hot2

Minggu, 08 Mei 2016

JURNAL PTBK 2016

Jurnal PTBK oleh Sri Mariawati, S.Pd

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS VIII-B SEMESTER 2 SMP NEGERI 1 PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
Sri Mariawati
E-mail : mariawati73@gmail.com


Dengan banyaknya  permasalahan yang  terjadi di kelas 8 terutama masalah tingkat kemalasan belajar  siswa kelas tersebut yang disebabkan karena rasa jenuh , tidak suka dengan guru pengajar ataupun permasalahan di rumah. Hal ini menyebabkan sering terganggunya prestasi belajar siswa  tersebut, sehingga penulis  berusaha mengadakan penelitian  tentang Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Melalui Konseling Kelompok Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2014/2015.
Untuk  meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik kelas VIII yang berperilaku malas belajar peneliti memberikan layanan konseling kelompok dengan kelompok besar dan kelompok kecil secara berkelanjutan.      Mereka diberi  kesempatan untuk menyampaikan permasalahan , pengalaman , uneg uneg yang mereka alami ataupun mereka memberikan masukan ,saran , pendapat ataupun sanggahan kepada kelompok atau teman yang lain. Dengan suasana kelompok yang terbuka dan penuh kekeluargaan mereka merasa senasib dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menyelesaikan permasalahan dengan memanfaatkan dinamika kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui  layanan konseling kelompok dapat memotivasi siswa dengan hasil penurunan  rasa malas belajar di sekolah sebesar 65 % dengan jumlah penurunan dari 10 peserta didik dalam satu bulan berkurang menjadi 4 peserta didik. Dengan penurunan jumlah peserta didik sebanyak 6 peserta didik merupakan penurunan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa melalui pemberian layanan konseling kelompok dapat memotivasi belajar siswa di sekolah pada peserta didik kelas 8B semester 2 SMP Negeri 1 Pulokulon Tahun 2014/2015.
Kata kunci : yopayopi duniaku, motivasi belajar, konseling kelompok,jurnal ptbk, smp negeri, peningkatan motivasi



A.    PENDAHULUAN
Motivasi belajar adalah semangat yang ditimbulkan adanya dorongan dari luar sehingga pada diri individu terjadi perubahan-perubahan untuk mengetahui sesuatu missal merubah sikap dan sebagainya. Tinggi rendahnya gairah belajar siswa dipengaruhi oleh factor intern dan factor ekstern. Factor intern atau dari dalam individu adalah motivasi, yaitu pendorong kemauan atau keinginan seseorang untuk belajar sehingga tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai. Motivasi dalam penelitian ini dalah motivasi belajar, sehingga apabila siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi maka akan bisa berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Sedangkan factor dari luar individu yaitu factor lingkungan yaitu : lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
Kenyataan yang ada di lingkungan SMP Negeri I Pulokulon selama ini belum efektif, karena ada siswa yang motivasi belajarnya rendah. Ciri-ciri siswa yang motivasi belajarnya rendah antara lain : Sering membolos pada jam-jam pelajaran tertentu, tidak konsentrasi dalam mengikuti pelajaran, sering tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tidak mempunyai cita-cita, sering terlambat datang disekolah, tidak mematuhi tata tertib sekolah, tidak memiliki buku-buku pelajaran, tidak mempunyai cacatan pelajaran yang lengkap, nilai prestasi rendah, sering membuat kegaduhan, memakai pakaian atau asesoris yang berlebihan.
Berdasarkan latar belakang yang tersebut diatas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1.       Masa-masa bebas pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan menyebabkan tingkat motivasi belajar mereka menurun.
2.       Perhatian orang tua yang kurang dalam masalah pola belajar anaknya menyebabkan tingkat motivasi belajar yang rendah pada siswa SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan.
3.       Kebanyakan guru belum menyadari peran utama dalam mengajar adalah meningkatkan motivasi belajar siswanya bukan hanya menyampaikan materi pelajaran saja.
4.       Peran serta guru Bimbingan dan Konseling yang belum optimal dalam rangka meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
5.       Lingkungan yang tidak bisa diatur untuk mendukung kebutuhan siswa dalam belajar akan membuat motivasi belajar siswa menurun, terutama jika harus belajar mandiri.
Dinamika kelompok yang banyak membawa keuntungan pada setiap kegiatannya, yang terdapat dalam pelayanan konseling kelompok belum dikembangkan untuk bisa meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dari beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi, penulis membatasi masalah penelitian pada pelayanan konseling kelompok yang belum dikembangkan untuk bisa meningkatkan motivasi belajar siswa.
Pembatasan masalah dilakukan karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Selain itu agar penelitian lebih fokus dan memperoleh hasil yang optimal.
Berdasarkan batasan masalah, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : apakah pelayanan konseling kelompok dapat meningkatkan motivasi dalam belajar pada siswa kelas VIII SMP N 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan?
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini untuk mengetahui apakah ada peningkatan motivasi belajar melalui konseling kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan.
Hasil penelitian kali ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
Manfaat teoritik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori tentang konseling kelompok dalam proses pembelajaran siswa khususnya pada peningkatan motivasi belajar siswa.
Manfaat Praktis
a.        Bagi siswa
Sebagai bahan evaluasi apakah selama ini siswa sudah memiliki motivasi belajar yang cukup tinggi untuk mendapatkan prestasi yang baik.
b.       Bagi guru Bimbingan dan Konseling
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi para guru Bimbingan dan Konseling dalam menerapkan pelayanan konseling kelompok dalam upaya meningkatkan motivasi dalam belajar yang merupakan penggerak dalam setiap tindakan dan tingkah laku belajar siswa.
c.        Bagi peneliti Selanjutnya
Memberikan dasar bagi pengembangan penelitian lebih lanjut dalam memahami lebih mendalam dan lebih komprehensif tentang motivasi belajar dan mempunyai metode-metode baru untuk mengembangkan konseling kelompok
B.      KAJIAN PUSTAKA
Sebelum mencari definisi motivasi, kita akan membahas dahulu arti kata motif. Motif menurut Sardiman A.M. (2005:73) dapat diartikan sebagai upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata ”motif” tersebut, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.
Dalam artikelnya, Siti Sumarni (2005), Thomas L. Good dan Jere B. Braphy (1986) mendefinisikan motivasi sebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya. Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
Pengertian dari belajar menurut Morgan, mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Wisnubrata, 1983:3).
Moh. Surya (1981:32) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dalam membicarakan macam-macam motivasi belajar, hanya akan dibahas dari dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”.
Motivasi Intrinsik
Menurut Syaiful Bahri (2002:115) motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motivasi Ekstrinsik
Menurut A.M. Sardiman (2005:90) motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Ada beberapa cara dan bentuk untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar di sekolah, misalnya saja seperti yang diungkapkan A.M. Sardiman (2005:92-94)
George M. Gazda (1971:10) menyatakan bahwa konseling kelompok merupakan suatu proses dinamis interpersonal, yang memusatkan diri pada kesadaran berpikir dan bertingkah laku serta melibatkan fungsi-fungsi terapi, seperti kerelaan, orientasi kepada realita, katarsis, kepercayaan dan pengertian. Fungsi terapi ini diciptakan dan dipelihara dalam suatu kelompok kecil melalui saling menyatakan keadaan masing-masing kepada para anggota kelompok termasuk konselor.
Selanjutnya, menurut Hansen, Warner dan Smith (dalam Larrabee & Terres, 1984) dalam Prayitno (1999:315) menyatakan bahwa konseling kelompok merupakan cara yang amat baik untuk menangani konflik-konflik antarpribadi dan membantu individu-individu dalam mengembangkan kemampuan pribadi mereka.
Dalam konseling kelompok, diharapkan dinamika kelompok yang terjadi akan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Salah satu prinsip motivasi adalah mudah menyebar atau menjalar ke orang lain. Kekuatan kelompok sebaya akan lebih didengarkan oleh siswa dibandingkan kelompok dewasa. Dalam konseling kelompok, siswa tidak hanya akan berkomunikasi dengan guru Bimbingan dan Konseling, tetapi bersama dengan siswa lainnya, berusaha menyelesaikan permasalahan motivasi yang sedang dihadapi. Karena pada dasarnya, siswa membutuhkan orang lain dalam menjalani hidupnya.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan diatas, maka dapat diajukan hipotesis dalam penelitian tindakan kali ini adalah “Konseling kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan Tahun Ajaran 2014/2015.“
C.      METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan (action research). Menurut Elliot (1991) dalam Suwarsih Madya (1994) melihat penelitian tindakan sebagai kajian dari sebuah situasi sosial dengan kemungkinan tindakan untuk memperbaiki kualitas situasi sosial tersebut.
Selanjutnya, menurut Nana Syaodih (2005: 140) penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh para pelaksana  program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor, dll), dalam mengumpulkan data tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, untuk kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan.
Kelebihan penelitian tindakan kelas menurut Shumsky yang dikutip oleh Suwarsih Madya (1994:13) adalah sebagai berikut :
  1. Kerjasama dalam penelitian tindakan menimbulkan rasa memiliki yang akan menjadi ajang untuk menciptakan kelompok dasar baru dan mendorong lahirnya keterikatan.
  2. Kerjasama dalam penelitian tindakan mendorong kreativitas dan pemikiran yang kritis. Melalui interaksi dengan orang lain dalam penelitian tindakannya, lebih banyak saran untuk penyelesaiannya, lebih banyak analisis dan kritikan terhadap rencana yang diajukan.
  3. Kerjasama meningkatkan kemungkinan akan berubah.
  4. Kerjasama dapat meningkatkan kesepakatan untuk mengumpulkan fakta dan secara cermat menilai serta menguraikan masalahnya
Subyek penelitian menurut Suharsimi Arikunto (2003:116) yang diartikan sebagai benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat dan dipermasalahkan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon. Yang dipilih melalui purposive sampling, yaitu tehnik pemilihan sample yang didasarkan pada tujuan tertentu dalam artian sample mewakili informasinya untuk memperoleh kedalaman studi dalam kontek, bukan mewakili individunya.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:23) model penelitian dalam penelitian menunjukkan pada proses peaksanaan penelitian. Dalam penelitian tindakan kali ini, menggunakan model penelitian tindakan model Kemmis dan Mc Taggart (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 1999:5) yang mencakup empat langkah :
1.     Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan (rencana)
2.     Melaksanakan tindakan dan pengamatan / monitoring (tindakan dan observasi)
3.     Refleksi hasil pengamatan (refleksi)
4.     Perubahan/revisi perencanaan untuk pengembangan selanjutnya
Menurut Moh. Nazir (2005:176) pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selanjutnya Moh. Nazir mengatakan bahwa pengumpulan data tidak lain adalah  suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:100) metode atau tehnik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data.
1.       Angket atau kuesioner
Dalam Suharsimi Arikunto (2002:128) kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari reponden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ingin diketahui. Menurut Moh. Nazir (2005:203) kuesioner adalah daftar pertanyaan yang cukup terperinci dan lengkap.
2.       Wawancara
Dalam Suharsimi Arikunto (2002: 132), wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Nana Syaodih (2005) menyebutkan bahwa wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah sebuah dialog yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi. Dalam penelitian kali ini, wawancara ditujukan pada guru pembimbing untuk mengetahui motivasi belajar siswa sebelum diberikan tindakan .
Uji Validitas Instrumen
Menurut Suharsimi Arikunto, validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas yang tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid, berarti memiliki validitas rendah. Nana Syaodih menyatakan validitas instrumen menunjukkan bahwa hasil dari suatu pengukuran menggambarkan segi atau aspek yang diukur. Dalam Saifuddin Azwar (2001:4) menyatakan bahwa validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Realibilitas
Suharsimi Suharsimi Arikunto (2002: 154) menyatakan bahwa reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Saifuddin Azwar (2001:5) menyatakan bahwa reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil, tetap akan sama.
Menurut Saifuddin Azwar (2007:83) reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas yang angkanya berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0, berarti semakin rendah reliabilitasnya. Setelah diuji reliabilitas dengan menggunakan  program komputer SPSS seri 15, instrumen memiliki koefisien 0.903. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki reliabilitas yang tinggi.
Analisis Data
Sujati (2000:50) mengartikan analisis data sebagai suatu proses yang dapat dilakukan dengan cara menggolong-golongkan, mengurutkan dalam suatu pola dan menghubung-hubungkan antara data yang satu dengan data yang lain.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif dengan tehnik analisis statistik nonparametrik, yaitu dengan menggunakan analisis Tes Ranking Bertanda Wilcoxon untuk data berpasangan (Wilcoxon Match Pair-Test).
Berikutnya penentuan kategori kecenderungan dari tiap-tiap variabel didasarkan pada norma atau ketentuan kategori. Kategori tersebut menurut Saifuddin Azwar (2007:109) sebagai berikut:
1)       (µ+1,0σ) ≤ X                                                          = Tinggi
2)       (µ-1,0σ) ≤ X < (µ+1,0σ)                       = Sedang
                      X < (µ-1,0σ)                     = Rendah

No.
Kategori Motivasi Belajar
Rentang Skor
1.
Tinggi
> 87
2.
Sedang
58 – 87
3.
Rendah
< 58


D.     HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Sekolah yang di tunjuk adalah SMP Negeri 1 Pulokulon, Jl. Raya Panunggalan No. 416, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan,  Jawa Tengah, Telepon/HP/Fax:( 0292 ) 7700542.
Pre Test
Dari hasil pre test, dapat dilihat dari sepuluh siswa, skor tertinggi adalah 76 dan skor terendah adalah 63. Mediannya adalah 71 dan reratanya adalah 70.3. Skor rerata 70.3 dikategorikan sedang.
Siklus 1
Untuk data motivasi belajar siswa post test 1 dari sepuluh siswa, skor tertinggi adalah 87 dan skor terendah adalah 68. Mediannya adalah 70.5 dan reratanya adalah 72.9. Skor rerata 72.9 dikategorikan sedang.
Dari hasil pengamatan pelaksanaan siklus pertama menunjukkan perubahan yang positif. Dari siswa yang awalnya tidak berani mengungkapkan pendapatnya menjadi berani untuk berpendapat dan terbangun rasa percaya dirinya. Tetapi masih ada beberapa siswa yang masih mengalami sedikit kesulitan dalam mengungkapkan pendapat.
Peningkatan nilai rerata masih kurang memuaskan sehingga konseling kelompok masih perlu ditingkatkan lagi dalam hal metode penyampaian materi dengan menggunakan media yang lebih menarik agar siswa lebih termotivasi untuk belajar
Siklus 2
Untuk data motivasi belajar siswa post test 2 dari sepuluh siswa, skor tertinggi adalah 91 dan skor terendah adalah 71. Mediannya adalah 79 dan reratanya adalah 79.7. Skor rerata 79.9 dikategorikan sedang.
Berdasarkan hasil dari post test 1 dengan post test 2 menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar, hal ini ditunjukkan dengan perbedaan rerata hasil post test 1 dengan post test 2. Skor rerata post test 1 adalah 72.9 sedangkan skor rerata post test 2 adalah 79.7
Dari hasil dari post test 2 dan pengamatan serta mengadakan diskusi dengan guru BK di SMP N 1 Pulokulon Grobogan, maka   kegiatan konseling kelompok pada siklus 2 ini sudah dapat meningkatkan motivasi siswa secara lebih baik. Beberapa kemampuan yang hendak dimunculkan dalam situasi kelompok juga sudah dapat terlihat jelas, siswa lebih bisa mengungkapkan pendapat dan perasaannya dengan baik, sudah bisa saling membantu dan menghargai.  Sehingga tujuan dari kegiatan konseling kelompok ini sudah tercapai dan tidak perlu dilanjutkan pada siklus yang selanjutnya.
Dari peningkatan skor dua indikator tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan 2 melalui konseling kelompok.
Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Hasil Penelitian
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan tehnik statistik nonparametris dari Wilcoxon. Dikarenakan tindakan pada penelitian ini dibagi menjadi dua siklus dan masing-masing siklus diberi post test, uji Wilcoxon dilakukan tiga kali,yaitu :
1)       Uji Wilcoxon antara pre test dengan post test 1
2)       Uji Wilcoxon antara pre test  dengan post test 2
3)       Uji Wilcoxon antara post test 1 dengan post test 2
Berdasarkan kriteria pengujian yang ditetapkan maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan sebelum tindakan dan setelah diberikan tindakan siklus 2.
Selanjutnya data peningkatan motivasi belajar siswa nampak pada hasil rerata seperti yang terdapat dalan tabel berikut :

Tabel Skor Rerata Pre Test, Post Test 1 dan Post Test 2


Sumber
Rerata
Pre Test
Post Test 1
Post Test 2
Tingkat Motivasi Belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
70.3
72.9
79.7



Berdasarkan grafik tersebut dapat terlihat dengan jelas kenaikan skor rerata dari pre test, post test 1 dan post test 2. Selanjutnya, berdasarkan grafik dan pengujian dengan tes Wilcoxon dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan konseling kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokukon Grobogan. Jadi hipotesis yang menyatakan bahwa “Konseling kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokukon Grobogan Tahun Ajaran 2014/2015” dapat diterima.
Setelah pelaksanaan siklus 1 dan 2 dapat diketahui bahwa siswa sudah menunjukkan adanya perubahan. Siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar. Berdasarkan refleksi siklus yang pertama, walaupun sudah terdapat peningkatan skor rerata, tetapi setelah di uji dengan uji Wilcoxon, ternyata belum ada peningkatan yang signifikan. Sedangkan berdasarkan pengamatan, beberapa siswa juga masih ada yang terlihat kurang nyaman selama mengikuti proses konseling. Pada siklus 2, setelah diuji, terlihat adanya peningkatan motivasi belajar yang signifikan. Juga berdasarkan pengamatan, siswa lebih terbuka dalam mengungkapkan pendapat dan perasaannya sehingga konseling kelompok terlihat lebih hidup dan menyenangkan.
Keterbatasan Penelitian
Selama  proses penelitian dilakukan, peneliti menyadari bahwa masih banyak kelemahan dan keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi peneliti selama penelitian dilaksanakan adalah :
  1. Selama pelaksanaan penelitian, pemantauan subyek penelitian tidak dilakukan diluar jam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar proses kegiatan berjalan dengan alami, tanpa adanya perasaan diawasi. Sehingga faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penelitian tidak terungkap secara mendalam.
  2. Pada pelaksanaan pre test, post test 1 dan post test 2 menggunakan angket yang sama dengan item yang sama pula, sehingga kemungkinan hasil post test yang telah ada, mendapat pengaruh latihan dari pre test sebelum pelaksanaan konseling kelompok.

E.      KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, pengujian hipotesis dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa “Ada peningkatan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan melalui konseling kelompok” Hal ini dapat diketahui dengan pelaksanaan dua siklus sebagai berikut :
a.        Pada siklus 1 yang menggunakan metode diskusi tanpa penggunaan media lain, menunjukkan peningkatan yang belum begitu baik. Belum terbukti adanya perbedaan motivasi belajar yang signifikan antara sebelum dan sesudah tindakan. Walaupun jika dilihat dari skor reratanya meningkat.
b.       Pada siklus 2 menunjukkan peningkatan yang signifikan dan juga terbukti adanya perbedaan setelah di uji dengan uji Wilcoxon. Peningkatan ini juga didukung oleh nilai rerata yang naik.
Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :
  1. Bagi Siswa
Motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Grobogan telah terbukti meningkat setelah dilakukan konseling kelompok. Untuk itu disarankan kepada siswa agar motivasi yang telah dimiliki dipertahankan dan ditingkatkan dengan selalu mempraktikkan solusi-solusi yang telah didapatkan dalam konseling kelompok.
  1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar bisa dilakukan dengan konseling kelompok dengan metode-metode yang variatif dan kreatif serta tempat yang tidak selalu dikelas sehingga siswa terjebak dengan situasi kelas yang membosankan.
  1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dalam penelitian ini, upaya peningkatan motivasi belajar hanya dilakukan melalui konseling kelompok. Untuk pengembangan penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan berbagai macam metode layanan bimbingan dan konseling yang lebih kreatif dan inovatif, misalnya saja dengan mengadakan training atau outbond. Selain itu faktor-faktor yang terjadi diluar penelitian sebaiknya dikaji secara lebih yang akhirnya dapat menjadi informasi penting yang akan mendukung berhasilnya suatu penelitian.

F.       DAFTAR PUSTAKA
Anggoro Kasih, Sri. 2004. Hubungan Layanan Konseling Kelompok Dengan Sikap Sosial Siswa Kelas V SD N 6 Bulungkulon Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Kudus: UMK.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
________. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2001. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
________. 2007. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bahri, Syaiful. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.
Budi Santoso, Purbayu & Ashari. 2005. Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan SPSS. Yogyakarta : Andi Offset.
Departemen P & K Direktorat Jenderal Pendididkan Dasar dan Menengah. 1999. Penelitian Tindakan. Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) 2003 (UU RI Tahun 2003). Jakarta: Sinar Grafika.
Furqon. 2004. Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Gazda, George M. 1997. Group Counseling A Developmental Approach. Boston : Allyn and Baron.
Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi Research. rev. ed. Yogyakarta: penerbit Andi.
Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. 
Nazir, Moh. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
________. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Madya, Suwarsih. 1994. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Prayitno & Amti, Erman. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. 2002. Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum .
Rintyastini, Yulita & Suzy Yulia. 2006. Bimbingan dan Konseling SMP untuk Kelas VII. Jakarta: Erlangga.
Rosjidan. et al. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Malang: FIP Universitas Negeri Malang.
Rumini, Sri. et al. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UPP UNY.
Santoso, Totok. 1987. Konseling Kelompok Di Sekolah (Suatu Pengantar). Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Sardiman, A. M. 2005. Interaksi dan Motivasi Mengajar. Jakarta: Grafindo Persada.
Suciwati & Irawan, Prasetya. 2001. Teori Belajar dan Motivasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
________. 2005. Statistika Untuk Penelitian. Cetakan ketujuh. Bandung : Alfabeta.
________. 2007. Statistik Nonparametris Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Sujati. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: FIP UNY.
Sukardi, Dewa Ketut. 1994. Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
________. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumarni, Siti. 2 Mei 2005. 3 Mei 2007. Forum Guru Memotivasi Belajar. Garut: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/02/1104.htm
Sutikno, Sobry M. 3 Mei 2007. 15 April 2007. Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. NTB: http://bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html
Winkel. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

Winkel & Sri Hastuti. 2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar