Jurnal PTBK oleh Sri Mariawati, S.Pd
UPAYA
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS VIII-B
SEMESTER 2 SMP NEGERI 1 PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN
TAHUN
AJARAN 2014/2015
Sri
Mariawati
E-mail : mariawati73@gmail.com
Dengan banyaknya permasalahan
yang terjadi di kelas 8 terutama masalah tingkat kemalasan belajar siswa
kelas tersebut yang disebabkan karena rasa jenuh , tidak suka dengan guru pengajar
ataupun permasalahan di rumah. Hal ini menyebabkan sering terganggunya prestasi
belajar siswa tersebut, sehingga penulis berusaha mengadakan
penelitian tentang Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Melalui Konseling Kelompok Pada Siswa
Kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2014/2015.
Untuk meningkatkan motivasi
belajar pada peserta didik kelas VIII yang berperilaku malas belajar peneliti
memberikan layanan konseling kelompok dengan kelompok besar dan kelompok kecil
secara berkelanjutan. Mereka diberi
kesempatan untuk menyampaikan permasalahan , pengalaman , uneg uneg yang mereka
alami ataupun mereka memberikan masukan ,saran , pendapat ataupun sanggahan
kepada kelompok atau teman yang lain. Dengan suasana
kelompok yang terbuka dan penuh kekeluargaan mereka merasa senasib dan memiliki
tanggung jawab bersama untuk menyelesaikan permasalahan dengan memanfaatkan
dinamika kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui
layanan konseling kelompok dapat memotivasi siswa dengan hasil penurunan rasa
malas belajar di sekolah sebesar 65 % dengan jumlah penurunan dari
10 peserta didik dalam satu bulan berkurang menjadi 4 peserta didik. Dengan
penurunan jumlah peserta didik sebanyak 6 peserta didik merupakan penurunan yang
cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa melalui pemberian layanan konseling
kelompok dapat memotivasi belajar siswa di sekolah pada peserta didik kelas 8B
semester 2 SMP Negeri 1 Pulokulon Tahun 2014/2015.
Kata kunci : yopayopi duniaku, motivasi belajar, konseling kelompok,jurnal ptbk, smp negeri, peningkatan
motivasi
A. PENDAHULUAN
Motivasi belajar adalah semangat yang
ditimbulkan adanya dorongan dari luar sehingga pada diri individu terjadi
perubahan-perubahan untuk mengetahui sesuatu missal merubah sikap dan
sebagainya. Tinggi rendahnya gairah belajar siswa dipengaruhi oleh factor
intern dan factor ekstern. Factor intern atau dari dalam individu adalah
motivasi, yaitu pendorong kemauan atau keinginan seseorang untuk belajar
sehingga tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai. Motivasi dalam
penelitian ini dalah motivasi belajar, sehingga apabila siswa mempunyai
motivasi belajar yang tinggi maka akan bisa berdampak positif terhadap
peningkatan prestasi belajar siswa. Sedangkan factor dari luar individu yaitu
factor lingkungan yaitu : lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
Kenyataan yang ada di lingkungan SMP
Negeri I Pulokulon selama ini belum efektif, karena ada siswa yang motivasi
belajarnya rendah. Ciri-ciri siswa yang motivasi belajarnya rendah antara lain
: Sering membolos pada jam-jam pelajaran tertentu, tidak konsentrasi dalam
mengikuti pelajaran, sering tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan
rumah, tidak mempunyai cita-cita, sering terlambat datang disekolah, tidak
mematuhi tata tertib sekolah, tidak memiliki buku-buku pelajaran, tidak
mempunyai cacatan pelajaran yang lengkap, nilai prestasi rendah, sering membuat
kegaduhan, memakai pakaian atau asesoris yang berlebihan.
Berdasarkan latar
belakang yang tersebut diatas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan
sebagai berikut :
1.
Masa-masa bebas pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Pulokulon Grobogan menyebabkan tingkat motivasi belajar mereka menurun.
2.
Perhatian orang tua yang kurang dalam masalah pola
belajar anaknya menyebabkan tingkat motivasi belajar yang rendah pada siswa SMP
Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan.
3.
Kebanyakan guru belum menyadari peran utama dalam
mengajar adalah meningkatkan motivasi belajar siswanya bukan hanya menyampaikan
materi pelajaran saja.
4.
Peran serta guru Bimbingan dan Konseling yang belum
optimal dalam rangka meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
5.
Lingkungan yang tidak bisa diatur untuk mendukung
kebutuhan siswa dalam belajar akan membuat motivasi belajar siswa menurun,
terutama jika harus belajar mandiri.
Dinamika kelompok yang banyak membawa keuntungan pada
setiap kegiatannya, yang terdapat dalam pelayanan konseling kelompok belum
dikembangkan untuk bisa meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dari beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi,
penulis membatasi masalah penelitian pada pelayanan konseling kelompok yang
belum dikembangkan untuk bisa meningkatkan motivasi belajar siswa.
Pembatasan masalah
dilakukan karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Selain itu agar
penelitian lebih fokus dan memperoleh hasil yang optimal.
Berdasarkan batasan
masalah, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : apakah pelayanan
konseling kelompok dapat meningkatkan motivasi dalam belajar pada siswa kelas
VIII SMP N 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan?
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini untuk
mengetahui apakah ada peningkatan motivasi belajar melalui konseling kelompok
pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan.
Hasil penelitian kali ini diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut :
Manfaat teoritik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori
tentang konseling kelompok dalam proses pembelajaran siswa khususnya pada
peningkatan motivasi belajar siswa.
Manfaat Praktis
a.
Bagi siswa
Sebagai bahan evaluasi apakah selama ini siswa sudah
memiliki motivasi belajar yang cukup tinggi untuk mendapatkan prestasi yang
baik.
b. Bagi
guru Bimbingan dan Konseling
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan bagi para guru Bimbingan dan Konseling dalam
menerapkan pelayanan konseling kelompok dalam upaya meningkatkan motivasi dalam
belajar yang merupakan penggerak dalam setiap tindakan dan tingkah laku belajar
siswa.
c.
Bagi peneliti Selanjutnya
Memberikan dasar bagi pengembangan
penelitian lebih lanjut dalam memahami lebih mendalam dan lebih komprehensif
tentang motivasi belajar dan mempunyai metode-metode baru untuk mengembangkan
konseling kelompok
B.
KAJIAN PUSTAKA
Sebelum mencari definisi motivasi, kita akan membahas
dahulu arti kata motif. Motif menurut Sardiman A.M. (2005:73) dapat diartikan
sebagai upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan
sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat
diartikan sebagai kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata ”motif”
tersebut, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah
menjadi aktif.
Dalam artikelnya, Siti Sumarni (2005), Thomas L. Good dan
Jere B. Braphy (1986) mendefinisikan motivasi sebagai suatu energi penggerak
dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah
laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya.
Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas.
Dari beberapa pendapat di
atas, dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak
baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha
untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan
memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu
dapat tercapai.
Pengertian dari belajar menurut Morgan, mengatakan bahwa
belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang
terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Wisnubrata, 1983:3).
Moh. Surya (1981:32)
berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.
Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada
prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dalam membicarakan macam-macam motivasi belajar, hanya
akan dibahas dari dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari
dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi
yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”.
Motivasi Intrinsik
Menurut Syaiful Bahri
(2002:115) motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motivasi Ekstrinsik
Menurut A.M. Sardiman
(2005:90) motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya
karena adanya perangsang dari luar. Ada beberapa cara dan bentuk untuk
menumbuhkan motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar di sekolah, misalnya
saja seperti yang diungkapkan A.M. Sardiman (2005:92-94)
George M. Gazda (1971:10) menyatakan bahwa konseling
kelompok merupakan suatu proses dinamis interpersonal, yang memusatkan diri
pada kesadaran berpikir dan bertingkah laku serta melibatkan fungsi-fungsi
terapi, seperti kerelaan, orientasi kepada realita, katarsis, kepercayaan dan
pengertian. Fungsi terapi ini diciptakan dan dipelihara dalam suatu kelompok
kecil melalui saling menyatakan keadaan masing-masing kepada para anggota
kelompok termasuk konselor.
Selanjutnya, menurut Hansen,
Warner dan Smith (dalam Larrabee & Terres, 1984) dalam Prayitno (1999:315) menyatakan
bahwa konseling kelompok merupakan cara yang amat baik untuk menangani
konflik-konflik antarpribadi dan membantu individu-individu dalam mengembangkan
kemampuan pribadi mereka.
Dalam konseling kelompok,
diharapkan dinamika kelompok yang terjadi akan dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa. Salah satu prinsip motivasi adalah mudah menyebar atau menjalar
ke orang lain. Kekuatan kelompok sebaya akan lebih didengarkan oleh siswa
dibandingkan kelompok dewasa. Dalam konseling kelompok, siswa tidak hanya akan
berkomunikasi dengan guru Bimbingan dan Konseling, tetapi bersama dengan siswa
lainnya, berusaha menyelesaikan permasalahan motivasi yang sedang dihadapi.
Karena pada dasarnya, siswa membutuhkan orang lain dalam menjalani hidupnya.
Berdasarkan teori yang
telah diuraikan diatas, maka dapat diajukan hipotesis dalam penelitian tindakan
kali ini adalah “Konseling kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan Tahun Ajaran 2014/2015.“
C.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan
(action research). Menurut Elliot (1991) dalam Suwarsih Madya (1994) melihat
penelitian tindakan sebagai kajian dari sebuah situasi sosial dengan
kemungkinan tindakan untuk memperbaiki kualitas situasi sosial tersebut.
Selanjutnya, menurut Nana
Syaodih (2005: 140) penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik
yang dilaksanakan oleh para pelaksana
program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh guru,
dosen, kepala sekolah, konselor, dll), dalam mengumpulkan data tentang pelaksanaan
kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, untuk kemudian menyusun
rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan.
Kelebihan penelitian tindakan kelas
menurut Shumsky yang dikutip oleh Suwarsih Madya (1994:13) adalah sebagai
berikut :
- Kerjasama dalam penelitian tindakan menimbulkan
rasa memiliki yang akan menjadi ajang untuk menciptakan kelompok dasar
baru dan mendorong lahirnya keterikatan.
- Kerjasama dalam penelitian tindakan mendorong
kreativitas dan pemikiran yang kritis. Melalui interaksi dengan orang lain
dalam penelitian tindakannya, lebih banyak saran untuk penyelesaiannya,
lebih banyak analisis dan kritikan terhadap rencana yang diajukan.
- Kerjasama meningkatkan kemungkinan akan
berubah.
- Kerjasama dapat meningkatkan kesepakatan untuk
mengumpulkan fakta dan secara cermat menilai serta menguraikan masalahnya
Subyek penelitian menurut
Suharsimi Arikunto (2003:116) yang diartikan sebagai benda, hal atau orang
tempat data untuk variabel penelitian melekat dan dipermasalahkan. Subyek
penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon. Yang dipilih
melalui purposive sampling, yaitu tehnik pemilihan sample yang
didasarkan pada tujuan tertentu dalam artian sample mewakili informasinya untuk
memperoleh kedalaman studi dalam kontek, bukan mewakili individunya.
Menurut Suharsimi
Arikunto (2002:23) model penelitian dalam penelitian menunjukkan pada proses
peaksanaan penelitian. Dalam penelitian tindakan kali ini, menggunakan model
penelitian tindakan model Kemmis dan Mc Taggart (Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan, 1999:5) yang mencakup empat langkah :
1. Merumuskan
masalah dan merencanakan tindakan (rencana)
2. Melaksanakan
tindakan dan pengamatan / monitoring (tindakan dan observasi)
3. Refleksi
hasil pengamatan (refleksi)
4. Perubahan/revisi
perencanaan untuk pengembangan selanjutnya
Menurut Moh. Nazir (2005:176)
pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh
data yang diperlukan. Selanjutnya Moh. Nazir mengatakan bahwa pengumpulan data
tidak lain adalah suatu proses pengadaan
data primer untuk keperluan penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:100)
metode atau tehnik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti
untuk mengumpulkan data.
1. Angket
atau kuesioner
Dalam Suharsimi Arikunto
(2002:128) kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari reponden dalam arti laporan tentang pribadinya atau
hal-hal yang ingin diketahui. Menurut Moh. Nazir (2005:203) kuesioner adalah
daftar pertanyaan yang cukup terperinci dan lengkap.
2. Wawancara
Dalam Suharsimi Arikunto
(2002: 132), wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Nana Syaodih (2005) menyebutkan
bahwa wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara
individual. Dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah sebuah dialog yang berisi
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara lisan dalam pertemuan tatap muka
secara individual kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi.
Dalam penelitian kali ini, wawancara ditujukan pada guru pembimbing untuk
mengetahui motivasi belajar siswa sebelum diberikan tindakan .
Uji Validitas
Instrumen
Menurut Suharsimi
Arikunto, validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau
sahih mempunyai validitas yang tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid,
berarti memiliki validitas rendah. Nana Syaodih menyatakan validitas instrumen
menunjukkan bahwa hasil dari suatu pengukuran menggambarkan segi atau aspek
yang diukur. Dalam Saifuddin Azwar (2001:4) menyatakan bahwa validitas adalah
sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya.
Realibilitas
Suharsimi Suharsimi Arikunto (2002: 154)
menyatakan bahwa reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu
instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data
karena instrumen tersebut sudah baik. Saifuddin Azwar (2001:5) menyatakan bahwa
reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Instrumen
yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat
dipercaya juga. Apabila datanya memang sesuai dengan kenyataannya, maka berapa
kalipun diambil, tetap akan sama.
Menurut Saifuddin Azwar
(2007:83) reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas yang angkanya
berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas
mendekati 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien
yang semakin rendah mendekati angka 0, berarti semakin rendah reliabilitasnya.
Setelah diuji reliabilitas dengan menggunakan
program
komputer SPSS seri 15, instrumen memiliki koefisien 0.903. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen
penelitian memiliki reliabilitas yang tinggi.
Analisis Data
Sujati (2000:50)
mengartikan analisis data sebagai suatu proses yang dapat dilakukan dengan cara
menggolong-golongkan, mengurutkan dalam suatu pola dan menghubung-hubungkan
antara data yang satu dengan data yang lain.
Analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif dengan tehnik
analisis statistik nonparametrik, yaitu dengan menggunakan analisis Tes Ranking
Bertanda Wilcoxon untuk data berpasangan (Wilcoxon Match Pair-Test).
Berikutnya penentuan kategori kecenderungan dari
tiap-tiap variabel didasarkan pada norma atau ketentuan kategori. Kategori
tersebut menurut Saifuddin Azwar (2007:109) sebagai berikut:
1) (µ+1,0σ)
≤ X =
Tinggi
2) (µ-1,0σ)
≤ X < (µ+1,0σ) = Sedang
X <
(µ-1,0σ) = Rendah
No.
|
Kategori Motivasi Belajar
|
Rentang Skor
|
1.
|
Tinggi
|
> 87
|
2.
|
Sedang
|
58 – 87
|
3.
|
Rendah
|
< 58
|
D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Sekolah yang di tunjuk
adalah SMP
Negeri 1 Pulokulon, Jl.
Raya Panunggalan No. 416, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Telepon/HP/Fax:( 0292 ) 7700542.
Pre Test
Dari hasil pre test, dapat dilihat dari sepuluh siswa,
skor tertinggi adalah 76 dan skor terendah adalah 63. Mediannya adalah 71 dan
reratanya adalah 70.3. Skor rerata 70.3 dikategorikan sedang.
Siklus 1
Untuk data motivasi belajar siswa post test 1 dari
sepuluh siswa, skor tertinggi adalah 87 dan skor terendah adalah 68. Mediannya
adalah 70.5 dan reratanya adalah 72.9. Skor rerata 72.9 dikategorikan sedang.
Dari hasil pengamatan pelaksanaan siklus pertama
menunjukkan perubahan yang positif. Dari siswa yang awalnya tidak berani
mengungkapkan pendapatnya menjadi berani untuk berpendapat dan terbangun rasa
percaya dirinya. Tetapi masih ada beberapa siswa yang masih mengalami sedikit
kesulitan dalam mengungkapkan pendapat.
Peningkatan nilai rerata masih kurang memuaskan
sehingga konseling kelompok masih perlu ditingkatkan lagi dalam hal metode
penyampaian materi dengan menggunakan media yang lebih menarik agar siswa lebih
termotivasi untuk belajar
Siklus 2
Untuk data motivasi belajar siswa post test 2 dari
sepuluh siswa, skor tertinggi adalah 91 dan skor terendah adalah 71. Mediannya
adalah 79 dan reratanya adalah 79.7. Skor rerata 79.9 dikategorikan sedang.
Berdasarkan
hasil dari post test 1 dengan post test 2 menunjukkan adanya peningkatan
motivasi belajar, hal ini ditunjukkan dengan perbedaan rerata hasil post test 1
dengan post test 2. Skor rerata post test 1 adalah 72.9 sedangkan skor rerata
post test 2 adalah 79.7
Dari hasil dari post test 2 dan pengamatan serta
mengadakan diskusi dengan guru BK di SMP N 1 Pulokulon Grobogan, maka kegiatan konseling kelompok pada siklus 2
ini sudah dapat meningkatkan motivasi siswa secara lebih baik. Beberapa
kemampuan yang hendak dimunculkan dalam situasi kelompok juga sudah dapat
terlihat jelas, siswa lebih bisa mengungkapkan pendapat dan perasaannya dengan
baik, sudah bisa saling membantu dan menghargai. Sehingga tujuan dari kegiatan konseling
kelompok ini sudah tercapai dan tidak perlu dilanjutkan pada siklus yang
selanjutnya.
Dari peningkatan skor dua indikator tersebut, dapat
diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan setelah
dilakukan tindakan 2 melalui konseling kelompok.
Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Hasil Penelitian
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan tehnik statistik nonparametris
dari Wilcoxon. Dikarenakan tindakan pada penelitian ini dibagi menjadi dua
siklus dan masing-masing siklus diberi post test, uji Wilcoxon dilakukan tiga
kali,yaitu :
1)
Uji
Wilcoxon antara pre test dengan post test 1
2)
Uji
Wilcoxon antara pre test dengan post
test 2
3)
Uji
Wilcoxon antara post test 1 dengan post test 2
Berdasarkan
kriteria pengujian yang ditetapkan maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan
yang signifikan antara motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
Grobogan sebelum tindakan dan setelah diberikan tindakan siklus 2.
Selanjutnya data peningkatan motivasi belajar siswa
nampak pada hasil rerata seperti yang terdapat dalan tabel berikut :
Tabel
Skor Rerata Pre Test, Post Test 1 dan Post Test 2
Sumber
|
Rerata
|
||
Pre Test
|
Post Test 1
|
Post Test 2
|
|
Tingkat
Motivasi Belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
|
70.3
|
72.9
|
79.7
|
Berdasarkan
grafik tersebut dapat terlihat dengan jelas kenaikan skor rerata dari pre test,
post test 1 dan post test 2. Selanjutnya, berdasarkan grafik dan pengujian
dengan tes Wilcoxon dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan konseling kelompok
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokukon
Grobogan. Jadi hipotesis yang menyatakan bahwa “Konseling kelompok dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokukon Grobogan
Tahun Ajaran 2014/2015” dapat diterima.
Setelah pelaksanaan siklus 1 dan 2 dapat diketahui bahwa
siswa sudah menunjukkan adanya perubahan. Siswa menjadi lebih termotivasi untuk
belajar. Berdasarkan refleksi siklus yang pertama, walaupun sudah terdapat
peningkatan skor rerata, tetapi setelah di uji dengan uji Wilcoxon, ternyata
belum ada peningkatan yang signifikan. Sedangkan berdasarkan pengamatan,
beberapa siswa juga masih ada yang terlihat kurang nyaman selama mengikuti
proses konseling. Pada siklus 2, setelah diuji, terlihat adanya peningkatan
motivasi belajar yang signifikan. Juga berdasarkan pengamatan, siswa lebih
terbuka dalam mengungkapkan pendapat dan perasaannya sehingga konseling
kelompok terlihat lebih hidup dan menyenangkan.
Keterbatasan Penelitian
Selama proses penelitian
dilakukan, peneliti menyadari bahwa masih banyak kelemahan dan keterbatasan.
Keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi peneliti selama penelitian dilaksanakan
adalah :
- Selama
pelaksanaan penelitian, pemantauan subyek penelitian tidak dilakukan
diluar jam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar proses kegiatan berjalan
dengan alami, tanpa adanya perasaan diawasi. Sehingga faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi penelitian tidak terungkap secara mendalam.
- Pada
pelaksanaan pre test, post test 1 dan post test 2 menggunakan angket yang
sama dengan item yang sama pula, sehingga kemungkinan hasil post test yang
telah ada, mendapat pengaruh latihan dari pre test sebelum pelaksanaan
konseling kelompok.
E.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, pengujian hipotesis dan pembahasan
diperoleh kesimpulan bahwa “Ada peningkatan motivasi belajar siswa kelas VIII
SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan melalui konseling kelompok” Hal ini dapat diketahui
dengan pelaksanaan dua siklus sebagai berikut :
a.
Pada
siklus 1 yang menggunakan metode diskusi tanpa penggunaan media lain,
menunjukkan peningkatan yang belum begitu baik. Belum terbukti adanya perbedaan
motivasi belajar yang signifikan antara sebelum dan sesudah tindakan. Walaupun
jika dilihat dari skor reratanya meningkat.
b.
Pada
siklus 2 menunjukkan peningkatan yang signifikan dan juga terbukti adanya
perbedaan setelah di uji dengan uji Wilcoxon. Peningkatan ini juga didukung
oleh nilai rerata yang naik.
Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :
- Bagi
Siswa
Motivasi
belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan telah terbukti
meningkat setelah dilakukan konseling kelompok. Untuk itu disarankan kepada
siswa agar motivasi yang telah dimiliki dipertahankan dan ditingkatkan dengan
selalu mempraktikkan solusi-solusi yang telah didapatkan dalam konseling
kelompok.
- Bagi
Guru Bimbingan dan Konseling
Dalam upaya meningkatkan
motivasi belajar bisa dilakukan dengan konseling kelompok dengan metode-metode
yang variatif dan kreatif serta tempat yang tidak selalu dikelas sehingga siswa
terjebak dengan situasi kelas yang membosankan.
- Bagi
Peneliti Selanjutnya
Dalam penelitian ini, upaya peningkatan motivasi
belajar hanya dilakukan melalui konseling kelompok. Untuk pengembangan
penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan berbagai macam metode layanan
bimbingan dan konseling yang lebih kreatif dan inovatif, misalnya saja dengan
mengadakan training atau outbond. Selain itu faktor-faktor yang terjadi diluar
penelitian sebaiknya dikaji secara lebih yang akhirnya dapat menjadi informasi
penting yang akan mendukung berhasilnya suatu penelitian.
F. DAFTAR PUSTAKA
Anggoro Kasih, Sri. 2004. Hubungan
Layanan Konseling Kelompok Dengan Sikap Sosial Siswa Kelas V SD N 6 Bulungkulon
Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Kudus: UMK.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
________. 2002. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2001. Reliabilitas
dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
________. 2007. Penyusunan Skala
Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bahri, Syaiful. 2002. Psikologi Belajar.
Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.
Budi Santoso, Purbayu & Ashari.
2005. Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan SPSS. Yogyakarta :
Andi Offset.
Departemen P & K Direktorat Jenderal
Pendididkan Dasar dan Menengah. 1999. Penelitian Tindakan. Direktorat
Pendidikan Menengah Umum.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang
SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) 2003 (UU RI Tahun 2003). Jakarta:
Sinar Grafika.
Furqon. 2004. Statistika Terapan
Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Gazda, George M. 1997. Group Counseling A Developmental Approach. Boston :
Allyn and Baron.
Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi
Research. rev. ed. Yogyakarta: penerbit Andi.
Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir, Moh. 1999. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
________. 2005. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Madya, Suwarsih. 1994. Panduan
Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan
Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Prayitno & Amti, Erman. 1999. Dasar-Dasar
Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
2002. Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Pusat Kurikulum .
Rintyastini, Yulita & Suzy Yulia.
2006. Bimbingan dan Konseling SMP untuk Kelas VII. Jakarta: Erlangga.
Rosjidan. et al. 2001. Belajar dan
Pembelajaran. Malang: FIP Universitas Negeri Malang.
Rumini, Sri. et al. 1993. Psikologi
Pendidikan. Yogyakarta : UPP UNY.
Santoso, Totok. 1987. Konseling
Kelompok Di Sekolah (Suatu Pengantar). Salatiga: Universitas Kristen Satya
Wacana.
Sardiman, A. M. 2005. Interaksi dan
Motivasi Mengajar. Jakarta: Grafindo Persada.
Suciwati & Irawan, Prasetya. 2001.
Teori Belajar dan Motivasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian
Administrasi. Bandung: Alfabeta.
________. 2005. Statistika Untuk
Penelitian. Cetakan ketujuh. Bandung : Alfabeta.
________. 2007. Statistik
Nonparametris Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Sujati. 2000. Penelitian Tindakan
Kelas. Yogyakarta: FIP UNY.
Sukardi, Dewa Ketut. 1994. Bimbingan
Karir di Sekolah-Sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan
Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
________. 2002. Pengantar Pelaksanaan
Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumarni, Siti. 2 Mei 2005. 3 Mei 2007. Forum
Guru Memotivasi Belajar. Garut: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/02/1104.htm
Sutikno, Sobry M. 3 Mei 2007. 15 April
2007. Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. NTB: http://bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html
Winkel. 1983. Psikologi Pendidikan
dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.
Winkel & Sri Hastuti. 2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar