MAKALAH
TAKSONOMI BLOOM
DAN
PERANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Disusun sebagai salah satu tugas Kelompok pada mata
kuliah
Filsafat Pendidikan dan Pembelajaran
Dosen Pengampu
Prof. Dr. Endang Fauziati

Disusun
oleh :
Nama : Sri Mariawati
NIM : Q100150059
Nama : Rita Sudarwahyuni
NIM : Q100150048
Jurusan : Magister Administrasi Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan
memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan lebih
daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu
belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan
kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan
pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran
dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.
Dalam
pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam
hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif,
afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi
beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat),
mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling
kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga
tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun
oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula
disebut sebagai "Taksonomi Bloom".
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari taksonomi Bloom
?
2. Bagaimana peran Taksonomi Bloom
dalam Pembelajaran?
C.
PEMBATASAN MASALAH
Untuk memperjelas ruang lingkup
pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah:
1.
Pembahasan
tentang Taksonomi Bloom.
2.
Peran
Taksonomi Bloom dalam
Pembelajaran
D. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah- masalah yang dibahas
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Apakah
Pengertian Taksonomi Bloom dan sejarahnya ?
2. Bagaimana
Peran Taksonomi Bloom dalam Pembelajaran
?
C. TUJUAN
Adapun tujuan makalah ini agar para
mahasiswa diharapkan dapat :
1.
Mengetahui pengertian taksonomi.
2.
Memahami taksonomi yang dikemukakan
menurut Bloom.
3. Mengetahui peran Taksonomi Bloom dalam Pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Taksonomi Bloom
Benjamin Samuel Bloom,
lahir di Lansford, Pennsylvania,
21 Februari
1913 – meninggal
13 September
1999 pada umur
86 tahun, adalah seorang psikolog pendidikan dari Amerika
Serikat, dengan kontribusi utamanya adalah dalam penyusunan taksonomi
tujuan pendidikan dan pembuatan teori belajar
tuntas.
Ia menerima gelar sarjana dan magister dari PennsylvaniaState
University pada tahun 1935 dan gelar doktor dalam pendidikan dari University of Chicago pada bulan Maret 1942. Ia menjadi anggota
staff Board of Examinations di University of Chicago dari tahun 1940 sampai 1943. Sejak tahun 1943 ia
menjadi pemeriksa di universitas sampai kemudian mengakhiri jabatan tersebut
tahun 1959.
Pekerjaan sebagai pengajar di Jurusan Pendidikan University of Chicago dimulai
tahun 1944
untuk kemudian ditunjuk sebagai Distinguished Service Professor pada
tahun 1970.
Ia menjabat sebagai presiden American Educational Research Association
dari tahun 1965
sampai 1966.
Ia menjadi penasihat pendidikan bagi pemerintahan Israel,
India,
dan beberapa bangsa lain.
Kata Taksonomi diambil dari bahasa
Yunani Tassein yang berarti untuk mengklasifikasidan nomos yang
berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi
berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Hampir semua
( benda bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian ) dapat diklasifikasikan
menurut beberapa skema taksonomi.
Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan
pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain,
yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi
kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara
hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah
laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan
menyetarakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah. Taksonomi ini
pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi
Bloom".
B. S.
Bloom bersama rekan-rekannya yang berpikir sehaluan, menjadi kelompok pelopor
dalam menyumbangkan suatu klasifikasi tujuan instruksional (educational
objectives). Pada tahun 1956, terbitlah karya “Taxonomy of Educational Objectives”, Cognitive Domain”. Pada tahun
1964, terbitlah karya “Taxonomy of
Educational Objectives, Affective Domain”. Kelompok pelopor ini tidak
berhasil menerbitkan suatu taksonomi yang menyangkut tujuan instruksional di
bidang psikomotorik (psychomotor
domain). Orang lainlah yang mengembangkan suatu klasifikasi di bidang ini,
antara lain E. Simpson pada tahun 1967 dan A. Harrow pada tahun 1972.
Adapun
suatu taksonomi adalah merupakan suatu tipe system klasifikasi yang khusus,
yang berdasarkan data penelitian ilmiah mengenai hal-hal yang
digolong-golongkan dalam sistematika itu. Misalnya klasifikasi atas genus dan
species terhadap tumbuh-tumbuhan dan binatang, sebagaimana dikembangkan dalam
ruang lingkup Biologi, sesuailah dengan apa yang diketahui tentang
tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sistematika pembagian / penggolongan itu tidak
berdasarkan suatu sistematika yang ditentukan sendiri (yang bersifat arbitrer),
sebagaimana terjadi dalam kartotek perpustakaan, yang mengklasifikasikan
buku-buku menurut urutan abjad nama-nama pengarang, menurut urutan abjad
judul-judul buku atau menurut topik-topik yang dibahas dalam buku-buku itu.
Taksonomi-taksonomi di tiga rana kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang
dikembangkan oleh kelompok pelopor ini dan beberapa orang lain, memang disebut
“taxonomy”, tetapi menurut pendapat beberapa ahli psikologi belajar, mungkin
tidak seluruhnya memenuhi tuntutan suatu taksonomi sebagaimana dijelaskan
diatas, khususnya dalam rana kognitif. Meskipun demikian, nama taksonomi akan
tetap dipertahankan di sini, sesuai dengan sumber-sumber yang asli, kecuali
untuk sistematika yang dikembangkan oleh Simpson dalam rana psikomotorik yang
menggunakan nama/judul “klasifikasi” (classification).
B. Peran
Taksonomi Bloom dalam Model Pembelajaran
Dalam
mengajar kita harus merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran itulah
yang akan kita jadikan sebagai tolak ukur dari hasil belajar siswa. Taksonomi
Bloom dapat membantu kita untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan
kita dalam proses belajar mengajar sehingga dapat dievaluasi dan ditingkatkan menjadi
lebih baik lagi dan atau dinaikkan lagi setingkat lebih tinggi dari semula.
Adapun taksonomi Bloom berdasar area atau rana adalah
Rana Kognitif terdiri dari Pengetahuan (Knowledge); Pemahaman (Comprehension);
Penerapan (Application); Analisa (Analysis); Sintesa (Syntesis); Evaluasi (Evaluation),
Rana Afektif terdiri dari Penerimaan (Receiving) Partisipasi (Responding);
Penilaian / Penentuan Sikap (Valuing); Organisasi (Organization); Pembentukan
Pola Hidup (Characterization By A Value Or Value Complex), Rana Psikomotorik
terdiri dari Persepsi (Perception); Kesiapan (Set); Gerakan Terbimbing
(Guided Response); Gerakan yang Terbiasa (Mechanical Response); Gerakan
Yang Kompleks (Complex Response); Penyesuaian Pola Gerakan (Adaptation); Kreativitas (Creativity)
1.
Rana
Kognitif
Kawasan
kognitif yaitu kawasan/area yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau
berfikir/nalar terdiri dari :
· Pengetahuan (Knowledge)
Mencakup
ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal
itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang diketahui.
Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui
bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).
Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut : “siswa akan
mampu menyebutkan nama semua sekretaris jenderal PBB, sejak saat PBB mulai
berdiri”. Siswa akan mampu menulis semua nama propinsi di Indonesia, pada peta
perbatasan daerah-daerah propinsi”.
· Pemahaman (Comprehension)
Mencakup
kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya
kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan,
mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti
rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang
kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti dalam grafik.
· Penerapan (Application)
Mencakup
kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu
kasus/problem yang kongkret dan baru. Adanya kemampuan dinyatakan dalam
aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapai atau aplikasi suatu
metode kerja pada pemecahan problem baru.
· Analisa (Analysis):
Mencakup
kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga
struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya
kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau
komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan/relasi antara bagian-bagian
itu.
· Sintesa (Synthesis):
Mencakup
kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian
dihubungkan satu sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru.
· Evaluasi (Evaluation):
Mencakup
kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal,
bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria
tertentu. Kemampuan itu dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu,
seperti penilaian terhadap pengguguran kandungan berdasarkan norma moralitas,
atau pernyataan pendapat terhadap sesuatu, seperti dalam menilai tepat-tidaknya
perumusan suatu TIK, berdasarkan kriteria yang berlaku dalam perumusan TIK yang
baik.
2.
Rana
Afektif
Pembagian
domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.Kawasan afektif yaitu kawasan yang
berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan
terhadap moral dan sebagainya, terdiri dari :
· Penerimaan (Receiving/Attending) :
Mencakup
kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan
rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh
guru.
· Partisipasi (Responding):
Mengadakan
aksi terhadap stimulus, yang meliputi proses sebagai berikut :
Ø Kesiapan
menanggapi (acquiescene of responding). Contoh : mengajukan pertanyaan,
menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang
bersangkutan, atau mentaati peraturan lalu lintas.
Ø Kemauan
menanggapi (willingness to respond), yaitu usaha untuk melihat hal-hal
khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Misalnya pada desain atau warna saja.
Ø Kepuasan
menanggapi (satisfaction in response), yaitu adanya aksi atau kegiatan yang
berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. Contoh kegiatan
yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya, membuat coretan atau
gambar, memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya, dan sebagainya.
· Penilaian/Penentuan Sikap (Valuing)
Mencakup
kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai
dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap : menerima, menolak atau
mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dan konsisten
dengan sikap batin.
· Organisasi (Organization)
Mencakup
kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam
kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala
nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu
penting. Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai,
seperti menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar antara kebebasan dan
tanggung jawab dalam suatu negara demokrasi atau menyusun rencana masa depan
atas dasar kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup.
· Pembentukan Pola
Hidup (Characterization By A Value Or Value Complex)
Mencakup
kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga
menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas
dalam mengatur kehidupannya sendiri.
3.
Rana
Psikomotorik
Kawasan
psikomotor yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang
melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi
psikis. Kawasan ini terdiri dari :
· Persepsi (Perception)
Mencakup
kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau
lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada
masing-masing rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi
yang menunjukkan kesadaran akan hadirnya rangsangan (stimulasi) dan perbedan
antara rangsangan-rangsangan yang ada, seperti dalam menyisihkan benda yang
berwarna merah dari yang berwarna hijau.
· Kesiapan (Set)
Mencakup
kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan
atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani
dan mental, seperti dalam mempersiapkan diri untuk menggerakkan kendaraan yang
ditumpangi, setelah menunggu beberapa lama di depan lampu lalu lintas yang berwarna
merah.
· Gerakan Terbimbing (Guided Response)
Mencakup
kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh
yang diberikan (imitasi). Kemampuan ini dinyatakan dalam mengerakkan anggota
tubuh, menurut contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan, seperti dalam
meniru gerakan-gerakan tarian atau dalam meniru bunyi suara.
· Gerakan Yang Terbiasa (Mechanism
Response)
Mencakup
kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena
sudah dilatih secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.
Kemapuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota-anggota tubuh, sesuai dengan
prosedur yang tepat, seperti dalam menggerakkan kaki, lengan dan tangan secara
terkoordinir.
· Gerakan Kompleks (Complex
Response)
Mencakup
kemampuan untuk melaksanakan suatu ketrampilan yang terdiri atas beberapa
komponen, dengan lancar, tepat dan efisien. Adanya kemampuan ini dinyatakan
dalam suatu rangkaian perbuatan yang berurutan dan menggabungkan beberapa
subketrampilan menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur, seperti
dalam membongkar mesin mobil dalam bagian-bagiannya dan memasangnya kembali.
· Penyesuaian Pola
Gerakan (Adaptation)
Mencakup
kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan
kondisi setempat atau dengan persyaratan khusus yang berlaku. Adanya kemampuan
ini dinyatakan dalam menunjukkan suatu taraf ketrampilan yang telah mencapai
kemahiran, misalnya seorang pemain tenis yang menyesuaikan pola permainannya dengan gaya bermain
dari lawannya atau dengan kondisi lapangan.
· Kreativitas (Creativity)
Mencakup
kemampuan untuk melahirkan pola-pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas
dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Hanya orang-orang yang berketrampilan
tinggi dan berani berpikir kreatif, akan mempu mencapai tingkat kesempurnaan
ini, seperti kadang-kadang dapat disaksikan dalam pertunjukan tarian di lapisan
es dengan diiringi musik instrumental.
Dengan memahami taksonomi Bloom, kita sebagai guru dapat
memahami dan menerapkan jenjang-jenjang itu sesuai dengan kondisi siswa di dalam
kelas. Beberapa kemungkinan yang dapat diterapkan dalam situasi kelas adalah :
1. Semua siswa melakukan aktivitas mengingat dan memahami,
kemudian beberapa siswa dapat melakukan aktivitas pada jenjang yang lebih
tinggi (higher order thinking skills).
2. Beberapa siswa bekerja pada keterampilan berfikir jenjang
dasar (basic thinking skills),
sementara beberapa siswa lain yang lebih cepat berfikirnya bekerja pada jenjang
yang lebih tinggi.
3. Beberapa siswa melakukan aktivitas jenjang dasar, kemudian
mereka dapat memilih aktivitas pada jenjang yang lebih tinggi.
4. Beberapa aktivitas dikatakan wajib dikerjakan (essensial), sedangkan yang lainnya
digolongkan sebagai pilihan (optional).
5. Guru menerapkan proses pembelajaran diawali dengan membawa
masalah yang berjenjang kemudian siswa dirangsang untuk aktif berfikir pada
tingkatannya.
Proses penerapan taksonomi Bloom tentu saja harus dianalisis
tingkat kebutuhan dan karakteristis siswa/peserta didik yang kita ajar, proses
pengetahuan gambaran awal kemampuan siswa tertera dalam Kriteria Ketuntasan
minimal (KKM) khususnya intake siswa.
Hasil-hasil Belajar
Hasil belajar berwujud penampilan-penampilan yang disebut
kemampuan-kemampuan (capabilities). Di antaranya bersifat kognitif, yaitu:
1. Keterampilan Intelektual
Termasuk
dalam keterampilan intelektual adalah :
· Diskriminasi-diskriminasi, merupakan
suatu konsep kemampuan untuk mengadakan respons-respons yang berbeda terhadap
stimulus-stimulus yang berbeda dalam satu atau lebih dimensi fisik.
· Konsep-konsep konkret, menunjukkan
suatu sifat objek atau atribut objek. Dalam hal ini diyakini bahwa penampilan
manusia merupakan sebuah konsep yang konkret. Belajar konkret merupakan
prasyarat dari belajar abstrak.
· Konsep terdefinisi, mensyaratkan
kemampuan mendemonstrasikan arti dari kelas tertentu tentang objek-objek,
kejadian-kejadian, atau hubungan-hubungan.
· Aturan-aturan, menunjukkan bagaimana
penampilan mempunyai keteratuan dalam berbagai situasi khusus. Dalam hal ini
konsep terdefinisi merupakan merupakan suatu bentuk khusus dari aturan yang
bertujuan untuk mengelompokkan objek-objek, dan kejadian-kejadian. Dapat pula
dikatakan bahwa konsep terdefinisi merupakan suatu aturan pengklasifikasian.
· Aturan-aturan tingkat tinggi,
merupakan gabungan dari berbagai aturan-aturan sederhana yang dipergunakan
untuk memecahkan masalah. Aturan-aturan yang kompleks atau aturan-aturan
tingkat tinggi ditemukan untuk memecahkan suatu masalah praktis atau sekelompok
masalah.
2. Strategi-strategi Kognitif
Stategi-strategi kognitif merupakan suatu proses kontrol,
yaitu proses internal yang digunakan siswa (orang yang belajar) untuk memilih
dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar mengingat, dan berpikir.
· Strategi-strategi menghafal, yaitu
siswa melakukan latihan tentang materi yang dipelajari dalam bentuk pengulangan
terus-menerus.
· Strategi-strategi elaborasi, yaitu
siswa mengasosiasikan hal - hal yang akan dipelajari dengan bahan-bahan lain
yang tersedia. Misalnya pembuatan
catatan secara matriks, penggunaan analogi, menyeleksi ide utama dari buku
teks, dan penggunaan metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite,
dan review)
· Strategi-strategi pengaturan, yaitu
mempelajari materi dengan menyusun kerangka yang teratur dari materi tersebut.
· Strategi-strategi metakognitif,
meliputi kemampuan siswa untuk menentukan tujuan belajar, memperkirakan n
keberhasilan pencapaian tujuan itu, dan memilih alternatif untuk mencapai
tujuan itu.
· Strategi-strategi afektif, yaitu
teknik yang digunakan siswa untuk memusatkan dan mempertahankan perhatian,
mengendalikan kemarahan dan menggunakan waktu secara efektif.
3. Informasi Verbal
Informasi
verbal adalah informasi yang diperoleh dari belajar di sekolah, kata-kata yang
diucapkan orang, membaca, radio, televisi, dan media yang lain.
4. Sikap-sikap
Sikap-sikap
yang umum biasanya disebut dengan nilai. Sikap-sikap ini ditujukan pada
perilaku-perilaku sosial seperti kata-kata kejujuran, dermawan, dan
istilah-istilah lain yang lebih moralitas.
5. Keterampilan-keterampilan motorik
Keterampilan
motorik tidak hanya meliputi kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan-kegiatan
motorik yang digabungkan dengan kegiatan-kegiatan intelektual, misalnya membaca
dan menulis.
Proses belajar mengajar di suatu
kelas dapat di lakukan melalui beberapa fase yang tujuannya untuk mempermudah
siswa dan guru berinteraksi dalam suatu proses belajar mengajar. Fase –fase
tersebut adalah :
1.
Fase Motivasi (motivatim phase)
Siswa (yang belajar) harus diberi
motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah.
Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi
keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau
dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik.
2.
Fase Pengenalan (apperehending phase)
Siswa harus memberikan perhatian
pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika
belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan
tentang apa yang ditunjukkan guru, atau tentang ciri-ciri utama dari suatu
bangun datar. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap informasi yang penting,
misalnya dengan berkata: “Perhatikan kedua bangun yang Ibu katakan, apakah ada
perbedaannya”. Terhadap bahan-bahan tertulis dapat juga melakukan demikian
dengan menggaris-bawahi kata, atau kalimat tertentu, atau dengan memberikan
garis besarnya untuk setiap bab.
3. Fase Perolehan (acquisition
phase)
Bila siswa memperhatikan informasi
yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi yang
disajikan, sudah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, bahwa informasi tidak
langsung disimpan dalam memori. Informasi itu diubah menjadi bentuk yang
bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa.
Siswa dapat membentuk gambaran-gambaran mental dari informasi itu, atau
membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
Guru dapat memperlancar proses ini dengan penggunaan pengaturan-pengaturan awal
(Ausubel. 1963), dengan membiarkan para siswa melihat atau memanipulasi
benda-benda, atau dengan menunjukkan hubungan-hubungan antara informasi baru
dan pengetahuan sebelumnya.
4. Fase Retensi (retentim phase)
Informasi yang
baru diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka
panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek
(practice), elaborasi atau lain-lainnya.
5. Fase
Pemanggilan (recall)
Mungkin saja
kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka panjang.
Jadi bagian penting dalam belajar ialah belajar memperoleh hubungan dengan apa
yang telah kita pelajari, untuk memanggil (recall) informasi yang telah
dipelajari sebelumnya. Hubungan dengan informasi ditolong oleh organisasi
materi yang diatur dengan baik dengan mengelompokkan menjadi kategori-kategori
atau konsep-konsep, lebih mudah dipanggil daripada materi yang disajikan tidak
teratur. Pemanggilan juga dapat ditolong, dengan memperhatikan kaitan-kaitan
antara konsep-konsep, khususnya antara informasi baru dan pengetahuan
sebelumnya.
6. Fase Generalisasi
Biasanya
informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks
dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi
pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat
ditolong dengan meminta para siswa menggunakan keterampilan-keterampilan
berhitung baru untuk memecahkan masalah-masalah nyata, setelah mempelajari pemuaian
zat, mereka dapat menjelaskan mengapa botol yang berisi penuh dengan air dan
tertutup, menjadi retak dalam lemari es.
7. Fase Penampilan
Para siswa
harus memperlihatkan, bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan
yang tampak. Misalnya, setelah mempelajari bagaimana menggunakan busur derajat
dalam pelajaran matematika, para siswa dapat mengukur besar sudut. Setelah
mempelajari penjumlahan bilangan bulat, siswa dapat menjumlahkan dua bilangan
yang disebutkan oleh temannya.
8. Fase Umpan Balik
Para
siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka, menunjukkan
apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.Umpan balik
ini dapat memberikan masukan pada mereka penampilan yang berhasil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kata
taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu “tassein”
yang berarti untuk mengklasifikasi dan “nomos”
yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki
dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak,
benda diam, tempat, dan kejadian, sampai pada kemampuan berfikir dapat
diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi. Pendidikan lebih daripada
pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan
pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan
pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap
pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.
Taksonomi
pendidikan lebih dikenal dengan sebutan “Taksonomi Bloom”. Taksonomi ini
pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan. Dalam pendidikan,
taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Proses
penerapan taksonomi Bloom tentu saja harus dianalisis tingkat kebutuhan dan
karakteristis siswa/peserta didik yang kita ajar, proses pengetahuan gambaran
awal kemampuan siswa tertera dalam Kriteria Ketuntasan minimal (KKM) khususnya intake siswa.
B. Saran
Pendidikan sangat penting di era modern ini. Maka untuk
menempuh pendidikan yang sukses perlu adanya teknik belajar dan pembelajaran
yang baik dan menarik agar mereka yang belajar memiliki jiwa semangat tinggi
untuk terus belajar dan menjadi generasi bangsa yang cerdas. Kami juga berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan kami berharap kritik dan saran
yang bersifat positif untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin , M.Z.
(2012). Taksonomi Bloom, Konsep dan
Iplikisinya bagi Pendidikan Matematika. Online. Tersedia : http://www.masbied.com/2010/03/20/taksonomi-bloom-konsep-dan-implikasinya-bagi-pendidikan-matematika/. Diakses 09
Oktober 2015
Dahara,Ratna wilis. 2006 . Teori-Teori Belajar Dan Pembelajaran .Bandung.Erlangga.
Sagala,Syaiful.2010 . Konsep Dan Makna Pembelajaran . Bandung . Alfabeta.
Wiranataputra,Udin.S.dkk.2007. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta .Universitas
Terbuka.
_____________.
2006. Lampiran Permendiknas no. 22 dan 41
tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Proses untuk mata pelajaran matematika
SD, SMP dan SMA. Jakarta : Depdiknas.
Setiawan,
dkk. 2008. Pengembangan pembelajaran dan
penilaian untuk memfasilitasi Higher Order Thinking. Bahan ajar Diklat Guru Pengembang Matematika SMA jenjang Lanjut. Yogyakarta
: PPPPPTK Matematika.
Iriyanti,
P. 2008. Taksonomi Bloom Revisi. Yogyakarta
: PPPPPTK Matematika.
Leriva. (2012).
Taksonomi Bloom. Online. Tersedia:
http://www.leriviaa.blogspot.com/2012/10/taksonomi-bloom.html. Diakses 09
Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar