hot2

Rabu, 05 Desember 2012

SKRIPSIku 3

-->
PERBEDAAN KONSEP DIRI ANTARA SISWA YANG DIASUH ORANG TUA KANDUNG DENGAN SISWA YANG DIASUH OLEH ORANG
TUA LAIN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2
WIROSARI KABUPATEN GROBOGAN
 TAHUN PELAJARAN 2011/2012


BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Orang tua adalah komponen keluarga yang di dalamnya terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga kecil. Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia sangatlah penting. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan sifat masing-masing dari anggotanya, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Swhingga orang tua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi anak. Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang tepat.
Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh pada perilaku si anak melainkan akan berpengaruh pula pada sikapnya. Anak merupakan aset yang menentukan kelangsungan hidup,
kualitas dan kejayaan suatu bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu dikondisikan agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik mungkin agar di masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter serta berkepribadian baik. Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak. Karenanya keluarga sering dikatakan sebagai primary group. Alasannya, institusi terkesil dalam masyarakat ini telah mempengaruhi perkembangan individu anggota-anggotanya, termasuk sang anak.
Kenyataan yang ada, banyak anak yang tidak mendapatkan pengasuhan dari orang tua kandung karena keadaan dan kondisi yang tidak memungkinkan seperti karena kedua orang bercerai atau karena ke dua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan sehingga sejak kecil sudah di asuh oleh saudara orang tua atau orang lain yang peduli dengan anak tersebut. Berdasrkan hasil pengamatan peneliti, banyak anak yang mendapat pengasuhan dari orang lain mengalami masalah dengan sikap dan perilakunya baik di lingkungannya. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru pembimbing di SMP N 2 Wirosari Kabupaten Grobogan tersebut diperoleh data bahwa hampir 50% siswa di kelas VIII yang tidak mendapat pengasuhan orang tua kandung  mempunyai konsep diri yang belum positif, gejala yang nampak yaitu membolos, hasil prestasi belajar yang rendah, menyontek, membuat gaduh saat pelajaran, berkelahi, adanya siswa yang melanggar tata tertib sekolah, adanya siswa yang memiliki perasaan rendah diri, dan adanya siswa yang mempunyai perasaan tidak mampu melaksanakan tugas. Siswa yang demikian itu dapat dikatakan memiliki konsep diri yang negatif.
Dengan demikian pola asuh orang tua yang diciptakan di lingkungan keluarga akan mempengaruhi sikap anak yang ada kaitannya dengan segala bentuk tingkah laku anak. Dari sinilah penulis mengangkat penelitian yang berjudul: Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 .
B. Perumusan Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : “ Apakah Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012?”

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya berkaitan dengan pengembangan konsep diri siswa, dan wujud dari sumbangan tersebut yaitu ditemukannya hasil-hasil penelitian baru tentang bimbingan konseling guna meningkatkan pelayanan bimbingan di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru pembimbing
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi guru pembimbing di SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan dalam melakukan kegiatan layanan bimbingan konseling, dengan memanfaatkan jam Bimbingan dan Konseling di kelas seefektif mungkin untuk membantu untuk membentuk konsep diri yang positif pada siswa.
b. Bagi peserta didik
Dengan mengikuti kegiatan bimbingan konseling siswa akan terdorong untuk membentuk konsep diri yang positif, terbuka, menghargai orang lain, mau mengendalikan emosi, mengembangkan rasa setia kawan, belajar untuk mempercayai kemampuan diri sendiri, serta belajar untuk memecahkanmasalah.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Deskripsi Teori
  1. Tinjauan Tentang Konsep Diri
Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.
a. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan.
Pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya. Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi): ”konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan”. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya.
Mulyana (2000:7): ”Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu”. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya.
Individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak.
Seperti yang dikemukakan Hurlock (2000:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.
Menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknyajika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002: http: /www.e-psikologi. com/ dewa/ 16050.htm).
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisikdirinya maupun lingkungan terdekatnya.
2. Jenis-jenis Konsep Diri
Menurut William D.Brooks (dalam Rahkmat, 2005:105) bahwa dalam menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yangpositif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif. Tanda-tandaindividu yang memiliki konsep diri yang positif adalah :
a. Individu yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah.
Orang ini mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
b. Individu merasa setara dengan orang lain.
Individu selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
c. Individu menerima pujian tanpa rasa malu.
Individu menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
d. Individu menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat.Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
e. Individu mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadilebih baik agar diterima di lingkungannya.
Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yangmempunyai konsep diri yang positif. Sedangkan tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri negatif adalah :
a. Individu peka terhadap kritik.
Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dariindividu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
b. Individu responsif sekali terhadap pujian.
Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, individu tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung hargadirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain.
c. Individu cenderung bersikap hiperkritis.
Individu selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun.Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
d. Individu cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
Individu merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lainsebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dankeakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri ataubahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencelaatau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi(bermusuhan).
e. Individu bersikap psimis terhadap kompetisi.
Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang laindalam membuat prestasi. Individu akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya
.Pernyataan lain menyebutkan bahwa individu yang memiliki konsepdiri negatif maupun positif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (Rini, 2002:http://www.e-psikologi./com/dewasa/1670502.htp)
a. Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap psimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
b.  Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percayadiri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, jugaterhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diripositif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yangpositif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Melihat uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik konsep diri dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif, yang mana keduanya memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda antara ciri karakteristik konsep diri positif dan karakteristik konsepdiri yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri positif dalam segala sesuatunya akan menanggapinya secara positif, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinyasendiri. Ia akan percaya diri, akan bersikap yakin dalam bertindak dan berperilaku. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan menanggapi segala sesuatu dengan pandangan negatif pula, dia akan mengubah terus menerus konsep dirinya atau melindungi konsep dirinya itu secara kokoh dengan cara mengubah atau menolak informasi baru dari lingkungannya.
3. Isi Konsep Diri
Sewaktu lingkungan anak yang sedang tumbuh meluas, isi dari konsep dirinya juga berkembang meluas, termasuk hal-hal seperti pemilikan, teman-teman, nilai-nilai dan khususnya orang-orang yang disayangi melalui proses identifikasi. Untuk merumuskan isi dari konsep diri tidaklah mudah, kita berkedudukan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, namun demikian secara umum isi konsep diri dapat dirumuskan. Menurut Jersild dalam penelitiannya terhadap penelitian anak sekolah dasar dan sekolah menengah yang dikutib Burns (2000:209-210) mendiskripsikan isi dari konsep diri adalah :
a. Karakteristik fisik
Karakteristik yang merupakan suatu ciri atau hal yang membedakan dari individu dengan individu yang lain yaitu, yang mencakup penampilan secara umum, ukuran tubuh dan berat tubuh, dan detail-detail dari kepala dan tungkai lengan. Karakteristik fisik dapat menyebabkan adanya pandangan yang berbeda tiap individu satu dengan individu yang lain tentang dirinya sendiri, contohnya kalau seorang bintang film yang cantik pasti akan dijadikan idola. Hal ini kadang dijadikan masalah, karena individu itu sendiri merasa memiliki kekurangan dibandingkan dengan temannya yang memiliki kelebihan, seperti kurang tinggi, terlalu gemuk, tidak cantik, perasaan ini dapatberkembang menjadi konsep diri yang negatif apabila masyarakat memperhatkan dan menjunjung individu yang mempuyai kelebihan dibandingkan dengan individu yang tidak mempunyai kelebihan.
b. Penampilan
Penampilan dari setiap individu tentunya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain, hal ini dapat menggambarkan kepribdian seseorang. Penampilan ini mencakup cara berpakaian, model rambut dan make-up, dengan keadaan seperti ini, individu dimungkinkan percaya diri atau tidak. Misalnya, seseorang yang tidak pernah memakai make up suatu saat disuruh temannya memakainya, tentunya pada saat itu ada perbedaan antara temannya yang sudah terbiasa memakai make up dengan dirinya yang malu dan menutupi wajahnya dengan kain.
c. Kesehatan dan kondisi fisik
Kesehatan dan kondisi fisik sangat diperlukan bagi setiap individu dalam menjalani hidup ini, terutama dalam mencapai karier. Individu yang mempunyai kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik akan mengakibatkan gangguan kenormalan yang berakibat individu itu merasa tidak aman atau kurang percaya diri, yang berakibat menimbulkan penilaian terhadap dirinya sendiri menjadi negatif, individu yang memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang baik akan percaya diri bila dibandingkandengan yang memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik atau lemah.
d. Rumah dan hubungan keluarga
Rumah dan hubungan keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal atau ditempati individu saat lahir dan mengenal lingkungan luar. Didalam rumah, hubungan keluarga akan tercipta suasana dan kondisi yang menyenangkan atau tidak, ini dapat dijadikan sebagai suatu informasi, pengalaman, yang dijadikan pegangan hidup individu untuk berinteraksi, untuk itu rumah dan hubungan keluarga yang terjalin dengan baik akan membuat individu senang dan bahagia dengan rumah dan hubungan keluarga yang dimilikinya, tetapi seorang individu yang rumah dan hubungan keluarganya yang tidak terjalin dengan baik, misalnya kedua orang tuanya sering bertengkar, bercerai atau broken home ini akan menyebabkan individu memiliki pandangan negatif tentang keluarganya.
e. Hobi dan permainan
Hobi dan permainan sangat berhubungan, karena dari percobaan setiap permainan akan muncul pengembangan hobi, dengan terkuasainyapermainan itu, individu akan berusaha mengembangkan kemampuan dan percaya diri terhadap hobi dan permainannya. Individu yang memiliki hobi dan permainan yang dapat dikembangkan secara baik akan terarah dan adanya dukungan dari diri, keluarga dan lingkungan dekatnya,individu akan termotivasi untuk mengembangkannya dan tentunya individu itu akan dipandang lingkungan sekitarnya.
f. Sekolah dan pekerjaan sekolah
Sekolah merupakan tempat belajar individu dalam tahap pencarian ilmu, dalam sekolah ada tugas-tugas yang diberikan individu. Individu yang mengerjakan tugasnya sebelum batas waktu pengumpulan, disinilah terlihat bagaimana kemampuan dan sikap individu terhadap sekolahapakah ia merasa mampu dan berprestasi didalam mengerjakan tugas – tugas sekolah. Seorang individu yang selalu mendapat nilai tidak bagus ini akan mempengaruhi cara belajarnya atau pandangan individu bahwa dirinya seorang yang cenderung gagal atau bodoh.
g. Kecerdasan
Kecerdasan berkaitan dengan status intelektual yang dimiliki individu. Kecerdasan ini ada yang tinggi dan ada yang rendah, dari kecerdasan ini cara berfikir atau daya tangkap individu berbeda, sehingga pandangan dirinya sendiri tentunya juga berbeda-beda, misalnya anak yang memiliki kecerdasan yang baik/tinggi akan dipuji oleh guru, orangtua dan temannya yang kemudian individu itu akan percaya diri saat mengerjakan tugas atau mengikuti tes.
h. Bakat dan minat
Bakat dan minat yang dimiliki individu itu berbeda-beda walaupun individu itu kembar sekalipun. Seseorang yang memiliki bakat dan minat yang terlatih atau disalurkan akan mengakibatkan individu itu mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang dan biasanya timbul perasaan percaya diri bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan berbeda dengan individu yang bakat dan minatnya yang tidak jelas atau asal-asalan, sehingga ini dapat menyebabkan individu putus asa atau tidak percaya diri.
i. Ciri kepribadian
Ciri kepribadian seseorang ini berhubungan dengan tenpramen, karakter dan tendensi emosional dan lain sebagainya. Ciri kepribadian ini akan mempengaruhi individu dalam bertindak atau dalam berfikir, misalnya seseorang individu yang selalu mengatur, dalam segi kegiatan individu itu akan selalu mengatur atau berpandangan kalau dia berhak mengaturnya.
j. Sikap dan hubungan sosial
Sikap dan hubungan sosial yang dilakukan oleh individu terhadap orang-orang yang berada disekitarnya, pergaulan dengan teman sebaya. Seorang individu yang ekstrovet cenderung akan senang dengan keadaan ramai dan akan mudah dalam mencari teman atau memulai pembicaraan, hal ini dapat membuat individu itu semakin bertambah wawasan, informasi, pengalaman dan pengetahuan. Sedangkan pada individu yang introvert akan cendeung menutup diri, dan berusaha menjauh dari teman-temannya dengan berpikiran dirinya mempunyai banyak kelemahan. Uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap dan hubungan sosial ini akan mempengaruhi individu dalam memandang dirinya sendiri, misalnya anak introvert memandang lingkungan yang ditemapti saat ini membosankan dan menyakitkan bagidirinya sendiri.
k. Religius
Manusia hidup tidak dapat terlepas dari hubungan dengan TuhanYang Maha Esa, karena tanpa bantuan dan karunia-Nya, kita tidak bisa hidup. Seseorang yang memiliki segi religius positif akan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, untuk itu religius yang positif ini akan mempengaruhi cara berpikir danbertingkah laku atau bertindak yang mengarah kepada penilaian diri yang percaya diri dan positif.
Beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa isi konsep diri meliputi penampilan, kepribadian, kecerdasan, kesehatan dan kondisi fisik, keluarga, hubungan sosial, penyesuaian dengan orang-orang disekitar dan lawan jenis, bakat dan minat serta hobi.
4. Peranan Konsep Diri
Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu. Individu memandang atau menilai dirinya sendiri akan tampak jelasdari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang memiliki cukup kemampuan untuk melaksanakan tugas, maka individu itu akan menampakan perilaku sukses dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang kurang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, maka individu itu akan menunjukkan ketidakmampuandalam perilakunya.
Rogers (dalam Burns, 2000:353) menyatakan bahwa konsep diri memainkan peranan yang sentral dalam tingkah laku manusia, dan bahwa semakin besar kesesuaian di antara konsep diri dan realitas semakin berkurang ketidakmampuan diri orang yang bersangkutan dan juga semakin berkurang perasaan tidak puasnya. Hal ini karena cara individu memandang dirinya akan tampak dari seluruh perilakunya. Konsep diri berperan dalam mempertahankan keselarasan batin, penafsiran pengalaman dan menentukanharapan individu. Konsep diri mempunyai peranan dalam mempertahankan keselarasan batin karena apabila timbul perasaan atau persepsi yang tidak seimbang atau saling bertentangan, maka akan terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. Untuk menghilangkan ketidakselarasan tersebut, ia akan mengubah perilakunya sampai dirinya merasakan adanya keseimbangan kembali dan situasinya menjadi menyenangkan lagi.
Hurlock (2000:238) mengemukakan, konsep diri merupakan inti daripola perkembangan kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi berbagai bentuk sifat. Jika konsep diri positif, anak akan mengembangkan sifat-sifat seperti kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara realitas, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Sebaliknya apabila konsep diri negatif, anak akan mengembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri. Mereka merasa ragu dan kurang percaya diri, sehingga menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk pula. Konsep diri juga dikatakan berperan dalam perilaku individu karena seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya akan mempengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan setiap aspek pengalaman - pengalamannya.
Suatu kejadian akan ditafsirkan secara-berbeda-beda antaraindividu yang satu dengan individu yang lain, karena masing-masing individumempunyai pandangan dan sikap berbeda terhadap diri mereka. Tafsiran - tafsiran individu terhadap sesuatu peristiwa banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya sendiri. Tafsiran negatif terhadap pengalaman disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap dirinya sendiri, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya konsep diri dikatakan berperan dalam menentukan perilaku karena konsep diri menentukan pengharapan individu.
Menurut beberapa ahli, pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri. Pengharapan merupakan tujuan, cita-cita individu yang selalu ingin dicapainya demi tercapainya keseimbangan batin yang menyenangkan. Misalnya bila seorang individu berpikir bahwa dia bodoh, individu tersebut akan benar - benar menjadi bodoh. Sebaliknya apabila individu tersebut merasa bahwa dia memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan apapun yang dihadapinya pada akhirnya dapat diatasi. Ini karena individu tersebut berusaha hidup sesuai dengan label yang diletakkan pada dirinya. Dengan kata lain sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang, positif atau negatif.


5. Pembentukan dan Pengembangan Konsep Diri
Menurut paham religi khususnya Islam manusia terlahir dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum tertulis. Dengan demikian konsep diri itu muncul berdasarkan pengalaman, kebiasaan dan latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan kata lain konsep diri merupakan produk sosial. Anak yang putih tersebut ternoda setelah ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah anak itu terlahir dapat memberikan respon terhadap dunia sekitarnya, maka sejak itu pula kesadaran dirinya muncul menjadi dasar dalam pembentukan konsep dirinya.
 Konsep diri dihasilkan dari interaksi dua faktor yaitu diri individu itu sendiri dan lingkungan”. (Calhoun alih bahasa Satmoko, 2000:74). Konsep diri yang dimiliki individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari lingkungan individu, karena konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari beribu-ribu pengalaman yang berbeda-beda dan sedikit demi sedikit menjadi satu. Setiap orang dilahirkan tanpa konsep diri. Konsep diri berakar pada pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang akibat dari interaksinya dengan orang lain. Melalui pengalaman interaksi dengan orang lain dan cara orang lain memperlakukan individu tersebut akan menangkap pantulan tentang dirinya dan akhirnya membentuk gagasan dalam dirinya seperti apakah dirinya sebagai pribadi. Pendek kata, konsep diri individu itu dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya.
Hurlock (2000:132) mengatakan, bahwa konsep diri anak terbentuk pada awal masa kanak-kanak di dalam hubungannya dengan keluarga, yaitu orang tua, saudara-saudara kandung, dan sanak saudara lain yang merupakan dunia sosial bagi anak-anak. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak mulai membentuk konsep diri yang ideal. Pada mulanya konsep diri ideal ini mengikuti pola yang digariskan oleh orang tuanya, guru dan orang lain di sekitar kemudian meluas pada tokoh-tokoh yang dibaca atau didengar. Keluarga mempunyai peranan yang penting dan paling dini dalam pembentukan konsep diri, karena terdapat banyak kondisi dalam keluarga yang ikut membentuk konsep diri pada anak, yaitu cara orang tua dalam mendidik anak, cita-cita orang tua terhadap anaknya, posisi urutan anak dalam urutan dalam keluarga, identitas kelompok dan ketidak nyamanan lingkungan.
Selanjutnya Centi (2000:16-23) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri adalah :
a. Orang Tua
Informasi atau cerminan tentang diri kita, orang tua kita memegang peranan paling istimewa. Penilaian yang orang tua kenakalan kepada kita untuk sebagian besar menjadi penilaian yang kita pegang tentang diri kita. Sebutan orang tua yang diberikan pada anaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalanan individu dan individu akan meragukan keberadaan dirinya.


b. Saudara Sekandung
Hubungan dengan saudara sekandung juga penting dalam pembentukan konsep diri. Anak sulung yang diperlakukan seperti seorang pemimpin oleh adik-adiknya dan mendapat banyak kesempatan berperan sebagai penasihat mereka, mendapat banyak keuntungan besar dari kedudukannya dalam hal pengembangan konsep diri yang sehat. Sedang anak bungsu yang pada umumnya dianggap seperti anak kecil terus menerus akan mengakibatkan kepercayaan dan harga dirinya lemah.
c. Sekolah
Tokoh utama di sekolah adalah guru, seorang guru yang sikap dan pribadinya baik membawa dampak besar bagi penanaman gagasan dalam pikiran siswa tentang diri mereka. Untuk kebanyakan siswa, guru merupakan model. Selain itu siswa yang sering mendapatkan prestasi dalam bidang akademik maupun bidang lain, tentu akan memperoleh pujian dan pengahargaan dari banyak pihak di sekolah mulai dari teman,guru, bahkan kepala sekolah. Bagi mereka pujian dan pengahargaan dapat menumbuhkan konsep diri positif karena ada pengakuan dari orang lainyang menerima keberadaan dirinya. Seangkan siswa yang bermasalah akan sering dihukum cenderung memiliki konsep diri negatif.
d. Teman sebaya
Hidup kita tidak terbatas dalam lingkungan keluarga saja, kita juga punya teman.Teman sebaya merupakan urutan kedua setelah orang tua. Setelah mendapatkan pengakuan dari orang tua individu juga membutuhkan pengakuan dari orang lain yaitu teman sebaya. Peranan individu dalam kelompok sebagai “pemimpin kelompok” atau sebaliknya “pengacau kelompok” akan membuat individu memiliki pandangan terhadap dirinya sendiri (Calhoun alih bahasa Satmoko, 2000:78). Dalam pergaulan dengan teman-teman itu, apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak, ikut menentukan dalam pembentukan konsep diri kita.
e. Masyarakat
Sebagai anggota masyarakat sejak kecil kita sudah dituntut untuk bertindak menurut cara dan patokan tertentu yang berlaku pada masyarakat kita. Penilaian masyarakat terhadap diri individu akan membentuk konsep diri individu. Penilaian masyarakat yang terlanjur menilai buruk terhadap individu akan membuat individu kesulitan memperoleh melalui gambaran diri yang baik.
f. Pengalaman
Banyak pandangan tentang diri kita, dipengaruhi juga oleh pengalaman keberhasilan dan kegagalan kita. Konsep diri adalah hasil belajar, dan belajar dapat diperoleh melalui pengalaman individu sehari-hari. Dalam melakukan aktifitas sehari-hari individu dihadapkan pada keberhasilan dan kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan dan kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan studi, bergaul, berolah raga akan mudah mengembangkan harga diri individu. Sedangkan pengalaman kegagalan akan merugikan perkembangan harga diri individu.
Pendapat lain menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, yaitu : (Rini, 2002:http://www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).
a. Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua menjadi faktor yang penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. ”Orang tua adalah kontak sosial pertama yang dialami individu, dan apa yang dikomunikasikan oleh orang tua terhadap individu akan lebih menancap daripada informasi lainnya” (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:77). Sikap positif yang dilakukan orang tua seperti cinta kasih, perhatian akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri, individu merasa dicintai banyak orang sehingga ia merasa pantas mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada individu manakala orang tua tidak memberikan kehangatan, cinta kasih sayang pada individu, sehingga menimbulkan pemikiran pada individu bahwa dirinya tidak bergharga dan tidak pantas dicintai.
a. Kegagalan
Kegagalan yang dialami secara terus menerus akan menimbulkan pertanyaan pada diri individu itu sendiri dan membuat individu membuat kesimpulan sendiri bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan, merasa dirinya hanya mempunyai kelemahan sehingga individu merasa tidak berguna, bahkan merasa dirinya hancur.

b. Depresi
Individu yang mengalami depresi akan memiliki pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatu,termasuk dalam menilai diri sendiri. Semua hal cenderung dipersepsinegatif. Individu yang depresi akan sulit melihat kemampuan dirinyauntuk bertahan menjalani kehidupan, dan biasanya individu ini cenderung sensitif dan mudah tersinggung.
c. Kritik Internal
Mengkritik diri sendiri diperlukan untuk menyadarkan individu akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritikan terhadap diri sendiri berfungsi sebagai rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan individu dapat diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.
Konsep diri merupakan produk sosial, maka Sullivan (Rakhmat, 2005:101) menjelaskan bahwa “individu mengenal dirinya dengan mengenal orang lain lebih dahulu”. Dalam hal ini penilaian orang lain terhadap individu tersebut akan membentuk konsep dirinya sesuai dengan penilaian itu. Misalnya jika individu itu diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan dirinya, dia akan cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolaknya, individu akan cenderung tidak menyenangi dirinya. Dengan kata lain individu akan termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan pandangan orang lain terhadap dirinya. Pandangan individu tentang keseluruhan pandangan orang lain terhadap dirinya disebut generalized otheratau role taking dan berperan penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. Informasi, pengharapan dan pengertian yang membentuk konsep diri terutama berasal dari interaksi dengan orang lain. Orang tua merupakan oranglain yang paling awal dalam membentuk konsep diri. Selanjutnya yang mempengaruhi konsep diri adalah teman sebaya dan akhirnya menyumbangkan konsep diri adalah masyarakat. Dengan kata lain konsep diri terbentuk karena umpan balik dari masyarakat.
Setelah konsep diri terbentuk maka konsep diri juga mengalami perkembangan, konsep diri berkembang secara bertahap yaitu mulai dari bayi dimana saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Perkembangan konsep diri terpacu cepat dengan perkembangan bicara.Tahap selanjutnya adalah pada masa anak yang mana keluargamempunyai peran yang penting dalam membantu perkembangan konsep diriterutama pada pengalaman-pengalaman pada masa kanak-kanak. Suasana keluarga yang saling menghargai dan mempunyai pandangan yang positif akan mendorong kreatifitas anak, menghasilkan perasaan yang positif dan berarti.
Hurlock (2000:235), mengemukakan bahwa ”konsep diri biasanya bertambah stabil pada masa remaja”. Hal ini memberi perasaan kesinambungan dan memungkinkan remaja memandang diri sendiri dengan cara yang konsisten, tidak memandang diri hari ini berbeda dengan hari lain, sehingga dapat meningkatkan harga diri dan memperkecil perasaan tidak mampu. Selanjutnya Hurlock mengatakan konsep diri selalu menujuk kepembentukan konsep diri yang ideal. Konsep diri yang ideal pertama-tama ditentukan oleh orang-orang di sekitar sesuai dengan tingkat perkembangan diri individu. Faktor yang mempengaruhi konsep diri dapat dipisahkan melalui tingkat perkembangan masing-masing individu. Faktor faktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa balita akan berbeda dengan faktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa kanak-kanak. Demikian pula pada saat individu dalam masa remaja. Masa remaja merupakan masayang potensial untuk mengembangkan konsep diri, sebab masa remaja adalahmasa yang penuh dengan tekanan yang memungkinkan individu menemukanidentitas dirinya. Mencoba berbagai peran, remaja mengharapkan bahwa ia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas perkembangannya, maka ia juga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan konsep dirinya.
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli di atas yang telah mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri, secara jelas dapat dikatakan bahwa konsep diri seseorang bukanlah diwariskan atau ditentukan secara biologis, bukan merupakan bawaan sejak lahir tetapi terbentuk dan berkembang hasil proses belajar melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri pertama kali dibentuk hasil dari individu dengan lingkungan keluarga terutama orang tua seperti sebutan orang tua yang diberikan padaanaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalananin dividu, saudara kandung seperti perlakuan orang tua kepada anak sulung dan anak bungsu, seterusnya teman sebaya antara lain apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak oleh teman kita, selanjutnya sekolah misalkan seorang guru yang menjadi model bagi para muridnya, masyarakat seperti penilaian masyarakat yang terlanjur menilai buruk kepada individu danyang terakhir pengalaman  -pengalaman pribadi seperti kegagalan, depresi dan kritik internal.
B.       Tinjauan Tentang Pengasuhan Orang Tua
  1. Pengertian Pola Asuh
Mendidik anak adalah tugas yang sangat mulia. Seorang ibu memegang peranan penting dalam mendidik anak di lingkungan rumah tangga, sebab ibulah yang hampir setiap hari berada dirumah. Lingkungan keluarga adalah sebuah sekolah. Seorang ibu harus menjadi seorang tokoh utama didalam pekerjaan mendidik anak-anaknya teristimewa ketika mereka masih kecil, maka seorang ibu haruslah senantiasa menjadi pendidik dan teman mereka yang baik pula, dengan memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak. “Bahwa Tuhan memerintahkan supaya keluarga menjadi tempat pendidikan yang paling ampuh dan penting dari semangat”.  Didalam rumah tangga pendidikan anak harus dimulai. Karena inilah sekolah yang pertama. Disini Bapak dan Ibu sebagai gurunya, maka anak itu harus belajar segala pelajaran yang akan memimpinnya sepanjang hidupnya, yaitu pelajaran-pelajaran tentang penghormatan, pengaturan, pengendalian diri  dan  kejujuran.  Ini  adalah  mata  pelajaran  dasar  yang
 perlu diajarkan seorang ibu didalam runah tangga. Cara yang paling baik untuk mendidik anak supaya menghormati orangtuanya dalam rumah tangga / keluarga adalah memberi teladan kepada mereka, bagaimana orangtua menyatakan kasih sayang mereka serta penghormatan antara satu dengan yang lain akan memberi teladan yang mendalam dan berarti kepada pikiran dan hati anak itu.
 Menurut Rimm (2003: 16):
 ”Pola asuh orang tua adalah orang tua sebagai pemimpin, pembimbing serta pengasuh bagi anak-anaknya selalu tercermin dari sikap kepemimpinan yang dimilikinya. Masing-masing orang tua memiliki ciri khas atau sikap memimpin terhadap anak-anaknya”.

Sebaliknya anak yang berperangai buruk dapat terjadi merupakan produk hubungan orang tua-anak yang tidak baik pula. Anak yang tidak memperoleh perhatian dan kasih sayang orang tua menjadi haus akan kasih sayang, dan mereka takut dikesampingkan. Lagi pula mereka terlampau ingin menyenangkan orang lain atau melakukan sesuatu bagi orang lain. Semua itu merupakan bentuk konpensasi dan usaha mencari perhatian terhadap orang lain dengan cara apapun.
Menurut Shochib, M. (2002: 19) kata "pola asuh" terdiri atas kata "pola" dan "asuh". kata "pola" mengandun arti cocok, sistim kerja atau bentuk (struktur yang tetap). Sedangkan kata "asuh" mengandung arti mejaga, merawat, mendidik, membimbing, membantu, melatih agar supaya dapat berdiri sendiri. Dengan demikian pola asuh dapat diartikan sebagai sikap orng tua dalam berinteraksi dengan anaknya, sikap tersebut meliputi cara orang tua menerapkan aturan-aturan, hadiah maupun hubungan serta cara orang tua memberikan perhatian dan tanggapan terhadap anaknya.
Taty Krisnawaty, (2001: 46) menyatakan bahwa ”pola asuhan merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya”.  Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya. Dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya, individu banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua tersebut.  Peranan orang tua itu memberikan lingkungan yang memungkinkan anak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
Jadi pola asuh orang tua dapat diartikan sebagai suatu sikap dan cara orang tua mendidik dan mempengaruhi anak-anaknya dalam mencapai suatu tujuan oleh sikap dan perubahan tingkah laku pada anak.
Menurut Sally S. Adiwardhana (2002:60):
“ Orang tua adalah harapan bagi anak untuk bisa tumbuh dan berkembang agar bisa menjadi anak yang baik, tahu membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, tidak mudah terjerumus dalam perbuatan yang salah”.
Jadi pola asuh orang tua dapat diartikan sebagai suatu sikap dan cara orang tua mendidik dan mempengaruhi anak-anaknya dalam mencapai suatu tujuan oleh sikap dan perubahan tingkah laku pada anak.

Orang tualah yang pertama-tama mengajarkan moral anak. Sedangkan menurut Sarlito Wirawan (2000 : 45):
Orang tua adalah pengasuh dan pembimbing dalam keluarga dan sebagai peletak dasar perilaku bagi anak-anaknya sebelum anak mengenal lingkungan keluarganya. Orang tua sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anak-anaknya.
Dapat diartikan bahwa orang tua adalah sandaran bagi anak untuk menjadi anak yang yang diharapkan oleh lingkungan sekitarnya dan sesuai keinginannya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua adalah orang pertama yang dikenal oleh seorang anak sebagai pengasuh, pembimbing dan sebagai peletak dasar perilaku bagi anak dalam mengenal lingkungan keluarganya.
  1. Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
Adapun peran orang tua terhadap pendidikan anak adalah salah satunya dengan cara memperhatikan tentang sarana dan prasarana belajar anaknya. Karena hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak dalam hal penyediaan fasilitas belajar.
Dari keberanekaan itu muncul persamaan yang hakiki, yaitu adanya orang tua atau kepala keluarga dan anggota-anggota keluarga, yang merupakan unsur-unsur pokok dan mempunyai peranan sesuai dengan status, dan fungsinya masing-masing (Moh. Shochib, 2000 : 12) yaitu sebagai berikut :
a)      Hubungan Perhatian Ibu terhadap Pendidikan Keluarga
b)      Hubungan Perhatian Ayah terhadap Pendidikan Keluarga
c)      Peranan Anak terhadap keluarga
Di dalam keluarga, manusia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial, dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di dalam keluarga anak juga belajar menghayati adanya pembentukan norma-norma sosial, internasional norma-norma, terbentuknya frame of reference, sense of belonging dan lain-lain. Semuanya itu mula-mula di dapat berdasarkan simpati dan identifikasi serta belajar memperhatikan keinginan orang lain, belajar menghargai pendapat orang lain, belajar bekerja sama, dalam istilah lain ia mulai belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial. Pengalaman dalam interaksi sosialnya dengan anggota-anggota keluarganya akan ikut menentukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain di luar keluarganya, khususnya di sekolah.
Peran orang tua terhadap pendidikan anaknya sangat penting karena orang tua merupakan lingkungan primer, hubungan yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang lebih luas, ia terlebih dahulu mengenal orang tuanya. Karena itu sebelum ia mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali ia akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarganya untuk dijadikan bagian dalam kepribadiannya. Maka kita dapat menyaksikan perilaku orang tua atau suku yang berbeda satu sama lain, kelas sosial, juga agama dan pendidikan, yang dapat mempengaruhi kelakuan seseorang. Semua itu pada hakikatnya ditimbulkan oleh norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga, yang diturunkan melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak-anak mereka secara turun- temurun.
Sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa : Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Peran orang tua bagi pendidikan anaknya menurut Hasbullah (2000 : 88) adalah :
a)      Cara orang tua melatih anak untuk menguasai cara-cara mengurus diri, seperti cara makan, buang air, berbicara, berjalan, berdoa, sungguh-sungguh membekas dalam diri anak, karena berkaitan erat dengan perkembangan dirinya sebagai pribadi.
b)      Sikap orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak. Sikap menerima atau menolak, sikap kasih sayang atau acuh tak acuh sikap sabar atau tergesa-gesa, sikap melindungi atau membiarkan secara langsung mempengaruhi reaksi emosional anak.
Sangat wajar dan logis jika tanggung jawab pendidikan terletak ditangan kedua orang tua dan tidak bisa dipikulkan kepada orang lain, karena ia adalah darah dagingnya, terkecuali berbagai keterbatasan kedua orang tua ini. Maka sebagai tanggung jawab pendidikan dapat dilimpahkan kepada orang lain, yaitu melalui sekolah. Selanjutnya menurut Hasbullah, tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain, adalah :
a)        Memelihara dan membesarkannya, tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan, karena si anak memerlukan makan, minum dan perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.
b)       Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahasa lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
c)        Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak, sehingga bila ia telah dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain.
d)       Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Tuhan, sebagai tujuan akhir hidup muslim.

Adanya kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina anak secara kontinyu perlu dikembangkan kepada setiap orang tua, sehingga pendidikan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan kebiasaan yang dilihat dari orang tua, tapi telah didasari oleh teori-teori pendidikan modern, sesuai dengan perkembangan zaman yang cenderung selalu berubah. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah hanyalah membantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak adalah dalam keluarga. Peralihan bentuk    pendidikan jalur luar sekolah ke jalur pendidikan sekolah (formal) memerlukan “kerjasama” antara orang tua dan sekolah (pendidik).
Peran orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Begitu juga orang tua harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah, tidak disita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam belajar.
Beberapa paparan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa peran orang tua adalah fungsi yang dimainkan oleh orang tua yang berada pada posisi atau situasi tertentu dengan karakteristik atau kekhasan tertentu pula. Adapun peran orang tua terhadap pendidikan anak adalah salah satunya dengan cara memperhatikan tentang sarana dan prasarana belajar anaknya. Karena hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak dalam hal penyediaan fasilitas belajar.
Tampak sangat sulit untuk memilih - milih cara apa yang harus ditempuh untuk mengetahui prilaku-prilaku apa yang secara khusus dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan dan prilaku-prilaku apa yang dipengaruhi oleh lingkungan-lingkungan lainnya, secara teoritis kita bisa saja merumuskan formulasi matematis untuk menghitung bobot       pengaruh dari setiap lingkungan tersebut. Namun, secara praktis kita       akan   sulit    untuk    mengisi    formulasi     matematis     tersebut.  Namun                                                                                      demikian, bila dilihat dari proses dan materi interaksi yang terjadi pada masing-masing lingkungan, secara logis dapat diperkirakan prilaku-prilaku apa yang terutama dipengaruhi oleh lingkungan tertentu. Dalam hal ini perkembangan kognitif anak, misalnya lingkungan, sekolah cenderung lebih banyak memberikan pengaruh langsung daripada lingkungan keluarga. Tapi tanpa peran keluarga dalam hal ini orang tua, maka pendidikan anak disekolah tidak akan mengalami kemajuan. Lingkungan keluarga lebih bersifat dukungan. Baik penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif. Sebaliknya dalam hal pembentukan prilaku, sikap, kebiasaan, pemahaman nilai dan prilaku-prilaku sejenisnya dalam lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh kuat dan sifatnya secara langsung.
Keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral dan ketrampilan. Selanjutnya, Radin (Selfert dan Hoffnung, 2000) menjelaskan enam kemungkinan yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut :
-          Permodelan Prilaku, baik disengaja atau tidak orang tua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Cara dan gaya orang tua berprilaku akan menjadi sumber objek imitasi bagi anak.
-          Memberikan ganjaran dan hukuman, orang tua mempengaruhi anaknya dengan cara memberi ganjaran terhadap prilaku tertentu yang dilakukan oleh anak dan memberi hukuman terhadap beberapa prilaku lainnya.
-          Perintah Langsung, dengan diberikannya perintah secara langsung anak akan sering mengambil pelajaran tertentu sehingga bisa lebih memahami harapan-harapan dan keinginan orang tuanya.
-          Menyatakan Peraturan-Peraturan, secara berulang-ulang orang tua sering menyatakan peraturan-peraturan umum yang berlaku dirumah, meskipun itu sering dinyatakan secara tidak tertulis sebagai contoh orang tua berkata: “kalau sudah dari kamar kecil tutup pintunya dan matikan lampunya”. Dengan cara ini anak didorong untuk melihat prilakunya apakah sudah benar atau belum, melalui perbandingan dengan perantaraan tersebut.
-          Nalar, pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk menggunakan nalarnya, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya, misalnya orang tua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan prilaku dengan nilai – nilai yang di anut melalui pertanyaan berikut : “Apakah teman memukul teman itu merupakan perbuatan yang baik”.
-          Menyediakan Fasilitas atau Bahan-Bahan dan Adegan Suasana,orang tua dapat mempengaruhi prilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan-bahan adegan suasana.
Dari keenam cara di atas, dapat kita lihat bagaimana hubungan orang tua berbeda dari guru dan atau yang lainnya, bukan hanya terletak pada cara mempengaruhi anak. Tetapi juga tergantung kepada bagaimana orang tua dan anak memandang hubungan itu. Di sinilah pentingnya ada kesamaan persepsi antara orang tua dan anak tentang hubungan yang berlangsung itu. Orang tua merupakan pengamat yang terpenting untuk anaknya, orang tua memperhatikan kepentingan anak dalam merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga dan itu sendiri, termasuk dalam pendidikan anak. Untuk itu orang tua harus mempunyai cara-cara untuk memacu kreativitas pendidikan anak diantaranya, yaitu : orang tua harus dapat mengatur suasana emosional dalam keluarga agar dapat merangsang anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan kecerdasannya yang sedang tumbuh. Gaya pengasuhan orang tua adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya.
b. Pengertian Pengasuhan Orang Tua Lain
Anak-anak yang tidak diasuh orang tua kandung keadaannya sangat mengkhaatirkan, kurang bekerjasama dalam bermain dan mempunyai lebih banyak interaksi negative dengan teman-teman bermain mereka dari pada anak-anak yang orang tua bahagia perkawinannya. Selama perpisahan dan perceraian orang tua dan juga 2 tahun pertama setelah perceraian tersebut, sebagai masa ganggu serius terhadap hubungan - hubungan orang tua dengan anak. Selama periode ini orang tua yang terlalu disibukkan atau yang emosinya terganggu dan seorang anak yang sedih serta banyak menuntut, besar kemungkinannya menghadapi kesulitan untuk saling mendukung atau saling menghibur dan barang kali bahkan yang memperparah kesulitan masing-masing.
Hetheringtons dan koleganya (Save M Dagun, 2002 : 119) mengadakan tes pada kelompok yang belum usia sekolah pada saat terjadinya peristiwa perceraian. Tes ini dilakukan pada waktu anak bermain dan pada saat berinteraksi sosial dengan teman. Hetheringtons menemukan bahwa konflik keluarga itu menimbulkan pengaruh terhadap sikap bermain anak. Pengaruh sampingan lain adalah terganggunya pergaulan dengan teman sebaya. Akibat yang lebih jauh lagi dapat menjadi alasan penting terhambatnya perkembangan anak. Anak berkembang tidak stabil terutama ketika bergaul dengan teman-temannya. Masa ini aku terus berlanjut sampai anak menginjak masa remaja dan interaksi sosial sedikit terganggu pada masa dewasa. Selanjutnya Hetheringtons, mengamati perilaku bermain anakanak dari keluarga cerai dan keluarga utuh, baik di dalam kelas dan ditempat lain diperoleh keterangan, ternyata jelas dengan terjadinya perubahan sikap. Setelah 2 bulan peristiwa perceraian itu berlalu, mereka tampak kurang imajinatif, dan daya kreatif berkurang.
Keadaan ini bebeda dengan anak dari keluarga utuh yang tetap memperlihatkan kegairahan dan semangat. Anak dari keluarga retak berbuah menjadi canggung menghadapi realitas sebenarnya. Kadang-kadang mereka mulai berfantasi yang tinggi-tinggi memimpikan menjadi orang tenar. Mereka menerawang jauh, tidak lagi menerima kenyataan berkurangnya daya imajinasi anak pada saat bermain akan sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan perkembangan kognitifnya.
Salah satu studi yang dilakukan oleh Hetherington dari university of virginia menemukan bahwa laju masalah kesehatan mental yang secara teknis nyata hampir 3x lipat lebih tinggi pada kaum remaja dari rumah tangga yang bercerai bila dibandingkan dengan kaum remaja dari polusi pada umumnya. Ilmuwan sosial mengajukan berbagai macam teori mengenai sebab mengapa anak kecil dari keluarga yang penuh konflik mempunyai lebih banyak persoalan tingkah laku serta lebih banyak kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya. Ada yang menyarankan bahwa orang tua yang terlibat perselisihan dengan pandangan hidup mereka atau mantan pasangan hidup mereka kekurangan energi dan waktu untuk anak-anak mereka. Selain memberi asuhan yang buruk, banyak pakar berpendapat bahwa orang tua dalam perkawinan yang bermasalah menjadi contoh buruk bagi anak-anak mereka mengenai bagaimana bergaul dengan orang lain.
Umumnya bila orang tua saling mendukung dan mengerti, mekarlah kecerdasan emosional anak mereka. Tapi, anak-anak yang terus - menerus terkena permusuhan orang tua mereka barang kali akan menghadapi resiko-resiko yang parah. Jika memperhatikan tingkah laku negatif yang terbuka oleh anak-anak yang sedang kami amati itu. Interaksi seperti bertengkar, mengancam, memberi sebutan jelek, ngerumpi dan serangan fisik, tingkah laku negatif dan anti sosial merupakan alasan penting mengapa anak-anak ditolak oleh teman-teman sebaya pada awal masa kanak-kanak kami juga tahu bahwa kegagalan seorang anak kecil untuk menjalin persahabatan merupakan indikator utama resiko seorang anak menderita masalah psikiatri. Peristiwa perceraian itu menimbulkan berbagai akibat terhadap orang tua dan anak. Tercipta sebagai orang tua mereka tidak lagi memperlihatkan tanggung jawab penuh dalam mengasuh anak. Pada tahun pertama setelah perceraian, orang tua menjadi kurang dekat dengan anaknya, meski banyak waktu tersedia untuk itu. Orang tua menjadi tegas lagi dan kurang melatih anaknya bersikap tanggung jawab. Keadaan ini jauh berbeda dengan keluarga utuh yang orang tuanya bersikap tegas dalam mendewasakan anaknya.
Keadaan ini bebeda dengan anak dari keluarga utuh yang tetap memperlihatkan kegairahan dan semangat. Anak dari keluarga retak berbuah menjadi canggung menghadapi realitas sebenarnya. Kadang-kadang mereka mulai berfantasi yang tinggi-tinggi memimpikan menjadi orang tenar. Mereka menerawang jauh, tidak lagi menerima kenyataan berkurangnya daya imajinasi anak pada saat bermain akan sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan perkembangan kognitifnya.
Menurut Kelly Cole (Kelly Cole, 2004 : 3):” beberapa anak akan mengalami efek-efek yang merugikan harga dirinya sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai anak yang “nakal” yang telah menyebabkan perceraian orang tua mereka”. Hal ini terutama terjadi pada anak-anak yang lebih kecil cenderung egoisentris. Dalam pandangan seorang anak, segala sesuatu yang terjadi disekelilingnya disebabkan oleh perilaku, pikiran dan harapan-harapannya. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian orang tuanya dan berfikir bahwa ia tidak layak mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupannya. Ia akan sering merasa dirinya adalah seorang anak yang tidak beruntung dan kekurangan.
Faktor yang paling berat dalam kasus perceraian adalah bagaimana memberikan pengaruh dan bagaimana memulihkan kembali hubungan yang baik dan stabil, menciptakan keakraban bagi kedua orang tua. Pengaruh orang tua dapat menciptakan kekuatan pada diri anak. Penggaruh ini akan tetap bertahan sampai 5 tahun berikutnya. Kebiasaan mengunjungi masih penting bagi sebagian besar anak. Meskipun demikian, kasus perceraian itu tetap membaca dampak dalam perkembangan sosial dan emosi anak. Banyak para peneliti menemukan bahwa anak yang diasuh satu orang tua akan jauh lebih baik dari pada anak yang diasuh keluarga utuh yang diselimuti rasa tertekan. Perceraian dalam keluarga, tidaklah selalu membawa dampak negatif. Sikap untuk menghindari suatu konflik, rasa tidak puas. Perbedaan paham yang terus-menerus, maka peristiwa perceraian itu satu-satunya jalan keluar untuk memperoleh ketentraman diri.
C.  Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012
Konsep diri adalah pandangan menyeluruh individu terhadap totalitas diri sendiri baik tentang dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelebihan dan kelemahannya yang terbentuk dari pengalamannya dan interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar individu. Tetapi banyak anak yang terhambat konsep dirinya karena tidak di asuh oleh orang tua kandung karena perceraian.
Menurut Dodi Ahmad Fauzi, S.Sos (Dodi Ahmad Fauzi, 2006 : I): ”Perceraian dalam keluarga manapun merupakan peralihan besar dan penyesuaian utama bagi anak-anak akan mengalami reaksi emosi dan perilaku karena “kehilangan” satu orang tua”. Bagaimana anak bereaksi terhadap perceraian orang tuanya sangat dipengaruhi oleh cara orang tua berperilaku sebelum, selama dan sesudah perpisahan. Anak akan membutuhkan dukungan, kepekaan, dan kasih sayang yang lebih besar untuk membantunya mengatasi kehilangan yang dialaminya selama masa sulit ini. Mereka mungkin akan menunjukkan kesulitan penyesuaian diri dalam bentuk masalah perilaku, kesulitan belajar, atau penarikan diri dari lingkungan sosial.
Menurut Singger (Save M Dagun, 2002 : 120): ”kemahiran berfantasi pada saat bermain sangat penting”. Daya imajinasi pada saat bermain dapat dianggap sebagai faktor yang besar, yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak, perasaan, dan perkembangan sosial. Daya imajinasi jauh lebih penting dari pada sikap reaksi anak terhadap suatu respons. Sebab hal baru dengan lincah dan dapat mengalihkan bentuk baru, dan jeli menggunakan bahan yang tersedia ia menjadi ekspresif dalam rencana dan berbicara.
Walaupun perceraan itu tidak diharapkan, namun sebagian keluarga mangalaminya. Tentunya banyak faktor dan alasan yang bisa memaksa pasangan dalam sebuah keluarga untuk bercerai, namun pada intinya hal itu disebabkan oleh ketidaksesuaian atau perselisihan yang tidak bisa didamaikan lagi. Terlepas dari faktor dan alasan yang menyebabkan sebuah keluarga bercerai, peristiwa perceraian dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi serius terhadap keluarga yang pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan prilaku anak. Bukan hanya ikatan perkawinan yang akan berantakan, tetapi anak juga yang menjadi korban. Perceraian orang tua dapat merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan shock dan konflik berat bagi anggota keluarganya. Perceraian menlahirkan perubahan drastis yang bisa membingungkan dan memunculkan berbagai konflik, baik bagi orang tua maupun bagi anak.
Persoalan lain yang muncul karena perceraian adalah dialaminya tekanan-tekanan psikologis. Dengan bercerai orang tua harus mengatur dan mengurus keluarga sendirian. Ia mungkin harus mengerjakan hampir segenap pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya tidak dilakukan. Kadang – kadang orang tua menjadi sibuk dan kondisi rumah tangga menjadi semrawut. Beberapa orang tua yang bercerai kadang-kadang merasa sangat terisolasi dari teman-temannya yang biasa dekat dengannya. Para orang tua yang bercerai sering dihantui oleh rasa stress dengan perkawinannya. Mereka kadang-kadang menyesali peristiwa itu tetapi tak dapat berbuat banyak dalam menghadapinya. Emosi mereka kadang tidak stabil, mudah marah diliputi kesedihan, tidak riang dan sebagainya. Berbagai persoalan yang dihadapai orang tua tersebut di atas, pada akhirnya terekspresikan disaat berinteraksi dengan anak, mereka mungkin mengisolasi diri secara diri secara emosional terhadap diri anak, mudah marah dan berprilaku agresif terhadap anak, berupaya mempengaruhinya supaya lebih dekat dengan diri mereka dari pada bekas pasangan mereka, kurang bisa merawat dan memperhatikan sebagimana layaknya dan sejumlah persoalan lainnya pendeknya mereka tidak mampu lagi menjalankan tugas-tugas keorang tuanya secara efektif.
Lebih parah lagi apa yang di ekspresikan oleh orang tua tersebut dapat berdampak lebih jauh terhadap pembentukan prilaku anak disamping sekaligus menjadi model tentang ketidak mampuan orang tua dalam menghadapi masalah-masalah sosial. Sebagaimana orang tua. Anak juga mengalami tekanan psikologis. Mereka mungkin merasa tidak diperhatikan lagi sehingga menyebabkan mereka merasa kesepian dan terisolasi.
Kondisi dan iklim yang kurang harmonis diatas, pada akhirnya bisa berdampak lebih jauh terhadap pembentukan prilaku dan pribadi anak, serta peningkatan kreativitas pendidikan anak. Bila dibandingkan dengan anak yang lebih muda atau yang lebih tua disaat perceraian orang tua terjadi. Kelompok anak ini memperlihatkan kecendrungan yang lebih rendah dalam fungsi-fungsi internal (integrasi, psikologi, stabilitas, emosi, ketangguhan struktur, defenisif dan penimbangan realitas). Kompetensi sekolah dan dalam hubungan sosial. Selain itu, sering menutupi ketidak bahagiaan mereka tentang hubungan masa kini dan yang akan datang dengan memperhatikan konfomitas terhadap harapan-harapan sosial. Singkatnya, seluruh anggota keluarga, baik terhadap orang tua lebih-lebih terhadap anak, karena seorang anak akan merasa kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya sehingga mereka merasa tersisih bahkan yang lebih parah mereka tidak peduli pada dirinya sendiri dan pendidikannya, karena kehilangan motivasi pada mereka.
B. Kerangka Berpikir
Konsep diri adalah pandangan menyeluruh individu terhadap totalitas diri sendiri baik tentang dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelebihan dan kelemahannya yang terbentuk dari pengalamannya dan interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar individu. Interaksi yang terus menerus dapat dilakukan dengan konseling kelompok karena dengan layanan konseling kelompok ini para anggota dapat belajar bersama dengan anggota kelompok yang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi, selain itu pemberian alternative - alternatif bantuan yang ditawarkan oleh para anggota kelompok yang lain lebih efektif sebab anggota kelompok tersebut sudah mengalami secara langsung.
Banyak ilmuwan sosial lain telah membuat penemuan-penemuan serupa tentang masalah masalah tingkah laku diantara anak-anak dari perkawinan - perkawinan yang bermasalah. Kalau dikumpulkan bersama-sama penelitian ini membuktian bahwa perceraian dan konflik perkawinan dapat menempatkan anak - anak pada suatu lintasan yang menjurus pada masalah-masalah berat dikemudian hari. Kesulitan dapat dimulai pada awal masa kanak-kanak dengan keterampilan - keterampilan pergaulan yang buruk dan tingkah laku garang, yang menjurus pada penolakan oleh rekan sebaya, orang tua, karena terganggu oleh masalah-masalah mereka sendiri. Kurang waktu serta perhatiannya bagi anak-anak mereka. Jadi, anak-anak itu larut, tanpa terawasi menuju ke sebuah kelompok rekan sebaya yang lebih bandel. Pada awal masa remaja, banyak anak dari keluarga-keluarga yang retak telah tersandung ke dalam sarang lebah malapetaka kaum remaja, termasuk nilai-nilai yang merosot, tingkah laku seksual terlampau dini, penggunaan obat-obat terlarang dan tindakan kejahatan. Ada pula sejumlah bukti, meskipun tidak begitu kuat, bahwa anak-anak dari keluarga-keluarga dengan tingkat konflik dan perceraian yang tinggi mengalami lebih banyak depresi, kecemasan dan menarik diri.
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan sesuatu yang dipelajari dan merupakan hasil bentukan dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu yang lain. Dalam kegiatan konseling kelompok akan muncul dinamika kelompok maka individu akan menerima tanggapan dari individu lain. Tanggapan –tanggapan ini akan dijadikan cermin baginya dalam memandang dan menilai dirinya sendiri. Tanggapan atau umpan balik yang cukup, memungkinkan individu untuk menerima diri sendiri. Penerimaan diri akan mengarahkannya ke kerendahan hati yang merupakan dasar konsep diri yang positif. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungan, dengan konseling kelompok siswa dapat berinteraksi dengan anggota lain, mereka dapat berlatih tentang perilaku baru, belajar memberi dan menerima, dan belajar memecahkan masalah berdasarkan masukan dari orang lain. Situasi yang diperlukan untuk mengembangkan konsep diri positif adalah situasi hubungan yang erat dan mendalam dan dalam waktu yang relatif agak lama dalam berinteraksi.
Adapun kerangka pemikiran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Di asuh Orang Tua Kandung Dengan Orang Tua Lain
 

Konsep Diri


 
 





Gambar 1. Kerangka Berpikir

C. Hipotesis
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat ditentukan hipotesis penelitian ini adalah : " Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Sragen Tahun Pelajaran 2011/2012” .











BAB III
METODE PENELITIAN
Suatu penelitian dimaksudkan sebagai usaha untuk memperoleh data yang dapat dipercaya untuk mengembangkan dan menguji kebenaran dari suatu ilmu/ pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Suatu penelitian dikatakan sabagai penelitian ilmiah apabila dalam penelitian itu menggunakan metode ilmiah yang telah teruji secara empiris. Metode penelitian merupakan suatu cara yang harus ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data guna menguji atau membuktikan suatu fenomena atau gejala. Kesimpulan dari uji kebenaran penelitian bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat diperlukan langkah – langkah sebagai berikut:

A.  Tempat dan waktu penelitian.
1.   Tempat penelitian    
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan.
3.      Waktu penelitian     
Penelitian dilakukan pada Bulan Nopember sampai dengan Bulan Pebruari Tahun Pelajaran 2011/2012.

B.  Populasi, Sampel dan Sampling.
1.   Populasi.
Menurut Sudjana (2000:6), populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Maksud pendapat diatas bahwa populasi adalah anggota suatu kelompok yang akan dipelajari atau diteliti.
Sampel adalah sebagaian dari populasi yang diambil secara representative atau mewakili populasi  yang bersangkutan ayau bagian kecil yang diamati (Iskandar, 2008: 69). Dari pengertian itu sampel berarti sebagian populasi yang terpilih untuk mewakili menjadi subyek penelitian.
Saifuddin Azwar, (2007:77) berpendapat, “populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian”. Maksud pendapat tersebut adalah bahwa populasi merupakan suatu kelompok subyek yang bersifat umum.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, populasi adalah keseluruhan subyek yang mempunyai satu sifat atau beberapa karakteristik yang sama yang dijadikan subyek penelitian. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari, Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan jumlah populasi 200. Dengan perinciannya sebagai berikut:
1)   Kelas VII A = 40.
2)   Kelas VII B      = 40        
3)   Kelas VII C = 40 
4)   Kelas VII D = 40

2.   Sampel.
Sampel adalah sebagian dari populasi atau sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi  (Sutrisno Hadi, 2000:221). Didalam suatu penelitian ada kalanya seseorang peneliti tidak dapat meneliti seluruh populasi yang ada. Hal ini bisa terjadi oleh karena jumlah populasi yang akan diteliti terlalu banyak, sehingga memerlukan waktu yang lama , membutuhkan biaya dan tenaga yang besar apabila semua populasi dipakai untuk penelitian.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 2000:177). Untuk itu digunakan sampel dalam penelitian sehingga dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga. Sampel yang diambil adalah sampel yang bersifat representative atau sampel yang dapat menggambarkan karakteristik populasi. Sehingga hasil kesimpulannya dapat dikenakan pada populasi.
Untuk menentukan jumlah sampel Suharsimi Arikunto (2000:120) berpendapat bahwa apabila subyek penelitian kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sedangkan jika jumlah subyek penelitiannya lebih besar maka dapat diambil sekitar antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung pertimbangan pada :
1)   Kemampuan dan ketersediaan waktu, tenaga dan biaya dari peneliti.
2)   Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena berkaitan banyak sedikitnya data yang harus dikumpulkan.
3)   Besarnya resiko yang ditanggung oleh peneliti untuk penelitian yang    menggunakan sampel besar.
Tetapi tentunya jika sampel lebih besar hasilnya akan lebih baik dan akurat.
Dalam penelitin ini subyek yang diambil sebagai sampel dari populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari, Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah 40 siswa.
3.   Sampling.
Saifuddin Azwar (2007 : 80) mengatakan bhwa, “pada dasarnya , teknik-teknik pengambilan sampel terdiri atas cara probabilitas (probability sampling) dan cara non-probabilitas (nonprobability sampling).”
Pendapat senada dikemukakan oleh Purwanto (2008 : 245) bahwa, “prosedur pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara random maupun non random.”  Probability sampling atau pengambilan sampel secara random (acak) disebut juga sampling peluang. Sampling peluang adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Non probability sampling (sampling non random (tidak acak)) adalah pengambilan sampel dimana tidak setiap anggota populasi mempunyai peluang terpilih sebagai sampel.
Penelitian ini digunakan tehnik random sampling yaitu tiap-tiap individu dalam tiap populasi diberi kesempatan yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel (Sutrisno Hadi, 2000:223). Pengambilan sampel dengan tehnik random sampling yaitu dengan mengambil sampel dari kelompok-kelompok populasi secara acak. Adapun cara yang digunakan untuk merandomisasi adalah cara undian dengan mengambil masing – masing kelas 10 siswa dari 4 rombel kelas VIII di SMP N 2 Wirosari.

C.  Variabel Penelitian
1.   Pengertian Variabel.
Suharsimi Arikunto (2002: 99) mengemukakan variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan penelitian atau konsep yang memiliki variasi nilai.

2.   Klasifikasi variabel.
1)   Variabel dibedakan menjadi:
a)   Variabel nominal.
b)   Variabel ordinal.
c)   Variabel interval.
d)   Variabel rasio.
2)   Berdasarkan konteks hubungannya variabel dibedakan menjadi:
a)   Variabel bebas atau independent variabel.
b)   Variabel terikat atau dependent variabel.
c)   Variabel moderator.
d)   Variabel kendali..
Kaitannya dengan penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel bebas atau independent variabel yaitu variabel yang nilainya mempengaruhi variabel lainnya yaitu variabel terikat, dan variabel terikat atau dependent variabel merupakan variabel yang nilainya tergantung dari nilai variabel lainnya.
Menurut Suharsimi Arikunto (2000:101) mengatakan bahwa variabel dibedakan menjadi dua yaitu variabel bebas atau independent variabel dan variabel terikat atau dependent variable.
Suatu penelitian yang melihat pengaruh suatu treatment maka ada variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variabel yang dilambangkan dengan huruf  X, sedangkan variabel akibat disebut variabel tak bebas, variabel tergantung atau dependent variabel dan dilambangkan dengan huruf Y.
Penelitian yang berjudul “Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012” yang berperan sebagai variabel bebas adalah konsep diri (X) sedang variabel terikatnya adalah Siswa yang diasuh orang tua kandung dan orang tua lain (Y).


D.  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah teknik-teknik yang dipakai untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian, yakni sebagai alat pengumpul data.
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
1.   Teknik Angket.
Suharsimi Arikunto ( 2006:152) berpendapat bahwa, “kuesioner dapat dibeda-bedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut pandangan cara menjawab, jawaban yang diberikan, serta bentuknya.” Dipandang dari cara menjawab, kuesioner dapat dibedakan menjadi: (1) kuesioner terbuka, yang memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri; (2) kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Kuesioner dipandang dari jawaban yang diberikan, dapat dibedakan menjadi: (1) kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya; (2) kuesioner tidak langsung, yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.
Jenis angket yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah kuesioner tertutup (berstruktur) yang terdiri atas pertanyaan-pertanyaan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan, responden tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya. Peneliti juga menggunakan kuesioner langsung, karena responden menjawab tentang dirinya sendiri.
Kuesioner sebagai alat pengumpul data memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahannya antara lain: (1) responden sering tidak teliti dalam menjawab; (2) sering sukar dicari validitasnya; (3) walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur; (4) sering tidak kembali, terutama jika dikirim lewat pos; (5) waktu pengembalian tidak bersama-sama, bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat. Kelebihan kuesioner antara lain: (1) tidak memerlukan hadirnya peneliti; (2) dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden; (3) dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing dan menurut waktu senggang responden; (4) dapat dibuat anonim, sehingga responden bebas, jujur, dan tidak malu-malu menjawab; (5) dapat terstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama. Kelebihan kuesioner menjadi dasar pertimbangan peneliti untuk menggunakannya sebagai alat pengumpul data, namun mewaspadai kelemahannya.
Angket /kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup karena terdiri atas pertanyaan-pertanyaan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan, responden tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya. Peneliti juga menggunakan kuesioner langsung, karena responden menjawab tentang dirinya sendiri.

2. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan mengambil dari dokumen, catatan, foto-foto hasil kegiatan atau benda-benda yang dapat memberi informasi dengan lengkap.
Pengertian dokumentasi adalah sebagai laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri dari  penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu dan tertulis dengan sengaja untuk menyimpan atau merumuskan keterangan mengenai peristiwa itu (Winarno Surakhmad, 2001: 59).
Uraian di atas dapat diketahui bahwa dokumentasi tersebut berupa foto-foto, tulisan-tulisan, gambar-gambar atau yang lain. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa dokumentasi adalah merupakan simpanan atau catatan keterangan dari suatu peristiwa atau kejadian. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dengan pertimbangan antara lain:
a.       Untuk mengumpulkan data tentang perkembangan sikap kedisiplinan anak lebih cepat dan lebih mudah dilaksanakan.
b.      Menghemat waktu, biaya dan tenaga
Keunggulan metode dokumentasi antara lain :
a.       Menghemat waktu, biaya dan tenaga
b.      Dokumen merupakan keterangan nyata sehingga kebenaran dapat dipertanggung jawabkan.
c.       Dengan dokumentasi dapat digunakan untuk mengungkap data yang telah lalu.
Kelemahan metode dokumentasi antara lain :
a.       Penulis harus meneliti dokumentasi secara cermat dalam menganalisis.
b.      Bila pengadministrasiannya kurang teratur akan menyulitkan peneliti dalam menggunakan metode ini.
Untuk mengatasi kelemahan ini, diusahakan mempelajari dan meneliti dokumen yang telah ada secara cermat. Adapun dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui data tentang perbedaan konsep diri antara siswa yang diasuh orang tua kandung dengan siswa yang diasuh oleh orang tua lain pada siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
Pengumpulan data bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara yaitu:
  1. Teknik Observasi
Observasi merupakan teknik untuk mengamati secara langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung, baik dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah. Observasi merupakan salah satu teknik yang sederhana dan tidak memerlukan keahlian yang luar biasa. Observasi dapat dilakukan dengan berencana atau insidentil.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 204) observasi dilakukan dengan dua cara yaitu :
1)      Observasi non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.
2)      Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan, karena adanya kerangka yang jelas dengan demikian akan memudahkan  dalam pelaksanaan observasi. Selain   itu dalam observasi ini sudah dibatasi permasalahannya, baik isi maupun luas situasi serta wilayahnya dengan demikian kemungkinan observasi bisa terarah dan teliti.
a.      Kelebihan Observasi
Menurut HB. Sutopo (2002: 50) metode observasi ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangan, yaitu :
Kelebihan dari teknik observasi :
1)      Merupakan alat yang langsung untuk menyelidiki macam-macam gejala baik aspek tingkah laku manusia yang hanya dapat diselidiki melalui jalan observasi langsung.
2)      Subyek yang diteliti lebih mudah tuntunanya, bagi orang yang sibuk mungkin tidak keberatan untuk diteliti tetapi keberatan yang mengisi kuesioner.
3)      Memungkinkan pencatatan yang serempak saat terjadinya suatu gejala.
4)      Banyak kejadian penting yang tak dapat diperoleh dengan interview dan kuesioner, tetapi dapat diperoleh dengan pengamatan langsung.
b. Kelemahan Observasi
Kelemahan metode observasi adalah :
1)      Pengamat terbatas dalam mengamati karena perannya dan kedudukannya, apakah sebagai bukti laki-laki atau perempuan, kedudukannya atau macamnya.
2)      Pengamat dalam peran serta, sering kesulitan memisahkan diri walaupun hanya sesaat untuk membuat catatan hasil pengamatan.
3)      Hasil pengamatan berupa sejumlah data, sering kesulitan memerlukan waktu untuk menganalisanya, serta ada kecenderungan untuk melakukan pengamatan secara tidak sistematis.
  1. Teknik Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog secara lisan. Yang dimaksud wawancara menurut Sumadi Suryabrata (2001: 18) yaitu “Metode yang mendasarkan diri kepada laporan verbal (verbal report) di mana terdapat hubungan langsung antara si penyelidik dan subyek yang diselidiki“.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:202) interview (wawancara) ditinjau dari segi pelaksanaannya maka dibedakan atas:
1)      Interview bebas
2)      Interview terpimpin
3)      Interview bebas terpimpin
Teknik wawancara ini penulis lakukan apabila metode pokok yaitu angket dan dokumentasi kurang memnuhi syarat sebagai tehnik pengumpulan data. Wawancara dilakukan terhadap pihak yang dapat dipercaya untuk menjadi sumber data dan mengetahui masalahnya. Adapun pihak-pihak yang dapat dipercaya yang penulis wawancarai guna memperoleh data adalah kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa. Untuk memudahkan daftar pertanyaan sebagai pedoman dalam melakukan wawancara.
Teknik wawancara adalah cara yang paling mudah dalam melaksanakan penelitian karena itu teknik ini sering digunakan, karena kelebihan atau keuntungan cukup banyak antara lain :
            Keuntungan menggunakan metode wawancara :
a.       Sebagai metode yang mudah dalam penelitian sosial
b.      Lebih efektif guna menggali fenomena psikis dan pribadi seseorang.
c.       Sebagai alat verifikasi data juga dipakai sebagai standar kriterium terhadap data yang diperoleh.
d.      Sebagai penggali/sumber informasi untuk mengadakan observasi pribadi terhadap tingkah laku.
Kelemahan Teknik Wawancara :
a.       Proses interview sangat mudah dipengaruhi situasi dan kondisi disekitar.
b.      Kurang efisien karena boros waktu, tenaga, biaya, pikiran.
c.       Dituntut adanya penguasaan bahasa yang cukup baik oleh pihak interview.
d.      Terkadang kurang menembus pikiran dan perasaan interviewing sehingga data yang diperoleh kurang lengkap.
E.  Uji Coba Instrumen
1.   Uji Validitas
a.       Pengujian validitas
Validitas/kesahihan merupakan tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrumen. Untuk menguji validitas digunakan Product Moment dengan program komputer SPSS. ”Jika hasil dari pengolahan dengan komputer nilai signifikan kurang dari 5% item tersebut dinyatakan valid/sahih tetapi jika lebih besar dari 5%, maka item tersebut gugur” (Sutrisno Hadi, 2003: 37). Atau dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, dalam hal ini  adalah jumlah sampel, bila nilai  Product Moment lebih besar dari r tabel maka item tersebut dinyatakan valid/sahih, tetapi jika lebih kecil dari r tabel maka item tersebut dianggap gugur (Imam Ghozali, 2001: 45).
Penelitian ini  digunakan korelasi Product Moment dengan angka kasar dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
  =    Koefisien korelasi antara x dan y
N     =    Banyaknya subyek uji coba
=    Jumlah skor item
=    Jumlah skor total item
      =             Jumlah kwadrat skor item
 = Jumlah kwadrat skor total item
= Jumlah perkalian skor item dengan jumlah perkalian skor total item
b.      Pengujian Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.  Pengukuran reliabilitas dilakukan dengan oneshot atau pengukuran sekali saja, disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan menghitung alpha cronbach. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika nilai alpha cronbach > 0,60 (Imam Ghozali, 2001: 42). Untuk mengetahui reliabilitas angket dengan menggunakan rumus Alpha.

          =    reliabilitas instrument yang dicari
   =    jumlah varian skor setiap item soal
      =    varian total
Dengan kriteria:
Antara    0,00 s/d 0,200       =    sangat rendah
0,201 s/d  0,400    =    rendah
0,401  s/d 0,600    =    cukup
0,601  s/d 0,800    =    tinggi
0,801  s/d 1,00      =    sangat tinggi
Jika   maka soal tes tersebut reliable.
F. Teknik Analisa Data.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data statistik. Alasan penelitian menggunakan tehnik analisis statistik adalah :
1.      Cukup praktis untuk menguraikan.
2.      Bersifat Objektif.
3.      Mampu menarik kesimpulan melalui cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
4.      Dapat menentukan seberapa jauh taraf signifikannya.
Analisis data dalam penelitian ini adalah teknik statistik dengan menggunakan rumus test, yaitu :
Keterangan :
MD         : Mean dari perbedaaan pre test dengan post test
d             : Deviasi masing-masing subjek (d – Md)
∑d2         : Jumlah Kuadrat deviasi
N                        : Jumlah subjek pada sampel
Db          : Dapat ditentukan dengan (N-1)
(Sutrisno Hadi, 2004: 487)
Untuk mengambil keputusan, menggunakan pedoman dengan taraf signifikasi 5 % dengan ketentuan :
a.       Ho ditolak dan Ha diterima apabila t hitung sama atau lebih besar dari t tabel.
b.      Ho diterima dan Ha ditolak apabila t hitung lebih kecil dari t tabel.



BAB  IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Diskripsi Data
1. Sejarah berdirinya SMP Negeri 2 Wirosari
Atas prakarsa para tokoh masyarakat dan dukungan dari masyarakat, maka  SMP Negeri 2 Wirosari berdiri. Para tokoh masyarakat ini melihat kondisi Siswa yang memerlukan pendidikan dan juga terbatasnya daya tampung siswa di SMP Negeri 1 dan di SMP Swasta di Wilayah Wirosari. Dengan bertambahnya perkembangan jaman, maka kebutuhan pendidikan merupakan kebutuhan yang mendesak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh orang tua.Akhirnya SMP Negeri 2 Wirosari berdiri tepatnya pada tanggal 23 September 1986  dengan No. SK : I.103/O/1986. Pada  waktu itu tahun pelajaran dimulai pada bulan Januari, sehingga secara resmi pada tahun ajaran 1987 telah siap menerima siswa baru dan mendapatkan  2 ruang untuk siswa kelas 1. Secara geografis SMP Negeri 2 Wirosari terletak di dusun Tambak desa Karangasem  Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan .
2. Gambaran keadaan fisik sekolah
Sarana fisik yang dimiliki oleh SMP Negeri 2 Wirosari termasuk cukup memadai untuk mendukung proses pembelajaran.  Adapun rincian sarana fisik tersebut terlihat pada tabel berikut :

Table 1:
Sarana Fisik  SMP Negeri 2 Wirosari
Sarana /Ruang
Jumlah
Luas M²
Kondisi
Baik
Rusak
Ruang Teori / Kelas
15
945
-
Ruang Multi Media
2
126
-
Ruang Laboratorium
1
120
-
Ruang Keterampilan
1
124
-
Ruang Perpustakaan
1
84
-
Ruang Kesenian
-
-
-
-
Ruang Olah Raga
-
-
-
-
Ruang OSIS
-
-
-
-
Ruang Ibadah
1
48
-
Ruang BP
1
12
-
Ruang Kepala Sekolah
1
21
-
Ruang Guru
1
63
-
Ruang Tata Usaha
1
63
-
Ruang  UKS
1
9
-
KM / WC
3
27
Luas Tanah     : 20.000 M²
3. Kondisi Guru dan Karyawan SMP Negeri 2 Wirosari
SMP Negeri 2 Wirosari pada saat ini dikepalai oleh Bapak Drs. Dodo Budi Santoso dan memiliki 4 Guru Bimbingan dan Konseling. Para Guru dan Tata Usaha SMP Negeri 2 Wirosari memiliki kinerja yang rata-rata cukup baik, karena disamping sebagian besar mereka masih muda, juga didukung oleh keterampilan ataupun job diskripsi yang sesuai dengan bidangnya,  sehingga dapat menjadi modal dan pendukung dalam proses pembelajaran.
    Sebagai gambaran jumlah Guru dan Tata Usaha serta Penjaga di SMP Negeri 2 Wirosari adalah seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 2:
Daftar Tenaga Kependidikan SMP  Negeri 2 Wirosari
No.
Jabatan
Ijazah terakhir yang dimiliki
SLTA
PGSLP/DI
D2/A2
SM/D3/A3
S- 1
S- 2

JUMLAH
1
Kepala Sekolah
-
-
-
-
1
-

1
2
Wakasek
-
-
-
-
1
-

1
3
Guru Tetap
-
-

-
22
4

26
   4
GTT
-
-
-
-
4
-

3
5
Pegawai Tetap
3
-
-
-
-
-

3
6
Pegawai Honorarium
2
-
-
1
1
-

4
Jumlah
6
-
-
-
29
4

39

Kondisi Guru menurut mata pelajaran yang diajarkan :
Guru Agama Islam                        :  2 orang
Guru Bahasa Indonesia             :  3 orang
Guru PKn                                          :  2 orang
Guru Bahasa Inggris                      :  3 orang
Guru Matematika                          :  3 orang
Guru IPA                                           :  3 orang
Guru IPS                                            :  3 orang
Guru Seni Budaya                          :  2 orang
Guru Penjaskes                              :  2 orang
Guru TIK                                            :  2 orang
Guru PKK                                          :  2 orang
Guru Bahasa Jawa                         :  2 orang
Guru BK                                             :  4 orang
4. Kondisi Siswa SMP Negeri 2 Wirosari
Siswa kelas VII sebanyak 197 terbagi menjadi 5 kelas
Siswa kelas VIII sebanyak 198 terbagi menjadi 5 kelas
 Siswa kelas IX sebanyak 210 terbagi menjadi 6 kelas

5. Sarana pendukung

Selain memiliki gedung sebagai tempat pembelajaran, proses pembelajaran kurang berhasil bila tanpa di dukung oleh sarana lain, misalnya halaman sekolah yang luas sebagai tempat upacara, parkir, pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler, ataupun tempat olah raga. Untuk sarana pendukung yang lain berupa kegiatan ekstra kurikuler dan pengembangan diri. Untuk kegiatan ekstra kurikuler dan pengembangan diri  dapat  dilihat pada tabel berikut ini :



Tabel 4:
Sarana Pendukung SMP Negeri 2 Wirosari

No

Jenis Kegiatan

1

Pramuka

2

Seni Baca dan Tulis Al-Qur`an

3

Bulu Tangkis

4

Tenis Meja

No

Jenis Kegiatan

5

Bola Volly

6

Bola Basket

7

Sepak Bola

8

Seni Tari

9

Seni Musik

10

Tata Boga

11

Komputer

Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran, sehingga mutu atau kwalitas Siswa akan lebih mantap dan dapat memberikan bekal pengetahuan kepada mereka untuk meningkatkan pendidikan ke jenjang pendidikan diatasnya  yaitu SMA.


B. Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Setelah angket diujicobakan pada responden di luar sampel selanjutnya dianalisa untuk mencari validitas dan reliabilitasnya (terlampir pada lampiran validitas)  sebagai berikut :
Tabel IV : Hasil Uji Validitas Konsep Diri Siswa
SMPN 2 Wirosari Kabupaten Grobogan
            Tahun  Pelajaran 2011/2012


ITEM TOTAL
ITEM 1                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
0.01
ITEM 2                Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
772**
ITEM 3                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
484*
ITEM 4                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
1.000**
ITEM 5                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
550*
ITEM 6                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
505**
ITEM 7                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
552**
ITEM 8                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
641**
ITEM 9                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
616**
ITEM 10                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
545**
ITEM 11                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
950**
ITEM 12                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
414
ITEM 13                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
513*
ITEM 14                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
487*
ITEM 15                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
616**
ITEM 16                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
513*
ITEM 17                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
429
ITEM 18                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
484*
ITEM 19                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
346
ITEM 20                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
505*
ITEM 21                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
505*
ITEM 22                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
552*
ITEM 23                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
499*
ITEM 24                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
1.000**
ITEM 25                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
550*
ITEM 26                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
                                                     283
ITEM 27                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
552*
ITEM 28                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
641**
ITEM 29                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
505*
ITEM 30                 Pearson Correlation
                                        Sig. (2-tailed)
                                                          N
641**

Dari perhitungan validitas yang ada pada lampiran validitas diperoleh hasil sebagai berikut : dari 30 item angket kenakalan siswa  ternyata ada 4 item yang tidak valid yaitu item 1, item 12, item17 dan item 26 sehingga ada 26 item yang dinyatakan valid.

2.      Uji Reliabilitas Instrumen
Dari perhitungan dari lampiran realibilitas diperoleh nilai reliabilitas angket kenakalan siswa  siswa sebesar 0,687. Dari daftar tabel koefisien korelasi diketahui bahwa nilai r dalam tabel dengan N = 27 dalam taraf signifikansi 5% = 0,381. Sedangkan nilai koefisien korelasi hasil uji coba = 0,687 dengan demikian nilai-nilai yang diperoleh dari uji coba lebih besar dari nilai r dalam tabel pada taraf signifikansi 5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen kenakalan siswa tersebut cukup reliabel dan layak digunakan untuk alat mencari data.



C. Deskripsi Data
1. Konsep Diri Antara Siswa Yang Tidak Diasuh Orang Tua Kandung

Berdasarkan data Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012, diketahui untuk nilai tertinggi = 93 dan untuk nilai terendah = 79. Mean atau nilai rata-rata sebesar = 25,87 dan untuk standar deviasi (SD) diperoleh nilai = 4.13545.
Berdasarkan data hasil konsep diri tidak diasuh orang tua kandung tersebut dapat dibuat tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.3 :  Distribusi Tentang Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012


Berdasarkan tabel distribusi tersebut diatas, maka langkah selanjutnya adalah membuat grafik histogram dan polygon. Adapun grafik histogram dan polygon dapat dilihat sebagai berikut :


Gambar 4.5 :  Grafik   Histogram   dan   Polygon  Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012




2.       Konsep Diri Yang Diasuh Oleh Orang Tua Kandung Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012

Berdasarkan data konsep diri yang diasuh oleh orang tua lain, diperoleh untuk nilai tertinggi = 120 dan untuk nilai terendah = 106. Mean atau rata-rata diperoleh nilai sebesar = 26,67 dan  untuk standar deviasi (SD) diperoleh nilai = 4.38412. Dari data hasil konsep diri yang diasuh oleh orang tua lain tersebut, kemudian dapat dibuat tabel distribusi frekuensi sebagai berikut :
Tabel 4.6 :    Distribusi Tentang Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012

Berdasarkan tabel distribusi tersebut diatas, maka langkah selanjutnya adalah membuat grafik histogram dan polygon. Adapun grafik histogram dan polygon dapat dilihat sebagai berikut :



Gambar 4.7 :  Grafik  Histogram Konsep Diri   Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.









C.      Pengujian Hipotesis


               Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS 14 dengan uji t diperoleh nilai t-hitung (to) yang diperoleh, lebih besar dari pada t tabel, atau
     (-52.490 > -1.685). Pada  taraf signifikan 5% dengan N (jumlah siswa:39) diperoleh – 1.685 sedangkan t observasi diperoleh = - 52.490. Jadi nilai t-observasi  yang diperoleh lebih kecil dari pada t tabel, atau (- 52.490 < - 1.685).
            Berdasarkan pengolahan data tersebut di atas, ternyata nilai t-observasi yang diperoleh lebih kecil dari pada t tabel  baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1%, atau : (2,023 < -52.490 > -1.685) maka Ho ditolak, artinya bahwa: "Ada Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012", terbukti kebenarannya. Perbedaan konsep diri siswa yang diasuh orang tua kandung dengan yang tidak diasuh orang tua dapat dilihat dari t- hitung negative berarti rata – rata konsep diri siswa yang tidak diasuh orang tua lebih rendah daripada yang diasuh oleh orang tua kandung.

F. Pembahasan Hasil Analisis Data
       Berdasarkan pengolahan data tersebut di atas, maka dapat  diambil suatu interprestasi bahwa pada hakekatnya pengasuhan atau bimbingan orang tua adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seorang anak yang dilakukan oleh ayah atau ibu secara berkesinambungan supaya anak tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Maksudnya bahwa orang tua yang mempunyai kewajiban mendidik dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya sejak lahir hingga dewasa. Jadi bimbingan orang tua sangat penting dalam menentukan pendidikan anak-anaknya.
Pada umumnya orang tua selalu menuntut anak untuk menjadi individu yang sangat diharapkan oleh mereka. Tuntutan yang dirasakan anak akan dianggap sebagai tekanan dan hambatan jika tuntutan tersebut ternyata tidak dapat dipenuhi oleh anak. Selain itu sikap orang tua yang berlebihan dalam melindungi anak akan menyebabkan anak tidak dapat berkembang dan mengakibatkan anak menjadi kurang tingkat percaya dirinya dan memiliki konsep diri yang rendah.
       Peran orang tua terhadap pendidikan anaknya sangat penting karena orang tua merupakan lingkungan primer, hubungan yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang lebih luas, ia terlebih dahulu mengenal orang tuanya. Karena itu sebelum ia mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali ia akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarganya untuk dijadikan bagian dalam kepribadiannya. Maka kita dapat menyaksikan perilaku orang tua atau suku yang berbeda satu sama lain, kelas sosial, juga agama dan pendidikan, yang dapat mempengaruhi kelakuan seseorang. Semua itu pada hakikatnya ditimbulkan oleh norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga, yang diturunkan melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak-anak mereka secara turun- temurun.
Salah satu tugas orang tua adalah mendidik anaknya, melibatkan diri dalam kesejahteraan psikis anak agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Pola asuh orang tua harus kontinyu melatih agar anak mampu mengendalikan intriknya yang akhirnya menjadi manusia beradab : Jika pola asuh orang tua cenderung memberikan anaknya lepas bebas, maka anak menjadi tidak terkendali dan tidak mempunyai disiplin, namun jika terlalu dilarang anak tersebut menjadi kurang kreatif. Seperti pendapat dari Cooper Smith dalam Clara R Pudjijogyanti (2000: 30-31) menjelaskan bahwa kondisi keluarga yang buruk dapat menyebabkan konsep diri yang rendah.
       Dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya seorang individu banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua dan lingkungan lainnya. Peranan orang tua tersebut akan memberikan lingkungan yang memungkinkan anak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Sebenarnya setiap orang tua itu pasti menyayangi anak-anaknya, akan tetapi mengungkapkan rasa kasih sayangnya berbeda-beda dalam penerapannya. Perbedaan itu tampak dalam pola asuh yang diterapkannya. Metode yang paling penting mendidik anak dalam keluarga adalah dengan keteladanan, karena keteladanan merupakan metode “influentif”  yang paling menyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak didalam moral, spiritual dan sosial.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Tetapi  orang tua juga harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah, tidak disita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam belajar.
G. Keterbatasan Penelitian
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Ada Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012”, namun demikian hasil ini belum tentu reliabel. Adanya hasil penelitian ini apabila diterapkan pada penelitian dengan populasi, sampel dan waktu yang berbeda-beda, hasilnya belum tentu sama. Hal ini disadari, karena dalam penelitian ini terdapat kelemahan atau keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan itu antara lain :
1.      Waktu Penelitian sangat terbatas
2.      Populasi dirasakan sangat sedikit
3.      Sampel yang diambil dimungkinkan kurang representative
4.      Dimungkinkan adanya kesesatan alat pengumpul data
5.         Teknik analisis data yang digunakan dimungkinkan kurang tepat.



BAB  V

KESIMPULAN DAN SARAN


A.     Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data tersebut di atas, ternyata nilai t-observasi yang diperoleh lebih kecil dari pada t tabel  baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1%, atau : (2,042 < 1 0,571 > 2,750), dengan demikian hipotesis yang diajukan yaitu: "Ada Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012", terbukti kebenarannya. Berarti bahwa orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Tetapi  orang tua juga harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah, tidak disita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam belajar. Karena peran orang tua bagi pendidikan anaknya adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup beragama. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
       Sikap orang tua dalam memberikan bimbingan kepada anaknya di rumah akan sangat mempengaruhi konsep diri anak di sekolah, sering kali kita jumpai anak-anak yang jika di sekolah tidak pernah memperhatikan gurunya, dalam proses belajar mengajar sering ijin keluar kelas, berangkat terlambat, bahkan tidak pernah mengejarkan PR (Pekerjaan Rumah), sikap anak tersebut sangat dipengaruhi oleh cara orang tua dalam memberikan pola asuhnya di rumah, karena pola asuh orang tua merupakan cermin bagi kehidupan anak mereka baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dengan pola asuh yang baik maka keaktifan anak khususnya dalam belajar akan terbentuk.  
B.     Implikasi.
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam membentuk konsep diri anak. Perlakuanperlakuan yang diberikan orang tua terhadap anak akan membekas hingga anak menjelang dewasa dan membawa pengaruh terhadap konsep diri anak baik konsep diri ke arah positif atau ke arah  negatif. Cooper Smith dalam Clara R Pudjijogyanti (2000: 30-31) menjelaskan bahwa kondisi keluarga yang buruk dapat menyebabkan konsep diri yang rendah. Yang dimaksud dengan kondisi keluarga yang buruk adalah tidak adanya pengertian antara orang tua dan anak, tidak adanya keserasian hubungan antara ayah dan ibu, orang tua yang menikah lagi, serta kurangnya sikap menerima dari orang tua terhadap keberadaan anak-anak. Sedangkan kondisi keluarga yang baik dapat ditandai dengan adanya intregitas dan tenggang rasa yang tinggi serta sikap positif dari anggota keluarga. Adanya kondisi semacam itu menyebabkan anak memandang orang tua sebagai figur yang berhasil dan menganggap orang tua dapat dipercaya sebagai tokoh yang dapat mendukung dirinya dalam memecahkan seluruh persoalan hidupnya. Jadi kondisi keluarga yang sehat dapat membuat anak menjadi lebih tegas, efektif, serta percaya diri dalam mengatasi masalah kehidupan dirinya sebagai pembentuk kepribadiannya.
Peran orang tua adalah fungsi yang dimainkan oleh orang tua yang berada pada posisi atau situasi tertentu dengan karakteristik atau kekhasan tertentu pula. Adapun peran orang tua terhadap pendidikan anak adalah salah satunya dengan cara memperhatikan tentang sarana dan prasarana belajar anaknya. Karena hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak dalam hal penyediaan fasilitas belajar. Orang tua adalah orang pertama yang dikenal oleh seorang anak sebagai pengasuh, pembimbing dan sebagai peletak dasar perilaku bagi anak dalam mengenal lingkungan keluarganya. Pendidikan dalam keluarga lebih mengarah pada proses pengaturan dan pemberian motivasi bagi anak, bukan pada aspek materi pelajaran sebagaimana yang diajarkan di sekolah. Nilai-nilai yang merupakan karakter dari dalam diri yang harus mampu diserapi dan diimplementasikan oleh anak-anak. Etos kerja, tidak mudah menyerah, dan semangat belajar yang tinggi adalah nilai-nilai yang harus ditanam dalam kepribadian anak.
       Pada era globalisasi sekarang ini, orang tua tidak tepat lagi untuk menerapakan 'pola pengasuhan yang terlalu menuntut (push parenting). Pola pengasuhan semacam ini bisa dilihat di sekitar kita dan tampak jelas melalui perilaku seperti: (1) mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya, dengan kursus-kursus program sosialisasi dan kegiataan 'pengayaan' lainnya; (2) menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana); (3) menekan anak memilih kursus, pelatihan atau minat lebih untuk tujuan membuat curriculum vitae alias daftar riwayat hidup yang mengesankan, daripada memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi; (4) mencampuri persahabatan atau hubungan anak dengan guru dan pelatihnya.
C.      Saran-Saran
       Sehubungan dengan hasil penelitian di atas, maka diajukan saran yang nantinya dapat meningkatkan perkembangan motorik anak. Adapun saran-saran tersebut sebagai berikut :
  1. Kepada Sekolah.
a.       Hendaknya pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha untuk meningkatkan konsep diri siswa, yaitu dengan mengadakan komunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anaknya disekolah.
b.      Memfasilitasi tenaga pengajar dengan kemampuan/teknik mengajar yang kreatif dan inovatif
c.       Memfasilitasi sekolah dengan berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan sekolah
d.      Memotivasi memfasilitasi tenaga pengajar dan karyawan agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan penuh tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi.
  1. Kepada Orang Tua.
Untuk menunjang keberhasilan putra Bapak/Ibu dalam hal perkembangan konsep diri siswa hendaknya disamping memberikan kebutuhan dalam bidang material tapi juga memberikan pengasuhan yang tepat dirumah sehingga konsep diri dapat berkembang dengan baik.
3.       Kepada guru. 
Hendaknya guru sebagai seorang pengajar disamping memberikan materi pelajaran, juga memberikan bimbingan dalam pengajaran sehingga diharapkan konsep diri siswa akan berkembang dengan baik.
  1. Kepada siswa.
Siswa diharapkan mampu mengembangakan konsep dirinya dengan cara, mengembangkan kemampuan sosialnya dan siswa hendaknya selalu mengikuti semua kegiatan yang diadakan di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Burns. 2000. Konsep Diri. Jakarta : Arean

Calhoun alih bahasa Satmoko, 2000. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang : IKIP Semarang Press.

Centi. 2000. Mengapa Rendah Diri. Yogyakarta : Kanisius.

Hasbullah. 2000. Rahasia Sukses belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

HB. Sutopo. 2002. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press.

Hurlock. 2000. Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta : Erlangga. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan) Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

Iskandar, 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial( Kuantitatif dan Kualitatif).  Jakarta: gaung Persada Press (GP Presss)

Rakhmat, 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Rimm. 2003. Psychology of Child. New York: John Wiley and Sons, Inc.
Rini, 2002: http: /www.e-psikologi. com/ dewa/ 16050.htm

Mulyana. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Saifuddin Azwar, 2007. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sally S. Adiwardhana. 2002. Pola Pengasuhan Ideal. Jakarta: Elex Media
                  Komputindo.

Sarlito Wirawan. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Save M Dagun, 2002. http:// lusiana – solita. Blog.spot. com/ search/ label/ makalah

Shochib, M. 2002. Pola Asuh Orang Tua. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sudjana . 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru  Algensindo

Sumadi Suryabrata . 2001. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Andi Offset. Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan. Jakarta : Rineka  Cipta.

                                . 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
                                 . 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (edisi revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi, 2000. Statistik 2, Yogyakarta : Andi Offset.

Taty Krisnawaty, 2001. Skripsi Studi tentang Pengaruh  Pola Asuhan Orang Tua terhadap Perkembangan Penalaran Moral Remaja Awal Siswa SMPN IKIP Yogyakarta. Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional.

Winarno Surakhmad, 2001. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, Dasar dan Teknik Metodologi. Bandung : Tarsito.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar