PERAN GURU
BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SEBAGAI UPAYA
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 SRAGEN
KABUPATEN SRAGEN
TAHUN AJARAN 2011/2012
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peserta didik
pada usia remaja di sekolah sebagai individu yang sedang berkembang mencapai
taraf perkembangan pribadi secara optimal dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam
kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai siswa ber-IQ (Intelligence
Quotions) tinggi gagal dalam menempuh ujian. Tetapi sering kita dengar pula bahwa
banyak peserta didik yang memiliki IQ sedang-sedang saja ternyata mereka
berhasil dalam menempuh ujian. Bila kita berpikir bahwa diri kita bisa, maka
kita cenderung akan sukses, sebaliknya bila kita berpikir bahwa diri kita akan
gagal, maka sebenarnya kita mempersiapkan diri untuk gagal. Kata lain harapan
terhadap diri sendiri merupakan prediksi untuk mempersiapkan diri sendiri.
Perasaan individu bahwa ia tidak memiliki kemampuan menunjukkan sikap negatif
terhadap kualitas kemampuan yang dipunyainya. Pandangan dan sikap negatif
terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan ia memandang seluruh
tugasnya sebagai sesuatu yang sulit diselesaikan. Berbagai penelitian yang
dilakukan para ahli menunjukkan, bahwa pandangan individu terhadap dirinya
sendiri sangat menentukan keberhasilan yang akan dicapai.
Motivasi pengembangan diri adalah keseluruhan daya penggerak di
dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan untuk mengembangkan diri yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah
pada kegiatan pengembangan
diri, sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai. Siswa yang memiliki motivasi pengembangan
diri akan memperhatikan pelajaran yang disampaikan,
membaca materi sehingga bisa memahaminya, dan menggunakan strategi-strategi
belajar tertentu yang mendukung. Selain itu, siswa juga memiliki keterlibatan
yang intens dalam aktivitas belajar tersebut, rasa ingin tahu yang tinggi,
mencari bahan-bahan yang berkaitan untuk memahami suatu topik, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan.
Layanan
bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan pada
sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu
tujuan tertentu. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok selain itu juga
bisa dijadikan media penyampaian informasi sekaligus juga bisa membantu siswa
menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak
positif bagi siswa yang nantinya akan menumbuhkan konsep diri yang positif.
Selain itu apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota
kelompok saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus.
Asumsi yang
dipakai dalam penelitian ini adalah bahwa dalam bimbingan kelompok akan terjadi
proses interaksi antar individu. Diharapkan bimbingan kelompok dijadikan wahana
pemahaman nilai-nilai positif bagi siswa, khususnya sikap konsep diri positif
dibentuk yang tidak hanya dengan pendekatan personal namun dengan pendekatan
kelompok seperti bimbingan kelompok yang akan lebih optimal karena para siswa
tidak akan merasa terhakimi oleh keadaan sendiri, mereka juga akan merasa
mendapat pembinaan dan informasi yang positif untuk pengembangan konsep diri
yang positif, apalagi masalah konsep diri merupakan masalah yang banyak dialami
oleh remaja sehingga untuk mengefisienkan waktu bimbingan kelompok dimungkinkan
lebih efektif dibandingkan layanan konseling individual.
Karena itu
untuk membantu siswa agar meningkatkan motivasi pengembangan diri yang positif
dan semakin stabil, maka peneliti mencoba menyusun program eksperimen melalui
layanan bimbingan kelompok dengan judul “Meningkatkan motivasi pengembangan
diri melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Kradenan Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012“.
B. Deskripsi Permasalahan
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut:“Bagaimana meningkatkan motivasi pengembangan diri melalui
layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kradenan
Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan motivasi pengembangan diri melalui layanan bimbingan kelompok pada
siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kradenan Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran
2011/2012.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Untuk memberikan sumbangan yang
positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya berkaitan dengan
pengembangan bimbingan kelompok, dan wujud dari sumbangan tersebut yaitu
ditemukannya hasil-hasil penelitian baru tentang bimbingan konseling guna
meningkatkan pelayanan bimbingan di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru
pembimbing
Penelitian ini dapat bermanfaat
bagi guru pembimbing di SMP N 1 Kradenan dalam melakukan kegiatan layanan
bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan jam Bimbingan dan Konseling di kelas
seefektif mungkin untuk membantu untuk membentuk konsep diri yang positif pada siswa.
b. Bagi peserta
didik
Dengan mengikuti kegiatan
bimbingan kelompok siswa akan terdorong untuk meningkatkan pengembangan diri
yang positif, belajar untuk mempercayai kemampuan diri sendiri, serta belajar
untuk memecahkan masalah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1.
Tinjauan Motivasi Pengembangan Diri
a. Pengertian Motivasi
Secara
etimologis, Winardi (2002:1) menjelaskan istilah motivasi (motivation)
berasal dari perkataan bahasa Latin, yakni movere yang berarti
menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi motivation
berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan
dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.
Berendoom dan Stainer dalam Sedarmayanti (2000:45), mendefinisikan
motivasi sebagai kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi
yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi
ketidakseimbangan. Proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor didalam diri
seseorang itu sendiri yang disebut intrinsic dan extrinsic.
Faktor didalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan
pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan
sedang faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagi faktor-faktor lain
yang sangat kompleks. Tetapi baik faktor ekstrinsik maupun faktor intrinsik
motivasi timbul karena adanya rangsangan.
Winardi (2002:33) menjelaskan, motif kadang-kadang dinyatakan orang
sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan yang muncul dalam diri seseorang.
Motif diarahkan kearah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau
dalam kondisi dibawah sadar.
Berdasarkan pendapat-pendapat
diatas dapat dikatakan bahwa, motif-motif merupakan “mengapa” dari
perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktivitas, dan mendeterminasi arah
umum perilaku seorang individu. Hubungan antara motif, tujuan dan aktivitas
dapat ditunjukan pada gambar berikut ini.
Sumber: Winardi. (2002:41)
Gambar 1 : Sebuah
Situasi yang Memotivasi
Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, dimana
motif-motif seorang individu,
diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Motif terkuat, menimbulkan perilaku, yang
bersifat diarahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan. Mengingat bahwa
tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu mencapai
aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian
aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putus-putus.
Motivasi telah dirumuskan dalam sejumlah definisi yang berlainan.
Walaupun begitu, tentang substansinya tidak banyak berbeda. Istilah motivasi,
menurut Sumantri (2001:53), biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu
pengertian yang melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada
perilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing);
(3) bagaimana perilaku itu dipertahankan (sustaining). Ketiga hal
tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ),
tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan
tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).
Berdasarkan uraian diatas, dalam konsep motif terkandung makna (1)
motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu, (2) motif
merupakan penyebab terjadinya aktivitas, dan (3) motif diarahkan untuk mencapai
tujuan tertentu. Dengan demikian motif dapat didefinisikan sebagai daya
pendorong dari dalam diri individu sebagai penyebab terjadinya aktivitas, yang
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal,
yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan-
kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang
bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan
timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.
Dalam Psikologi, istilah motif sering dibedakan dengan istilah
motivasi. Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan motif dan motivasi, berikut ini penulis akan memberikan
pengertian dari kedua istilah tersebut. Kata "motif" diartikan
sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Atau
seperti dikatakan oleh Sardiman dalam bukunya Psychology Understanding of
Human Behavior yang dikutip M. Ngalim Purwanto (2004:89) : motif adalah tingkah laku atau perbuatan suatu tujuan atau perangsang. Motivasi merupakan salah satu aspek psikis yang memiliki pengaruh terhadap
pencapaian prestasi belajar.
Sedangkan S. Nasution (2000:4), motif adalah segala daya yang mendorog seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian motif adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang
yang dapat menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu.
Adapun pengartian motivasi dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia Kontemporer (2007:78), adalah
keinginan atau dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar
maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Motivasi adalah suatu perubahan yang terdapat
pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan motivasi pengembangan diri adalah keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan untuk mengembangkan diri yang menjamin kelangsungan dari kegiatan
belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan pengembangan diri,
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
b. Pengertian Pengembangan Diri
Depdiknas
(2008:3), Pengembangan diri
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran wajib yang merupakan bagian
integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan
watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan
melalui kegiatan bimbingan dan konseling serta kegiatan
ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam pengembangan diri,
diantaranya pemecahan masalah pribadi dan kehidupan sosial, penanganan masalah
belajar, pengembangan karir, dan kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam
ekstrakurikuler.
David Zulkarnaen dkk (2009:6), Sikap
pengembangan diri perlu dibangun karena menentukan gaya manajemen pengembangan
diri individu. John Maxwell dalam The
WinningAttitude; Your Key to Personal Success (1993) menyimpulkan bahwa
sikap hidup menentukan tindakan, pola hubungan dengan orang lain,
perlakuan yang kita terima dari orang lain, keberhasilan dan kegagalan,
menentukan hasil akhir, cara pandang yang positif dan optimis. Ia juga
menyatakan, sikap anda sekarang adalah hasil dari sikap-sikap anda selama ini. Oleh karena itu sangat tepat jika kita selalu berpegang pada pesan Nabi Muhammad
SAW dalam hadits riwayat al-Bukhari, segala aktivitas ditentukan oleh niat dan seseorang
akan menuai hasil aktivitasnya sesuai dengan niatnya. Niat
itulah sebenarnya yang merupakan benih dari sikap diri sehingga perlu
dijaga kesucian dan kekuatannya. Dengan demikian, niat dapat memberikan
energy positif dalam pengembangan diri. Nabi juga bersabda bahwa sangatlah beruntung
seseorang yang senatiasa menyibukkan diri dengan kekurangannya, ketimbang
mengorek kekuarangan orang lain. (QS. Ali Imran: 110-194).
Pengembangan diri adalah “Individu-individu
yang mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan-kemampuan mereka melalui
usaha-usaha yang diarahkan oleh diri mereka sendiri”. (2. http://parlindungan-sinaga.blogspot.com/2008/05/pengembangan-diri.html)
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan-kemampuan mereka melalui
usaha-usaha yang diarahkan oleh diri mereka sendiri”. (2. http://parlindungan-sinaga.blogspot.com/2008/05/pengembangan-diri.html)
Pembaruan fisik dapat dilakukan dengan melalui
olahraga, asupan nutrisi, dan upaya pengelolaan stres. Pembaruan spiritual dapat diraih
melalui
penjelasan tentang nilai dan komitmen, melakukan studi atau kajian dan
berkontemplasi atau berdzikir. Dimensi mental dapat diperbarui melalui
kegiatan membaca, melakukan visualisasi, membuat perencanaan dan
menulis. Adapun dimensi sosial/emosional diasah melalui pemberian
pelayanan, bersikap empati, melakukan sinergi dan menumbuhkan rasa
aman dalam diri. Dalam proses pengembangan diri diperlukan
keseimbangan (tawazun) dan sinergi (tanasuq) untuk mencapai hasil optimal
sebagaimana yang diharapkan. Pengembangan diri tidak muncul begitu saja. Untuk meraihnya, diperlukan latihan dengan pola seperti spiral. Pola ini melatih kita untuk bergerak ke atas sepanjang spiral secara terus-menerus. Pola spiral ini memaksa kita untuk melalui tiga tahap kegiatan yakni belajar, berkomitmen, dan berbuat. Latihan ini harus terus-menerus berjalan secara berulang-ulang sampai kualitas dan produktivitas diri kita menjadi semakin tinggi.
penjelasan tentang nilai dan komitmen, melakukan studi atau kajian dan
berkontemplasi atau berdzikir. Dimensi mental dapat diperbarui melalui
kegiatan membaca, melakukan visualisasi, membuat perencanaan dan
menulis. Adapun dimensi sosial/emosional diasah melalui pemberian
pelayanan, bersikap empati, melakukan sinergi dan menumbuhkan rasa
aman dalam diri. Dalam proses pengembangan diri diperlukan
keseimbangan (tawazun) dan sinergi (tanasuq) untuk mencapai hasil optimal
sebagaimana yang diharapkan. Pengembangan diri tidak muncul begitu saja. Untuk meraihnya, diperlukan latihan dengan pola seperti spiral. Pola ini melatih kita untuk bergerak ke atas sepanjang spiral secara terus-menerus. Pola spiral ini memaksa kita untuk melalui tiga tahap kegiatan yakni belajar, berkomitmen, dan berbuat. Latihan ini harus terus-menerus berjalan secara berulang-ulang sampai kualitas dan produktivitas diri kita menjadi semakin tinggi.
Berdasarkan uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan diri
merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral
dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya
pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan
pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial,
kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.
Disamping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri,
khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan
karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan
peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan
konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra
kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain
sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan
diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan
ekstra kurikuler dapat megembangankan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan
sehari-hari peserta didik.
Berdasarkan pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan motivasi pengembangan diri adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri
siswa yang menimbulkan kegiatan untuk mengembangkan diri yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah
pada kegiatan pengembangan
diri, sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
c. Macam-macam
Motivasi Pengembangan
Diri
Dilihat dari berbagai sudut pandang, para
ahli psikologi berusaha untuk menggolongkan motif-motif yang ada pada manusia
atau suatu organisme kedalam beberapa golongan menurut pendapatnya
masing-masing. Diantaranya menurut Woodwort dan Marquis sebagaimana dikutip
oleh Ngalim Purwanto
(2004:78), motif itu ada tiga
golongan yaitu :
1. Kebutuhan-kebutuhan organis yakni, motif-motif yang berhubungan dengan
kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti : lapar, haus, kebutuhan
bergerak, beristirahat atau tidur, dan sebagainya.
2. Motif-motif yang timbul yang timbul sekonyong-konyong (emergency motives)
inilah motif yang timbul bukan karena kemauan individu tetapi karena ada
rangsangan dari luar, contoh : motif melarikan diri dari bahaya,motif berusaha
mengatasi suatu rintangan.
3. Motif Obyektif yaitu motif yang diarahkan atau ditujukan ke suatu objek atau
tujuan tertentu di sekitar kita, timbul karena adanya dorongan dari dalam diri
kita.
Motivasi adalah suatu perubahan yang terdapat pada diri seseorang untuk melakukan
sesuatu guna mencapai tujuan. Dapat disimpulkan
bahwa motivasi sebagai suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan. Cara membangkitkan motivasi belajar
diantaranya adalah :
a. Menjelaskan kepada siswa, alasan suatu
bidang studi dimasukkan dalam kurikulum dan kegunaannya untuk kehidupan.
b. Mengkaitkan materi pelajaran dengan
pengalaman siswa di luar lingkungan sekolah.
c. Menunjukkan antusias dalam mengajar bidang
studi yang dipegang.
d. Mendorong siswa untuk memandang belajar
di sekolah sebagai suatu tugas yang tidak harus serba menekan, sehingga siswa
mempunyai intensitas untuk belajar dan menjelaskan tugas dengan sebaik mungkin.
e. Menciptakan iklim dan suasana dalam
kelas yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
f. Memberikan hasil ulangan dalam waktu
sesingkat mungkin.
g. Menggunakan bentuk .bentuk
kompetisi (persaingan) antar siswa.
h. Menggunakan intensif seperti pujian,
hadiah secara wajar.
Menurut Sardiman (2003:45), motivasi sangat berperan dalam pengembangan diri, siswa yang dalam proses pengembangan diri mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan
tekun dan berhasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin
berhasil pelajaran itu. Maka motivasi senantiasa akan menentukan intensitas
usaha belajar bagi siswa. Adapun fungsi motivasi ada tiga, yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi
sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi.
b. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan
yang hendak dicapai.
c. Menyeleksi perbuatan yakni menentukan
perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan
itu dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Seorang siswa yang akan menghadapi ujian
dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak
akan menghabiskan waktunya untuk bermain atau membaca komik, sebab tidak serasi
dengan tujuan. Selain itu ada juga fungsi lain yaitu,
motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi,
karena secara konseptual motivasi berkaitan dengan prestasi dan hasil belajar.
Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.
Dengan kata lain, adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya
motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang
baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya.
Seperti yang telah
dijelaskan di atas bahwa motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting
bagi siswa. Apalah artinya bagi seorang siswa pergi ke sekolah tanpa mempunyai
motivasi belajar. Bahwa diantara sebagian siswa ada yang mempunyai motivasi
untuk belajar dan sebagian lain belum termotivasi untuk belajar. Seorang guru
melihat perilaku siswa seprti itu, maka perlu diambil langkah-langkah untuk
membangkitkan motivasi belajar siswa. Membangkitkan motivasi
belajar tidaklah mudah, guru harus dapat menggunakan berbagai macam cara untuk
memotivasi belajar siswa.
Arden N. Frandsen yang dikutip oleh
Sardiman, A.M (2003:90), mengemukakan jenis motivasi dilihat dari
dasar pembentukannya, yaitu : motif bawaan, (motive psychological drives) dan
motif yang dipelajari (affiliative needs), misalnya : dorongan untuk belajar
suatu cabang ilmu pengetahuan dan sebagainya. Motivasi
merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan sikap, kebutuhan, persepsi,
dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis
timbul diakibatkan oleh faktor didalam diri seseorang itu sendiri yang disebut instrinsik
sedangkan faktor diluar diri disebut ekstrinsik. Faktor instrinsik berupa
kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita
yang menjangkau kemasa depan. Sedangkan faktor ekstrinsik dapat
ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pimpinan, kolega atau faktor-faktor
lain yang komplek.
Selanjutnya Sartain (2000:34) membagi motif-motif itu menjadi dua golongan sebagai berikut :
a. Psychological drive adalah
dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis atau jasmaniah seperti lapar, haus
dan sebagainya.
b. Sosial Motives adalah dorongan-dorongan
yang ada hubungannya dengan manusia lain dalam masyarakat seperti : dorongan
selalu ingin berbuat baik (etika) dan sebagainya.
Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni : (1) faktor
pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal, (2) tujuan
yang ingin dicapai, (3) strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok
untuk mencapai tujuan tersebut.
Adapun bentuk motivasi pengembangan diri di Sekolah dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang
berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan
belajar. Dalam buku lain motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam
diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar,
misalnya : ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh pengetahuan dan
sebagainya. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan
motivasi intrinsik adalah:
a. Adanya kebutuhan
b. Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya
sendiri
c. Adanya cita-cita atau aspirasi.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan
yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan
kegiatan belajar. Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang
tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar
untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan
hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan
lain-lain merupakan contoh konkrit dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Dalam perspektif kognitif, motivasi
intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena lebih murni dan langgeng serta
tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Perlu ditegaskan,
bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan
belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan besar keadaan siswa itu
dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses
belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga siswa tidak
bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di
rumah. Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi
belajarnya, maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan
secara tepat. Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik
intrinsic maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, siswa dapat mengembangkan
aktifitas dan inisiatif sehingga dapat mengarahkan dan memelihara kerukunan
dalam melakukan kegiatan belajar.
Berdasarkan pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa upaya dalam
menumbuhkan motivasi pengembangan
diri siswa dan bentuk-bentuk
motivasi yang dapat dipergunakan oleh guru agar berhasil dalam proses pengembangan diri bagi siswa serta dikembangkan dan diarahkan untuk
dapat melahirkan pengembangan
diri yang bermakna bagi kehidupan
siswa.
g.
Tujuan Motivasi Pengembangan diri
Tujuan kita mengembangkan diri (http:// ummahattokyo. tripod. com/ kepribadian/
mengenali_diri.htm) yaitu:
1.
Mendapatkan rasa aman
Menurut Abraham Maslow, keamanan merupakan
salah satu
kebutuhan dasar manusia. Di dunia kerja, keamanan itu meliputi
kondisi kerja, asuransi kesehatan, gaji pada waktu berhalangan kerja,
koperasi simpan pinjam, program pengembangan, dan dana pension.
Akan tetapi, keamanan dan rasa aman yang kita cari dengan
pengembangan diri bukanlah keamanan dari luar seperti itu,
melainkan kemanan dari dalam, yaitu kemanan batin. Kemanan
seperti itu kita dasarkan atas kemampuan untuk memberi sumbangan
didalam hidup, kecakapan dalam kerja, watak, dan kepribadian yang
sudah berkembang secara lengkap dan utuh: lahir-batin, jasmani rohani,
material-spritual. Kita merasa aman karena kita telah berhasil memodifikasi sikap dan prilaku kita menjadi lebih baik, menambah kemampuan dan
kecakapan kita, serta meningkatkan prestasi kerja kita. Rasa aman
menjadi modal yang tidak ternilai tenang dalam hidup dan kerja kita.
kebutuhan dasar manusia. Di dunia kerja, keamanan itu meliputi
kondisi kerja, asuransi kesehatan, gaji pada waktu berhalangan kerja,
koperasi simpan pinjam, program pengembangan, dan dana pension.
Akan tetapi, keamanan dan rasa aman yang kita cari dengan
pengembangan diri bukanlah keamanan dari luar seperti itu,
melainkan kemanan dari dalam, yaitu kemanan batin. Kemanan
seperti itu kita dasarkan atas kemampuan untuk memberi sumbangan
didalam hidup, kecakapan dalam kerja, watak, dan kepribadian yang
sudah berkembang secara lengkap dan utuh: lahir-batin, jasmani rohani,
material-spritual. Kita merasa aman karena kita telah berhasil memodifikasi sikap dan prilaku kita menjadi lebih baik, menambah kemampuan dan
kecakapan kita, serta meningkatkan prestasi kerja kita. Rasa aman
menjadi modal yang tidak ternilai tenang dalam hidup dan kerja kita.
2.
Kemantapan hidup
Kemantapan hidup
adalah keadaan hidup di mana kita tidak mudah goyah dan digoyahkan, baik oleh
factor-faktor yang ada di dalam diri kita, seperti selera, emosi, ambisi, atau
mimpi, maupun factor-faktor di luar diri kita, seperti rekan kerja, atasan,
lembaga, masyarakat,
bahkan dunia. Kemantapan hidup seperti ini merupakan hasil
komitmen yang sudah dibuat dan sikap konsekuen untuk memenuhi
komitmen itu. Ini berarti bahwa kita sudah berhasil menciptakan
kepaduan antara visi, misi, dan peran kita dengan cara hidup,
perilaku, dan cara kerja kita. Untuk dapat hidup mantap, kita
membutuhkan credo dan keyakinan. Credo berasal dari kata latin credere yang berarti ‘percaya’. Maka, credo berarti ‘aku percaya’. Credo adalah serangkaian hal dan nilai yang kita percayai dan kita pegang sebagai pegangan dan pedoman hidup. Dalam credo itu terkandung prinsip-prinsip yang kita gunakan untuk mengendalikan dan mengarahkan hidup, perilaku, dan kerja kita. Prinsip - prinsip tersebut berkaitan dengan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Tuhan.
bahkan dunia. Kemantapan hidup seperti ini merupakan hasil
komitmen yang sudah dibuat dan sikap konsekuen untuk memenuhi
komitmen itu. Ini berarti bahwa kita sudah berhasil menciptakan
kepaduan antara visi, misi, dan peran kita dengan cara hidup,
perilaku, dan cara kerja kita. Untuk dapat hidup mantap, kita
membutuhkan credo dan keyakinan. Credo berasal dari kata latin credere yang berarti ‘percaya’. Maka, credo berarti ‘aku percaya’. Credo adalah serangkaian hal dan nilai yang kita percayai dan kita pegang sebagai pegangan dan pedoman hidup. Dalam credo itu terkandung prinsip-prinsip yang kita gunakan untuk mengendalikan dan mengarahkan hidup, perilaku, dan kerja kita. Prinsip - prinsip tersebut berkaitan dengan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Tuhan.
Keyakinan adalah perasaan pasti akan
kebenaran dan kebaikan suatu hal, nilai, atau prinsip. Keyakinan menjadi sumber
tekad dan kemauan hidup. Kita boleh memiliki kemampuan dan kecakapan yang bagus, tetapi jika
kita tidak mempunyai keyakinan akan hal yang kita
kerjakan, kita tidak akan mendayagunakannya. Tanpa tekad dan
kemauan, kita tidak akan bergerak atau berbuat sesuatu. Sebaliknya,
dengan keyakinan, kita akan mengambil langkah dan tindakan untuk
mencapai sesuatu. Oleh keyakinan, arah hidup ditetapkan dan
kemampuan serta kecakapan dimanfaatkan. Kesedihan untuk berkembang membuat kita para pekerja tidak pasif karena kita terus-menerus didorong untuk memanfaatkan segala kesempatan untuk maju. Meskipun lelah, dengan menggunakan tenaga yang tersisa, kita bersedia mengikuti berbagai acara pengembangan seperti ceramah, seminar, penataran, dan
sebagainya. Dengan menjadi manusia yang berkembang, kita akan
mendapatkan rasa aman dan kemantapan hidup, yaitu dua hal yang
kita perlukan untuk dapat melaksanakan kerja kita perlukan untuk
dapat melaksanakan kerja kita secara professional, efisien, efektif,
dan produktif.
kerjakan, kita tidak akan mendayagunakannya. Tanpa tekad dan
kemauan, kita tidak akan bergerak atau berbuat sesuatu. Sebaliknya,
dengan keyakinan, kita akan mengambil langkah dan tindakan untuk
mencapai sesuatu. Oleh keyakinan, arah hidup ditetapkan dan
kemampuan serta kecakapan dimanfaatkan. Kesedihan untuk berkembang membuat kita para pekerja tidak pasif karena kita terus-menerus didorong untuk memanfaatkan segala kesempatan untuk maju. Meskipun lelah, dengan menggunakan tenaga yang tersisa, kita bersedia mengikuti berbagai acara pengembangan seperti ceramah, seminar, penataran, dan
sebagainya. Dengan menjadi manusia yang berkembang, kita akan
mendapatkan rasa aman dan kemantapan hidup, yaitu dua hal yang
kita perlukan untuk dapat melaksanakan kerja kita perlukan untuk
dapat melaksanakan kerja kita secara professional, efisien, efektif,
dan produktif.
Demi masa depan
kita, entah berguna untuk mendapatkan promosi atau tidak, sebaiknya kita terus
berusaha mengembangkan diri
dengan mengambil usaha-usaha pengembangan agar menjadi
pekerja yang dapat diandalkan. Dengan menjadi pekerja yang dapat
diandalkan, kita menjadi pekerja yang berharga dan dihargai oleh
lembaga.
dengan mengambil usaha-usaha pengembangan agar menjadi
pekerja yang dapat diandalkan. Dengan menjadi pekerja yang dapat
diandalkan, kita menjadi pekerja yang berharga dan dihargai oleh
lembaga.
Menurut Depdiknas
(2008:7), tujuan pengembangan diri ada 2 yang terdiri dari tujuan umum dan
tujuan khusus:
1. Tujuan Umum
Pengembangan
diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat dan kepribadian
peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan.
2. Tujuan Khusus
Secara
khusus, pengembangan diri dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan bakat, minat,
kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan keagamaan,
kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan
memecahkan masalah, kemandirian dan kemampuan-kemampuan lain yang mendukung
pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.
Tujuan motivasi pengembangan
diri sering tumpang tinding dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian
kita perlu mengenal konsep pokok (key concept) daripada motivasi kelas
ini sebagai suatu asas belajar tersendiri. Motivasi dapat bersumber dari dalam
diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan dan kesadaran pada tujuan
belajar. Motivasi ini disebut motivasi intrinsik. Motivasi belajar dapat juga
tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau desakan dari luar, misalnya dengan
hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian harapan lainnya, yang disebut motivasi
ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini berdayaguna dalam melakukan proses
belajar, kendatipun motivasi yang bersumber dari diri sendiri dinilai lebih
baik. Kendatipun demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan
untuk mendorong kegiatan belajar siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kondisi
yang relevan. Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di
dalam kelas: suasana lingkungan kelas, keterlibatan siswa secara langsung,
mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.
Dapat disimpulkan bahwa motivasi sebagai
suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya
perasaan dan didahului dengan adanya tujuan, maka dalam tujuan motivasi
pengembangan diri terkandung tiga unsur
penting, yaitu :
a. Bahwa motivasi itu mengawali
terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, perkembangan
motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam system "neurophysiological"
yang ada pada organisme manusia.
b. Motivasi ditandai dengan
munculnya rasa "feeling", afeksi seseorang. Dalam hal ini
motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang
dapat menentukan tingkah laku manusia.
c. Motivasi akan dirangsang karena adanya
tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu
aksi yakni tujuan.
Tujuan motivasi pengembangan
diri sering tumpang tinding dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian
kita perlu mengenal konsep pokok (key concept) daripada motivasi kelas ini
sebagai suatu asas belajar tersendiri. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri
siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan dan kesadaran pada tujuan
belajar. Motivasi ini disebut motivasi intrinsik. Motivasi belajar dapat juga
tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau desakan dari luar, misalnya dengan
hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian harapan lainnya, yang disebut motivasi
ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini berdayaguna dalam melakukan proses
belajar, kendatipun motivasi yang bersumber dari diri sendiri dinilai lebih
baik. Kendatipun demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan
untuk mendorong kegiatan belajar siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kondisi
yang relevan. Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di
dalam kelas: suasana lingkungan kelas, keterlibatan siswa secara langsung,
mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.
2. Tinjauan Tentang Bimbingan Kelompok
a. Pengertian
Bimbingan Kelompok
Bimbingan dan konseling merupakan layanan yang diberikan
kepada siswa oleh guru pembimbing yang terdapat dalam pola 17 yang terdiri dari
empat bidang bimbingan, tujuh layanan dan lima layanan pendukung. Diantara
pemberian layanan tersebut adalah layanan bimbingan kelompok yang dilaksanakan
oleh guru pembimbing dalam menangani sejumlah peserta didik. Faktor yang
mendasar penyelenggaraan bimbingan kelompok adalahbahwa proses pembelajaran
dalam bentuk pengubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku termasuk dalam hal
pemecahan masalah dapat terjadi melalui proses kelompok. Dalam suatu kelompok,
anggotanya dapat memberi umpan balik yang diperlukan untuk membantu mengatasi
masalah anggota yang lain, dan anggota satu dengan yang lainnya saling memberi
dan menerima. Perasaan dan hubungan antar anggota sangat ditekankan di dalam
kelompok ini. Dengan demikian antar anggota akan dapat belajar tentang dirinya
dalam hubungannya dengan anggota yang lain atau dengan orang lain. Selain itu
di dalam bimbingan kelompok, anggota dapat pula belajar untuk memecahkan masalah
berdasarkan masukan dari anggota yang lain.
Layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan yang
menekankan pada proses berfikir secara sadar, perasaan-perasaan, dan
perilaku-perilaku anggota untuk meningkatkan kesadaran akan pertumbuhan dan
perkembangan individu yang sehat. Melalui layanan bimbingan kelompok, individu
menjadi sadar akan kelemahan dan kelebihannya, mengenali ketrampilan, keahlian
dan pengetahuan serta menghargai nilai dan tindakannya sesuai dengan
tugas-tugas perkembangan. Selain itu layanan bimbingan kelompok memberi
kesempatan untuk mempelajari keterampilan sosial. Anggota dapat meniru anggota
lain yang telah terampil dan dapat belajar untuk memberikan umpan balik yang
bermanfaat bagi anggota lain. Mereka juga belajar untuk mendengarkan secara
aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memperlihatkan perhatian yang sungguhsungguh
terhadap orang lain, dan membuat suasana positif bagi orang lain. Suasana
memberi dan menerima di dalam bimbingan kelompok dapat menumbuhkan harga diri
dan keyakinan diri anggota. Pada layanan bimbingan kelompok anggota saling
menolong, menerima, dan berempati secara tulus. Hal ini dapat menumbuhkan
suasana yang positif di antara anggota, sehingga mereka merasa diterima,
dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.
Menurut Gazda (1978) bimbingan kelompok
di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekolompok siswa untuk membantu
siswa menyusun rencana dan keputusan yang tepat (dalam Prayitno dan Amti, 2000:
309). Pengertian di atas menekankan pada
kegiatan pemberian informasi dalam suasana kelompok dan adanya penyusunan
rencana untuk mengambil keputusan.
Menurut Prayitno (2004: 61)
bahwa“Bimbingan kelompok adalah memanfaatkan dinamika untuk mencapai
tujuan-tujuan bimbingan dan konseling, bimbingan kelompok lebih menekankan
suatu upaya bimbingan kepada individu melalui kelompok”. Prayitno lebih
menekankan dinamika kelompok sebagai wahana mencapai tujuan kegiatan bimbingan
dan konseling yang muncul pada bimbingan kepada individu-individu melalui
kelompok.
Winkel (2004: 71) mengatakan bahwa
“bimbingan adalah proses membantu orang-perorangan dalam memahami dirinya
sendiri dan lingkungannya”. Bimbingan kelompok menekankan bahwa
kegiatan bimbingan kelompok lebih pada proses pemahaman diri dan lingkungannya
yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang disebut kelompok. Apabila konseling perorangan menunjukkan layanan kepada
individu atau klien orangperorang, maka bimbingan kelompok mengarahkan layanan
kepada sekelompok individu.
Menurut Dewa Ketut Sukardi (2002
:48),bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta
didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu
(terutama dari pembimbing/ konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya
sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan
masyarakat serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Bimbingan kelompok adalah proses
pemberian informasi dan bantuan yang diberikan oleh seorang yang ahli (guru
pembimbing) pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna
mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan dalam penelitian ini adalah membentuk
konsep diri positif.
Menurut
Juntika (2003 : 31),bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang
dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa
penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah
pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 : 17)
menyatakan bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok di mana pimpinan
kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota
kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok
untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Menurut Winkel dan Sri Hastuti.
(2004:111). Bimbingan kelompok dilakukan bilamana siswa yang dilayani lebih dari
satu orang. Bimbingan kelompok dapat terlaksana dengan berbagai cara, misalnya
dibentuk kelompok kecil dalam rangka layanan Konseling (konseling kelompok),
dibentuk kelompok diskusi, diberikan bimbingan karier kepada siswa-siswi yang
tergabung dalam satu kesatuan kelas di SMA. Dalam bimbingan kelompok merupakan
sarana untuk menunjang perkembangan optimal masing-masing siswa, yang
diharapkan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pendidikan ini bagi dirinya
sendiri.
Dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok merupakan salah satu
layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sejumlah individu dalam
bentuk kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk membahas topik
tertentu yang dipimpin oleh pemimpin kelompok bertujuan menunjang pemahaman,
pengembangan dan pertimbangan pengambilan keputusan/ tindakan individu. Bimbingan
kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan
individu, dalam arti bahwa konseling kelompok itu memberi dorongan dan motivasi
kepada individu untuk mengubah diri dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki
secara optimal, sehingga mempunyai konsep diri yang lebih positif. Bagi siswa, bimbingan kelompok bermanfaat sekali karena melalui interaksi
dengan anggota-anggota kelompok mereka dapat memenuhi beberapa kebutuhan
psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan
diterima oleh mereka, kebutuhan untuk bertukar pikir dan berbagi perasaan,
kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan dan kebutuhan untuk
lebih independen serta lebih mandiri. Dengan
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka diharapkan para siswa dapat
tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
b. Tujuan Bimbingan
kelompok
Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005:17), tujuan bimbingan kelompok
adalah untuk memberi informasi dan data untuk mempermudah pembuatan keputusan
dan tingkah laku. Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri
untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang
lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif
lainnya yang pada gilirannya individu dapat mengembangkan potensi diri serta
dapat meningkatkan konsep diri yang dimiliki.
Kesuksesan layanan bimbngan kelompok sangat dipengaruhi
sejauh mana tujuan yang akan dicapai dalam layanan layanan kelompok yang
diselenggarakan. Tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh Prayitno
(2004: 2-3) adalah sebagai berikut :
a.
Tujuan Umum
Tujuan
umum dari layanan bimbingan kelompok adalah berkembangnya sosialisasi siswa,
khususnya kemampuan komunikasi anggota kelompok. Sering menjadi kenyataan bahwa
kemampuan bersosisalisasi/berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh
perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang tidak obyektif, sempit dan
terkukung serta tidak efektif. Melalui layanan bimbingan kelompok diharapkan
hal-hal yang menganggu atau menghimpit perasaan dapat diungkapkan, diringankan
melalui berbagai cara, pikiran yang buntu atau beku dicairkan dan didinamikkan
melalui masukkan dan tanggapan baru, persepsi yang menyimpang atau sempit
diluruskan dan diperluas melalui pencairan pikiran, sikap yang tidak efektif
kalau perlu diganti dengan yang baru yang lebih efektif. Melalui kondisi dan
proses berperasaan, berpikir, berpersepsi dan berwawasan terarah, luwes dan
luas serta dinamis kemampuan berkomunikasi, bersosialiasi dan bersikap dapat
dikembangkan.Selain tujuan tersebut yaitu untuk mengentaskan masalah klien
dengan memanfaatkan dinamika kelompok.
b. Tujuan Khusus
Bimbingan kelompok bermaksud membahas topik-topik tertentu.
Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong
pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang
diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan
berkomunikasi verbal maupun non verbal ditingkatkan. Dengan diadakannya
bimbingan kelompok ini dapat bermanfaat bagi siswa karena dengan bimbingan
kelompok akan timbul interaksi dengan anggota-anggota kelompok mereka memenuhi
kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan
teman-teman sebaya dan diterima oleh mereka, kebutuhan bertukar pikiran dan
berbagi perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan,
dan kebutuhan untuk menjadi lebih mandiri.
Dengan diadakannya bimbingan kelompok ini dapat bermanfaat
bagi siswa karena dengan bimbingan kelompok akan timbul interaksi dengan
anggota-anggota kelompok mereka memenuhi kebutuhan psikologis, seperti
kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebaya dan diterima oleh
mereka, kebutuhan bertukar pikiran dan berbagi perasaan, kebutuhan menemukan
nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan, dan kebutuhan untuk menjadi lebih
mandiri. Sehingga dengan
demikian bimbingan kelompok ini mempunyai tujuan yang
praktis dan dinamis dalam
mewujudkan potensi individu dan juga dalam
mengembangkan dan meningkatkan konsep dirinya individu.
Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah sebagai berikut:
1) Tujuan Umum
Secara umum layanan bimbingan
kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi,
khususnya kemampuan berkomunikasi perserta layanan (siswa).
2) Tujuan
Khusus
Secara lebih khusus layanan bimbingan
kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran,
persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih
efektif, yaitu peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non
verbal para siswa.
c. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok
Prayitno (2000: 27) menggemukakan bahwa ada tiga komponen
penting dalam kelompok yaitu suasana kelompok, anggota kelompok, dan pemimpin
kelompok.
a.
Suasana kelompok
Layanan
bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan dalam bimbingan dan konseling
di sekolah. Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan
bantuan yang diberikan oleh seorang yang ahli (guru pembimbing) pada sekelompok
orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan
tertentu.
Dinamika kelompok berarti suatu kelompok yang teratur dari
dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara
anggota yang satu dengan yang lain (Santoso, 2004:5). Dengan kata lain, antar
anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi
yang dialami secara bersama-sama.
Sedangkan menurut Wibowo (2005: 61) mengemukakan: Dinamika
kelompok adalah suatu studi yang menggambarkan berbagai kekuatan yang
menentukan perilaku anggota dan perilaku kelompok yang menyebabkan terjadinya
gerak perubahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kehidupan
kelompok yang dijiwai oleh dinamika kelompok akan menentukan arah dan gerak
pencapaian tujuan kelompok. Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok
sebagai media untuk membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Media
dinamika kelompok ini adalah unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu
kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang
dinamis, bergerak dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan
mencapai suatu tujuan. Dalam bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan dinamika
kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh
keuntungan-keuntungan lainnya. Arah pengembangan diri yang dimaksud terutama
adalah dikembangkannya kemampuankemampuan sosial secara umum yang selayaknya
dikuasai oleh individu - individu yang berkepribadian mantap. Keterampilan
berkomunikasi secara efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima,
toleran, mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap
demokratis, memiliki rasa tanggung jawab sosial seiring dengan kemandirian yang
kuat merupakan arah pengembangan pribadi yang dapat dijangkau melalui dinamika
kelompok yang aktif. Dinamika kelompok itu akan terwujud apabila kelompok
tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan
membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta semangat
ditentukan oleh peranan anggota kelompok.
Layanan bimbingan kelompok memberikan kesempatan kepada
anggota kelompok berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin
terjadi pada layanan konseling individual. Interaksi sosial yang intensif dan
dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuan - tujuan layanan yang
sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat dicapai
secara mantap. Pada kegiatan bimbingan kelompok setiap individu dapat
memperoleh suatu informasi selain itu individu mendapatkan kesempatan untuk
menggungkapkan masalah yang dialami serta dibahas secara bersama-sama oleh
anggota kelompok. Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan
perasaan, menunjukan perhatian terhadap orang lain, dan berbagai pengalaman.
Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan
bimbingan kelompok. Pendekatan ini menitik beratkan pada interaksi antar
anggota, anggota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain
berusaha bersama untuk dapat belajar dan mendengarkan secara aktif, melakukan
konfrontasi dengan tepat, memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap
anggota lain. Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan
rasa saling menolong, menerima, dan berempati dengan tulus. Keadaan ini
membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa
diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Saling
berhubungan antar anggota kelompok sangat diutamakan. Para ahli menyebutkan ada
lima hal yang hendaknya diperhatikan dalam menilai apakah kehidupan sebuah
kelompok tersebut baik atau kurang baik, yaitu :
1)
Adanya saling hubungan yang dinamis antar anggota
2)
Memiliki tujuan bersama
3) Hubungan antara besarnya kelompok (banyak anggota) dan
sifat kegiatan kelompok
4)
Itikad dan sikap terhadap orang lain
5)
Kemampuan mandiri
b.
Anggota kelompok
Keanggotaan
merupakan salah satu unsur pokok dalam proses kehidupan kelompok. Tanpa anggota
tidaklah mungkin ada kelompok. Kegiatan ataupun kehidupan kelompok itu sebagian
besar didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok itidak akan
terwujud tanpa keikutsertaan aktif para angota kelompok, dan bahkan lebih dari
itu. Dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa
kehadiran pemimpin kelompok. Secara ringkas peranan anggota kelompok sangatlah
menentukan. Lebih tegasnya dapat dikatakan bahwa anggota kelompok justru
merupakan badan dan jiwa kelompok itu. Peranan yang hendaknya dimainkan anggota
kelompok sesuai yang diharapkan menurut Prayitno (2000:32) adalah sebagai
berikut :
1) Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan
antar anggota kelompok.
2) Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam
kegiatan kelompok.
3) Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya
tujuan bersama.
4) Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha
mematuhinya dengan baik.
5) Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta
dalam seluruh kegiatan kelompok.
6)
Mampu mengkomunikasikan secara terbuka.
7)
Berusaha membantu orang lain.
8) Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga
menjalani peranannya.
9)
Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut.
Pemilihan anggota sangatlah penting agar dalam pelaksanaan
kegiatan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar. Peranan para anggota
sangat menentukan keberhasilan dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok,
apabila anggota kelompok tidak bisa membina keakraban, melibatkan diri dalam
kegiatan kelompok, mematuhi aturan dalam kegiatan kelompok, terbuka, membantu
orang lain maka sulit untuk menuju ketahap demi tahap dalam bimbingan kelompok.
Dalam pelaksanaan konseling kelompok ini, peneliti dalam memilih anggota
berdasarkan pada jumlah anggota yang seimbang, umur dan kepribadian. Pemilihan
anggota kelompok dilaksanakan setelah penyebaran skala psikologi.
c. Pemimpin kelompok
Pemimpin
kelompok adalah orang yang mampu menciptakan suasana sehingga para anggota
kelompok dapat belajar bagaimana mengatasi masalah-masalah mereka sendiri.
Menurut Prayitno (2000: 35-36) peranan pemimpin kelompok dalam layanan
bimbingan kelompok adalah sebagai berikut.:
1) Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan
atau campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok. Campur tangan ini
meliputi hal-hal bersifat dari yang dibicarakan maupun mengenai proses kegiatan
itu sendiri.
2) Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana
perasaan yang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggota - anggota
tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat menanyakan
suasana perasaan yang dialami oleh anggota kelompok.
3) Jika kelompok tersebut tampak kurang menjurus ke arah
yang dimaksudkan, maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang
dimaksudkan.
4) Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan
balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi
maupun proses kegiatan kelompok.
5) Pemimpin kelompok diharapkan mampu mengatur lalu lintas
kegiatan kelompok, pemegang atauran permainan (menjadi wasit), pendamai dan
pendorong kerjasama serta suasana kebersamaan. Selain itu juga diharapkan
bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di dalam kelompok itu tidak
merusak ataupun menyakiti seseorang atau lebih anggota kelompok.
6) Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi
dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab
pemimpin kelompok.
Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai
media untuk membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Media dinamika
kelompok ini adalah unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang
benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak
dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan.
Dalam bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota
kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya.
Arah pengembangan diri yang dimaksud terutama adalah dikembangkannya kemampuankemampuan
sosial secara umum yang selayaknya dikuasai oleh individu - individu yang
berkepribadian mantap. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, sikap
tenggang rasa, memberi dan menerima, toleran, mementingkan musyawarah untuk
mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa tanggung jawab
sosial seiring dengan kemandirian yang kuat merupakan arah pengembangan pribadi
yang dapat dijangkau melalui dinamika kelompok yang aktif. Dinamika kelompok
itu akan terwujud apabila kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada
tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota
kelompok serta semangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.
Komponen sistem dalam bimbingan kelompok menurut Mungin Edy Wibowo
(2005: 189) adalah: “Variabel raw input (siswa/anggota kelompok); instrumental
input (konselor, program, tahapan dan sarana); envimental input (norma,
Tujuan dan lingkungan); proses atau perantara (interaksi, perlakuan kontrak
perilaku yang disepakati akan diubah dan dinamika kelompok); output yaitu
berkenaan dengan perubahan perilaku atau penguasaan tugas-tugas”. Komponen-komponen
system dalam bimbingan kelompok tersebut adalah:
1). Raw Input
Keanggotaan
merupakan salah satu unsur pokok dalam bimbingan kelompok. Raw Input dalam
bimbingan kelompok adalah siswa. Karena bimbingan kelompok sifatnya
pengembangan dan topik yang dibahas merupakan topik-topik umum, maka siapapun
dapat menjadi anggota kelompok. Berikut ini beberapa pertimbangan dalam
membentuk suatu kelompok bimbingan kelompok adalah (Prayitno, 2004: 30):
a) Jenis kelompok, untuk Tujuan-tujuan tertentu mungkin diperlukan
pembentukan kelompok dengan jumlah anggota yang seimbang antara laki-laki dan
perempuan, atau mungkin juga semua jenis kelamin anggota sama.
b) Umur, pada umumnya dinamika kelompok lebih baik dikembangkan
dalam kelompok-kelompok dengan anggota seumur
c) Kepribadian, keragaman atau keseragaman dalam kepribadian anggota
dpat membawa keuntungan atau kerugian tertentu. Jika perbedaan diantara para
anggota itu amat besar, maka komunikasi akan terganggu dan dinamika kelompok
juga kurang hangat.
d) Hubungan awal, keakraban dapat mewarnai hubungan dalam anggota
kelompok yang sudah saling bergaul sebelumnya, dan sebaliknya suasana keasingan
akan dilaksanakan oleh para anggota yang belum saling kenal. Untuk kelompok
tugas mungkin anggota yang seragam akan menyelesaikan tugas lebih baik.
Sebaliknya, bagi kelompok bebas, khususnya dengan Tujuan kemampuan hubungan
sosial dengan orang-orang baru, anggota kelompok yang beragam akan lebih tepat
sasaran.
2). Instrumental Input
Konselor
(pemimpin kelompok), program, dan tahapan, dan sarana merupakan instrumental
input bimbingan kelompok. Konselor atau pemimpin kelompok harus menguasai
keterampilan dan sikap yang memadai untuk terselenggaranya proses bimbingan
kelompok yang efektif. Diantaranya pemimpin kelompok mampu melaksanakan teknik
umum dengan istilah “3M” Mendengar dengan baik, memahami secara penuh, dan
merespon secara tepat dan positif. Program kegiatan selayaknya dikembangkan
sesuai kebutuhan siswa, kondisi objektif sekolah, perkembangan yang terjadi di
masyarakat, serta keterampilan dankemampuan konselor di sekolah yang
bersangkutan.
3). Enviromental Input
Kegiatan
layanan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar dan terarah, apabila
terdapat norma kelompok. Norma kelompok merupakan aturan yang dibuat, dan
disepakati serta digunakan dalam kegiatan bimbingan kelompok. Selain itu
lingkungan kondusif dalam kelompok juga perlu diciptakan demi tercapainya bimbingan
kelompok yang efektif. Lingkungan kondusif yang dimaksud adalah adanya suasana
akrab dan hangat yang mewarnai dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan
interaksi dinamis antar anggota kelompok dan pemimpin kelompok dalam kegiatan
layanan bimbingan kelompok.
4). Proses
Kegiatan
layanan bimbingan kelompok terlihat hidup apabila tercipta dinamika kelompok di
dalamnya. Dinamika kelompok dapat dimanfaatkan dalam proses interaksi antar
anggota dalam membahas topik yang disajikan, sehingga antar anggota dapat
terjalin rasa empati, keterbukaan, rasa positif, saling mendukung dan merasa
setara dengan anggota lain dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu perlu
diperhatikan pula peranan yang hendaknya dimainkan oleh anggota maupun pemimpin
kelompok. Peran anggota dan pemimpin kelompok dapat dilihat pada uraian dimuka.
Agar proses bimbingan kelompok dapat mencapai keberhasilan, perlu disediakan
sarana pendukung yaitu merupakan seperangkat alat bantu untuk memperlancar
proses bimbingan kelompok. Alat bantu tersebut anta lain ruangan, tempat duduk
dan perlengkapan administrasi lainnya.
5). Output
Setelah
mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok siswa diharapkan memiliki sikap
dan keterampilan yang lebih baik. Dalam hal ini siswa diharapkan memiliki kemampuan
verbal dan non verbal yang lebih baik. Selain itu siswa diharapkan memiliki
keterbukaan, rasa positif, empati, sikap saling mendukung, dan memiliki rasa
setara dan kebersamaan yang tinggi.
Bimbingan kelompok merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen
yang saling berkaitan. Dapat terlaksana secara efektif dan efisien jika semua
komponen dalam sistem tersebut mengarah pada perubahan dan pada sesuatu yang
positif.
Berdasarkan uraian pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Layanan bimbingan kelompok memberikan kesempatan kepada
anggota kelompok berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin
terjadi pada layanan konseling individual. Interaksi sosial yang intensif dan
dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuan - tujuan layanan yang
sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat dicapai
secara mantap. Pada kegiatan bimbingan kelompok setiap individu dapat
memperoleh suatu informasi selain itu individu mendapatkan kesempatan untuk
menggungkapkan masalah yang dialami serta dibahas secara bersama-sama oleh
anggota kelompok. Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan
perasaan, menunjukan perhatian terhadap orang lain, dan berbagai pengalaman.
Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan
bimbingan kelompok. Pendekatan ini menitik beratkan pada interaksi antar
anggota, anggota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain
berusaha bersama untuk dapat belajar dan mendengarkan secara aktif, melakukan
konfrontasi dengan tepat, memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap
anggota lain. Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan
rasa saling menolong, menerima, dan berempati dengan tulus. Keadaan ini
membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa
diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Saling
berhubungan antar anggota kelompok sangat diutamakan. Para ahli menyebutkan ada
lima hal yang hendaknya diperhatikan dalam menilai apakah kehidupan sebuah
kelompok tersebut baik atau kurang baik, yaitu: adanya saling hubungan yang
dinamis antar anggota, memiliki tujuan bersama, hubungan antara besarnya
kelompok (banyak anggota) dan sifat kegiatan kelompok, itikad dan sikap terhadap
orang lain, Kemampuan mandiri
B. Kerangka Berpikir
Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian
informasi dan bantuan pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika
kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Layanan yang diberikan
dalam suasana kelompok selain itu juga bisa dijadikan media penyampaian informasi
sekaligus juga bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat
keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa
yang nantinya akan menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu apabila
dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok saling
menolong, menerima dan berempati dengan tulus.
Bimbingan kelompok merupakan lingkungan yang kondusif yang memberikan
kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang
lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah
dan mengambil keputusan yang tepat, dapat berlatih tentang perilaku baru
dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukan sendiri. Suasana ini dapat
menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah
konsep diri yang positif. Didalam kelompok, anggota belajar meningkatkan pengembangan dirinya terhadap orang lain, selain itu mereka juga mempunyai
kesempatan untuk meningkatkan sistem dukungan dengan cara berteman secara
akrab dengan sesama anggota. Dalam layanan bimbingan kelompok interaksi
antar individu antar anggota kelompok merupakan suatu yang khas yang tidak
mungkin terjadi pada konseling perorangan. Karena dalam layanan konseling
kelompok terdiri dari individu yang heterogen terutama dari latar belakang
dan pengalaman mereka masing-masing.
Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat
kerangka berpikir sebagai berikut:
|
|
|
Motivasi Pengembangan Diri
|
Gambar 1: Skema Kerangka Berpikir
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Tempat
Dan Waktu Penelitian
- Tempat Penelitian
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kradenan Kabupaten Grobogan.
2. Waktu
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012.
B.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis
menggunakan Metode Penelitian Kualitatif yakni penulis dalam mengumpulkan data secara langsung dari
lapangan kemudian menafsirkan dan menyimpulkan dari data-data yang ada.
Lexy J. Moleong berpendapat (2002: 27),
sebagai berikut : penelitian kualitatif merupakan penelitian ilmiah, penelitian
ini berakar latar belakang ilmiah sebagai keutuhan, mengadakan analisa secara
induktif, mengarah pada penemuan teori, bersifat deskriptif, lebih mementingkan
proses dari pada hasil, membatasi studi dengan fokus, hasil penelitiannya
disepakati kedua belah pihak yakni : peneliti dan subyek penelitian.
Untuk dapat mencapai sasaran yang
dikehendaki, maka akan digunakan metode penelitian. Dalam penelitian ini
penulis menggunakan Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif, Menurut Soerjono Soekanto (2004: 9-10) Penelitian Deskriptif adalah
: Penelitian yang memberikan dan menafsirkan data yang ada yang pada pokoknya
metode ini merupakan suatu cara atau jalan untuk memecahkan masalah yang ada
pada masa sekarang dan mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan, serta
menginterprestasikan tentang arti dari data-data itu.
C.
Subyek dan Obyek Penelitian
1. Subyek Penelitian
Siswa Kelas VIII SMPN 1 Kradenan yang mempunyai masalah dengan motivasi pengembangan
diri ada 3 (tiga) siswa.
2. Obyek Penelitian
Yang menjadi obyek penelitian ini adalah perilaku siswa
yang agresif : Anak berani
dengan guru, siswa suka memukul dan mengganggu temannya, suka membuat masalah/onar, tidak bisa duduk dengan tenang dan siswa bertindak kasar di lingkungan sekolah.
D.
Sumber Data
Untuk memperoleh data dalam
penelitian tersebut, maka penulis perlu mencari data yang diperoleh dari pihak-pihak yang
berhubungan dengan obyek penelitian ataupun dari dokumen atau buku-buku, sumber
data pelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder.
- Sumber data primer:
a.
Kepala Sekolah,
b.
Guru BK, dan
c.
Orang tua murid.
- Sumber data sekunder yaitu sumber data yang tidak secara langsung memberikan keterangan (misalnya : dokumen atau buku – buku) dan bersifat melengkapi sumber data primer.
E.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan salah satu langkah dalam
suatu penelitian. Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah :
1. Pengamatan (observasi)
a.
Pengertian observasi
Teknik
pengumpulan data dengan cara observasi adalah metode perolehan data dengan
menggunakan mata langsung tanpa ada pertolongan alat standart untuk keperluan
tersebut (Marzuki, 2002: 58). Sedang menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2007:
220) merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan
pengamatan terhadap kegiaatan yang sedang berlangsung.
b. Macam – Macam Observasi
Ada tiga jenis teknik pokok dalam observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan
tertentu, yaitu:
1.
Observasi Partisipan
Suatu
observasi disebut observasi partisipan jika orang yang rnengadakan observasi
(observer) turut ambil bagian dalam perikehidupan observer. Jenis teknik
observasi partisipan umumnya digunakan orang untuk penelitian yang bersifat
eksploratif. Untuk menyelidiki satuan-satuan sosial yang besar seperti
masyarakat suku bangsa karena pengamatan partisipatif memungkinkankan peneliti
dapat berkomunikasi secara akrab dan leluasa dengan observer, sehingga
memungkinkan untuk bertanya secara lebih rinci dan detail terhadap hal-hal yang
akan diteliti. Beberapa persoalan pokok yang perlu mendapat perhatian
yang cukup dan seorang participant observer adalah sebagai berikut:
a.
Metode Observasi
Persoalan
tentang metode observasi sama sekali tidak dapat dilepaskan dari scope dan
tujuan penelitian yang hendak diselenggarakan. Observer perlu memusatkan
perhatiannya pada apa yang sudah diterangkan dalam pedoman observasi
(observation guide) dan tidak terlalu insidental dalam observasi-observasinya.
b.
Waktu dan Bentuk Pencatatan.
Masalah
kapan dan bagaimana mengadakan pencatatan adalah masalah yang penting dalam
observasi partisipan. Sudah dapat dipastikan bahwa pencatatan dengan segera
terhadap kejadian-kejadian dalam situasi interaksi merupakan hal yang terbaik.
Pencatatan on the spot akan mencegah pemalsuan ingatan karena terbatasnya ingatan. Jika pencatatan on the spot tidak dapat dilakukan, sedangkan kelangsungan situasi cukup lama, maka perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Akan tetapi pencatatan semacam ini pun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak menarik perhatian dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pencatatan dapat dilakukan, misalnya pada kertas-kertas kecil atau pada kertas apa pun yang kelihatannya tidak berarti.
Pencatatan on the spot akan mencegah pemalsuan ingatan karena terbatasnya ingatan. Jika pencatatan on the spot tidak dapat dilakukan, sedangkan kelangsungan situasi cukup lama, maka perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Akan tetapi pencatatan semacam ini pun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak menarik perhatian dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pencatatan dapat dilakukan, misalnya pada kertas-kertas kecil atau pada kertas apa pun yang kelihatannya tidak berarti.
c.
Intensi dan Ekstensi Partisipasi
Seacara
garis besar, partisipasi tidaklah sama untuk semua penelitian dengan observasi
partisipan ini. Peneliti dapat mengambil partisipasi hanya pada beberapa
kegiatan sosial (partial participation), dan dapat juga pada semua kegiatan(full
particiration). Dan, dalam tiap kegiatan itu penyelidik dapat turut serta
sedalam-dalamnya (intensive participation) atau secara minimal (surface
participation). Hal ini tergantung kepada situasi.
Dalam observasi partisipan, observer berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekaligus menjadi bagian dan yang diamati. Sedangkan dalam observasi nonpartisipan, observer hanya memerankan diri sebagai pengamat. Perhatian peneliti terfokus pada bagaimana mengamati, merekam, memotret, mempelajari, dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang diteliti. Observasi nonpartisipan dapat bersifat tertutup, dalam arti tidak diketahui oleh subjek yang diteliti, ataupun terbuka yakni diketahui oleb subjek yang diteliti.
Dalam observasi partisipan, observer berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekaligus menjadi bagian dan yang diamati. Sedangkan dalam observasi nonpartisipan, observer hanya memerankan diri sebagai pengamat. Perhatian peneliti terfokus pada bagaimana mengamati, merekam, memotret, mempelajari, dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang diteliti. Observasi nonpartisipan dapat bersifat tertutup, dalam arti tidak diketahui oleh subjek yang diteliti, ataupun terbuka yakni diketahui oleb subjek yang diteliti.
2.
Observasi Sistematik
Observasi
sistematik biasa disebut juga observasi berkerangka atau structured
observation. Ciri pokok dari observasi ini adalah kerangka yang memuat
faktor-faktor yang telah di atur kategorisasinya lebih dulu dan ciri-ciri
khusus dari tiap-tiap faktor dalam kategori-kategori itu.
a.
Materi Observasi
Isi dan luas
situasi yang akan diobservasi dalarn observasi sistematik umumnya lebih
terbatas. Sebagai alat untuk penelitian desicriptif, peneliti berlandaskan pada
perumusan-perumusan yang lebih khusus. Wilayah atau scope observasinya sendiri
dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan dan penelitian, bukan situasi
kehidupan masyarakat seperti pada observasi partisipan yang umumnya digunakan
dalam penelitian eksploratif.
Perumusan-perurnusan masalah yang hendak diselidikipun sudah dikhususkan, misalnya hubungan antara pengikut, kerjasama dan persaingan, prestasi be1aar, dan sebagainya. Dengan begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki sangat terbatas. Ini dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dan observasi partisipan.
Perumusan-perurnusan masalah yang hendak diselidikipun sudah dikhususkan, misalnya hubungan antara pengikut, kerjasama dan persaingan, prestasi be1aar, dan sebagainya. Dengan begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki sangat terbatas. Ini dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dan observasi partisipan.
b.
Cara-Cara Pencatatan
Persoalan-persoalan
yang telah dirumuskan secara teliti memungkinkan jawaban-jawaban, respons, atau
reaksi yang dapat dicatat secara teliti pula. Ketelitian yang tinggi pada
prosedur observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk
mengadakan “kuantifikasi” terhadap hasil-hasil penyelidikannya. Jenis-jenis
gejala atau tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung dan ditabulasikan.
Ini nanti akan sangat memudahkan pekerjaan analisis hasil.
3.
Observasi Eksperimental.
Observasi
dapat dilakukan dalam lingkup alamiah/natural ataupun dalam lingkup
experimental. Dalam observasi alamiah observer rnengamati kejadian-kejadian,
peristiwa-peristiwa dan perilaku-perilaku observe dalam lingkup natural, yaitu
kejadian, peristiwa, atau perilaku murni tanpa adanya usaha untuk menguntrol.
Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni, untuk menyeidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Sebab faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya, sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap dimensi-dimensi tertentu terhadap tingkah laku.
Ciri-ciri penting dan observasi eksperimental adalah sebagai berikut :
Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni, untuk menyeidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Sebab faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya, sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap dimensi-dimensi tertentu terhadap tingkah laku.
Ciri-ciri penting dan observasi eksperimental adalah sebagai berikut :
• Observer
dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam
mungkin
untuk semua observee.
• Situasi dibuat sedemikian rupa, untuk memungkinkan variasi timbulnya tingkah laku yang
akan diamati oleh observee.
• Situasi dibuat sedemikian rupa, sehingga observee tidak tahu maksud yang
sebenannya dan observasi.
• Observer, atau alat pencatat, membuat catatan-catatan dengan teliti
mengenai cara-cara observee mengadakan aksi reaksi, bukan hanya jumlah aksi
reaksi semata.
c. Kelebihan Observasi
Pengumpulan
data dengan observasi ini memiliki beberapa kelebihan
antara lain :
1. Data yang diperoleh langsung dari perilaku yang
tipikal dari objek, dapat dicatat segera dan tidak menggantungkan data dari
ingatan seseorang.
2. Data yang diperoleh dapat dari subjek yang tidak
dapat berkomunikasi secara verbal maupun yang tak mau berkomunikasi secara
verbal.
3. Pencatatan dapat dilakukan pada waktu
terjadinya peristiwa atau terlihatnya gejala tertentu.
4. Tidak tergantung pada jawaban responden,
sehingga lebih objektif dan lebih teliti.
d. Kelemahan Observasi
Selain keunggulan
tersebut di atas teknik observasi juga memiliki kelemahan antara lain :
1. Memerlukan waktu yang sangat lama untuk
mendapatkan pengamatan langsung terhadap suatu kejadian.
2. Pangamatan terhadap suatu fenomena yang lama
tidak dapat dilakukan secara langsung.
3. Ada kegiatan yang tidak mungkin diperoleh
dengan pengamatan.
e. Cara Mengatasinya
Agar teknik
observasi ini dapat dipergunakan secara efektif maka harus mempunyai kriteria
sebagai berikut:
1. Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah
direncanakan secara sistematik.
2. Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan
penelitian yang telah direncanakan.
3. Pengamatan tersebut dicatat secara sistematik
dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set
yang menarik perhatian saja.
4. Pengamatan dapat dicek dan dikontrol atas
validitas dan reliabilitasnya.
Teknik
pengumpulan data dengan observasi ini digunakan untuk mengadakan penelitian
terhadap gejala-gejala yang akan diselidiki tanpa menggunakan alat. Cara untuk mengumpulkan data dalam
rangka penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap keadaan
yang sebenarnya dari obyek yang diteliti, kemudian dilakukan pencatatan secara
sistematis terhadap kenyataan yang dilakukan di lapangan.
2. Wawancara (interview)
a. Pengertian Wawancara
Teknik
interview atau wawancara adalah Teknik pengumpulan data yang dilaksanakan
dengan jalan melakukan tanya jawab langsung dengan subyek penelitian. Sugiyono
(2002: 75) mengatakan bahwa : “Interview dapat dipandang sebagai metode
pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan
sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan”. Sedangkan Nasution,
(2003: 113) dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa : "Interview adalah
merupakan metode yang bersifat langsung dan merupakan suatu bentuk komunikasi
verbal, semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi."
b.
Macam Wawancara
Adapun
pengertian interview menurut Marzuki (2002: 62) merupakan cara pengumpulan data
dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan
berdasarkan kepada tujuan penelitian. Dalam setiap interview selalu ada dua
pihak, yang masing-masing mempunyai kedudukan yang berlainan yakni :
1. Interviewer sebagai pengejar informasi
(information hunter) yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, meminta penjelasan
dan menggali keterangan–keterangan yang lebih mendalam.
2. Interviewew sebagai pemberi informasi
(Information Supplyer respondent).
Melalui
wawancara atau interview dapat diperoleh berbagai keterangan dan data yang
diperlukan dalam suasana penelitian. Dalam penelitian ini teknik wawancara,
digunakan untuk membantu siswa dalam meningkatkan motivasi pengembangan diri siswa melalui layanan
bimbingan kelompok. Jenis
interview atau wawancara menurut keperluan pengumpulan data yang digunakan ada
3 yaitu :
1. Interview terpimpin yaitu suatu interview yang
dilakukan dengan menggunakan pedoman yang memimpin jalannya tanya jawab ke satu
arah yang telah ditetapkan dengan tegas.
2. Interview tak terpimpin yaitu suatu interview
yang dilakukan tanpa adanya kesengajaan dari interview untuk mengarahkan tanya
jawab pada pokok-pokok persoalan yang menjadi inti penyelidikan.
3. Interview bebas terpimpin yaitu interview yang
dilakukan secara bebas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah
disiapkan lebih dahulu. Sehingga susunan menjadi lebih wajar dan dapat
memperoleh data yang mendalam. Cara ini dipandang lebih obyektif dan wajar.
c. Kelebihan wawancara
Teknik wawancara adalah cara yang paling mudah dalam
melaksanakan penelitian karena itu teknik ini sering digunakan, karena
kelebihan atau keuntungan cukup banyak antara lain:
1.
Sebagai metode yang mudah dalam penelitian sosial
2.
Lebih efektif
guna menggali fenomena psikis dan pribadi seseorang.
3.
Sebagai alat verifikasi data juga dipakai sebagai standar
kriterium terhadap data yang diperoleh.
4.
Sebagai penggali / sumber informasi untuk mengadakan
observasi pribadi terhadap tingkah laku.
d. Kelemahan Teknik Wawancara :
1.
Proses interview sangat mudah dipengaruhi situasi dan kondisi
di sekitar.
2.
Kurang efisien karena boros waktu, tenaga, biaya, pikiran.
3.
Dituntut adanya penguasaan bahasa yang cukup baik oleh pihak
interview.
4.
Terkadang kurang menembus pikiran dan perasaan interviewing
sehingga data yang diperoleh kurang lengkap.
5.
Interviewing memberikan respon yang salah sebagai hasil dari
daya persepsi, daya ingat yang tidak akurat dan daya imajinasi yang ekstrim
berlebihan, kurang memiliki insight, sehingga informasi kurang variabel.
e. Cara mengatasi
Wilson (1996)
membandingkan metode wawancara dengan
menggunakan tiga dimensi, yaitu: dimensi prosedural, struktural dan
konstekstual.
-
Faktor prosedural/structural. Dimensi
prosedural bersandar pada wawancara yang bersifat natural antara peneliti dan
partisipan atau disebut juga wawancara tidak berstruktur. Tempat wawancara
adalah tempat keseharian partisipan seperti rumah atau tempat bekerja, bukan di
laboratorium. Jadi yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah prosedurnya,
apakah kaku seperti di laboratorium atau natural. Hal lain yang dibandingkan
adalah strukturnya seperti metode yang sangat berstruktur (highly structured)
dan kurang berstruktur (less structured).
-
Faktor konstekstual. Dimensi konstekstual
mencakupi jumlah isyu. Pertama, terminologi yang di dalam wawancara dianggap
penting. Kedua, konteks wawancara yang berdampak pada penilaian respon (response
rate). Aspek kontekstual yang penting lainnya adalah persepsi partisipan
terhadap karakteristik pewawancara. Hal yang menjadi dasar partisipan
mengungkapkan pendapatnya atau pengalamannya adalah berdasarkan karakteristik
pewawancara yang terlihat, misalnya aksen, pakaian, suku atau jender. Ini yang
dikenal sebagai variabilitas pewawancara. Untuk meminimalkan dampak ini
usahakan pewawancara cocok dengan responden, misalnya perempuan – perempuan. Perlu
diingatkan, peneliti sendiri harus memutuskan tekhnik wawancara apa yang
terbaik untuk dirinya dan partisipan.
Dalam penelitian
ini, digunakan teknik wawancara bebas terpimpin
sebagai teknik utama (pokok), yaitu pelaksanaan wawancara berpedoman pada pokok-pokok
persoalan secara garis besar sesuai dengan pokok permasalahan yang ada.
Sedangkan pelaksanaannya secara pribadi, yaitu melalui wawancara tatap muka
langsung antara peneliti dengan responden untuk meningkatkan motivasi pengembangan diri siswa
melalui layanan bimbingan kelompok.
F.
Validitas Data
Untuk menentukan keabsahan data, penelitian ini menggunakan Teknik Trianggulasi sebagai pemabanding terhadap data yang diperoleh.
1.
Trianggulasi Sumber
Trianggulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan yang berbeda dalam metode
kualitatif. Hal tersebut dicapai dengan jalan :
a.
Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil
wawancara.
b.
Membandingkan apa yang diakatakan orang dan apa yang
dikatakan pribadi klien.
c.
Membandingkan tentang situasi penelitian dan situasi
sepanjang waktu .
d.
Membandingkan klien dengan berbagai pendapat seperti :
teman sekelas, orang tua dan guru.
e.
Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen
yang berkaitan.
2.
Trianggulasi Metode
a.
Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil
penelitian bebedrapa teknik pengumpulan data.
b.
Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data
dengan metode yang sama.
G. Analisis Data
Analisis data dilakukan
secara kualitatif dan penyimpulan dari hasil pengamatan secara rutin setiap
hari didalam kelas selama beberapa bulan sebelum dan saat penelitian. Dan
menyimpulkan hasil wawancara dengan berbagi sumber informasi.
Dalam pengertian ini analisa data kualitatif merupakan
upaya yang berlanjut, berulang dan terus-menerus. Menurut H.B.
Sutopo (2000: 45), yang dimaksud
dengan analisis data yaitu terdiri tiga alur kegiatan yang terjadi secara
bersamaan yaitu : reduksi data,
penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Adapun yang dimaksud tiga
alur kegiatan tersebut adalah :
- Reduksi Data
Yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan pengabstrakan dan trasformasi kasar yang muncul dari
catatan-catatan tertulis di lapangan.
- Penyajian Data
Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan
dan pengumpulan tindakan.
- Menarik Kesimpulan
Dari permulaan pengumpulan data, mencatat keadan yang
terjadi, proses pelaksanaan, akhirnya penelitian harus menarik kesimpulan.
Adapun lebih jelasnya model tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut:
![]() |
(H.B. Sutopo, 2000)
Gambar 2.
Model Analisis Interaktif
Model analisis
interaktif tersebut diatas menunjukkan prosesnya dapat dilihat yaitu pada waktu
pengumpulan data, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data. Artinya
data yang terdiri dari bagian deskripsi dan refleksinya ialah data yang
dikumpulkan dan dari sinilah peneliti menyusun pengertian singkatnya dengan
pemahaman segala peristiwanya yang disebut dengan reduksi data, kemudian
diikuti penyusunan sajian data yang diperlukan sebagai dukungan sajian. Reduksi
data dan sajian data ini harus disusun pada waktu peneliti sudah mendapatkan
unit data dari sejumlah unit data yang diperlukan dalam penelitian, maka
peneliti mulai melakukan usaha untuk menarik kesimpulannya atau verifikasinya
berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi data dan sajian data.
Analisa data dilakukan secara kualitatif yaitu data-data
yang diperoleh secara langsung maupun tidak langsung kemudian
dihubung-hubungkan dengan teori-teori atau literature-literature yang
berhubungan dengan permasalahan yang diteliti kemudian mencari jalan
pemecahannya dengan cara menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan untuk
menentukan hasilnya. Teknik analisis kualitatif tersebut akan menghasilkan data
deskriptif analisis yang dinyatakan oleh responden, data-data tersebut berupa
gejala-gejala atau faktor yang tidak dapat dikuantifikasikan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar