajari.
e) Mengerjakan Tugas
Mengerjakan
latihan soal dan tugas-tugas yang diberikan guru.
Menurut Suranto
(2007:15), efektif artinya sejauhmana materi itu dikuasai dalam waktu yang
singkat dan biaya yang murah, dengan hasil yang memuaskan. Agar siswa dapat
meraih prestasi dan memahami semua pengetahuan yang diajarkan dengan mudah,
maka siswa harus mengatur strategi belajar yang efektif.
Suranto (2007:16-20)
mengemukakan bahwa strategi belajar yang harus siswa terapkan yaitu :
1)
Menentukan prestasi yang ingin dicapai.
2)
Mengupayakan peningkatan konsentrasi
dalam belajar.
3)
Melakukan kegiatan belajar dengan metode
pengulangan.
4)
Meningkatkan kemampuan mendiskusikan
hasil yang dipelajari bersama teman.
5)
Memiliki buku catatan yang berisi materi
ringkas.
6)
Melakukan
pengulangan
materi dengan mengajari teman lain tentang materi baru yang diperoleh.
7)
Menghindari waktu belajar secara
mendadak menjelang tes ujian.
8)
Meningkatkan
kemampuan
memilih waktu yang tepat untuk belajar.
9)
Pentingnya memperhatikan kondisi fisik dalam belajar.
10)
Memilih suasana mengasyikkan untuk
belajar.
11)
Berlatih akan kewajibannya yaitu
belajar.
12)
Menentukan sendiri mana yang penting
bagi diri siswa.
13)
Mengerjakan dulu prioritas-prioritas
yang telah ditentukan.
14)
Berlatih
bekerja sama dan berkompetensi dalam berprestasi bersama teman lainnya.
15)
Menghargai penilaian guru terhadap hasil
belajar.
16)
Aktif mencari solusi untuk menyelesaikan
masalah belajar.
17)
Mengaktifkan
diri untuk terus maju.
18)
Pengaturan waktu dengan cara membuat
jadwal belajar.
19)
Membuat daftar waktu belajar.
Menurut
Ruslani (2010), cara belajar efektif yaitu siswa harus menghargai setiap detik
dari waktu jam pelajaran di sekolah. Siswa harus bisa mengabaikan segala
sesuatu yang dapat menganggu fokus belajar. Setiap pelajaran yang diajarkan di
sekolah harus pahami dengan sangat cepat.
Terkait dengan pendapat di atas
dapat diketahui cara belajar efektif yaitu :
1)
Memiliki dahulu tujuan belajar yang
pasti.
2)
Mengusahakan adanya tempat belajar yang
memadai.
3)
Jaga kondisi fisik jangan sampai
menganggu konsentrasi dan keaktifan mental.
4)
Menyelingi belajar dengan waktu istrahat
yang teratur.
5)
Merencanakan dan mengikuti jadwal untuk
belajar.
6)
Mencari kalimat-kalimat topik atau inti
pengertian dari tiap paragraf.
7)
Selama belajar menggunakan metode
pengulangan dalam hari (silent
recitation).
8)
Melakukan metode keseluruhan (whole
method) bilamana mungkin.
9)
Mengusahakan agar dapat membaca cepat
tetapi cermat.
10)
Membuat catatan-catatan atau rangkuman
yang tersusun rapi.
11)
Mengadakan penilaian terhadap kesulitan
bahan untuk dipelajari lebih lanjut.
12)
Menyusun dan membuat
pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan mengusahakan untuk menemukan jawaban.
13)
Memusatkan perhatian dengan
sungguh-sungguh pada waktu belajar.
14)
Mempelajari dengan teliti tabel-tabel,
grafik-grafik, dan bahan ilustrasi lainnya.
15)
Membiasakan membuat rangkuman dan
kesimpulan.
16)
Membuat kepastian untuk melengkapi
tugas-tugas belajar itu.
17)
Mempelajari baik-baik pernyataan
(statement) yang dikemukakan oleh pengarang.
18)
Meneliti pendapat beberapa pengarang.
19)
Belajar menggunakan kamus
sebaik-baiknya.
20)
Menganalisa keiasan belajar yang
dilakukan dan mencoba untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
Menurut Taufani C.K
(2008:55), kebiasaan belajar dapat dilihat dari segi cara belajar, waktu
belajar, keteraturan belajar, suasana belajar dan lain-lain yang merupakan
faktor penunjang keberhasilan siswa. Kebiasaan ini perlu diketahui oleh guru
bukan hanya untuk menyelesaikan pengajaran dengan kebiasaan yang menunjang
prestasi atau sebaliknya.
Dalam kaitan ini, guru
mencoba untuk mengembangkan memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar
baru dan lebih bermakna. Untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar
siswa, guru menggunakan teknik observasi atau pengamatan terhadap cara belajar,
misalnya bagaimana cara siswa membaca buku, cara mengerjakan tugas, cara
menjawab pertanyaan, cara mengerjakan tugas, cara menjawab pertanyaan, cara
memecahkan masalah dan berdiskusi. Guru dapat melakukan hal ini setiap saat
proses pengajaran berlangsung agar diperoleh informasi yang akurat.
Menurut Bimo Walgito (2010:142)
bahwa “Cara belajar efektif yang lebih bersifat praktis harus sesuai dengan
situasi yang dihadapi dengan memperhatikan faktor-faktor yang ada di dalam
proses belajar”.
Menurut Bimo Walgito
(2010:142-148), Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar yaitu:
1)
Faktor
anak/individu
Faktor siswa/individu
merupakan faktor dari diri siswa atau individu. Individu terbentuk dari fisik
dan psikis yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain atau
dengan lainnya saling mempengaruhi.
a)
Faktor fisik
Ini berhubungan erat dengan soal kesehatan fisik.
b)
Faktor psikis
Dalam
hal ini, individu harus mempunyai kesiapan mental (mental set) untuk menghadapi tugas. Mental set ini dapat mempengaruhi beberapa hal berikut ini:
(1)
Motif
Motif
merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi minat atau keinginan.
(2)
Minat
Salah
satu faktor yang turut menentukan atau mempengaruhi motif ialah minat atau
keinginan.
(3)
Konsentrasi dan perhatian
Seluruh
perhatian harus dicurahkan kepada apa yang dipelajari.
(4)
Natural
curiousity
Natural
curiousity ialah keinginan untuk mengetahui secara
alami.
(5)
Balance
personality (pribadi yang seimbang)
Keadaan
individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi disekitarnya dengan baik.
(6)
Self
confidence
Self confidence,
yaitu kepercayaan kepada diri sendiri bahwa dirinya juga mempunyai kemampuan.
(7)
Self
discipline
Ini merupakan disiplin terhadap diri sendiri.
(8)
Inteligensi
Faktor
ini akan turut menentukan taktik atau cara apa yang diambil di dalam menghadapi
materi yang harus dipelajari.
(9)
Ingatan
Kemampuan
mengingat dan kemudian melakukan pengulangan materi dengan baik.
2)
Faktor
lingkungan
Faktor
lingkungan ini berhubungan dengan:
a)
Tempat belajar
b)
Alat-alat untuk belajar
c)
Suasana
d)
Waktu
e)
Pergaulan
3)
Faktor
bahan yang dipelajari
Bahan yang dipelajari akan menentukan cara atau
metode belajar apa yang akan ditempuh.
Menurut Eko Suprapto
(2009), Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar yaitu :
1)
Faktor
internal
Factor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu
dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini
meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
a)
Faktor
fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah
faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.
Cara
untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain adalah :
(1)
Menjaga
pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh,
karena kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah,
lesu , dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk belajar.
(2)
Rajin
berolah raga agar tubuh selalu bugar dan sehat.
(3)
Istirahat
yang cukup dan sehat.
b)
Faktor
psikologis
Faktor–faktor psikologis adalah
keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa
faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan
siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
(1)
kecerdasan
/intelegensia siswa
Kecerdasan merupakan faktor
psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu
menentukan kualitas belajar siswa.
(2)
Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor
yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa.
(3)
Minat
Minat (interest) berarti
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu hal yang disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal
lainnya.
(4)
Sikap
Sikap adalah gejala internal yang
mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon.
(5)
Bakat
Kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
2)
Faktor-faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau
faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses
belajar siswa. faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat
digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor
lingkungan nonsosial.
a)
Lingkungan
sosial
(1)
Lingkungan
sosial sekolah.
(2)
Lingkungan
sosial masyarakat yaitu kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa.
(3)
Lingkungan
sosial keluarga.
b)
Lingkungan
non sosial.
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan nonsosial adalah :
(1)
Lingkungan
alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar
yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang
sejuk dantenang.
(2)
Faktor
instrumental, yaitu perangkat belajar yaitu : gedung sekolah, alat-alat
belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga, kurikulum sekolah,
peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, dan silabus.
(3)
Faktor
materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa).
Terkait dengan pendapat di atas dapat diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar yaitu :
1)
Faktor-faktor yang berasal dari luar
dari siswa
a)
Faktor-faktor non sosial
Misalnya : keadaan
udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi atau siang, atau malam), tempat
(letaknya, pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat
tulis menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita
sebut alat-alat pelajaran).
b)
Faktor-faktor sosial dalam belajar
Yang dimaksud dengan
faktor-faktor sosial adalah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia itu
ada (hadir) maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung
hadir. Faktor-faktor tersebut menganggu konsentrasi, sehingga perhatian tidak
dapat ditunjukkan kepada hal yang dipelajari atau aktivitas belajar.
2)
Faktor-faktor yang berasal dari dalam
diri siswa
a)
Faktor-faktor fisiologis
Yang dimaksud dengan
faktor-faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani seperti keadaan jasmani yang
segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar dan
keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang tidak
lelah serta berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar
berlangsung dengan baik.
b)
Faktor-faktor psikologis dalam belajar
Hal yang mendorong
seseorang untuk belajar yaitu
(1)
Adanya sifat ingin tahu dan ingin
menyelidiki dunia yang lebih luas.
(2)
Adanya sifat yang kreatif yang ada pada
manusia dan keinginan untuk selalu maju.
(3)
Adanya keinginan untuk mendapatkan
simpati orangtua, guru, dan teman-teman.
(4)
Adanya keinginan untuk memperbaiki
kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, melalui kompetensi.
(5)
Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa
aman bila menguasai pelajaran.
d.
Hubungan
Layanan Bimbingan Belajar dengan Kebiasaan Belajar Efektif Siswa
Dalam kaitan ini, guru
mencoba untuk mengembangkan memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar
baru dan lebih bermakna melalui layanan bimbingan belajar. Untuk memperoleh
informasi mengenai kebiasaan belajar siswa, guru menggunakan angket dan teknik
observasi atau pengamatan terhadap cara belajar. Guru dapat melakukan hal ini setiap saat agar diperoleh informasi yang
akurat tentang belajar siswa terkait layanan bimbingan belajar.
Layanan bimbingan
belajar adalah layanan bantuan kepada siswa untuk menguasai kemampuan atau
kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar dengan mengembangkan kemampuan
belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara
mandiri. Bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar
mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar, mengembangkan
cara belajar efektif, membantu siswa agar sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan
diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan.
B.
Kerangka
Pikir
Pengaturan
strategi belajar yang efektif membantu siswa meraih prestasi dan memahami semua
pengetahuan yang diajarkan guru dengan mudah dan menjadi kebiasaan dalam
belajar. Setiap siswa diharapkan mempunyai kebiasaan belajar efektif dalam
mengatur strategi belajar, untuk itulah perlu diberikan pelayanan bimbingan
belajar untuk meningkatkan pemahaman tentang kebiasaan belajar efektif siswa,
sehingga diharapkan ada peningkatan prestasi belajar pada siswa.
Gejala kebiasaan
belajar kurang efektif dapat dilihat antara lain tidak adanya target prestasi
di semester ini, hilangnya konsentrasi ketika mendengarkan pelajaran di
sekolah, tidak pernah mengulangi apa yang dipelajari, tidak memiliki buku
catatan, sering belajar kebut semalam ketika mau ujian.
Sifat-sifat tersebut
diatas bila terjadi pada seorang siswa akan mengakibatkan ketidakmampuan
menentukan strategi belajar efektif yaitu tidak dapat menguasai materi dalam
waktu singkat dan biaya yang murah.
Untuk itu siswa cenderung memiliki kebiasaan belajar efektif rendah.
Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat kerangka pikir sebagai berikut:
|
Kebiasaan
Belajar
|
|
SISWA
|
|
Peningkatan
Kebiasaan Belajar Efektif
|
|
Layanan
Bimbingan Belajar
|
Gambar
1. Kerangka Pikir
Berdasarkan
bagan kerangka berpikir diatas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan
dengan pemberian layanan bimbingan belajar kepada siswa dapat meningkatkan
kebiasaan belajar efektif.
C.
Hipotesis
Menurut Nana Sudjana
(2001 : 12), “Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap pernyataan
penelitian”. Sedangkan menurut Husaini Usman dan Purnomo (2003 : 38),
“Hipotesis adalah pernyataan atau jawaban sementara terhadap rumusan penelitian
yang dikemukakan”.
Menurut Sugiyono
(2010:96) mengemukakan bahwa Hipotesis yaitu jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Hipotesis yaitu
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan
sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang
relevan belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui
penggumpulan data.
Dari pendapat di atas
dapat di analisa bahwa hipotesis merupakan dugaan sementara atau jawaban
sementara terhadap rumusan penelitian yang sedang diteliti.
Dalam penelitian ini
dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ho
(Hipotesis nol) : Tidak
ada hubungan antara layanan bimbingan belajar
dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014.
Ha
(Hipotesis Alternatif) : Ada
hubungan antara layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada
siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran
2013/2014.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Tempat
dan Wktu Penelitian
1.
Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan
di SMP Negeri 1 Pulokulon Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Dalam
penelitian ini mengambil kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kecamatan Pulokulon
Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014. Sebab kemampuan belajar efektif
siswa kelas VIII SMP N 1 Pulokulon masih rendah. Permasalahan ini belum pernah
diteliti di SMP N 1 Pulokulon.
2.
Waktu penelitian
Penelitian dilakukan
selama 3 bulan dari bulan April sampai Juni 2014.
B.
Metode
Penelitian
Mengadakan sesuatu penelitian pasti akan menggunakan
cara-cara khusus untuk mendapatkan bahan penelitian maupun dalam usaha
menemukan permasalahan. Maka sebelum membicarakan mengenai metode ataupun
prosedur penelitian, terlebih dahulu perlu untuk memahami masalah metode dalam
penilaian sendiri.
Banyak pengertian tentang metodologi, seperti yang
dikemukakan oleh Sudjana, yaitu sebagai berikut: “Metodologi berasal dari
bahasa yunani yaitu Meta dan Hodos, Meta artinya melalui atau melewati, dan
Hodos artinya jalan atau cara yang harus dicapai untuk meraih tujuan tertentu.
Logi dari kata logos yang artinya ilmu. Dengan demikian arti dari Metodologi
adalah suatu yang membicarakan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk
mencapai tujuan tertentu”. (Sudjana, 2000 : 10).
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat
diambil suatu kesimpulan bahwa metodologi adalah merupakan suatu jalan yang
harus dilakukan untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran dari
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.
Menurut pendapat Winarno Surakhmad, tentang
pengertian metodologi adalah sebagai berikut: “Metodologi adalah usaha untuk
menetukan, mengembangkan dan menguji kebenaran dari suatu pengetahuan, usaha
mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode”. (Winarno Surakhmad, 2000 : 6)
Jadi metode penelitian adalah cara kerja atau jalan
yang harus ditempuh untuk memecahkan masalah pada suatu penelitian. Dalam
metode penelitian sendiri diharapkan dapat diperoleh data ilmiah yang dapat
diterima oleh pikiran atas dasar bukti-bukti konkret dan sistematis, yang
sebenarnya dalam metode penelitian itu terkadang suatu maksud usaha efektivitas
untuk menguji kebenaran.
Purwanto
(2008 : 177) berpendapat, “Penelitian korelasi adalah penelitian yang
melibatkan hubungan satu atau lebih variabel dengan satu atau lebih variabel
lain”. Saiffudin Azwar (2007:21) berpendapat hampir sama, bahwa, “penelitian
korelasional bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan diantara
variabel-variabel yang diteliti tanpa melakukan suatu intervensi terhadap
variabel-variabel yang bersangkutan”. Dengan demikian, penelitian korelasi
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua atu lebih variabel.
Dalam penelitian ini menggunakan penelitian
deskriptif korelasional yang bermaksud mengkaji korelasi layanan bimbingan
belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014.
C.
Populasi
Sampel dan Sampling
1.
Populasi
Saifuddin Azwar, (2007:77) berpendapat, “Populasi
didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil
penelitian”. Suharsimi Arikunto (2002:130) mengemukakan pendapat senada,
“Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”. Encyclopedia
of Educational Evaluation, tertulis, “A
population is a set all elements prosessing one or more attributes of interest;
artinya, populasi adalah suatu set (atau kumpulan) dari semua elemen yang
memproses satu atau lebih sifat-sifat kepentingan”. Dengan demikian, populasi
adalah keseluruhan subyek yang mempunyai satu sifat atau beberapa karakteristik
yang sama yang dijadikan subyek penelitian.
Sugiyono (2010:297) mengemukakan populasi diartikan
sebagai wilayah genelisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakter tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini
adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun
Pelajaran 2013/2014 sebanyak 330 siswa.
2.
Sampel
Suharsimi Arikunto (2002:131) berpendapat, “Sampel
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”, sedangkan Soenarto (dalam
Purwanto, 2008:242) mengatakan bahwa, “Sampel adalah suatu bagian yang dipilih
dengan cara tertentu untuk mewakili keseluruhan kelompok populasi ”.
Menurut Sugiyono (2010:118) mengemukakan yang
dimaksud Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
populasi tersebut.
Dengan demikian, Sampel adalah bagian atau wakil
dari populasi yang diteliti. Sampel yang diambil dari populasi bukan
semata-mata sebagian populasi, tetapi harus representative (mewakili).
Apakah suatu sampel merupakan representasi yang baik
bagi populasinya sangat tergantung pada sejauh mana karakteristik sampel itu
sama dengan karakteristik populasinya. Saifuddin Azwar (2007:79) mengatakan,
“karena analisis penelitian didasarkan pada data sampel, sedangkan kesimpulanya
nanti akan diterapkan pada populasi, maka sangatlah penting untuk memperoleh
sampel yang representative bagi populasinya”. Pendapat senada dikemukakan
Soegiyono ( dalam Purwanto,2008:243) yang mengatakan bahwa, “Bila sampel yang
dipilih tidak representative maka kesimpulan yang dibuat atas populasi menjadi
salah”. Dengan demikian, sampel yang dipilih harus mewakili populasi penelitian
agar tepat dalam penarikan kesimpulan sampel (sampling techniques) yang tepat.
Dalam penelitian ini menggunakan sampel sebesar 33
siswa dipilih untuk mewakili populasi penelitian yaitu :
SAMPEL
|
KELAS
|
JUMLAH
SISWA
|
|
8A
|
4 Siswa
|
|
8B
|
4 Siswa
|
|
8C
|
4 Siswa
|
|
8D
|
4 Siswa
|
|
8E
|
4 Siswa
|
|
8F
|
4 Siswa
|
|
8G
|
5 Siswa
|
|
8H
|
4 Siswa
|
3.
Teknik
Sampling
Menurut Sugiyono (2010: 118) mengemukakan teknik
sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel
yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang
digunakan yaitu Probability Sampling dan Nonprobality Sampling.
Menurut Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi
(2003:111-112), cara ini lebih mantap untuk dipilih karena pengambilan sampel
yang tanpa dipilih atau tanpa pandang bulu didasarkan atas prinsip-prinsip
matematis yang telah diuji dalam praktek. Penelitian ini pengambilan sampel
dilakukan secara acak atau random.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat
disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang mewakili
seluruh populasi yang ada. Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah Propotional Randum
Sampling yaitu cara pengambilan sampel secara random didasarkan pada kelompok,
tidak didasarkan pada kepentingan anggota-anggotanya.
Dalam penelitian ini, ukuran sampel yang diambil
sebesar 10% lebih dari populasi. Hal ini sesuai ketentuan bahwa jika subyek
penelitian lebih besar dari 100 dapat diambil 10-15% atau 20-25% sehingga
subjek penelitian sebesar 33 siswa.
D.
Variabel
Penelitian
Sugiyono (2010:61) mengemukakan variabel penelitian
adalah atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang
mempunyai variasi tertentu yang diharapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel adalah obyek yang akan diteliti. Menurut
Suharsimi Arikunto (2002:144) variabel adalah obyek penelitian atau apa yang
menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Menurut
Y.W Best dalam Sanapiah Faisal ( Cholid dan Abu Ahmad, 2003:118) lebih tegas
mengatakan bahwa variabel penelitian merupakan kondisi-kondisi atau
serenteristik-serenteristik yang oleh peneliti dimanipulasikan, diobservasi
dalam suatu penelitian.
Variabel
dalam penelitian tentang layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar
efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon ini ada 2 yaitu:
1.
Variable Independent/variable bebas (x)
adalah layanan bimbingan belajar.
2.
Variable dependent/terikat (y) adalah
kebiasaan belajar efektif.
E.
Alat
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan
dengan metode dokumentasi, observasi maupun metode angket.
1.
Metode Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari bahasa
inggris “documentation” yang berarti pembuktian dengan memperlihatkan
naskah-naskah yang bertalian.
Winarno
Surakhmad merumuskan pengertian dokumentasi sebagai laporan tertulis dari suatu
peristiwa, yang isinya terdiri atas penjelasan-penjelasan dan
pemikiran-pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk
mengumpan atau meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut.
Teknik
dokumentasi adalah teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dengan
usaha mempelajari dan membuktikan laporan tertulis dari suatu peristiwa yang
isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran yang bertalian dengan yang
dibutuhkan.
Pengumpulan
data dengan mempergunakan metode dokumentasi berarti suatu cara pengumpulan
data dengan mengambil data dari sumber-sumber dokumen yang ada. Di dalam
penyelidikan ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang
siswa sebagai subyek penelitian.
2.
Metode Angket
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:128), Angket adalah
sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui.
Menurut Banun Sri Haksasi (2007:15) mengemukakan
bahwa angket adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus
dijawab atau dikerjakan oleh orang yang diselidiki atau sering disebut
responden. Angket berfungsi sebagai teknik pengumpulan data sekaligus sebagai
alat penggumpul data.
Menurut Sugiyono (2010:1999), Angket adalah teknik
penggumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan
atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode
angket adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan
serangkaian pernyataan atau pertanyaan tertulis yang diajukan kepada responden
untuk memperoleh jawaban secara tertulis pula. Teknik pengumpulan data ini
merupakan cara yang praktis untuk mendapatkan sejumlah informasi atau
keterangan pada responden dalam jumlah yang besar dengan waktu yang singkat.
Teknik ini dapat mengungkap gejala yang tidak dapat
diperoleh dengan jalan observasi yang cenderung pada aspek tingkahlaku yang
kasat mata. Angket dapat mengungkap suasana kejiwaan seperti: tanggapan,
harapan, pendapat, prasangka, sikap, kecenderungan, dan sebagainya. Adapun isi
pertanyaan ini meliputi: pertanyaan tentang fakta, pertanyaan tentang pendapat
dan sikap, pertanyaan tentang informasi, dan pertanyaan tentang persepsi diri.
Data dapat dikumpulkan langsung pada individu secara langsung maupun pihak
lain.
Banun Sri Haksasi (2007 : 22) menjelaskan tentang
kebaikan dan kelemahan teknik kuesioner atau angket sebagai metode pengumpulan
data yaitu sebagai berikut :
a.
Kebaikan
:
1)
Dapat
dipergunakan untuk mengumpulkan data kepada sejumlah responden dalam waktu yang
singkat
2)
Dari
segi biaya relatif murah
3)
Dari
segi tenaga, hanya sedikit tenaga yang dibutuhkan
4)
Dapat
dilakukan serempak terhadap sejumlah obyek yang ingin diselidiki
5)
Setiap
responden menerima pertanyaan yang sama
6)
Responden
mempunyai kebebasan untuk memberikan keterangan/jawaban
7)
Responden
mempunyai waktu yang cukup untuk menjawab
8)
Pengaruh
subyektivitas dapat dihindarkan.
b.
Kelemahan
:
1)
Responden
tidak dapat dijamin untuk memberikan jawaban secara tepat
2)
Hanya
terbatas pada responden yang dapat membaca serta menulis
3)
Kemungkinan
berhadapan muka secara langsung tidak ada/kecil sehingga bila ada pertanyaan
kurang jelas, responden tidak dapat meminta keterangan
4)
Kemungkinan
responden tidak selesai dalam menjawab pertanyaan yang disajikan, sehingga
perkiraan waktu sangat dibutuhkan
5)
Pertanyaan
yang tersaji telah tetap dan tertentu, tidak dapat diubah sesuai kondisi dan
kemampuan respon sehingga sifatnya agak kaku
6)
Kadang-kadang
ada responden yang tidak bersedia untuk mengisi angket/kuesioner
7)
Pertanyaan
yang disajikan bersifat terbatas sehingga tidak dapat mengungkap data lebih
lengkap atau ada hal-hal yang mungkin tidak dapat diungkap.
Metode dalam penilaian ini
menggunakan metode angket. Angket digunakan untuk mencari informasi dan
mengungkap data tentang hubungan layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan
belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan
Tahun Ajaran 2013/2014. Variable Independent/variable bebas (x) adalah layanan
bimbingan belajar dan variable dependent/terikat (y) adalah kebiasaan belajar
efektif.
Angket
yang digunakan pada penelitian ini bersifat tertutup karena pertanyaan yang
diberikan pada responden telah disediakan jawaban dengan taraf kesetujuan atau
ketidaksetujuan dalam variasi-variasi sangat setuju (SS), setuju (S), tidak
setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Berdasarkan isinya, angket dalam
penelitian ini memuat pertanyaan mendukung atau positif dengan skor :
SS=4,S=3,TS=2, dan STS=1.
F.
UJI
Validitas dan Reliabilitas
1.
Validitas
Menurut Sugiyono (2010:363) mengemukakan bahwa
validitas adalah derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek
penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti.
Menurut Anwar Sutoyo (2009:67), validitas mengandung
arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya, atau apakah sebuah tes mengukur apa yang seharusnya diukur.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Prinsip validitas
adalah pengukuran atau pengamatan yang berprinsip keandalan instrument dalam
mengumpulkan data. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran dan
pengamatan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus korelasi Product
Moment (Arikunto, 2002:146) sebagai berikut:
rxy = Koefisien korelasi
N = Jumlah responden
Sxy = Jumlah hasil x dan y
Sx =
Jumlah x
Sy =
Jumlah y
X =
Variabel bebas
Y =
Variabel terikat
Setelah diperoleh hasil
perhitungan r xy, kemudian
dicocokan dengan nilai r tabel.
Bila, hasilnya lebih dari r tabel (r hitung>rtabel ) maka
angket tersebut valid.
2.
Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada satu
pengertian bahwa suatu instrument tercukup dapat dipercaya untuk digunakan
sebagai alat pengumpulan data karena instrument tersebut sudah baik. Instrument
yang baik akan bersifat tendensius yaitu responden untuk memilih jawaban
tertentu. Reliable artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan (Arikunto,
2002:154).
Menurut
Anwar Sutoyo (2009:67), reliabel mengacu pada skor yang dicapai oleh orang yang
sama ketika mereka diuji ulang dengan tes yang sama pada ketepatan berbeda,
atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen yang berbeda, atau dalam kondisi
pengujian yang berbeda.
Untuk mengetahui reliabilitas angket
digunakan rumus Spearman Brown sebagai berikut :
ri =
Reliabilitas instrumen
rb = Korelasi product moment
Setelah
diperoleh hasil perhitungan ri ,
kemudian dicocokan dengan nilai r tabel.
Bila, hasilnya lebih dari r tabel (r hitung>rtabel ) maka
angket tersebut reliable.
G.
Teknik
Analisis Data
Analisis
statistik yang terdiri dari :
1.
Analisis deskriptif
Yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan
atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Menurut
Nana Sudjana (2001:153), perhitungan indeks persentasi dihitung dengan rumus
sebagai beikut :
Keterangan
:
% Skor = Tingkat keberhasilan yang dicapai
n = Jumlah nilai yang diperoleh
N
= Jumlah seluruh nilai
Pengukuran pada variabel yang
diungkap dengan dilakukan pemberian skor dari jawaban angket yang diisi siswa.
2.
Analisis Korelasi
Yaitu teknik statistik yang digunakan
untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diperlakukan untuk populasi.
Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel dari populasi yang jelas, dan
teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random.Menurut
Sugiyono (2010:255), perhitungan koefisien korelasi dengan rumus sebagai
berikut :
Keterangan
:
rxy` = Koefisien korelasi
Sxy = Jumlah hasil x dan y
Sx =
Jumlah x
Sy =
Jumlah y
Setelah
diperoleh hasil perhitungan r xy,
kemudian dicocokan dengan nilai r tabel.
Bila, hasilnya lebih dari r tabel (r hitung>rtabel ) maka Ha
diterima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar