hot2

Rabu, 05 Desember 2012

SKRIPSIKU 2

PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 SRAGEN
KABUPATEN SRAGEN TAHUN AJARAN 2011/2012

BAB 1
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Peserta didik pada usia remaja di sekolah sebagai individu yang sedang berkembang mencapai taraf perkembangan pribadi secara optimal dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai siswa ber-IQ (Intelligence Quotions) tinggi gagal dalam menempuh ujian. Tetapi sering kita dengar pula bahwa banyak peserta didik yang memiliki IQ sedang-sedang saja ternyata mereka berhasil dalam menempuh ujian. Bila kita berpikir bahwa diri kita bisa, maka kita cenderung akan sukses, sebaliknya bila kita berpikir bahwa diri kita akan gagal, maka sebenarnya kita mempersiapkan diri untuk gagal. Kata lain harapan terhadap diri sendiri merupakan prediksi untuk mempersiapkan diri sendiri. Perasaan individu bahwa ia tidak memiliki kemampuan menunjukkan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dipunyainya. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan ia memandang seluruh tugasnya sebagai sesuatu yang sulit diselesaikan. Berbagai penelitian yang dilakukan para ahli menunjukkan, bahwa pandangan individu terhadap dirinya sendiri sangat menentukan keberhasilan yang akan dicapai.
Motivasi pengembangan diri adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan untuk mengembangkan diri yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan pengembangan diri, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai. Siswa yang memiliki motivasi pengembangan diri  akan memperhatikan pelajaran yang disampaikan, membaca materi sehingga bisa memahaminya, dan menggunakan strategi-strategi belajar tertentu yang mendukung. Selain itu, siswa juga memiliki keterlibatan yang intens dalam aktivitas belajar tersebut, rasa ingin tahu yang tinggi, mencari bahan-bahan yang berkaitan untuk memahami suatu topik, dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok selain itu juga bisa dijadikan media penyampaian informasi sekaligus juga bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus.
Asumsi yang dipakai dalam penelitian ini adalah bahwa dalam bimbingan kelompok akan terjadi proses interaksi antar individu. Diharapkan bimbingan kelompok dijadikan wahana pemahaman nilai-nilai positif bagi siswa, khususnya sikap konsep diri positif dibentuk yang tidak hanya dengan pendekatan personal namun dengan pendekatan kelompok seperti bimbingan kelompok yang akan lebih optimal karena para siswa tidak akan merasa terhakimi oleh keadaan sendiri, mereka juga akan merasa mendapat pembinaan dan informasi yang positif untuk pengembangan konsep diri yang positif, apalagi masalah konsep diri merupakan masalah yang banyak dialami oleh remaja sehingga untuk mengefisienkan waktu bimbingan kelompok dimungkinkan lebih efektif dibandingkan layanan konseling individual.
Karena itu untuk membantu siswa agar meningkatkan motivasi pengembangan diri yang positif dan semakin stabil, maka peneliti mencoba menyusun program eksperimen melalui layanan bimbingan kelompok dengan judul “Meningkatkan motivasi pengembangan diri melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kradenan Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012“.
B. Deskripsi Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:“Bagaimana meningkatkan motivasi pengembangan diri melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kradenan Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi pengembangan diri melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kradenan Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya berkaitan dengan pengembangan bimbingan kelompok, dan wujud dari sumbangan tersebut yaitu ditemukannya hasil-hasil penelitian baru tentang bimbingan konseling guna meningkatkan pelayanan bimbingan di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru pembimbing
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi guru pembimbing di SMP N 1 Kradenan dalam melakukan kegiatan layanan bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan jam Bimbingan dan Konseling di kelas seefektif mungkin untuk membantu untuk membentuk konsep diri yang positif pada siswa.
b. Bagi peserta didik
Dengan mengikuti kegiatan bimbingan kelompok siswa akan terdorong untuk meningkatkan pengembangan diri yang positif, belajar untuk mempercayai kemampuan diri sendiri, serta belajar untuk memecahkan masalah.































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori
1. Tinjauan Motivasi Pengembangan Diri
a. Pengertian Motivasi
Secara etimologis, Winardi (2002:1) menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi  motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.
Berendoom dan Stainer dalam Sedarmayanti (2000:45), mendefinisikan motivasi sebagai kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. Proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor didalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsic dan extrinsic. Faktor didalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan sedang faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagi faktor-faktor lain yang sangat kompleks. Tetapi baik faktor ekstrinsik maupun faktor intrinsik motivasi timbul karena adanya  rangsangan.
Winardi (2002:33) menjelaskan, motif kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan yang muncul dalam diri seseorang.  Motif diarahkan kearah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau dalam kondisi dibawah sadar. 
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat dikatakan bahwa, motif-motif merupakan “mengapa” dari perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktivitas, dan mendeterminasi arah umum perilaku seorang individu. Hubungan antara motif, tujuan dan aktivitas dapat ditunjukan pada gambar berikut  ini.
Hubungan motif, tujuan, dan aktivitas
                                                                                      Sumber: Winardi. (2002:41)
Gambar 1 : Sebuah Situasi yang Memotivasi

Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, dimana motif-motif  seorang individu, diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Motif terkuat, menimbulkan perilaku, yang bersifat diarahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan.  Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putus-putus.
Motivasi telah dirumuskan dalam sejumlah definisi yang berlainan. Walaupun begitu, tentang substansinya tidak banyak berbeda. Istilah motivasi, menurut Sumantri (2001:53), biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu pengertian yang melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada perilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing); (3)  bagaimana  perilaku  itu dipertahankan (sustaining). Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).
Berdasarkan uraian diatas, dalam konsep motif terkandung makna (1) motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu, (2)  motif merupakan penyebab terjadinya aktivitas, dan (3) motif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian motif dapat didefinisikan sebagai daya pendorong dari dalam diri individu sebagai penyebab terjadinya aktivitas, yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.
Dalam Psikologi, istilah motif sering dibedakan dengan istilah motivasi. Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan motif dan motivasi, berikut ini penulis akan memberikan pengertian dari kedua istilah tersebut. Kata "motif" diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Atau seperti dikatakan oleh Sardiman dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior yang dikutip M. Ngalim Purwanto (2004:89) : motif adalah tingkah laku atau perbuatan suatu tujuan atau perangsang. Motivasi merupakan salah satu aspek psikis yang memiliki pengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar.
Sedangkan S. Nasution (2000:4), motif adalah segala daya yang mendorog seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian motif adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang yang dapat menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu.
Adapun pengartian motivasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer (2007:78), adalah keinginan atau dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Motivasi adalah suatu perubahan yang terdapat pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan motivasi pengembangan diri adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan untuk mengembangkan diri yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan pengembangan diri, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
b. Pengertian Pengembangan Diri
Depdiknas (2008:3), Pengembangan diri adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran wajib yang merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan bimbingan dan konseling serta kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam pengembangan diri, diantaranya pemecahan masalah pribadi dan kehidupan sosial, penanganan masalah belajar, pengembangan karir, dan kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam ekstrakurikuler.
David Zulkarnaen dkk (2009:6), Sikap pengembangan diri perlu dibangun karena menentukan gaya manajemen pengembangan diri individu. John Maxwell dalam The WinningAttitude; Your Key to Personal Success (1993) menyimpulkan bahwa sikap hidup menentukan tindakan, pola hubungan dengan orang lain, perlakuan yang kita terima dari orang lain, keberhasilan dan kegagalan, menentukan hasil akhir, cara pandang yang positif dan optimis. Ia juga menyatakan, sikap anda sekarang adalah hasil dari sikap-sikap anda selama ini. Oleh karena itu sangat tepat jika kita selalu berpegang pada pesan Nabi Muhammad SAW dalam hadits riwayat al-Bukhari, segala aktivitas ditentukan oleh niat dan seseorang akan menuai hasil aktivitasnya sesuai dengan niatnya. Niat itulah sebenarnya yang merupakan benih dari sikap diri sehingga perlu dijaga kesucian dan kekuatannya. Dengan demikian, niat dapat memberikan energy positif dalam pengembangan diri. Nabi juga bersabda bahwa sangatlah beruntung seseorang yang senatiasa menyibukkan diri dengan kekurangannya, ketimbang mengorek kekuarangan orang lain. (QS. Ali Imran: 110-194).
Pengembangan diri adalah “Individu-individu yang mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan-kemampuan mereka melalui
usaha-usaha yang diarahkan oleh diri mereka sendiri”.
(2. http://parlindungan-sinaga.blogspot.com/2008/05/pengembangan-diri.html)
Pembaruan fisik dapat dilakukan dengan melalui olahraga, asupan nutrisi, dan upaya pengelolaan stres. Pembaruan spiritual dapat diraih melalui
penjelasan tentang nilai dan komitmen, melakukan studi atau kajian dan
berkontemplasi atau berdzikir. Dimensi mental dapat diperbarui melalui
kegiatan membaca, melakukan visualisasi, membuat perencanaan dan
menulis. Adapun dimensi sosial/emosional diasah melalui pemberian
pelayanan, bersikap empati, melakukan sinergi dan menumbuhkan rasa
aman dalam diri. Dalam proses pengembangan diri diperlukan
keseimbangan (tawazun) dan sinergi (tanasuq) untuk mencapai hasil optimal
sebagaimana yang diharapkan.
Pengembangan diri tidak muncul begitu saja. Untuk meraihnya, diperlukan latihan dengan pola seperti spiral. Pola ini melatih kita untuk bergerak ke atas sepanjang spiral secara terus-menerus. Pola spiral ini memaksa kita untuk melalui tiga tahap kegiatan yakni belajar, berkomitmen, dan berbuat. Latihan ini harus terus-menerus berjalan secara berulang-ulang sampai kualitas dan produktivitas diri kita menjadi semakin tinggi.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Disamping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat megembangankan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan motivasi pengembangan diri adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan untuk mengembangkan diri yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan pengembangan diri, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
c. Macam-macam Motivasi Pengembangan Diri
Dilihat dari berbagai sudut pandang, para ahli psikologi berusaha untuk menggolongkan motif-motif yang ada pada manusia atau suatu organisme kedalam beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing. Diantaranya menurut Woodwort dan Marquis sebagaimana dikutip oleh Ngalim Purwanto (2004:78), motif itu ada tiga golongan yaitu :
1. Kebutuhan-kebutuhan organis yakni, motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti : lapar, haus, kebutuhan bergerak, beristirahat atau tidur, dan sebagainya.
2. Motif-motif yang timbul yang timbul sekonyong-konyong (emergency motives) inilah motif yang timbul bukan karena kemauan individu tetapi karena ada rangsangan dari luar, contoh : motif melarikan diri dari bahaya,motif berusaha mengatasi suatu rintangan.
3. Motif Obyektif yaitu motif yang diarahkan atau ditujukan ke suatu objek atau tujuan tertentu di sekitar kita, timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita.
Motivasi adalah suatu perubahan yang terdapat pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. Dapat disimpulkan bahwa motivasi sebagai suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan. Cara membangkitkan motivasi belajar diantaranya adalah :
a. Menjelaskan kepada siswa, alasan suatu bidang studi dimasukkan dalam kurikulum dan kegunaannya untuk kehidupan.
b. Mengkaitkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa di luar lingkungan sekolah.
c. Menunjukkan antusias dalam mengajar bidang studi yang dipegang.
d. Mendorong siswa untuk memandang belajar di sekolah sebagai suatu tugas yang tidak harus serba menekan, sehingga siswa mempunyai intensitas untuk belajar dan menjelaskan tugas dengan sebaik mungkin.
e. Menciptakan iklim dan suasana dalam kelas yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
f. Memberikan hasil ulangan dalam waktu sesingkat mungkin.
g. Menggunakan bentuk .bentuk kompetisi (persaingan) antar siswa.
h. Menggunakan intensif seperti pujian, hadiah secara wajar.
Menurut Sardiman (2003:45), motivasi sangat berperan dalam pengembangan diri, siswa yang dalam proses pengembangan diri mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun dan berhasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin berhasil pelajaran itu. Maka motivasi senantiasa akan menentukan intensitas usaha belajar bagi siswa. Adapun fungsi motivasi ada tiga, yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi.
b. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.
c. Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan. Selain itu ada juga fungsi lain yaitu, motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi, karena secara konseptual motivasi berkaitan dengan prestasi dan hasil belajar. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi siswa. Apalah artinya bagi seorang siswa pergi ke sekolah tanpa mempunyai motivasi belajar. Bahwa diantara sebagian siswa ada yang mempunyai motivasi untuk belajar dan sebagian lain belum termotivasi untuk belajar. Seorang guru melihat perilaku siswa seprti itu, maka perlu diambil langkah-langkah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Membangkitkan motivasi belajar tidaklah mudah, guru harus dapat menggunakan berbagai macam cara untuk memotivasi belajar siswa.
Arden N. Frandsen yang dikutip oleh Sardiman, A.M (2003:90), mengemukakan jenis motivasi dilihat dari dasar pembentukannya, yaitu : motif bawaan, (motive psychological drives) dan motif yang dipelajari (affiliative needs), misalnya : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan dan sebagainya. Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis timbul diakibatkan oleh faktor didalam diri seseorang itu sendiri yang disebut instrinsik sedangkan faktor diluar diri disebut ekstrinsik. Faktor instrinsik berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau kemasa depan. Sedangkan faktor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pimpinan, kolega atau faktor-faktor lain yang komplek.
Selanjutnya Sartain (2000:34) membagi motif-motif itu menjadi dua golongan sebagai berikut :
a. Psychological drive adalah dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis atau jasmaniah seperti lapar, haus dan sebagainya.
b. Sosial Motives adalah dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia lain dalam masyarakat seperti : dorongan selalu ingin berbuat baik (etika) dan sebagainya.
Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni : (1) faktor pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal, (2) tujuan yang ingin dicapai, (3) strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.
Adapun bentuk motivasi pengembangan diri di Sekolah dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar. Dalam buku lain motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar, misalnya : ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh pengetahuan dan sebagainya. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah:
a. Adanya kebutuhan
b. Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri
c. Adanya cita-cita atau aspirasi.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh konkrit dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga siswa tidak bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah. Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya, maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan secara tepat. Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsic maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, siswa dapat mengembangkan aktifitas dan inisiatif sehingga dapat mengarahkan dan memelihara kerukunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa upaya dalam menumbuhkan motivasi pengembangan diri siswa dan bentuk-bentuk motivasi yang dapat dipergunakan oleh guru agar berhasil dalam proses pengembangan diri bagi siswa serta dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan pengembangan diri yang bermakna bagi kehidupan siswa.
g.      Tujuan Motivasi Pengembangan diri
1.                Mendapatkan rasa aman
Menurut Abraham Maslow, keamanan merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia. Di dunia kerja, keamanan itu meliputi
kondisi kerja, asuransi kesehatan, gaji pada waktu berhalangan kerja,
koperasi simpan pinjam, program pengembangan, dan dana pension.
Akan tetapi, keamanan dan rasa aman yang kita cari dengan
pengembangan diri bukanlah keamanan dari luar seperti itu,
melainkan kemanan dari dalam, yaitu kemanan batin. Kemanan
seperti itu kita dasarkan atas kemampuan untuk memberi sumbangan
didalam hidup, kecakapan dalam kerja, watak, dan kepribadian yang
sudah berkembang secara lengkap dan utuh: lahir-batin, jasmani
rohani,
material-spritual.
Kita merasa aman karena kita telah berhasil memodifikasi sikap dan prilaku kita menjadi lebih baik, menambah kemampuan dan
kecakapan kita, serta meningkatkan prestasi kerja kita.
Rasa aman
menjadi modal yang tidak ternilai tenang dalam hidup dan kerja kita.
2.         Kemantapan hidup
Kemantapan hidup adalah keadaan hidup di mana kita tidak mudah goyah dan digoyahkan, baik oleh factor-faktor yang ada di dalam diri kita, seperti selera, emosi, ambisi, atau mimpi, maupun factor-faktor di luar diri kita, seperti rekan kerja, atasan, lembaga, masyarakat,
bahkan dunia.
Kemantapan hidup seperti ini merupakan hasil
komitmen yang sudah dibuat dan sikap konsekuen untuk memenuhi
komitmen itu. Ini berarti bahwa kita sudah berhasil menciptakan
kepaduan antara visi, misi, dan peran kita dengan cara hidup,
perilaku, dan cara kerja kita. Untuk dapat hidup mantap, kita
membutuhkan credo dan keyakinan.
Credo berasal dari kata latin credere yang berarti ‘percaya’. Maka, credo berarti ‘aku percaya’. Credo adalah serangkaian hal dan nilai yang kita percayai dan kita pegang sebagai pegangan dan pedoman hidup. Dalam credo itu terkandung prinsip-prinsip yang kita gunakan untuk mengendalikan dan mengarahkan hidup, perilaku, dan kerja kita. Prinsip - prinsip tersebut berkaitan dengan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Tuhan.
Keyakinan adalah perasaan pasti akan kebenaran dan kebaikan suatu hal, nilai, atau prinsip. Keyakinan menjadi sumber tekad dan kemauan hidup. Kita boleh memiliki kemampuan dan kecakapan yang bagus, tetapi jika kita tidak mempunyai keyakinan akan hal yang kita
kerjakan, kita tidak akan mendayagunakannya. Tanpa tekad dan
kemauan, kita tidak akan bergerak atau berbuat sesuatu. Sebaliknya,
dengan keyakinan, kita akan mengambil langkah dan tindakan untuk
 mencapai   sesuatu.  Oleh   keyakinan,  arah   hidup   ditetapkan   dan
kemampuan serta kecakapan dimanfaatkan.
Kesedihan untuk berkembang membuat kita para pekerja tidak pasif karena kita terus-menerus didorong untuk memanfaatkan segala kesempatan untuk maju. Meskipun lelah, dengan menggunakan tenaga yang tersisa, kita bersedia mengikuti berbagai acara pengembangan seperti ceramah, seminar, penataran, dan
sebagainya. Dengan menjadi manusia yang berkembang, kita akan
mendapatkan rasa aman dan kemantapan hidup, yaitu dua hal yang
kita perlukan untuk dapat melaksanakan kerja kita perlukan untuk
dapat melaksanakan kerja kita secara professional, efisien, efektif,
dan produktif
.
Demi masa depan kita, entah berguna untuk mendapatkan promosi atau tidak, sebaiknya kita terus berusaha mengembangkan diri
dengan mengambil usaha-usaha pengembangan agar menjadi
pekerja yang dapat diandalkan.
Dengan menjadi pekerja yang dapat
diandalkan, kita menjadi pekerja yang berharga dan dihargai oleh
lembaga.
Menurut Depdiknas (2008:7), tujuan pengembangan diri ada 2 yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus:
1.    Tujuan Umum
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat dan kepribadian peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan.
2.    Tujuan Khusus
Secara khusus, pengembangan diri dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan memecahkan masalah, kemandirian dan kemampuan-kemampuan lain yang mendukung pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.
Tujuan motivasi pengembangan diri sering tumpang tinding dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian kita perlu mengenal konsep pokok (key concept) daripada motivasi kelas ini sebagai suatu asas belajar tersendiri. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan dan kesadaran pada tujuan belajar. Motivasi ini disebut motivasi intrinsik. Motivasi belajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau desakan dari luar, misalnya dengan hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian harapan lainnya, yang disebut motivasi ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini berdayaguna dalam melakukan proses belajar, kendatipun motivasi yang bersumber dari diri sendiri dinilai lebih baik. Kendatipun demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan untuk mendorong kegiatan belajar siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kondisi yang relevan. Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di dalam kelas: suasana lingkungan kelas, keterlibatan siswa secara langsung, mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.
Dapat disimpulkan bahwa motivasi sebagai suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan, maka dalam tujuan motivasi pengembangan diri  terkandung tiga unsur penting, yaitu :
a. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam system "neurophysiological" yang ada pada organisme manusia.
b. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa "feeling", afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi yakni tujuan.
Tujuan motivasi pengembangan diri sering tumpang tinding dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian kita perlu mengenal konsep pokok (key concept) daripada motivasi kelas ini sebagai suatu asas belajar tersendiri. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan dan kesadaran pada tujuan belajar. Motivasi ini disebut motivasi intrinsik. Motivasi belajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau desakan dari luar, misalnya dengan hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian harapan lainnya, yang disebut motivasi ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini berdayaguna dalam melakukan proses belajar, kendatipun motivasi yang bersumber dari diri sendiri dinilai lebih baik. Kendatipun demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan untuk mendorong kegiatan belajar siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kondisi yang relevan. Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di dalam kelas: suasana lingkungan kelas, keterlibatan siswa secara langsung, mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.


2. Tinjauan Tentang Bimbingan Kelompok
a.    Pengertian Bimbingan Kelompok
Bimbingan dan konseling merupakan layanan yang diberikan kepada siswa oleh guru pembimbing yang terdapat dalam pola 17 yang terdiri dari empat bidang bimbingan, tujuh layanan dan lima layanan pendukung. Diantara pemberian layanan tersebut adalah layanan bimbingan kelompok yang dilaksanakan oleh guru pembimbing dalam menangani sejumlah peserta didik. Faktor yang mendasar penyelenggaraan bimbingan kelompok adalahbahwa proses pembelajaran dalam bentuk pengubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku termasuk dalam hal pemecahan masalah dapat terjadi melalui proses kelompok. Dalam suatu kelompok, anggotanya dapat memberi umpan balik yang diperlukan untuk membantu mengatasi masalah anggota yang lain, dan anggota satu dengan yang lainnya saling memberi dan menerima. Perasaan dan hubungan antar anggota sangat ditekankan di dalam kelompok ini. Dengan demikian antar anggota akan dapat belajar tentang dirinya dalam hubungannya dengan anggota yang lain atau dengan orang lain. Selain itu di dalam bimbingan kelompok, anggota dapat pula belajar untuk memecahkan masalah berdasarkan masukan dari anggota yang lain.
Layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan yang menekankan pada proses berfikir secara sadar, perasaan-perasaan, dan perilaku-perilaku anggota untuk meningkatkan kesadaran akan pertumbuhan dan perkembangan individu yang sehat. Melalui layanan bimbingan kelompok, individu menjadi sadar akan kelemahan dan kelebihannya, mengenali ketrampilan, keahlian dan pengetahuan serta menghargai nilai dan tindakannya sesuai dengan tugas-tugas perkembangan. Selain itu layanan bimbingan kelompok memberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan sosial. Anggota dapat meniru anggota lain yang telah terampil dan dapat belajar untuk memberikan umpan balik yang bermanfaat bagi anggota lain. Mereka juga belajar untuk mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memperlihatkan perhatian yang sungguhsungguh terhadap orang lain, dan membuat suasana positif bagi orang lain. Suasana memberi dan menerima di dalam bimbingan kelompok dapat menumbuhkan harga diri dan keyakinan diri anggota. Pada layanan bimbingan kelompok anggota saling menolong, menerima, dan berempati secara tulus. Hal ini dapat menumbuhkan suasana yang positif di antara anggota, sehingga mereka merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.
Menurut Gazda (1978) bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekolompok siswa untuk membantu siswa menyusun rencana dan keputusan yang tepat (dalam Prayitno dan Amti, 2000: 309). Pengertian di atas menekankan pada kegiatan pemberian informasi dalam suasana kelompok dan adanya penyusunan rencana untuk mengambil keputusan.
Menurut Prayitno (2004: 61) bahwa“Bimbingan kelompok adalah memanfaatkan dinamika untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan dan konseling, bimbingan kelompok lebih menekankan suatu upaya bimbingan kepada individu melalui kelompok”. Prayitno lebih menekankan dinamika kelompok sebagai wahana mencapai tujuan kegiatan bimbingan dan konseling yang muncul pada bimbingan kepada individu-individu melalui kelompok.
Winkel (2004: 71) mengatakan bahwa “bimbingan adalah proses membantu orang-perorangan dalam memahami dirinya sendiri dan lingkungannya”. Bimbingan kelompok menekankan bahwa kegiatan bimbingan kelompok lebih pada proses pemahaman diri dan lingkungannya yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang disebut kelompok. Apabila konseling perorangan menunjukkan layanan kepada individu atau klien orangperorang, maka bimbingan kelompok mengarahkan layanan kepada sekelompok individu.
Menurut Dewa Ketut Sukardi (2002 :48),bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari pembimbing/ konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Bimbingan kelompok adalah proses pemberian informasi dan bantuan yang diberikan oleh seorang yang ahli (guru pembimbing) pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan dalam penelitian ini adalah membentuk konsep diri positif.
    Menurut Juntika (2003 : 31),bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
   Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 : 17) menyatakan bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok di mana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Menurut Winkel dan Sri Hastuti. (2004:111). Bimbingan kelompok dilakukan bilamana siswa yang dilayani lebih dari satu orang. Bimbingan kelompok dapat terlaksana dengan berbagai cara, misalnya dibentuk kelompok kecil dalam rangka layanan Konseling (konseling kelompok), dibentuk kelompok diskusi, diberikan bimbingan karier kepada siswa-siswi yang tergabung dalam satu kesatuan kelas di SMA. Dalam bimbingan kelompok merupakan sarana untuk menunjang perkembangan optimal masing-masing siswa, yang diharapkan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pendidikan ini bagi dirinya sendiri.
Dapat disimpulkan kegiatan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sejumlah individu dalam bentuk kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk membahas topik tertentu  yang dipimpin oleh pemimpin kelompok bertujuan menunjang pemahaman, pengembangan dan pertimbangan pengambilan keputusan/ tindakan individu. Bimbingan kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok itu memberi dorongan dan motivasi kepada individu untuk mengubah diri dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki secara optimal, sehingga mempunyai konsep diri yang lebih positif. Bagi siswa, bimbingan kelompok bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok mereka dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan diterima oleh mereka, kebutuhan untuk bertukar pikir dan berbagi perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan dan kebutuhan untuk lebih independen serta lebih mandiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka diharapkan para siswa dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
b.   Tujuan Bimbingan kelompok
Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005:17), tujuan bimbingan kelompok adalah untuk memberi informasi dan data untuk mempermudah pembuatan keputusan dan tingkah laku. Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya individu dapat mengembangkan potensi diri serta dapat meningkatkan konsep diri yang dimiliki.
Kesuksesan layanan bimbngan kelompok sangat dipengaruhi sejauh mana tujuan yang akan dicapai dalam layanan layanan kelompok yang diselenggarakan. Tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh Prayitno (2004: 2-3) adalah sebagai berikut :
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dari layanan bimbingan kelompok adalah berkembangnya sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi anggota kelompok. Sering menjadi kenyataan bahwa kemampuan bersosisalisasi/berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang tidak obyektif, sempit dan terkukung serta tidak efektif. Melalui layanan bimbingan kelompok diharapkan hal-hal yang menganggu atau menghimpit perasaan dapat diungkapkan, diringankan melalui berbagai cara, pikiran yang buntu atau beku dicairkan dan didinamikkan melalui masukkan dan tanggapan baru, persepsi yang menyimpang atau sempit diluruskan dan diperluas melalui pencairan pikiran, sikap yang tidak efektif kalau perlu diganti dengan yang baru yang lebih efektif. Melalui kondisi dan proses berperasaan, berpikir, berpersepsi dan berwawasan terarah, luwes dan luas serta dinamis kemampuan berkomunikasi, bersosialiasi dan bersikap dapat dikembangkan.Selain tujuan tersebut yaitu untuk mengentaskan masalah klien dengan memanfaatkan dinamika kelompok.
b. Tujuan Khusus
Bimbingan kelompok bermaksud membahas topik-topik tertentu. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi verbal maupun non verbal ditingkatkan. Dengan diadakannya bimbingan kelompok ini dapat bermanfaat bagi siswa karena dengan bimbingan kelompok akan timbul interaksi dengan anggota-anggota kelompok mereka memenuhi kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebaya dan diterima oleh mereka, kebutuhan bertukar pikiran dan berbagi perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan, dan kebutuhan untuk menjadi lebih mandiri.
Dengan diadakannya bimbingan kelompok ini dapat bermanfaat bagi siswa karena dengan bimbingan kelompok akan timbul interaksi dengan anggota-anggota kelompok mereka memenuhi kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebaya dan diterima oleh mereka, kebutuhan bertukar pikiran dan berbagi perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan, dan kebutuhan untuk menjadi lebih mandiri. Sehingga dengan demikian bimbingan kelompok ini mempunyai tujuan yang praktis dan dinamis dalam mewujudkan potensi individu dan juga dalam mengembangkan dan meningkatkan konsep dirinya individu.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah sebagai berikut:


1)   Tujuan Umum
Secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi perserta layanan (siswa).
2)    Tujuan Khusus
Secara lebih khusus layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yaitu peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal para siswa.
c.     Komponen Layanan Bimbingan Kelompok
Prayitno (2000: 27) menggemukakan bahwa ada tiga komponen penting dalam kelompok yaitu suasana kelompok, anggota kelompok, dan pemimpin kelompok.
a. Suasana kelompok
Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan dalam bimbingan dan konseling di sekolah. Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan yang diberikan oleh seorang yang ahli (guru pembimbing) pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu.
Dinamika kelompok berarti suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain (Santoso, 2004:5). Dengan kata lain, antar anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama.
Sedangkan menurut Wibowo (2005: 61) mengemukakan: Dinamika kelompok adalah suatu studi yang menggambarkan berbagai kekuatan yang menentukan perilaku anggota dan perilaku kelompok yang menyebabkan terjadinya gerak perubahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kehidupan kelompok yang dijiwai oleh dinamika kelompok akan menentukan arah dan gerak pencapaian tujuan kelompok. Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media untuk membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Media dinamika kelompok ini adalah unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan. Dalam bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Arah pengembangan diri yang dimaksud terutama adalah dikembangkannya kemampuankemampuan sosial secara umum yang selayaknya dikuasai oleh individu - individu yang berkepribadian mantap. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima, toleran, mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa tanggung jawab sosial seiring dengan kemandirian yang kuat merupakan arah pengembangan pribadi yang dapat dijangkau melalui dinamika kelompok yang aktif. Dinamika kelompok itu akan terwujud apabila kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta semangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.
Layanan bimbingan kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individual. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuan - tujuan layanan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat dicapai secara mantap. Pada kegiatan bimbingan kelompok setiap individu dapat memperoleh suatu informasi selain itu individu mendapatkan kesempatan untuk menggungkapkan masalah yang dialami serta dibahas secara bersama-sama oleh anggota kelompok. Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan perasaan, menunjukan perhatian terhadap orang lain, dan berbagai pengalaman. Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan bimbingan kelompok. Pendekatan ini menitik beratkan pada interaksi antar anggota, anggota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain berusaha bersama untuk dapat belajar dan mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap anggota lain. Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan rasa saling menolong, menerima, dan berempati dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Saling berhubungan antar anggota kelompok sangat diutamakan. Para ahli menyebutkan ada lima hal yang hendaknya diperhatikan dalam menilai apakah kehidupan sebuah kelompok tersebut baik atau kurang baik, yaitu :
1) Adanya saling hubungan yang dinamis antar anggota
2) Memiliki tujuan bersama
3) Hubungan antara besarnya kelompok (banyak anggota) dan sifat kegiatan kelompok
4) Itikad dan sikap terhadap orang lain
5) Kemampuan mandiri
b. Anggota kelompok
Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses kehidupan kelompok. Tanpa anggota tidaklah mungkin ada kelompok. Kegiatan ataupun kehidupan kelompok itu sebagian besar didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok itidak akan terwujud tanpa keikutsertaan aktif para angota kelompok, dan bahkan lebih dari itu. Dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa kehadiran pemimpin kelompok. Secara ringkas peranan anggota kelompok sangatlah menentukan. Lebih tegasnya dapat dikatakan bahwa anggota kelompok justru merupakan badan dan jiwa kelompok itu. Peranan yang hendaknya dimainkan anggota kelompok sesuai yang diharapkan menurut Prayitno (2000:32) adalah sebagai berikut :
1) Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
2) Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
3) Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
4) Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
5) Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
6) Mampu mengkomunikasikan secara terbuka.
7) Berusaha membantu orang lain.
8) Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani peranannya.
9) Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut.
Pemilihan anggota sangatlah penting agar dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar. Peranan para anggota sangat menentukan keberhasilan dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, apabila anggota kelompok tidak bisa membina keakraban, melibatkan diri dalam kegiatan kelompok, mematuhi aturan dalam kegiatan kelompok, terbuka, membantu orang lain maka sulit untuk menuju ketahap demi tahap dalam bimbingan kelompok. Dalam pelaksanaan konseling kelompok ini, peneliti dalam memilih anggota berdasarkan pada jumlah anggota yang seimbang, umur dan kepribadian. Pemilihan anggota kelompok dilaksanakan setelah penyebaran skala psikologi.
c. Pemimpin kelompok
Pemimpin kelompok adalah orang yang mampu menciptakan suasana sehingga para anggota kelompok dapat belajar bagaimana mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Menurut Prayitno (2000: 35-36) peranan pemimpin kelompok dalam layanan bimbingan kelompok adalah sebagai berikut.:
1) Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan atau campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok. Campur tangan ini meliputi hal-hal bersifat dari yang dibicarakan maupun mengenai proses kegiatan itu sendiri.
2) Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggota - anggota tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasana perasaan yang dialami oleh anggota kelompok.
3) Jika kelompok tersebut tampak kurang menjurus ke arah yang dimaksudkan, maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang dimaksudkan.
4) Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok.
5) Pemimpin kelompok diharapkan mampu mengatur lalu lintas kegiatan kelompok, pemegang atauran permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerjasama serta suasana kebersamaan. Selain itu juga diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di dalam kelompok itu tidak merusak ataupun menyakiti seseorang atau lebih anggota kelompok.
6) Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.
Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media untuk membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Media dinamika kelompok ini adalah unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan. Dalam bimbingan kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Arah pengembangan diri yang dimaksud terutama adalah dikembangkannya kemampuankemampuan sosial secara umum yang selayaknya dikuasai oleh individu - individu yang berkepribadian mantap. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima, toleran, mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa tanggung jawab sosial seiring dengan kemandirian yang kuat merupakan arah pengembangan pribadi yang dapat dijangkau melalui dinamika kelompok yang aktif. Dinamika kelompok itu akan terwujud apabila kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta semangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.
Komponen sistem dalam bimbingan kelompok menurut Mungin Edy Wibowo (2005: 189) adalah: “Variabel raw input (siswa/anggota kelompok); instrumental input (konselor, program, tahapan dan sarana); envimental input (norma, Tujuan dan lingkungan); proses atau perantara (interaksi, perlakuan kontrak perilaku yang disepakati akan diubah dan dinamika kelompok); output yaitu berkenaan dengan perubahan perilaku atau penguasaan tugas-tugas”. Komponen-komponen system dalam bimbingan kelompok tersebut adalah:
1). Raw Input
Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam bimbingan kelompok. Raw Input dalam bimbingan kelompok adalah siswa. Karena bimbingan kelompok sifatnya pengembangan dan topik yang dibahas merupakan topik-topik umum, maka siapapun dapat menjadi anggota kelompok. Berikut ini beberapa pertimbangan dalam membentuk suatu kelompok bimbingan kelompok adalah (Prayitno, 2004: 30):
a) Jenis kelompok, untuk Tujuan-tujuan tertentu mungkin diperlukan pembentukan kelompok dengan jumlah anggota yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, atau mungkin juga semua jenis kelamin anggota sama.
b) Umur, pada umumnya dinamika kelompok lebih baik dikembangkan dalam kelompok-kelompok dengan anggota seumur
c) Kepribadian, keragaman atau keseragaman dalam kepribadian anggota dpat membawa keuntungan atau kerugian tertentu. Jika perbedaan diantara para anggota itu amat besar, maka komunikasi akan terganggu dan dinamika kelompok juga kurang hangat.
d) Hubungan awal, keakraban dapat mewarnai hubungan dalam anggota kelompok yang sudah saling bergaul sebelumnya, dan sebaliknya suasana keasingan akan dilaksanakan oleh para anggota yang belum saling kenal. Untuk kelompok tugas mungkin anggota yang seragam akan menyelesaikan tugas lebih baik. Sebaliknya, bagi kelompok bebas, khususnya dengan Tujuan kemampuan hubungan sosial dengan orang-orang baru, anggota kelompok yang beragam akan lebih tepat sasaran.
2). Instrumental Input
Konselor (pemimpin kelompok), program, dan tahapan, dan sarana merupakan instrumental input bimbingan kelompok. Konselor atau pemimpin kelompok harus menguasai keterampilan dan sikap yang memadai untuk terselenggaranya proses bimbingan kelompok yang efektif. Diantaranya pemimpin kelompok mampu melaksanakan teknik umum dengan istilah “3M” Mendengar dengan baik, memahami secara penuh, dan merespon secara tepat dan positif. Program kegiatan selayaknya dikembangkan sesuai kebutuhan siswa, kondisi objektif sekolah, perkembangan yang terjadi di masyarakat, serta keterampilan dankemampuan konselor di sekolah yang bersangkutan.


3). Enviromental Input
Kegiatan layanan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar dan terarah, apabila terdapat norma kelompok. Norma kelompok merupakan aturan yang dibuat, dan disepakati serta digunakan dalam kegiatan bimbingan kelompok. Selain itu lingkungan kondusif dalam kelompok juga perlu diciptakan demi tercapainya bimbingan kelompok yang efektif. Lingkungan kondusif yang dimaksud adalah adanya suasana akrab dan hangat yang mewarnai dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan interaksi dinamis antar anggota kelompok dan pemimpin kelompok dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok.
4). Proses
Kegiatan layanan bimbingan kelompok terlihat hidup apabila tercipta dinamika kelompok di dalamnya. Dinamika kelompok dapat dimanfaatkan dalam proses interaksi antar anggota dalam membahas topik yang disajikan, sehingga antar anggota dapat terjalin rasa empati, keterbukaan, rasa positif, saling mendukung dan merasa setara dengan anggota lain dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu perlu diperhatikan pula peranan yang hendaknya dimainkan oleh anggota maupun pemimpin kelompok. Peran anggota dan pemimpin kelompok dapat dilihat pada uraian dimuka. Agar proses bimbingan kelompok dapat mencapai keberhasilan, perlu disediakan sarana pendukung yaitu merupakan seperangkat alat bantu untuk memperlancar proses bimbingan kelompok. Alat bantu tersebut anta lain ruangan, tempat duduk dan perlengkapan administrasi lainnya.
5). Output
Setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok siswa diharapkan memiliki sikap dan keterampilan yang lebih baik. Dalam hal ini siswa diharapkan memiliki kemampuan verbal dan non verbal yang lebih baik. Selain itu siswa diharapkan memiliki keterbukaan, rasa positif, empati, sikap saling mendukung, dan memiliki rasa setara dan kebersamaan yang tinggi.
Bimbingan kelompok merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan. Dapat terlaksana secara efektif dan efisien jika semua komponen dalam sistem tersebut mengarah pada perubahan dan pada sesuatu yang positif.
Berdasarkan uraian pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Layanan bimbingan kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individual. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuan - tujuan layanan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat dicapai secara mantap. Pada kegiatan bimbingan kelompok setiap individu dapat memperoleh suatu informasi selain itu individu mendapatkan kesempatan untuk menggungkapkan masalah yang dialami serta dibahas secara bersama-sama oleh anggota kelompok. Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan perasaan, menunjukan perhatian terhadap orang lain, dan berbagai pengalaman. Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan bimbingan kelompok. Pendekatan ini menitik beratkan pada interaksi antar anggota, anggota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain berusaha bersama untuk dapat belajar dan mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap anggota lain. Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan rasa saling menolong, menerima, dan berempati dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Saling berhubungan antar anggota kelompok sangat diutamakan. Para ahli menyebutkan ada lima hal yang hendaknya diperhatikan dalam menilai apakah kehidupan sebuah kelompok tersebut baik atau kurang baik, yaitu: adanya saling hubungan yang dinamis antar anggota, memiliki tujuan bersama, hubungan antara besarnya kelompok (banyak anggota) dan sifat kegiatan kelompok, itikad dan sikap terhadap orang lain, Kemampuan mandiri
B. Kerangka Berpikir
Layanan bimbingan kelompok merupakan proses pemberian informasi dan bantuan pada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok guna mencapai suatu tujuan tertentu. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok selain itu juga bisa dijadikan media penyampaian informasi sekaligus juga bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus.
Bimbingan kelompok merupakan lingkungan yang kondusif yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat, dapat berlatih tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukan sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah konsep diri yang positif. Didalam kelompok, anggota belajar meningkatkan pengembangan dirinya terhadap orang lain, selain itu mereka juga mempunyai kesempatan untuk meningkatkan sistem dukungan dengan cara berteman secara akrab dengan sesama anggota. Dalam layanan bimbingan kelompok interaksi antar individu antar anggota kelompok merupakan suatu yang khas yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan. Karena dalam layanan konseling kelompok terdiri dari individu yang heterogen terutama dari latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing.
Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat kerangka berpikir sebagai berikut:

Bimbingan Kelompok
Motivasi Pengembangan Diri

Gambar 1: Skema Kerangka Berpikir

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Tempat Dan Waktu Penelitian

  1. Tempat Penelitian
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kradenan Kabupaten Grobogan.
 2. Waktu Penelitian
Penelitian  ini dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012.
B.     Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Metode Penelitian Kualitatif yakni penulis dalam mengumpulkan data secara langsung dari lapangan kemudian menafsirkan dan menyimpulkan dari data-data yang ada.
Lexy J. Moleong berpendapat (2002: 27), sebagai berikut : penelitian kualitatif merupakan penelitian ilmiah, penelitian ini berakar latar belakang ilmiah sebagai keutuhan, mengadakan analisa secara induktif, mengarah pada penemuan teori, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, membatasi studi dengan fokus, hasil penelitiannya disepakati kedua belah pihak yakni : peneliti dan subyek penelitian.
Untuk dapat mencapai sasaran yang dikehendaki, maka akan digunakan metode penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif, Menurut Soerjono Soekanto (2004: 9-10) Penelitian Deskriptif adalah : Penelitian yang memberikan dan menafsirkan data yang ada yang pada pokoknya metode ini merupakan suatu cara atau jalan untuk memecahkan masalah yang ada pada masa sekarang dan mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan, serta menginterprestasikan tentang arti dari data-data itu.
C.    Subyek dan Obyek Penelitian
1.   Subyek Penelitian
Siswa Kelas VIII SMPN 1 Kradenan yang mempunyai masalah dengan motivasi pengembangan diri ada 3 (tiga) siswa.
2.   Obyek Penelitian
Yang menjadi obyek penelitian ini adalah perilaku siswa yang agresif : Anak berani dengan guru, siswa suka memukul dan mengganggu temannya, suka membuat masalah/onar, tidak bisa duduk dengan tenang dan  siswa bertindak kasar di lingkungan sekolah.
D.    Sumber Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian tersebut, maka penulis perlu mencari data  yang diperoleh dari pihak-pihak yang berhubungan dengan obyek penelitian ataupun dari dokumen atau buku-buku, sumber data pelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder.
  1. Sumber data primer:
a.       Kepala Sekolah,
b.      Guru BK, dan
c.        Orang tua murid.
  1. Sumber data sekunder yaitu sumber data yang tidak secara langsung memberikan keterangan   (misalnya : dokumen atau buku – buku) dan bersifat melengkapi sumber data primer.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan salah satu langkah dalam suatu penelitian. Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah :
1.      Pengamatan (observasi)       
a.    Pengertian observasi
Teknik pengumpulan data dengan cara observasi adalah metode perolehan data dengan menggunakan mata langsung tanpa ada pertolongan alat standart untuk keperluan tersebut (Marzuki, 2002: 58). Sedang menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2007: 220) merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiaatan yang sedang berlangsung.
b. Macam – Macam Observasi
Ada tiga jenis teknik pokok dalam observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan tertentu, yaitu:
1.      Observasi Partisipan
Suatu observasi disebut observasi partisipan jika orang yang rnengadakan observasi (observer) turut ambil bagian dalam perikehidupan observer. Jenis teknik observasi partisipan umumnya digunakan orang untuk penelitian yang bersifat eksploratif. Untuk menyelidiki satuan-satuan sosial yang besar seperti masyarakat suku bangsa karena pengamatan partisipatif memungkinkankan peneliti dapat berkomunikasi secara akrab dan leluasa dengan observer, sehingga memungkinkan untuk bertanya secara lebih rinci dan detail terhadap hal-hal yang akan diteliti. Beberapa persoalan pokok yang perlu mendapat perhatian yang cukup dan seorang participant observer adalah sebagai berikut:
a.       Metode Observasi
Persoalan tentang metode observasi sama sekali tidak dapat dilepaskan dari scope dan tujuan penelitian yang hendak diselenggarakan. Observer perlu memusatkan perhatiannya pada apa yang sudah diterangkan dalam pedoman observasi (observation guide) dan tidak terlalu insidental dalam observasi-observasinya.
b.      Waktu dan Bentuk Pencatatan.
Masalah kapan dan bagaimana mengadakan pencatatan adalah masalah yang penting dalam observasi partisipan. Sudah dapat dipastikan bahwa pencatatan dengan segera terhadap kejadian-kejadian dalam situasi interaksi merupakan hal yang terbaik.
Pencatatan on the spot akan mencegah pemalsuan ingatan karena terbatasnya ingatan. Jika pencatatan on the spot tidak dapat dilakukan, sedangkan kelangsungan situasi cukup lama, maka perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Akan tetapi pencatatan semacam ini pun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak menarik perhatian dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pencatatan dapat dilakukan, misalnya pada kertas-kertas kecil atau pada kertas apa pun yang kelihatannya tidak berarti.
c.       Intensi dan Ekstensi Partisipasi
Seacara garis besar, partisipasi tidaklah sama untuk semua penelitian dengan observasi partisipan ini. Peneliti dapat mengambil partisipasi hanya pada beberapa kegiatan sosial (partial participation), dan dapat juga pada semua kegiatan(full particiration). Dan, dalam tiap kegiatan itu penyelidik dapat turut serta sedalam-dalamnya (intensive participation) atau secara minimal (surface participation). Hal ini tergantung kepada situasi.
Dalam observasi partisipan, observer berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekaligus menjadi bagian dan yang diamati. Sedangkan dalam observasi nonpartisipan, observer hanya memerankan diri sebagai pengamat. Perhatian peneliti terfokus pada bagaimana mengamati, merekam, memotret, mempelajari, dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang diteliti. Observasi nonpartisipan dapat bersifat tertutup, dalam arti tidak diketahui oleh subjek yang diteliti, ataupun terbuka yakni diketahui oleb subjek yang diteliti.
2.      Observasi Sistematik
Observasi sistematik biasa disebut juga observasi berkerangka atau structured observation. Ciri pokok dari observasi ini adalah kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah di atur kategorisasinya lebih dulu dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor dalam kategori-kategori itu.
a.       Materi Observasi
Isi dan luas situasi yang akan diobservasi dalarn observasi sistematik umumnya lebih terbatas. Sebagai alat untuk penelitian desicriptif, peneliti berlandaskan pada perumusan-perumusan yang lebih khusus. Wilayah atau scope observasinya sendiri dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan dan penelitian, bukan situasi kehidupan masyarakat seperti pada observasi partisipan yang umumnya digunakan dalam penelitian eksploratif.
Perumusan-perurnusan masalah yang hendak diselidikipun sudah dikhususkan, misalnya hubungan antara pengikut, kerjasama dan persaingan, prestasi be1aar, dan sebagainya. Dengan begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki sangat terbatas. Ini dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dan observasi partisipan.
b.      Cara-Cara Pencatatan
Persoalan-persoalan yang telah dirumuskan secara teliti memungkinkan jawaban-jawaban, respons, atau reaksi yang dapat dicatat secara teliti pula. Ketelitian yang tinggi pada prosedur observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk mengadakan “kuantifikasi” terhadap hasil-hasil penyelidikannya. Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung dan ditabulasikan. Ini nanti akan sangat memudahkan pekerjaan analisis hasil.
3.      Observasi Eksperimental.
Observasi dapat dilakukan dalam lingkup alamiah/natural ataupun dalam lingkup experimental. Dalam observasi alamiah observer rnengamati kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa dan perilaku-perilaku observe dalam lingkup natural, yaitu kejadian, peristiwa, atau perilaku murni tanpa adanya usaha untuk menguntrol.
Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni, untuk menyeidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Sebab faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya, sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap dimensi-dimensi tertentu terhadap tingkah laku.
Ciri-ciri penting dan observasi eksperimental adalah sebagai berikut :
• Observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam
mungkin untuk semua observee.
• Situasi dibuat sedemikian rupa, untuk memungkinkan variasi timbulnya tingkah laku yang akan diamati oleh observee.
• Situasi dibuat sedemikian rupa, sehingga observee tidak tahu maksud yang sebenannya dan observasi.
• Observer, atau alat pencatat, membuat catatan-catatan dengan teliti mengenai cara-cara observee mengadakan aksi reaksi, bukan hanya jumlah aksi reaksi semata.
c. Kelebihan Observasi
Pengumpulan data dengan observasi ini memiliki beberapa kelebihan antara lain :
1.      Data yang diperoleh langsung dari perilaku yang tipikal dari objek, dapat dicatat segera dan tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang.
2.      Data yang diperoleh dapat dari subjek yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal maupun yang tak mau berkomunikasi secara verbal.
3.      Pencatatan dapat dilakukan pada waktu terjadinya peristiwa atau terlihatnya gejala tertentu.
4.      Tidak tergantung pada jawaban responden, sehingga lebih objektif dan lebih teliti.
d. Kelemahan Observasi
Selain keunggulan tersebut di atas teknik observasi juga memiliki kelemahan antara lain :
1.      Memerlukan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan pengamatan langsung terhadap suatu kejadian.
2.      Pangamatan terhadap suatu fenomena yang lama tidak dapat dilakukan secara langsung.
3.      Ada kegiatan yang tidak mungkin diperoleh dengan pengamatan.
e. Cara Mengatasinya
Agar teknik observasi ini dapat dipergunakan secara efektif maka harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1.      Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik.
2.      Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan.
3.      Pengamatan tersebut dicatat secara sistematik dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja.
4.      Pengamatan dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan reliabilitasnya.
Teknik pengumpulan data dengan observasi ini digunakan untuk mengadakan penelitian terhadap gejala-gejala yang akan diselidiki tanpa menggunakan alat. Cara untuk mengumpulkan data dalam rangka penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap keadaan yang sebenarnya dari obyek yang diteliti, kemudian dilakukan pencatatan secara sistematis terhadap kenyataan yang dilakukan di lapangan.
2. Wawancara (interview)
a. Pengertian Wawancara
Teknik interview atau wawancara adalah Teknik pengumpulan data yang dilaksanakan dengan jalan melakukan tanya jawab langsung dengan subyek penelitian. Sugiyono (2002: 75) mengatakan bahwa : “Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan”. Sedangkan Nasution, (2003: 113) dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa : "Interview adalah merupakan metode yang bersifat langsung dan merupakan suatu bentuk komunikasi verbal, semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi."
b.   Macam Wawancara
Adapun pengertian interview menurut Marzuki (2002: 62) merupakan cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berdasarkan kepada tujuan penelitian. Dalam setiap interview selalu ada dua pihak, yang masing-masing mempunyai kedudukan yang berlainan yakni :
1.      Interviewer sebagai pengejar informasi (information hunter) yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, meminta penjelasan dan menggali keterangan–keterangan yang lebih mendalam.
2.      Interviewew sebagai pemberi informasi (Information Supplyer respondent).
Melalui wawancara atau interview dapat diperoleh berbagai keterangan dan data yang diperlukan dalam suasana penelitian. Dalam penelitian ini teknik wawancara, digunakan untuk membantu siswa dalam meningkatkan motivasi pengembangan diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok. Jenis interview atau wawancara menurut keperluan pengumpulan data yang digunakan ada 3 yaitu :
1.      Interview terpimpin yaitu suatu interview yang dilakukan dengan menggunakan pedoman yang memimpin jalannya tanya jawab ke satu arah yang telah ditetapkan dengan tegas.
2.      Interview tak terpimpin yaitu suatu interview yang dilakukan tanpa adanya kesengajaan dari interview untuk mengarahkan tanya jawab pada pokok-pokok persoalan yang menjadi inti penyelidikan.
3.      Interview bebas terpimpin yaitu interview yang dilakukan secara bebas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan lebih dahulu. Sehingga susunan menjadi lebih wajar dan dapat memperoleh data yang mendalam. Cara ini dipandang lebih obyektif dan wajar.
c.    Kelebihan wawancara
Teknik wawancara adalah cara yang paling mudah dalam melaksanakan penelitian karena itu teknik ini sering digunakan, karena kelebihan atau keuntungan cukup banyak antara lain:
1.         Sebagai metode yang mudah dalam penelitian sosial
2.     Lebih efektif guna menggali fenomena psikis dan pribadi seseorang.
3.    Sebagai alat verifikasi data juga dipakai sebagai standar kriterium terhadap data yang diperoleh.
4.    Sebagai penggali / sumber informasi untuk mengadakan observasi pribadi terhadap tingkah laku.
d.   Kelemahan Teknik Wawancara :
1.      Proses interview sangat mudah dipengaruhi situasi dan kondisi di sekitar.
2.      Kurang efisien karena boros waktu, tenaga, biaya, pikiran.
3.      Dituntut adanya penguasaan bahasa yang cukup baik oleh pihak interview.
4.      Terkadang kurang menembus pikiran dan perasaan interviewing sehingga data yang diperoleh kurang lengkap.
5.      Interviewing memberikan respon yang salah sebagai hasil dari daya persepsi, daya ingat yang tidak akurat dan daya imajinasi yang ekstrim berlebihan, kurang memiliki insight, sehingga informasi kurang variabel.
e.    Cara mengatasi
Wilson (1996) membandingkan metode wawancara dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu: dimensi prosedural, struktural dan konstekstual.
-          Faktor prosedural/structural. Dimensi prosedural bersandar pada wawancara yang bersifat natural antara peneliti dan partisipan atau disebut juga wawancara tidak berstruktur. Tempat wawancara adalah tempat keseharian partisipan seperti rumah atau tempat bekerja, bukan di laboratorium. Jadi yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah prosedurnya, apakah kaku seperti di laboratorium atau natural. Hal lain yang dibandingkan adalah strukturnya seperti metode yang sangat berstruktur (highly structured) dan kurang berstruktur (less structured).
-          Faktor konstekstual. Dimensi konstekstual mencakupi jumlah isyu. Pertama, terminologi yang di dalam wawancara dianggap penting. Kedua, konteks wawancara yang berdampak pada penilaian respon (response rate). Aspek kontekstual yang penting lainnya adalah persepsi partisipan terhadap karakteristik pewawancara. Hal yang menjadi dasar partisipan mengungkapkan pendapatnya atau pengalamannya adalah berdasarkan karakteristik pewawancara yang terlihat, misalnya aksen, pakaian, suku atau jender. Ini yang dikenal sebagai variabilitas pewawancara. Untuk meminimalkan dampak ini usahakan pewawancara cocok dengan responden, misalnya perempuan – perempuan. Perlu diingatkan, peneliti sendiri harus memutuskan tekhnik wawancara apa yang terbaik untuk dirinya dan partisipan.
Dalam penelitian ini, digunakan teknik wawancara bebas terpimpin sebagai teknik utama (pokok), yaitu pelaksanaan wawancara berpedoman pada pokok-pokok persoalan secara garis besar sesuai dengan pokok permasalahan yang ada. Sedangkan pelaksanaannya secara pribadi, yaitu melalui wawancara tatap muka langsung antara peneliti dengan responden untuk meningkatkan motivasi pengembangan diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok.
F.     Validitas Data
Untuk menentukan keabsahan data, penelitian ini menggunakan Teknik Trianggulasi sebagai pemabanding terhadap data yang diperoleh.

1.      Trianggulasi Sumber
Trianggulasi sumber berarti membandingkan  dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal tersebut dicapai dengan jalan :
a.       Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b.      Membandingkan apa yang diakatakan orang dan apa yang dikatakan pribadi klien.
c.       Membandingkan tentang situasi penelitian dan situasi sepanjang waktu .
d.      Membandingkan klien dengan berbagai pendapat seperti : teman sekelas, orang tua dan guru.
e.       Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
2.      Trianggulasi Metode
a.       Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian bebedrapa teknik pengumpulan data.
b.      Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
G.    Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kualitatif dan penyimpulan dari hasil pengamatan secara rutin setiap hari didalam kelas selama beberapa bulan sebelum dan saat penelitian. Dan menyimpulkan hasil wawancara dengan berbagi sumber informasi.
Dalam pengertian ini analisa data kualitatif merupakan upaya yang berlanjut, berulang dan terus-menerus. Menurut H.B. Sutopo (2000: 45), yang dimaksud dengan analisis data yaitu terdiri tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu : reduksi  data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Adapun yang dimaksud tiga alur kegiatan tersebut adalah :
  1. Reduksi Data
Yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan pengabstrakan dan trasformasi kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
  1. Penyajian Data
Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan  adanya penarikan kesimpulan dan pengumpulan tindakan.
  1. Menarik Kesimpulan
Dari permulaan pengumpulan data, mencatat keadan yang terjadi, proses pelaksanaan, akhirnya penelitian harus menarik kesimpulan.
Adapun lebih jelasnya model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:






 












(H.B. Sutopo, 2000)
Gambar  2. Model Analisis Interaktif

Model analisis interaktif tersebut diatas menunjukkan prosesnya dapat dilihat yaitu pada waktu pengumpulan data, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data. Artinya data yang terdiri dari bagian deskripsi dan refleksinya ialah data yang dikumpulkan dan dari sinilah peneliti menyusun pengertian singkatnya dengan pemahaman segala peristiwanya yang disebut dengan reduksi data, kemudian diikuti penyusunan sajian data yang diperlukan sebagai dukungan sajian. Reduksi data dan sajian data ini harus disusun pada waktu peneliti sudah mendapatkan unit data dari sejumlah unit data yang diperlukan dalam penelitian, maka peneliti mulai melakukan usaha untuk menarik kesimpulannya atau verifikasinya berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi data dan sajian data.
Analisa data dilakukan secara kualitatif yaitu data-data yang diperoleh secara langsung maupun tidak langsung kemudian dihubung-hubungkan dengan teori-teori atau literature-literature yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti kemudian mencari jalan pemecahannya dengan cara menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan untuk menentukan hasilnya. Teknik analisis kualitatif tersebut akan menghasilkan data deskriptif analisis yang dinyatakan oleh responden, data-data tersebut berupa gejala-gejala atau faktor yang tidak dapat dikuantifikasikan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar