PERBEDAAN KONSEP DIRI
ANTARA SISWA YANG DIASUH ORANG TUA KANDUNG DENGAN SISWA YANG DIASUH OLEH ORANG
TUA LAIN PADA SISWA
KELAS VIII SMP NEGERI 2
WIROSARI KABUPATEN
GROBOGAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Orang tua adalah komponen keluarga yang di dalamnya terdiri dari ayah dan
ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat
membentuk sebuah keluarga kecil. Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam
kehidupan manusia sangatlah penting. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah
pembentukan sifat masing-masing dari anggotanya, terutama pada anak-anak yang
masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Swhingga orang
tua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi anak. Mendidik anak dengan baik dan benar
berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi
jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan
papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar
melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya
tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang
tepat.
Pola asuh yang diberikan orang
tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh pada perilaku si anak
melainkan akan berpengaruh pula pada sikapnya. Anak merupakan aset yang
menentukan kelangsungan hidup,
kualitas dan
kejayaan suatu bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu
dikondisikan agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik
mungkin agar di masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter
serta berkepribadian baik. Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama
dikenal oleh anak. Karenanya keluarga sering dikatakan sebagai primary group.
Alasannya, institusi terkesil dalam masyarakat ini telah mempengaruhi
perkembangan individu anggota-anggotanya, termasuk sang anak.
Kenyataan yang ada, banyak anak yang tidak mendapatkan
pengasuhan dari orang tua kandung karena keadaan dan kondisi yang tidak
memungkinkan seperti karena kedua orang bercerai atau karena ke dua orang
tuanya meninggal akibat kecelakaan sehingga sejak kecil sudah di asuh oleh
saudara orang tua atau orang lain yang peduli dengan anak tersebut. Berdasrkan
hasil pengamatan peneliti, banyak anak yang mendapat pengasuhan dari orang lain
mengalami masalah dengan sikap dan perilakunya baik di lingkungannya. Berdasarkan observasi dan
wawancara dengan guru pembimbing di SMP N 2 Wirosari Kabupaten Grobogan
tersebut diperoleh data bahwa hampir 50% siswa di kelas VIII yang tidak
mendapat pengasuhan orang tua kandung mempunyai konsep diri yang belum positif,
gejala yang nampak yaitu membolos, hasil prestasi belajar yang rendah,
menyontek, membuat gaduh saat pelajaran, berkelahi, adanya siswa yang melanggar
tata tertib sekolah, adanya siswa yang memiliki perasaan rendah diri, dan
adanya siswa yang mempunyai perasaan tidak mampu melaksanakan tugas. Siswa yang
demikian itu dapat dikatakan memiliki konsep diri yang negatif.
Dengan demikian pola asuh orang tua yang diciptakan di lingkungan
keluarga akan mempengaruhi sikap anak yang ada kaitannya dengan segala bentuk
tingkah laku anak. Dari sinilah
penulis mengangkat penelitian yang berjudul: Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua
Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP
Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 .
B. Perumusan Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut : “ Apakah Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan
Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2
Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui Perbedaan
Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh
Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten
Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Untuk
memberikan sumbangan yang positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya
berkaitan dengan pengembangan konsep diri siswa, dan wujud dari sumbangan
tersebut yaitu ditemukannya hasil-hasil penelitian baru tentang bimbingan
konseling guna meningkatkan pelayanan bimbingan di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru pembimbing
Penelitian ini
dapat bermanfaat bagi guru pembimbing di SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten
Grobogan dalam melakukan kegiatan layanan bimbingan konseling, dengan
memanfaatkan jam Bimbingan dan Konseling di kelas seefektif mungkin untuk
membantu untuk membentuk konsep diri yang positif pada siswa.
b. Bagi peserta didik
Dengan mengikuti
kegiatan bimbingan konseling siswa akan terdorong untuk membentuk konsep diri
yang positif, terbuka, menghargai orang lain, mau mengendalikan emosi,
mengembangkan rasa setia kawan, belajar untuk mempercayai kemampuan diri
sendiri, serta belajar untuk memecahkanmasalah.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teori
- Tinjauan Tentang Konsep Diri
Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam
setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat
yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi
kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga
terdapat beberapa pengertian.
a. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan
aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan
untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan
dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan
konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak
mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak
bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki.
Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit
untuk diselesaikan.
Pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan
seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk
diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat
berubah karena interaksi dengan lingkungannya. Beberapa ahli merumuskan
definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi): ”konsep diri adalah suatu
gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat,
mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan”. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang
mudah untuk diselesaikan. Konsep diri
terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya.
Mulyana (2000:7): ”Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa
diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat
informasi yang diberikan orang lain pada diri individu”. Pendapat tersebut
dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat
informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya.
Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi
dari orang lain mengenai dirinya.
Individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi
atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Kehidupan sehari-hari secara
tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri
sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau
tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak.
Seperti yang dikemukakan Hurlock (2000:58) memberikan pengertian tentang
konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri
ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka
sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional,
aspirasi dan prestasi.
Menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan
kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Konsep diri merupakan penentu sikap
individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir
akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat
individu menuju kesuksesan. Sebaliknyajika individu berpikir akan gagal, maka
hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau
penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang
meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002: http: /www.e-psikologi. com/ dewa/ 16050.htm).
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya
apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan
kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya
jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan
bagi dirinya.
Beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat
disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang
dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi
fisikdirinya maupun lingkungan terdekatnya.
2. Jenis-jenis Konsep Diri
Menurut William D.Brooks (dalam Rahkmat, 2005:105) bahwa “ dalam menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif”. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yangpositif
dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif. Tanda-tandaindividu yang
memiliki konsep diri yang positif adalah :
a. Individu yakin akan kemampuan dalam
mengatasi masalah.
Orang ini
mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari
dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
b. Individu merasa setara dengan orang
lain.
Individu selalu
merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu
menghargai orang lain.
c. Individu menerima pujian tanpa rasa malu.
Individu menerima pujian tanpa rasa malu
tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia
tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
d. Individu menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya
disetujui oleh masyarakat.Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan
menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
e. Individu mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha
mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi
orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadilebih baik agar diterima di
lingkungannya.
Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah kekerendahan hati
dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang yang mengenal
dirinya dengan baik merupakan orang yangmempunyai konsep diri yang positif. Sedangkan
tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri negatif adalah :
a. Individu peka terhadap kritik.
Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari
faktor yang mempengaruhi dariindividu tersebut belum dapat mengendalikan
emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga
dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras
mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
b. Individu responsif sekali terhadap
pujian.
Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, individu tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya
pada waktu menerima pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel
yang menjunjung hargadirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain.
c. Individu cenderung bersikap hiperkritis.
Individu selalu mengeluh, mencela atau
meremehkan apapun dan siapapun.Mereka tidak pandai dan tidak sanggup
mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
d. Individu cenderung merasa tidak disenangi
oleh orang lain.
Individu merasa tidak diperhatikan,
karena itulah ia bereaksi pada orang lainsebagai musuh, sehingga tidak dapat
melahirkan kehangatan dankeakraban persahabatan, berarti individu tersebut
merasa rendah diri ataubahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan
membenci, mencelaatau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi(bermusuhan).
e. Individu bersikap psimis terhadap
kompetisi.
Hal ini
terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang laindalam membuat
prestasi. Individu akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya
.Pernyataan lain menyebutkan bahwa individu yang memiliki konsepdiri
negatif maupun positif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (Rini,
2002:http://www.e-psikologi./com/dewasa/1670502.htp)
a. Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa
dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten,
gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap
hidup. Individu ini akan cenderung bersikap psimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya.
Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang
memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia
mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
b. Individu yang
memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percayadiri sendiri dan
selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, jugaterhadap kegagalan yang
dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan
sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang
memiliki konsep diripositif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat
hal-hal yangpositif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan
datang.
Melihat uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik
konsep diri dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif, yang mana keduanya
memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda antara ciri karakteristik konsep diri positif dan karakteristik konsepdiri
yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri positif dalam segala sesuatunya
akan menanggapinya secara positif, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam
tentang dirinyasendiri. Ia akan percaya diri, akan bersikap yakin dalam bertindak
dan berperilaku. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan menanggapi segala sesuatu dengan pandangan negatif
pula, dia akan mengubah terus menerus konsep dirinya atau melindungi konsep
dirinya itu secara kokoh dengan cara mengubah atau menolak informasi baru dari lingkungannya.
3. Isi Konsep Diri
Sewaktu lingkungan anak yang sedang tumbuh meluas, isi dari konsep dirinya
juga berkembang meluas, termasuk hal-hal seperti pemilikan, teman-teman,
nilai-nilai dan khususnya orang-orang yang disayangi melalui proses
identifikasi. Untuk merumuskan isi dari konsep diri tidaklah mudah, kita
berkedudukan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, namun demikian secara
umum isi konsep diri dapat dirumuskan. Menurut Jersild dalam penelitiannya terhadap
penelitian anak sekolah dasar dan sekolah menengah yang dikutib Burns (2000:209-210)
mendiskripsikan isi dari konsep diri adalah :
a. Karakteristik fisik
Karakteristik
yang merupakan suatu ciri atau hal yang membedakan dari individu dengan
individu yang lain yaitu, yang mencakup penampilan secara umum, ukuran tubuh
dan berat tubuh, dan detail-detail dari kepala dan tungkai lengan.
Karakteristik fisik dapat menyebabkan adanya pandangan yang berbeda tiap
individu satu dengan individu yang lain tentang dirinya sendiri, contohnya
kalau seorang bintang film yang cantik pasti akan dijadikan idola. Hal ini
kadang dijadikan masalah, karena individu itu sendiri merasa memiliki kekurangan
dibandingkan dengan temannya yang memiliki kelebihan, seperti kurang tinggi,
terlalu gemuk, tidak cantik, perasaan ini dapatberkembang menjadi konsep diri
yang negatif apabila masyarakat memperhatkan dan menjunjung individu yang
mempuyai kelebihan dibandingkan dengan individu yang tidak mempunyai kelebihan.
b. Penampilan
Penampilan dari
setiap individu tentunya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang
lain, hal ini dapat menggambarkan kepribdian seseorang. Penampilan ini mencakup
cara berpakaian, model rambut dan make-up, dengan keadaan seperti ini, individu
dimungkinkan percaya diri atau tidak. Misalnya, seseorang yang tidak pernah
memakai make up suatu saat disuruh temannya memakainya, tentunya pada saat itu ada
perbedaan antara temannya yang sudah terbiasa memakai make up dengan dirinya
yang malu dan menutupi wajahnya dengan kain.
c. Kesehatan dan kondisi fisik
Kesehatan dan
kondisi fisik sangat diperlukan bagi setiap individu dalam menjalani hidup ini,
terutama dalam mencapai karier. Individu yang mempunyai kesehatan dan kondisi
fisik yang tidak baik akan mengakibatkan gangguan kenormalan yang berakibat
individu itu merasa tidak aman atau kurang percaya diri, yang berakibat
menimbulkan penilaian terhadap dirinya sendiri menjadi negatif, individu yang
memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang baik akan percaya diri bila
dibandingkandengan yang memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik
atau lemah.
d. Rumah dan hubungan keluarga
Rumah dan
hubungan keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal atau ditempati
individu saat lahir dan mengenal lingkungan luar. Didalam rumah, hubungan
keluarga akan tercipta suasana dan kondisi yang menyenangkan atau tidak, ini
dapat dijadikan sebagai suatu informasi, pengalaman, yang dijadikan pegangan
hidup individu untuk berinteraksi, untuk itu rumah dan hubungan keluarga yang
terjalin dengan baik akan membuat individu senang dan bahagia dengan rumah dan hubungan
keluarga yang dimilikinya, tetapi seorang individu yang rumah dan hubungan
keluarganya yang tidak terjalin dengan baik, misalnya kedua orang tuanya sering
bertengkar, bercerai atau broken home ini akan menyebabkan individu
memiliki pandangan negatif tentang keluarganya.
e. Hobi dan permainan
Hobi dan
permainan sangat berhubungan, karena dari percobaan setiap permainan akan
muncul pengembangan hobi, dengan terkuasainyapermainan itu, individu akan
berusaha mengembangkan kemampuan dan percaya diri terhadap hobi dan
permainannya. Individu yang memiliki hobi dan permainan yang dapat dikembangkan
secara baik akan terarah dan adanya dukungan dari diri, keluarga dan lingkungan
dekatnya,individu akan termotivasi untuk mengembangkannya dan tentunya individu
itu akan dipandang lingkungan sekitarnya.
f. Sekolah dan pekerjaan sekolah
Sekolah
merupakan tempat belajar individu dalam tahap pencarian ilmu, dalam sekolah
ada tugas-tugas yang diberikan individu. Individu yang mengerjakan tugasnya
sebelum batas waktu pengumpulan, disinilah terlihat bagaimana kemampuan dan sikap individu
terhadap sekolahapakah ia merasa mampu dan berprestasi didalam mengerjakan
tugas – tugas sekolah. Seorang individu yang selalu mendapat nilai tidak bagus ini
akan mempengaruhi cara belajarnya atau pandangan individu bahwa dirinya seorang
yang cenderung gagal atau bodoh.
g. Kecerdasan
Kecerdasan
berkaitan dengan status intelektual yang dimiliki individu. Kecerdasan ini ada
yang tinggi dan ada yang rendah, dari kecerdasan ini cara berfikir atau daya
tangkap individu berbeda, sehingga pandangan dirinya sendiri tentunya juga
berbeda-beda, misalnya anak yang memiliki kecerdasan yang baik/tinggi akan
dipuji oleh guru, orangtua dan temannya yang kemudian individu itu akan percaya
diri saat mengerjakan tugas atau mengikuti tes.
h. Bakat dan minat
Bakat dan minat
yang dimiliki individu itu berbeda-beda walaupun individu itu kembar sekalipun.
Seseorang yang memiliki bakat dan minat yang terlatih atau disalurkan akan
mengakibatkan individu itu mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang dan
biasanya timbul perasaan percaya diri bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan
berbeda dengan individu yang bakat dan minatnya yang tidak jelas atau
asal-asalan, sehingga ini dapat menyebabkan individu putus asa atau tidak
percaya diri.
i. Ciri kepribadian
Ciri
kepribadian seseorang ini berhubungan dengan tenpramen, karakter dan tendensi
emosional dan lain sebagainya. Ciri kepribadian ini akan mempengaruhi individu
dalam bertindak atau dalam berfikir, misalnya seseorang individu yang selalu
mengatur, dalam segi kegiatan individu itu akan selalu mengatur atau
berpandangan kalau dia berhak mengaturnya.
j. Sikap dan hubungan sosial
Sikap dan
hubungan sosial yang dilakukan oleh individu terhadap orang-orang yang berada
disekitarnya, pergaulan dengan teman sebaya. Seorang individu yang ekstrovet
cenderung akan senang dengan keadaan ramai dan akan mudah dalam mencari
teman atau memulai pembicaraan, hal ini dapat membuat individu itu semakin bertambah
wawasan, informasi, pengalaman dan pengetahuan. Sedangkan pada individu yang introvert
akan cendeung menutup diri, dan berusaha menjauh dari teman-temannya dengan
berpikiran dirinya mempunyai banyak kelemahan. Uraian di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa sikap dan hubungan sosial ini akan mempengaruhi individu dalam
memandang dirinya sendiri, misalnya anak introvert memandang lingkungan
yang ditemapti saat ini membosankan dan menyakitkan bagidirinya sendiri.
k. Religius
Manusia hidup
tidak dapat terlepas dari hubungan dengan TuhanYang Maha Esa, karena tanpa
bantuan dan karunia-Nya, kita tidak bisa hidup. Seseorang yang memiliki segi
religius positif akan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya, untuk itu religius yang positif ini akan mempengaruhi
cara berpikir danbertingkah laku atau bertindak yang mengarah kepada penilaian
diri yang percaya diri dan positif.
Beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan
bahwa isi konsep diri meliputi penampilan, kepribadian, kecerdasan, kesehatan
dan kondisi fisik, keluarga, hubungan sosial, penyesuaian dengan orang-orang disekitar
dan lawan jenis, bakat dan minat serta hobi.
4. Peranan Konsep Diri
Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu. Individu memandang atau menilai dirinya
sendiri akan tampak jelasdari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku
seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya
sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang memiliki cukup
kemampuan untuk melaksanakan tugas, maka individu itu akan menampakan perilaku
sukses dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya apabila individu memandang
dirinya sebagai seorang yang kurang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, maka
individu itu akan menunjukkan ketidakmampuandalam perilakunya.
Rogers (dalam Burns, 2000:353) menyatakan bahwa “konsep diri memainkan peranan yang sentral dalam
tingkah laku manusia, dan bahwa semakin besar kesesuaian di antara konsep diri
dan realitas semakin berkurang ketidakmampuan diri orang yang bersangkutan dan
juga semakin berkurang perasaan tidak puasnya”. Hal ini karena cara individu memandang dirinya akan tampak dari seluruh
perilakunya. Konsep diri berperan dalam mempertahankan
keselarasan batin, penafsiran pengalaman dan menentukanharapan individu. Konsep
diri mempunyai peranan dalam mempertahankan keselarasan batin karena apabila
timbul perasaan atau persepsi yang tidak seimbang atau saling bertentangan,
maka akan terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. Untuk
menghilangkan ketidakselarasan tersebut, ia akan mengubah perilakunya sampai
dirinya merasakan adanya keseimbangan kembali dan situasinya menjadi
menyenangkan lagi.
Hurlock (2000:238) mengemukakan, “konsep diri merupakan inti daripola perkembangan kepribadian seseorang yang
akan mempengaruhi berbagai bentuk sifat”. Jika konsep diri positif, anak akan mengembangkan sifat-sifat seperti
kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara
realitas, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Sebaliknya apabila konsep diri negatif, anak akan
mengembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri. Mereka merasa ragu dan
kurang percaya diri, sehingga menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial yang
buruk pula. Konsep diri juga dikatakan berperan dalam perilaku individu karena seluruh
sikap dan pandangan individu terhadap dirinya akan mempengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan setiap aspek pengalaman - pengalamannya.
Suatu kejadian akan ditafsirkan secara-berbeda-beda antaraindividu yang
satu dengan individu yang lain, karena masing-masing individumempunyai
pandangan dan sikap berbeda terhadap diri mereka. Tafsiran - tafsiran individu
terhadap sesuatu peristiwa banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan individu
terhadap dirinya sendiri. Tafsiran negatif terhadap pengalaman disebabkan oleh
pandangan dan sikap negatif terhadap dirinya sendiri, begitu pula sebaliknya.
Selanjutnya konsep diri dikatakan berperan dalam menentukan perilaku karena
konsep diri menentukan pengharapan individu.
Menurut beberapa ahli, pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri.
Pengharapan merupakan tujuan, cita-cita individu yang selalu ingin dicapainya
demi tercapainya keseimbangan batin yang menyenangkan. Misalnya bila seorang individu berpikir bahwa dia
bodoh, individu tersebut akan benar - benar menjadi bodoh. Sebaliknya apabila
individu tersebut merasa bahwa dia memiliki kemampuan untuk mengatasi
persoalan, maka persoalan apapun yang dihadapinya pada akhirnya dapat diatasi. Ini karena individu tersebut berusaha hidup sesuai dengan label yang diletakkan
pada dirinya. Dengan kata lain sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang, positif atau negatif.
5. Pembentukan dan Pengembangan Konsep Diri
Menurut paham religi khususnya Islam manusia terlahir dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum tertulis. Dengan demikian konsep diri itu muncul berdasarkan
pengalaman, kebiasaan dan latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan kata lain konsep diri merupakan produk sosial. Anak yang putih tersebut
ternoda setelah ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah anak itu terlahir dapat memberikan respon terhadap dunia sekitarnya, maka sejak
itu pula kesadaran dirinya muncul menjadi dasar dalam pembentukan konsep dirinya.
“Konsep diri dihasilkan dari interaksi dua faktor
yaitu diri individu itu sendiri dan lingkungan”. (Calhoun alih bahasa Satmoko, 2000:74). Konsep diri yang dimiliki individu dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor dari lingkungan individu, karena konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak
lahir, melainkan
faktor yang dipelajari dan terbentuk dari beribu-ribu pengalaman yang berbeda-beda dan sedikit demi sedikit menjadi
satu. Setiap orang dilahirkan tanpa konsep diri. Konsep diri berakar pada pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang akibat dari interaksinya
dengan orang lain. Melalui pengalaman interaksi dengan orang lain dan cara orang lain memperlakukan individu tersebut akan menangkap
pantulan tentang dirinya dan akhirnya membentuk gagasan dalam dirinya seperti apakah dirinya sebagai pribadi. Pendek kata, konsep diri individu
itu dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya.
Hurlock (2000:132) mengatakan, bahwa “konsep diri anak terbentuk pada awal masa kanak-kanak di dalam hubungannya dengan keluarga, yaitu orang tua, saudara-saudara kandung, dan sanak
saudara lain yang merupakan dunia sosial bagi anak-anak”. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak mulai membentuk konsep diri
yang ideal. Pada mulanya konsep diri ideal
ini mengikuti pola
yang digariskan oleh orang tuanya, guru dan orang lain di sekitar kemudian meluas pada tokoh-tokoh yang
dibaca atau didengar. Keluarga mempunyai peranan yang penting dan paling dini dalam pembentukan konsep diri, karena terdapat banyak
kondisi dalam keluarga yang ikut membentuk konsep diri pada anak, yaitu cara orang tua dalam mendidik anak, cita-cita orang tua terhadap
anaknya, posisi urutan anak dalam urutan dalam keluarga, identitas kelompok dan ketidak nyamanan lingkungan.
Selanjutnya Centi (2000:16-23) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri adalah :
a. Orang Tua
Informasi atau
cerminan tentang diri kita, orang tua kita memegang peranan paling istimewa. Penilaian yang
orang tua kenakalan kepada kita
untuk sebagian besar menjadi penilaian yang kita pegang tentang diri kita. Sebutan orang tua yang diberikan
pada anaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalanan individu dan individu akan meragukan keberadaan dirinya.
b. Saudara Sekandung
Hubungan dengan
saudara sekandung juga penting dalam pembentukan konsep diri. Anak sulung yang
diperlakukan seperti seorang pemimpin oleh adik-adiknya dan mendapat banyak
kesempatan berperan sebagai penasihat mereka, mendapat banyak keuntungan besar
dari kedudukannya dalam hal pengembangan konsep diri yang sehat. Sedang anak
bungsu yang pada umumnya dianggap seperti anak kecil terus menerus akan mengakibatkan
kepercayaan dan harga dirinya lemah.
c. Sekolah
Tokoh utama di sekolah adalah guru, seorang guru yang sikap dan pribadinya
baik membawa dampak besar bagi penanaman gagasan dalam pikiran siswa tentang
diri mereka. Untuk kebanyakan siswa, guru merupakan model. Selain itu siswa
yang sering mendapatkan prestasi dalam bidang akademik maupun bidang lain,
tentu akan memperoleh pujian dan pengahargaan dari banyak pihak di sekolah
mulai dari teman,guru, bahkan kepala sekolah. Bagi mereka pujian dan
pengahargaan dapat menumbuhkan konsep diri positif karena ada pengakuan dari
orang lainyang menerima keberadaan dirinya. Seangkan siswa yang bermasalah akan
sering dihukum cenderung memiliki konsep diri negatif.
d. Teman sebaya
Hidup kita
tidak terbatas dalam lingkungan keluarga saja, kita juga punya teman.Teman sebaya merupakan urutan kedua setelah
orang tua. Setelah mendapatkan pengakuan dari orang tua individu juga
membutuhkan pengakuan dari orang lain yaitu teman sebaya. Peranan individu
dalam kelompok sebagai “pemimpin kelompok” atau sebaliknya “pengacau kelompok”
akan membuat individu memiliki pandangan terhadap dirinya sendiri (Calhoun alih
bahasa Satmoko, 2000:78). Dalam pergaulan dengan teman-teman itu, apakah kita
disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak, ikut menentukan dalam
pembentukan konsep diri kita.
e. Masyarakat
Sebagai anggota
masyarakat sejak kecil kita sudah dituntut untuk bertindak menurut cara dan
patokan tertentu yang berlaku pada masyarakat kita. Penilaian masyarakat
terhadap diri individu akan membentuk konsep diri individu. Penilaian
masyarakat yang terlanjur menilai buruk terhadap individu akan membuat individu
kesulitan memperoleh melalui gambaran diri yang baik.
f. Pengalaman
Banyak
pandangan tentang diri kita, dipengaruhi juga oleh pengalaman keberhasilan dan kegagalan kita. Konsep diri adalah
hasil belajar, dan belajar dapat diperoleh melalui pengalaman individu
sehari-hari. Dalam melakukan aktifitas sehari-hari individu dihadapkan pada
keberhasilan dan kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan dan
kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan studi, bergaul,
berolah raga akan mudah mengembangkan harga diri individu. Sedangkan pengalaman
kegagalan akan merugikan perkembangan harga diri individu.
Pendapat lain menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri
seseorang, yaitu : (Rini, 2002:http://www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).
a. Pola asuh orang tua
Pola asuh orang
tua menjadi faktor yang penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. ”Orang
tua adalah kontak sosial pertama yang dialami individu, dan apa yang
dikomunikasikan oleh orang tua terhadap individu akan lebih menancap daripada
informasi lainnya” (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:77). Sikap positif yang
dilakukan orang tua seperti cinta kasih, perhatian akan menumbuhkan konsep dan
pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri, individu merasa
dicintai banyak orang sehingga ia merasa pantas mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada individu manakala
orang tua tidak memberikan kehangatan, cinta kasih sayang pada individu,
sehingga menimbulkan pemikiran pada individu bahwa dirinya tidak bergharga dan
tidak pantas dicintai.
a. Kegagalan
Kegagalan yang
dialami secara terus menerus akan menimbulkan pertanyaan pada diri individu itu
sendiri dan membuat individu membuat kesimpulan sendiri bahwa dirinya tidak
memiliki kelebihan, merasa dirinya hanya mempunyai kelemahan sehingga individu
merasa tidak berguna, bahkan merasa dirinya hancur.
b. Depresi
Individu yang mengalami depresi akan memiliki pemikiran yang cenderung
negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatu,termasuk dalam menilai diri
sendiri. Semua hal cenderung dipersepsinegatif. Individu yang depresi akan
sulit melihat kemampuan dirinyauntuk bertahan menjalani kehidupan, dan biasanya
individu ini cenderung sensitif dan mudah tersinggung.
c. Kritik Internal
Mengkritik diri sendiri diperlukan untuk menyadarkan individu akan perbuatan
yang telah dilakukan. Kritikan terhadap diri sendiri berfungsi sebagai
rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan individu dapat
diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.
Konsep diri merupakan produk sosial, maka Sullivan (Rakhmat, 2005:101)
menjelaskan bahwa “individu mengenal dirinya dengan mengenal orang lain lebih
dahulu”. Dalam hal ini penilaian orang lain terhadap individu tersebut akan
membentuk konsep dirinya sesuai dengan penilaian itu. Misalnya jika individu
itu diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan dirinya, dia
akan cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya, bila
orang lain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolaknya, individu akan
cenderung tidak menyenangi dirinya. Dengan kata
lain individu akan termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan pandangan orang
lain terhadap dirinya. Pandangan individu tentang keseluruhan pandangan orang
lain terhadap dirinya disebut generalized otheratau role taking dan
berperan penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. Informasi, pengharapan dan pengertian
yang membentuk konsep diri terutama berasal dari interaksi dengan orang lain.
Orang tua merupakan oranglain yang paling awal dalam membentuk konsep diri.
Selanjutnya yang mempengaruhi konsep diri adalah teman sebaya dan akhirnya menyumbangkan
konsep diri adalah masyarakat. Dengan kata lain konsep diri terbentuk karena
umpan balik dari masyarakat.
Setelah konsep diri terbentuk maka konsep diri juga mengalami perkembangan,
konsep diri berkembang secara bertahap yaitu mulai dari bayi dimana saat bayi
mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Perkembangan konsep
diri terpacu cepat dengan perkembangan bicara.Tahap selanjutnya adalah pada
masa anak yang mana keluargamempunyai peran yang penting dalam membantu
perkembangan konsep diriterutama pada pengalaman-pengalaman pada masa
kanak-kanak. Suasana keluarga yang saling menghargai dan mempunyai pandangan
yang positif akan mendorong kreatifitas anak, menghasilkan perasaan yang
positif dan berarti.
Hurlock (2000:235), mengemukakan bahwa ”konsep diri biasanya bertambah
stabil pada masa remaja”. Hal ini memberi perasaan kesinambungan dan
memungkinkan remaja memandang diri sendiri dengan cara yang konsisten, tidak
memandang diri hari ini berbeda dengan hari lain, sehingga dapat meningkatkan
harga diri dan memperkecil perasaan tidak mampu. Selanjutnya Hurlock mengatakan
konsep diri selalu menujuk kepembentukan konsep diri yang ideal. Konsep diri
yang ideal pertama-tama ditentukan oleh orang-orang di sekitar sesuai dengan
tingkat perkembangan diri individu. Faktor yang mempengaruhi konsep diri dapat dipisahkan
melalui tingkat perkembangan masing-masing individu. Faktor – faktor yang
mempengaruhi konsep diri pada masa balita akan berbeda dengan faktor yang
mempengaruhi konsep diri pada masa kanak-kanak. Demikian pula pada saat
individu dalam masa remaja. Masa remaja merupakan masayang potensial untuk
mengembangkan konsep diri, sebab masa remaja adalahmasa yang penuh dengan
tekanan yang memungkinkan individu menemukanidentitas dirinya. Mencoba berbagai
peran, remaja mengharapkan bahwa ia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan
diri dan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas perkembangannya, maka ia juga kehilangan
kesempatan untuk mengembangkan konsep dirinya.
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli di atas yang telah mengemukakan
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri, secara jelas dapat
dikatakan bahwa konsep diri seseorang bukanlah diwariskan atau ditentukan
secara biologis, bukan merupakan bawaan sejak lahir tetapi terbentuk dan berkembang
hasil proses belajar melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri pertama
kali dibentuk hasil dari individu dengan lingkungan keluarga terutama orang tua
seperti sebutan orang tua yang diberikan padaanaknya seperti “pemalas”, “bodoh”
akan selalu menghantui perjalananin dividu, saudara kandung seperti perlakuan
orang tua kepada anak sulung dan anak bungsu, seterusnya teman sebaya antara
lain apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak oleh teman kita,
selanjutnya sekolah misalkan seorang guru yang menjadi model bagi para
muridnya, masyarakat seperti penilaian masyarakat yang terlanjur menilai buruk
kepada individu danyang terakhir pengalaman
-pengalaman pribadi seperti kegagalan, depresi dan kritik internal.
B.
Tinjauan Tentang Pengasuhan Orang Tua
- Pengertian Pola Asuh
Mendidik anak adalah tugas yang
sangat mulia. Seorang ibu memegang peranan penting dalam mendidik anak di
lingkungan rumah tangga, sebab ibulah yang hampir setiap hari berada dirumah.
Lingkungan keluarga adalah sebuah sekolah. Seorang ibu harus menjadi seorang
tokoh utama didalam pekerjaan mendidik anak-anaknya teristimewa ketika mereka
masih kecil, maka seorang ibu haruslah senantiasa menjadi pendidik dan teman
mereka yang baik pula, dengan memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak.
“Bahwa Tuhan memerintahkan supaya keluarga menjadi tempat pendidikan yang
paling ampuh dan penting dari semangat”.
Didalam rumah tangga pendidikan anak harus dimulai. Karena inilah
sekolah yang pertama. Disini Bapak dan Ibu sebagai gurunya, maka anak itu harus
belajar segala pelajaran yang akan memimpinnya sepanjang hidupnya, yaitu
pelajaran-pelajaran tentang penghormatan, pengaturan, pengendalian diri dan kejujuran.
Ini adalah mata
pelajaran dasar yang
perlu diajarkan seorang ibu didalam runah
tangga. Cara yang paling baik untuk mendidik anak supaya menghormati
orangtuanya dalam rumah tangga / keluarga adalah memberi teladan kepada mereka,
bagaimana orangtua menyatakan kasih sayang mereka serta penghormatan antara
satu dengan yang lain akan memberi teladan yang mendalam dan berarti kepada
pikiran dan hati anak itu.
Menurut Rimm (2003: 16):
”Pola asuh orang tua adalah orang tua sebagai pemimpin, pembimbing serta
pengasuh bagi anak-anaknya selalu tercermin dari sikap kepemimpinan yang
dimilikinya. Masing-masing orang tua memiliki ciri khas atau sikap memimpin
terhadap anak-anaknya”.
Sebaliknya anak
yang berperangai buruk dapat terjadi merupakan produk hubungan orang tua-anak
yang tidak baik pula. Anak yang tidak memperoleh perhatian dan kasih sayang
orang tua menjadi haus akan kasih sayang, dan mereka takut dikesampingkan. Lagi
pula mereka terlampau ingin menyenangkan orang lain atau melakukan sesuatu bagi
orang lain. Semua itu merupakan bentuk konpensasi dan usaha mencari perhatian
terhadap orang lain dengan cara apapun.
Menurut
Shochib, M. (2002: 19) kata "pola asuh" terdiri atas kata
"pola" dan "asuh". kata "pola" mengandun arti
cocok, sistim kerja atau bentuk (struktur yang tetap). Sedangkan kata
"asuh" mengandung arti mejaga, merawat, mendidik, membimbing,
membantu, melatih agar supaya dapat berdiri sendiri. Dengan demikian pola asuh
dapat diartikan sebagai sikap orng tua dalam berinteraksi dengan anaknya, sikap
tersebut meliputi cara orang tua menerapkan aturan-aturan, hadiah maupun
hubungan serta cara orang tua memberikan perhatian dan tanggapan terhadap
anaknya.
Taty
Krisnawaty, (2001: 46) menyatakan bahwa ”pola asuhan merupakan sikap orang tua
dalam berinteraksi dengan anak-anaknya”. Sikap orang tua ini meliputi
cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua
menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta
tanggapan terhadap anaknya. Dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya,
individu banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua tersebut. Peranan
orang tua itu memberikan lingkungan yang memungkinkan anak dapat menyelesaikan
tugas-tugas perkembangannya.
Jadi pola asuh
orang tua dapat diartikan sebagai suatu sikap dan cara orang tua mendidik dan
mempengaruhi anak-anaknya dalam mencapai suatu tujuan oleh sikap dan perubahan
tingkah laku pada anak.
Menurut Sally S. Adiwardhana (2002:60):
“ Orang tua
adalah harapan bagi anak untuk bisa tumbuh dan berkembang agar bisa menjadi
anak yang baik, tahu membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, tidak mudah
terjerumus dalam perbuatan yang salah”.
Jadi pola asuh
orang tua dapat diartikan sebagai suatu sikap dan cara orang tua mendidik dan
mempengaruhi anak-anaknya dalam mencapai suatu tujuan oleh sikap dan perubahan
tingkah laku pada anak.
Orang
tualah yang pertama-tama mengajarkan moral anak. Sedangkan menurut Sarlito
Wirawan (2000 : 45):
“ Orang tua adalah pengasuh dan
pembimbing dalam keluarga dan sebagai peletak dasar perilaku bagi anak-anaknya
sebelum anak mengenal lingkungan keluarganya. Orang tua sebagai pengasuh dan
pembimbing dalam keluarga sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku
bagi anak-anaknya.
Dapat diartikan bahwa orang tua adalah sandaran bagi anak
untuk menjadi anak yang yang diharapkan oleh lingkungan sekitarnya dan sesuai
keinginannya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang
tua adalah orang pertama yang dikenal oleh seorang anak sebagai pengasuh,
pembimbing dan sebagai peletak dasar perilaku bagi anak dalam mengenal
lingkungan keluarganya.
- Peran
Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
Adapun peran orang tua terhadap pendidikan anak adalah salah
satunya dengan cara memperhatikan tentang sarana dan prasarana belajar anaknya.
Karena hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak dalam
hal penyediaan fasilitas belajar.
Dari keberanekaan itu muncul persamaan yang hakiki, yaitu
adanya orang tua atau kepala keluarga dan anggota-anggota keluarga, yang
merupakan unsur-unsur pokok dan mempunyai peranan sesuai dengan status, dan
fungsinya masing-masing (Moh. Shochib, 2000 : 12) yaitu sebagai berikut :
a)
Hubungan Perhatian Ibu terhadap Pendidikan Keluarga
b)
Hubungan Perhatian Ayah terhadap Pendidikan Keluarga
c)
Peranan Anak terhadap keluarga
Di dalam keluarga, manusia belajar dan menyatakan diri
sebagai makhluk sosial, dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di dalam
keluarga anak juga belajar menghayati adanya pembentukan norma-norma sosial,
internasional norma-norma, terbentuknya frame
of reference, sense of belonging dan lain-lain. Semuanya itu mula-mula di
dapat berdasarkan simpati dan identifikasi serta belajar memperhatikan
keinginan orang lain, belajar menghargai pendapat orang lain, belajar bekerja
sama, dalam istilah lain ia mulai belajar memegang peranan sebagai makhluk
sosial. Pengalaman dalam interaksi sosialnya
dengan anggota-anggota keluarganya akan ikut menentukan pula cara-cara tingkah
lakunya terhadap orang lain di luar keluarganya, khususnya di sekolah.
Peran orang tua terhadap pendidikan anaknya sangat penting
karena orang tua merupakan lingkungan primer, hubungan yang paling intensif dan
paling awal terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan
yang lebih luas, ia terlebih dahulu mengenal orang tuanya. Karena itu sebelum
ia mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali ia
akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarganya
untuk dijadikan bagian dalam kepribadiannya. Maka kita dapat menyaksikan
perilaku orang tua atau suku yang berbeda satu sama lain, kelas sosial, juga
agama dan pendidikan, yang dapat mempengaruhi kelakuan seseorang. Semua itu
pada hakikatnya ditimbulkan oleh norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga,
yang diturunkan melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak-anak
mereka secara turun- temurun.
Sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa : Pendidikan keluarga merupakan
bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga
dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan
keterampilan. Peran orang tua bagi pendidikan
anaknya menurut Hasbullah (2000 : 88) adalah :
a)
Cara orang tua melatih anak untuk menguasai cara-cara
mengurus diri, seperti cara makan, buang air, berbicara, berjalan, berdoa,
sungguh-sungguh membekas dalam diri anak, karena berkaitan erat dengan
perkembangan dirinya sebagai pribadi.
b)
Sikap orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak. Sikap
menerima atau menolak, sikap kasih sayang atau acuh tak acuh sikap sabar atau
tergesa-gesa, sikap melindungi atau membiarkan secara langsung mempengaruhi
reaksi emosional anak.
Sangat wajar dan logis jika tanggung jawab pendidikan
terletak ditangan kedua orang tua dan tidak bisa dipikulkan kepada orang lain,
karena ia adalah darah dagingnya, terkecuali berbagai keterbatasan kedua orang
tua ini. Maka sebagai tanggung jawab pendidikan dapat dilimpahkan kepada orang
lain, yaitu melalui sekolah. Selanjutnya menurut Hasbullah, tanggung
jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap
anak antara lain, adalah :
a)
Memelihara
dan membesarkannya, tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk
dilaksanakan, karena si anak memerlukan makan, minum dan perawatan, agar ia
dapat hidup secara berkelanjutan.
b) Melindungi dan menjamin
kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan
penyakit atau bahasa lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
c)
Mendidiknya
dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi
kehidupannya kelak, sehingga bila ia telah dewasa mampu berdiri sendiri dan
membantu orang lain.
d) Membahagiakan anak untuk dunia dan
akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Tuhan,
sebagai tujuan akhir hidup muslim.
Adanya kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina
anak secara kontinyu perlu dikembangkan kepada setiap orang tua, sehingga
pendidikan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan kebiasaan yang dilihat dari
orang tua, tapi telah didasari oleh teori-teori pendidikan modern, sesuai
dengan perkembangan zaman yang cenderung selalu berubah. Karena pendidikan
adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Sekolah hanyalah membantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab
pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak adalah dalam keluarga.
Peralihan bentuk pendidikan jalur luar sekolah ke
jalur pendidikan sekolah (formal) memerlukan “kerjasama” antara orang tua dan
sekolah (pendidik).
Peran orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu
dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya.
Begitu juga orang tua harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara
anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah, tidak disita waktu anak dengan
mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan
membimbing anak dalam belajar.
Beberapa paparan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
peran orang tua adalah fungsi yang dimainkan oleh orang tua yang berada pada
posisi atau situasi tertentu dengan karakteristik atau kekhasan tertentu pula.
Adapun peran orang tua terhadap pendidikan anak adalah salah satunya dengan
cara memperhatikan tentang sarana dan prasarana belajar anaknya. Karena hal
tersebut merupakan bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak dalam hal
penyediaan fasilitas belajar.
Tampak sangat
sulit untuk memilih - milih cara apa yang harus ditempuh untuk mengetahui
prilaku-prilaku apa yang secara khusus dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan
dan prilaku-prilaku apa yang dipengaruhi oleh lingkungan-lingkungan lainnya,
secara teoritis kita bisa saja merumuskan formulasi matematis untuk menghitung
bobot pengaruh dari setiap
lingkungan tersebut. Namun, secara praktis kita akan sulit untuk mengisi formulasi matematis tersebut. Namun demikian, bila
dilihat dari proses dan materi interaksi yang terjadi pada masing-masing
lingkungan, secara logis dapat diperkirakan prilaku-prilaku apa yang terutama
dipengaruhi oleh lingkungan tertentu. Dalam hal ini perkembangan kognitif anak,
misalnya lingkungan, sekolah cenderung lebih banyak memberikan pengaruh
langsung daripada lingkungan keluarga. Tapi tanpa peran keluarga dalam hal ini
orang tua, maka pendidikan anak disekolah tidak akan mengalami kemajuan.
Lingkungan keluarga lebih bersifat dukungan. Baik penyediaan fasilitas maupun
penciptaan suasana belajar yang kondusif. Sebaliknya dalam hal pembentukan
prilaku, sikap, kebiasaan, pemahaman nilai dan prilaku-prilaku sejenisnya dalam
lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh kuat dan sifatnya secara langsung.
Keluarga
merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang memberikan keyakinan
agama, nilai budaya, nilai-nilai moral dan ketrampilan. Selanjutnya, Radin
(Selfert dan Hoffnung, 2000) menjelaskan enam kemungkinan yang dilakukan orang
tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut :
-
Permodelan
Prilaku, baik disengaja atau tidak orang tua
dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Cara dan gaya orang tua
berprilaku akan menjadi sumber objek imitasi bagi anak.
-
Memberikan
ganjaran dan hukuman, orang tua mempengaruhi anaknya dengan
cara memberi ganjaran terhadap prilaku tertentu yang dilakukan oleh anak dan
memberi hukuman terhadap beberapa prilaku lainnya.
-
Perintah
Langsung, dengan diberikannya perintah secara
langsung anak akan sering mengambil pelajaran tertentu sehingga bisa lebih
memahami harapan-harapan dan keinginan orang tuanya.
-
Menyatakan
Peraturan-Peraturan, secara berulang-ulang orang tua sering
menyatakan peraturan-peraturan umum yang berlaku dirumah, meskipun itu sering
dinyatakan secara tidak tertulis sebagai contoh orang tua berkata: “kalau sudah
dari kamar kecil tutup pintunya dan matikan lampunya”. Dengan cara ini anak
didorong untuk melihat prilakunya apakah sudah benar atau belum, melalui
perbandingan dengan perantaraan tersebut.
-
Nalar, pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa
mempertanyakan kapasitas anak untuk menggunakan nalarnya, dan cara itu
digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya, misalnya orang tua bisa
mengingatkan anaknya tentang kesenjangan prilaku dengan nilai – nilai yang di
anut melalui pertanyaan berikut : “Apakah teman memukul teman itu merupakan
perbuatan yang baik”.
-
Menyediakan
Fasilitas atau Bahan-Bahan dan Adegan Suasana,orang tua dapat
mempengaruhi prilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan-bahan adegan
suasana.
Dari keenam
cara di atas, dapat kita lihat bagaimana hubungan orang tua berbeda dari guru
dan atau yang lainnya, bukan hanya terletak pada cara mempengaruhi anak. Tetapi
juga tergantung kepada bagaimana orang tua dan anak memandang hubungan itu. Di
sinilah pentingnya ada kesamaan persepsi antara orang tua dan anak tentang
hubungan yang berlangsung itu. Orang tua merupakan pengamat yang terpenting
untuk anaknya, orang tua memperhatikan kepentingan anak dalam merencanakan
kegiatan-kegiatan keluarga dan itu sendiri, termasuk dalam pendidikan anak.
Untuk itu orang tua harus mempunyai cara-cara untuk memacu kreativitas
pendidikan anak diantaranya, yaitu : orang tua harus dapat mengatur suasana
emosional dalam keluarga agar dapat merangsang anak untuk belajar dan
mengembangkan kemampuan kecerdasannya yang sedang tumbuh. Gaya pengasuhan
orang tua adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya.
b. Pengertian Pengasuhan Orang Tua Lain
Anak-anak yang tidak diasuh orang tua kandung keadaannya sangat
mengkhaatirkan, kurang bekerjasama dalam bermain dan mempunyai lebih banyak
interaksi negative dengan teman-teman bermain mereka dari pada anak-anak yang
orang tua bahagia perkawinannya. Selama
perpisahan dan perceraian orang tua dan juga 2 tahun pertama setelah perceraian
tersebut, sebagai masa ganggu serius terhadap hubungan - hubungan orang tua
dengan anak. Selama periode ini orang tua yang terlalu disibukkan atau yang
emosinya terganggu dan seorang anak yang sedih serta banyak menuntut, besar
kemungkinannya menghadapi kesulitan untuk saling mendukung atau saling
menghibur dan barang kali bahkan yang memperparah kesulitan masing-masing.
Hetheringtons dan koleganya (Save M Dagun, 2002 : 119) mengadakan tes pada
kelompok yang belum usia sekolah pada saat terjadinya peristiwa perceraian. Tes
ini dilakukan pada waktu anak bermain dan pada saat berinteraksi sosial dengan
teman. Hetheringtons menemukan bahwa konflik keluarga itu menimbulkan pengaruh
terhadap sikap bermain anak. Pengaruh sampingan lain adalah terganggunya
pergaulan dengan teman sebaya. Akibat yang lebih jauh lagi dapat menjadi alasan
penting terhambatnya perkembangan anak. Anak berkembang tidak stabil terutama
ketika bergaul dengan teman-temannya. Masa ini aku terus berlanjut sampai anak
menginjak masa remaja dan interaksi sosial sedikit terganggu pada masa dewasa. Selanjutnya
Hetheringtons, mengamati perilaku bermain anakanak dari keluarga cerai dan
keluarga utuh, baik di dalam kelas dan ditempat lain diperoleh keterangan,
ternyata jelas dengan terjadinya perubahan sikap. Setelah 2 bulan peristiwa
perceraian itu berlalu, mereka tampak kurang imajinatif, dan daya kreatif berkurang.
Keadaan ini bebeda dengan anak dari keluarga utuh yang tetap memperlihatkan
kegairahan dan semangat. Anak dari keluarga retak berbuah menjadi canggung
menghadapi realitas sebenarnya. Kadang-kadang mereka mulai berfantasi yang
tinggi-tinggi memimpikan menjadi orang tenar. Mereka menerawang jauh, tidak
lagi menerima kenyataan berkurangnya daya imajinasi anak pada saat bermain akan
sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan perkembangan kognitifnya.
Salah satu studi yang dilakukan oleh Hetherington dari university of
virginia menemukan bahwa laju masalah kesehatan mental yang secara teknis nyata
hampir 3x lipat lebih tinggi pada kaum remaja dari rumah tangga yang bercerai
bila dibandingkan dengan kaum remaja dari polusi pada umumnya. Ilmuwan sosial mengajukan
berbagai macam teori mengenai sebab mengapa anak kecil dari keluarga yang penuh
konflik mempunyai lebih banyak persoalan tingkah laku serta lebih banyak
kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya. Ada yang menyarankan bahwa orang
tua yang terlibat perselisihan dengan pandangan hidup mereka atau mantan
pasangan hidup mereka kekurangan energi dan waktu untuk anak-anak mereka.
Selain memberi asuhan yang buruk, banyak pakar berpendapat bahwa orang tua
dalam perkawinan yang bermasalah menjadi contoh buruk bagi anak-anak mereka
mengenai bagaimana bergaul dengan orang lain.
Umumnya bila orang tua saling mendukung dan
mengerti, mekarlah kecerdasan emosional anak mereka. Tapi, anak-anak yang terus - menerus
terkena permusuhan orang tua mereka barang kali akan menghadapi resiko-resiko
yang parah. Jika memperhatikan tingkah laku negatif yang terbuka oleh anak-anak
yang sedang kami amati itu. Interaksi seperti bertengkar, mengancam, memberi
sebutan jelek, ngerumpi dan serangan fisik, tingkah laku negatif dan anti
sosial merupakan alasan penting mengapa anak-anak ditolak oleh teman-teman
sebaya pada awal masa kanak-kanak kami juga tahu bahwa kegagalan seorang anak
kecil untuk menjalin persahabatan merupakan indikator utama resiko seorang anak
menderita masalah psikiatri. Peristiwa perceraian itu menimbulkan berbagai
akibat terhadap orang tua dan anak. Tercipta sebagai orang tua mereka tidak
lagi memperlihatkan tanggung jawab penuh dalam mengasuh anak. Pada tahun
pertama setelah perceraian, orang tua menjadi kurang dekat dengan anaknya,
meski banyak waktu tersedia untuk itu. Orang tua menjadi tegas lagi dan kurang melatih anaknya
bersikap tanggung jawab. Keadaan ini jauh berbeda dengan keluarga utuh yang
orang tuanya bersikap tegas dalam mendewasakan anaknya.
Keadaan ini bebeda dengan anak dari keluarga utuh yang tetap memperlihatkan
kegairahan dan semangat. Anak dari keluarga retak berbuah menjadi canggung
menghadapi realitas sebenarnya. Kadang-kadang mereka mulai berfantasi yang
tinggi-tinggi memimpikan menjadi orang tenar. Mereka menerawang jauh, tidak
lagi menerima kenyataan berkurangnya daya imajinasi anak pada saat bermain akan
sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan perkembangan kognitifnya.
Menurut Kelly Cole (Kelly Cole, 2004 : 3):” beberapa anak akan mengalami
efek-efek yang merugikan harga dirinya sehingga mereka menganggap diri mereka
sebagai anak yang “nakal” yang telah menyebabkan perceraian orang tua mereka”.
Hal ini terutama terjadi pada anak-anak yang lebih kecil cenderung egoisentris.
Dalam pandangan seorang anak, segala sesuatu yang terjadi disekelilingnya
disebabkan oleh perilaku, pikiran dan harapan-harapannya. Ia akan menyalahkan
dirinya sendiri atas perceraian orang tuanya dan berfikir bahwa ia tidak layak
mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupannya. Ia akan sering merasa dirinya
adalah seorang anak yang tidak beruntung dan kekurangan.
Faktor yang paling berat dalam kasus perceraian adalah bagaimana memberikan
pengaruh dan bagaimana memulihkan kembali hubungan yang baik dan stabil, menciptakan
keakraban bagi kedua orang tua. Pengaruh orang tua dapat menciptakan kekuatan
pada diri anak. Penggaruh ini akan tetap bertahan sampai 5 tahun berikutnya.
Kebiasaan mengunjungi masih penting bagi sebagian besar anak. Meskipun
demikian, kasus perceraian itu tetap membaca dampak dalam perkembangan sosial
dan emosi anak. Banyak para peneliti menemukan bahwa anak yang diasuh satu orang tua akan
jauh lebih baik dari pada anak yang diasuh keluarga utuh yang diselimuti rasa
tertekan. Perceraian dalam keluarga,
tidaklah selalu membawa dampak negatif. Sikap untuk menghindari suatu konflik, rasa tidak puas. Perbedaan
paham yang terus-menerus, maka peristiwa perceraian itu satu-satunya jalan
keluar untuk memperoleh ketentraman diri.
C.
Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan
Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari
Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012
Konsep diri adalah pandangan menyeluruh individu terhadap totalitas diri
sendiri baik tentang dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya,
kelebihan dan kelemahannya yang terbentuk dari pengalamannya dan interaksi
dengan orang lain atau lingkungan sekitar individu. Tetapi
banyak anak yang terhambat konsep dirinya karena tidak di asuh oleh orang tua
kandung karena perceraian.
Menurut Dodi Ahmad Fauzi, S.Sos (Dodi Ahmad Fauzi, 2006 : I): ”Perceraian
dalam keluarga manapun merupakan peralihan besar dan penyesuaian utama bagi
anak-anak akan mengalami reaksi emosi dan perilaku karena “kehilangan” satu
orang tua”. Bagaimana anak bereaksi terhadap perceraian orang tuanya sangat
dipengaruhi oleh cara orang tua berperilaku sebelum, selama dan sesudah
perpisahan. Anak akan membutuhkan dukungan, kepekaan, dan kasih sayang yang
lebih besar untuk membantunya mengatasi kehilangan yang dialaminya selama masa
sulit ini. Mereka mungkin akan menunjukkan kesulitan penyesuaian diri dalam
bentuk masalah perilaku, kesulitan belajar, atau penarikan diri dari lingkungan
sosial.
Menurut Singger (Save M Dagun, 2002 : 120): ”kemahiran berfantasi pada saat
bermain sangat penting”. Daya imajinasi pada saat bermain dapat dianggap
sebagai faktor yang besar, yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak,
perasaan, dan perkembangan sosial. Daya imajinasi jauh lebih penting dari pada
sikap reaksi anak terhadap suatu respons. Sebab hal baru dengan lincah dan
dapat mengalihkan bentuk baru, dan jeli menggunakan bahan yang tersedia ia
menjadi ekspresif dalam rencana dan berbicara.
Walaupun
perceraan itu tidak diharapkan, namun sebagian keluarga mangalaminya. Tentunya
banyak faktor dan alasan yang bisa memaksa pasangan dalam sebuah keluarga untuk
bercerai, namun pada intinya hal itu disebabkan oleh ketidaksesuaian atau
perselisihan yang tidak bisa didamaikan lagi. Terlepas dari faktor
dan alasan yang menyebabkan sebuah keluarga bercerai, peristiwa perceraian
dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi serius terhadap keluarga yang pada
gilirannya akan mempengaruhi perkembangan prilaku anak. Bukan hanya ikatan
perkawinan yang akan berantakan, tetapi anak juga yang menjadi korban. Perceraian
orang tua dapat merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan shock dan
konflik berat bagi anggota keluarganya. Perceraian menlahirkan perubahan
drastis yang bisa membingungkan dan memunculkan berbagai konflik, baik bagi
orang tua maupun bagi anak.
Persoalan lain
yang muncul karena perceraian adalah dialaminya tekanan-tekanan psikologis.
Dengan bercerai orang tua harus mengatur dan mengurus keluarga sendirian. Ia
mungkin harus mengerjakan hampir segenap pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya
tidak dilakukan. Kadang – kadang orang tua menjadi sibuk dan kondisi rumah
tangga menjadi semrawut. Beberapa orang tua yang bercerai
kadang-kadang merasa sangat terisolasi dari teman-temannya yang biasa dekat
dengannya. Para orang tua yang bercerai sering dihantui oleh rasa stress dengan
perkawinannya. Mereka kadang-kadang menyesali peristiwa itu tetapi tak dapat
berbuat banyak dalam menghadapinya. Emosi mereka kadang tidak stabil, mudah
marah diliputi kesedihan, tidak riang dan sebagainya. Berbagai
persoalan yang dihadapai orang tua tersebut di atas, pada akhirnya
terekspresikan disaat berinteraksi dengan anak, mereka mungkin mengisolasi diri
secara diri secara emosional terhadap diri anak, mudah marah dan berprilaku
agresif terhadap anak, berupaya mempengaruhinya supaya lebih dekat dengan diri
mereka dari pada bekas pasangan mereka, kurang bisa merawat dan memperhatikan
sebagimana layaknya dan sejumlah persoalan lainnya pendeknya mereka tidak mampu
lagi menjalankan tugas-tugas keorang tuanya secara efektif.
Lebih parah
lagi apa yang di ekspresikan oleh orang tua tersebut dapat berdampak lebih jauh
terhadap pembentukan prilaku anak disamping sekaligus menjadi model tentang
ketidak mampuan orang tua dalam menghadapi masalah-masalah sosial. Sebagaimana
orang tua. Anak juga mengalami tekanan psikologis. Mereka mungkin merasa tidak
diperhatikan lagi sehingga menyebabkan mereka merasa kesepian dan terisolasi.
Kondisi dan
iklim yang kurang harmonis diatas, pada akhirnya bisa berdampak lebih jauh
terhadap pembentukan prilaku dan pribadi anak, serta peningkatan kreativitas
pendidikan anak. Bila dibandingkan dengan anak yang lebih muda atau yang lebih
tua disaat perceraian orang tua terjadi. Kelompok anak ini memperlihatkan
kecendrungan yang lebih rendah dalam fungsi-fungsi internal (integrasi,
psikologi, stabilitas, emosi, ketangguhan struktur, defenisif dan penimbangan
realitas). Kompetensi sekolah dan dalam hubungan sosial. Selain itu,
sering menutupi ketidak bahagiaan mereka tentang hubungan masa kini dan yang
akan datang dengan memperhatikan konfomitas terhadap harapan-harapan sosial.
Singkatnya, seluruh anggota keluarga, baik terhadap orang tua lebih-lebih
terhadap anak, karena seorang anak akan merasa kehilangan kasih sayang dan
perhatian dari orang tuanya sehingga mereka merasa tersisih bahkan yang lebih
parah mereka tidak peduli pada dirinya sendiri dan pendidikannya, karena
kehilangan motivasi pada mereka.
B. Kerangka
Berpikir
Konsep diri adalah pandangan menyeluruh individu terhadap totalitas diri
sendiri baik tentang dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya,
kelebihan dan kelemahannya yang terbentuk dari pengalamannya dan interaksi
dengan orang lain atau lingkungan sekitar individu. Interaksi yang terus menerus dapat dilakukan dengan konseling kelompok
karena dengan layanan konseling kelompok ini para anggota dapat belajar bersama
dengan anggota kelompok yang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi,
selain itu pemberian alternative - alternatif bantuan yang ditawarkan oleh
para anggota kelompok yang lain lebih efektif sebab anggota kelompok tersebut
sudah mengalami secara langsung.
Banyak ilmuwan sosial lain telah membuat penemuan-penemuan serupa tentang
masalah masalah tingkah laku diantara anak-anak dari perkawinan - perkawinan
yang bermasalah. Kalau dikumpulkan bersama-sama penelitian ini membuktian bahwa
perceraian dan konflik perkawinan dapat menempatkan anak - anak pada suatu
lintasan yang menjurus pada masalah-masalah berat dikemudian hari. Kesulitan
dapat dimulai pada awal masa kanak-kanak dengan keterampilan - keterampilan
pergaulan yang buruk dan tingkah laku garang, yang menjurus pada penolakan oleh
rekan sebaya, orang tua, karena terganggu oleh masalah-masalah mereka sendiri. Kurang waktu serta perhatiannya bagi anak-anak mereka. Jadi, anak-anak itu
larut, tanpa terawasi menuju ke sebuah kelompok rekan sebaya yang lebih bandel.
Pada awal masa remaja, banyak anak dari keluarga-keluarga yang retak telah
tersandung ke dalam sarang lebah malapetaka kaum remaja, termasuk nilai-nilai
yang merosot, tingkah laku seksual terlampau dini, penggunaan obat-obat
terlarang dan tindakan kejahatan. Ada pula sejumlah bukti, meskipun tidak
begitu kuat, bahwa anak-anak dari keluarga-keluarga dengan tingkat konflik dan
perceraian yang tinggi mengalami lebih banyak depresi, kecemasan dan menarik
diri.
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, tetapi
merupakan sesuatu yang dipelajari dan merupakan hasil bentukan dari pengalaman
individu dalam berhubungan dengan individu yang lain. Dalam kegiatan konseling
kelompok akan muncul dinamika kelompok maka individu akan menerima tanggapan
dari individu lain. Tanggapan –tanggapan ini akan dijadikan cermin baginya
dalam memandang dan menilai dirinya sendiri. Tanggapan atau umpan balik yang
cukup, memungkinkan individu untuk menerima diri sendiri. Penerimaan diri akan
mengarahkannya ke kerendahan hati yang merupakan dasar konsep diri yang
positif. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan
lingkungan, dengan konseling kelompok siswa dapat berinteraksi dengan anggota
lain, mereka dapat berlatih tentang perilaku baru, belajar memberi dan
menerima, dan belajar memecahkan masalah berdasarkan masukan dari orang lain.
Situasi yang diperlukan untuk mengembangkan konsep diri positif adalah situasi
hubungan yang erat dan mendalam dan dalam waktu yang relatif agak lama dalam
berinteraksi.
Adapun kerangka pemikiran tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut:
|
|
||||||
Gambar 1.
Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat ditentukan hipotesis penelitian ini
adalah : " Perbedaan Konsep
Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh
Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Sragen
Tahun Pelajaran 2011/2012” .
BAB III
METODE PENELITIAN
Suatu penelitian dimaksudkan sebagai
usaha untuk memperoleh data yang dapat dipercaya untuk mengembangkan dan
menguji kebenaran dari suatu ilmu/ pengetahuan dengan menggunakan metode-metode
ilmiah. Suatu penelitian dikatakan sabagai penelitian ilmiah apabila dalam penelitian
itu menggunakan metode ilmiah yang telah teruji secara empiris. Metode
penelitian merupakan suatu cara yang harus ditempuh dalam suatu penelitian
ilmiah untuk memperoleh data guna menguji atau membuktikan suatu fenomena atau
gejala. Kesimpulan
dari uji kebenaran penelitian bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Untuk memperoleh data yang lengkap
dan akurat diperlukan langkah – langkah sebagai berikut:
A. Tempat
dan waktu penelitian.
1. Tempat penelitian
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Wirosari
Kabupaten Grobogan.
3.
Waktu
penelitian
Penelitian dilakukan pada Bulan Nopember sampai dengan Bulan
Pebruari Tahun Pelajaran 2011/2012.
B. Populasi,
Sampel dan Sampling.
1. Populasi.
Menurut
Sudjana (2000:6), “populasi
adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran,
kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua
anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya”. Maksud pendapat diatas bahwa
populasi adalah anggota suatu kelompok yang akan dipelajari atau diteliti.
Sampel adalah sebagaian dari
populasi yang diambil secara representative atau mewakili populasi yang bersangkutan ayau bagian kecil yang
diamati (Iskandar, 2008: 69). Dari pengertian itu sampel berarti sebagian
populasi yang terpilih untuk mewakili menjadi subyek penelitian.
Saifuddin
Azwar, (2007:77)
berpendapat, “populasi didefinisikan sebagai kelompok
subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian”.
Maksud pendapat tersebut adalah bahwa populasi merupakan suatu kelompok subyek
yang bersifat umum.
Berdasarkan pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa, populasi adalah
keseluruhan subyek yang mempunyai satu sifat atau beberapa karakteristik yang
sama yang dijadikan subyek penelitian. Yang menjadi populasi dalam
penelitian ini adalah Seluruh
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari, Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran
2011/2012 dengan jumlah populasi 200. Dengan
perinciannya sebagai berikut:
1) Kelas VII A = 40.
2) Kelas VII B = 40
3) Kelas VII C = 40
4) Kelas VII D = 40
2. Sampel.
Sampel
adalah sebagian dari populasi atau sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari
jumlah populasi (Sutrisno Hadi, 2000:221). Didalam suatu penelitian ada
kalanya seseorang peneliti tidak dapat meneliti seluruh populasi yang ada. Hal
ini bisa terjadi oleh karena jumlah populasi yang akan diteliti terlalu banyak,
sehingga memerlukan waktu yang lama , membutuhkan biaya dan tenaga yang besar
apabila semua populasi dipakai untuk penelitian.
Sampel
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 2000:177). Untuk itu digunakan sampel dalam penelitian sehingga dapat
menghemat waktu, biaya dan tenaga. Sampel yang diambil adalah sampel yang
bersifat representative atau sampel yang dapat menggambarkan karakteristik
populasi. Sehingga hasil kesimpulannya dapat dikenakan pada populasi.
Untuk
menentukan jumlah sampel Suharsimi Arikunto (2000:120) berpendapat bahwa apabila subyek
penelitian kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua, sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sedangkan jika jumlah subyek
penelitiannya lebih besar maka dapat diambil sekitar antara 10-15% atau 20-25%
atau lebih tergantung pertimbangan pada :
1) Kemampuan dan ketersediaan waktu, tenaga dan
biaya dari peneliti.
2) Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap
subyek, karena berkaitan banyak sedikitnya data yang harus dikumpulkan.
3) Besarnya resiko yang ditanggung oleh peneliti
untuk penelitian yang menggunakan
sampel besar.
Tetapi
tentunya jika sampel lebih besar hasilnya akan lebih baik dan akurat.
Dalam
penelitin ini subyek yang diambil sebagai sampel dari populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari, Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran
2011/2012 adalah 40 siswa.
3. Sampling.
Saifuddin
Azwar (2007 : 80) mengatakan bhwa, “pada dasarnya , teknik-teknik pengambilan
sampel terdiri atas cara probabilitas (probability sampling) dan cara
non-probabilitas (nonprobability sampling).”
Pendapat senada dikemukakan oleh Purwanto (2008 : 245) bahwa, “prosedur
pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara random maupun non random.” Probability sampling atau pengambilan sampel secara random (acak) disebut juga
sampling peluang. Sampling peluang adalah teknik sampling yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Non probability sampling (sampling non random (tidak
acak)) adalah pengambilan sampel dimana tidak setiap anggota populasi mempunyai
peluang terpilih sebagai sampel.
Penelitian ini digunakan tehnik random sampling yaitu
tiap-tiap individu dalam tiap populasi diberi kesempatan yang sama untuk
ditugaskan menjadi anggota sampel (Sutrisno Hadi, 2000:223). Pengambilan sampel dengan tehnik
random sampling yaitu dengan mengambil sampel dari kelompok-kelompok populasi
secara acak. Adapun cara yang digunakan untuk merandomisasi adalah cara undian
dengan mengambil masing – masing kelas 10 siswa dari 4 rombel kelas VIII di SMP
N 2 Wirosari.
C. Variabel
Penelitian
1. Pengertian Variabel.
Suharsimi
Arikunto (2002: 99) mengemukakan variabel adalah obyek penelitian atau apa yang
menjadi titik perhatian suatu penelitian.Variabel adalah segala sesuatu yang
akan menjadi obyek pengamatan penelitian atau konsep yang memiliki variasi
nilai.
2. Klasifikasi variabel.
1) Variabel dibedakan menjadi:
a) Variabel nominal.
b) Variabel ordinal.
c) Variabel interval.
d) Variabel rasio.
2) Berdasarkan konteks hubungannya variabel
dibedakan menjadi:
a) Variabel bebas atau independent variabel.
b) Variabel terikat atau dependent variabel.
c) Variabel moderator.
d) Variabel kendali..
Kaitannya
dengan penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel bebas atau
independent variabel yaitu variabel yang nilainya mempengaruhi variabel lainnya
yaitu variabel terikat, dan variabel terikat atau dependent variabel merupakan
variabel yang nilainya tergantung dari nilai variabel lainnya.
Menurut
Suharsimi Arikunto (2000:101)
mengatakan”
bahwa variabel dibedakan menjadi dua yaitu variabel bebas atau independent
variabel dan variabel terikat atau dependent variable”.
Suatu
penelitian yang melihat pengaruh suatu treatment maka ada variabel yang
mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel
penyebab, variabel bebas atau independent variabel yang dilambangkan dengan
huruf X, sedangkan variabel akibat
disebut variabel tak bebas, variabel tergantung atau dependent variabel dan
dilambangkan dengan huruf Y.
Penelitian
yang berjudul “Perbedaan Konsep
Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh
Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan
Tahun Pelajaran 2011/2012”
yang berperan sebagai variabel bebas adalah konsep diri (X) sedang variabel terikatnya
adalah Siswa yang diasuh orang tua kandung dan orang tua lain (Y).
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah teknik-teknik yang dipakai untuk memperoleh data yang diperlukan dalam
penelitian, yakni sebagai alat pengumpul data.
Teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
1. Teknik Angket.
Suharsimi Arikunto ( 2006:152)
berpendapat bahwa, “kuesioner dapat dibeda-bedakan atas beberapa jenis,
tergantung pada sudut pandangan cara menjawab, jawaban yang diberikan, serta
bentuknya.” Dipandang dari cara menjawab, kuesioner dapat dibedakan menjadi:
(1) kuesioner terbuka, yang memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab
dengan kalimatnya sendiri; (2) kuesioner tertutup, yang sudah disediakan
jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Kuesioner dipandang dari jawaban
yang diberikan, dapat dibedakan menjadi: (1) kuesioner langsung, yaitu
responden menjawab tentang dirinya; (2) kuesioner tidak langsung, yaitu jika
responden menjawab tentang orang lain.
Jenis angket yang digunakan
dalam pengumpulan data penelitian ini adalah kuesioner tertutup (berstruktur)
yang terdiri atas pertanyaan-pertanyaan dengan sejumlah jawaban tertentu
sebagai pilihan, responden tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dengan
pendiriannya. Peneliti juga menggunakan kuesioner langsung, karena responden
menjawab tentang dirinya sendiri.
Kuesioner sebagai alat
pengumpul data memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahannya antara lain: (1)
responden sering tidak teliti dalam menjawab; (2) sering sukar dicari
validitasnya; (3) walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan
sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur; (4) sering tidak
kembali, terutama jika dikirim lewat pos; (5) waktu pengembalian tidak
bersama-sama, bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat.
Kelebihan kuesioner antara lain: (1) tidak memerlukan hadirnya peneliti; (2)
dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden; (3) dapat dijawab oleh
responden menurut kecepatannya masing-masing dan menurut waktu senggang
responden; (4) dapat dibuat anonim, sehingga responden bebas, jujur, dan tidak
malu-malu menjawab; (5) dapat terstandar sehingga semua responden dapat diberi
pertanyaan yang benar-benar sama. Kelebihan kuesioner
menjadi dasar pertimbangan peneliti untuk menggunakannya sebagai alat pengumpul
data, namun mewaspadai kelemahannya.
Angket /kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
tertutup karena terdiri atas
pertanyaan-pertanyaan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan,
responden tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya.
Peneliti juga menggunakan kuesioner langsung, karena responden menjawab tentang
dirinya sendiri.
2. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data
dengan mengambil dari dokumen, catatan, foto-foto hasil kegiatan atau
benda-benda yang dapat memberi informasi dengan lengkap.
Pengertian dokumentasi adalah sebagai laporan
tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri dari penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa
itu dan tertulis dengan sengaja untuk menyimpan atau merumuskan keterangan
mengenai peristiwa itu (Winarno Surakhmad, 2001: 59).
Uraian di atas dapat diketahui bahwa dokumentasi
tersebut berupa foto-foto, tulisan-tulisan, gambar-gambar atau yang lain.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa dokumentasi adalah merupakan simpanan
atau catatan keterangan dari suatu peristiwa atau kejadian. Penelitian ini
menggunakan metode dokumentasi dengan pertimbangan antara lain:
a. Untuk
mengumpulkan data tentang perkembangan sikap kedisiplinan anak lebih cepat dan
lebih mudah dilaksanakan.
b. Menghemat
waktu, biaya dan tenaga
Keunggulan
metode dokumentasi antara lain :
a. Menghemat
waktu, biaya dan tenaga
b. Dokumen
merupakan keterangan nyata sehingga kebenaran dapat dipertanggung jawabkan.
c. Dengan
dokumentasi dapat digunakan untuk mengungkap data yang telah lalu.
Kelemahan
metode dokumentasi antara lain :
a. Penulis
harus meneliti dokumentasi secara cermat dalam menganalisis.
b. Bila
pengadministrasiannya kurang teratur akan menyulitkan peneliti dalam
menggunakan metode ini.
Untuk mengatasi kelemahan
ini, diusahakan mempelajari dan meneliti dokumen yang telah ada secara cermat.
Adapun dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui data
tentang perbedaan konsep diri antara siswa yang diasuh orang tua kandung dengan siswa yang diasuh oleh orang tua lain pada siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari
Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
Pengumpulan
data bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara
yaitu:
- Teknik Observasi
Observasi
merupakan teknik untuk mengamati secara langsung maupun tidak langsung terhadap
kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung, baik dilakukan di sekolah maupun di
luar sekolah. Observasi merupakan salah satu teknik yang sederhana dan tidak
memerlukan keahlian yang luar biasa. Observasi dapat dilakukan dengan berencana
atau insidentil.
Menurut
Suharsimi Arikunto (2002: 204) observasi dilakukan dengan dua cara yaitu :
1)
Observasi
non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen
pengamatan.
2)
Observasi
sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai
instrumen pengamatan, karena adanya kerangka yang jelas dengan demikian akan
memudahkan dalam pelaksanaan observasi.
Selain itu dalam observasi ini sudah
dibatasi permasalahannya, baik isi maupun luas situasi serta wilayahnya dengan
demikian kemungkinan observasi bisa terarah dan teliti.
a. Kelebihan
Observasi
Menurut HB. Sutopo (2002: 50) metode observasi ini juga mempunyai
kelebihan dan kekurangan, yaitu :
Kelebihan dari
teknik observasi :
1)
Merupakan
alat yang langsung untuk menyelidiki macam-macam gejala baik aspek tingkah laku
manusia yang hanya dapat diselidiki melalui jalan observasi langsung.
2)
Subyek
yang diteliti lebih mudah tuntunanya, bagi orang yang sibuk mungkin tidak
keberatan untuk diteliti tetapi keberatan yang mengisi kuesioner.
3)
Memungkinkan
pencatatan yang serempak saat terjadinya suatu gejala.
4)
Banyak
kejadian penting yang tak dapat diperoleh dengan interview dan kuesioner,
tetapi dapat diperoleh dengan pengamatan langsung.
b. Kelemahan
Observasi
Kelemahan
metode observasi adalah :
1)
Pengamat
terbatas dalam mengamati karena perannya dan kedudukannya, apakah sebagai bukti
laki-laki atau perempuan, kedudukannya atau macamnya.
2)
Pengamat
dalam peran serta, sering kesulitan memisahkan diri walaupun hanya sesaat untuk
membuat catatan hasil pengamatan.
3)
Hasil
pengamatan berupa sejumlah data, sering kesulitan memerlukan waktu untuk
menganalisanya, serta ada kecenderungan untuk melakukan pengamatan secara tidak
sistematis.
- Teknik Wawancara
Wawancara
merupakan teknik pengumpul data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan
sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog secara lisan. Yang
dimaksud wawancara menurut Sumadi Suryabrata (2001: 18) yaitu “Metode yang
mendasarkan diri kepada laporan verbal (verbal
report) di mana terdapat hubungan langsung antara si penyelidik dan subyek
yang diselidiki“.
Menurut
Suharsimi Arikunto (2002:202) interview (wawancara) ditinjau dari segi
pelaksanaannya maka dibedakan atas:
1)
Interview bebas
2)
Interview terpimpin
3)
Interview bebas terpimpin
Teknik wawancara
ini penulis lakukan apabila metode pokok yaitu angket dan dokumentasi kurang
memnuhi syarat sebagai tehnik pengumpulan data. Wawancara dilakukan terhadap
pihak yang dapat dipercaya untuk menjadi sumber data dan mengetahui masalahnya.
Adapun pihak-pihak yang dapat dipercaya yang penulis wawancarai guna memperoleh
data adalah kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa. Untuk memudahkan daftar
pertanyaan sebagai pedoman dalam melakukan wawancara.
Teknik wawancara
adalah cara yang paling mudah dalam melaksanakan penelitian karena itu teknik
ini sering digunakan, karena kelebihan atau keuntungan cukup banyak antara lain
:
Keuntungan
menggunakan metode wawancara :
a.
Sebagai
metode yang mudah dalam penelitian sosial
b.
Lebih
efektif guna menggali fenomena psikis dan pribadi seseorang.
c.
Sebagai
alat verifikasi data juga dipakai sebagai standar kriterium terhadap data yang
diperoleh.
d.
Sebagai
penggali/sumber informasi untuk mengadakan observasi pribadi terhadap tingkah
laku.
Kelemahan
Teknik Wawancara :
a. Proses
interview sangat mudah dipengaruhi situasi dan kondisi disekitar.
b.
Kurang
efisien karena boros waktu, tenaga, biaya, pikiran.
c.
Dituntut
adanya penguasaan bahasa yang cukup baik oleh pihak interview.
d.
Terkadang
kurang menembus pikiran dan perasaan interviewing sehingga data yang diperoleh
kurang lengkap.
E. Uji
Coba Instrumen
1. Uji Validitas
a. Pengujian validitas
Validitas/kesahihan
merupakan tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang
menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrumen. Untuk menguji
validitas digunakan Product Moment dengan
program komputer SPSS. ”Jika hasil dari pengolahan dengan komputer nilai
signifikan kurang dari 5% item tersebut dinyatakan valid/sahih tetapi jika
lebih besar dari 5%, maka item tersebut gugur” (Sutrisno Hadi, 2003: 37). Atau
dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, dalam hal
ini adalah jumlah sampel, bila
nilai Product Moment lebih besar dari r tabel maka item tersebut
dinyatakan valid/sahih, tetapi jika lebih kecil dari r tabel maka item tersebut
dianggap gugur (Imam Ghozali, 2001: 45).
Penelitian
ini digunakan korelasi Product Moment
dengan angka kasar dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
N = Banyaknya subyek uji coba
b. Pengujian Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat untuk mengukur
suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel
atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban
seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
waktu. Pengukuran reliabilitas dilakukan
dengan oneshot atau pengukuran sekali
saja, disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan
dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Penelitian ini
uji reliabilitas dilakukan dengan menghitung alpha cronbach. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel
jika nilai alpha cronbach > 0,60
(Imam Ghozali, 2001: 42). Untuk mengetahui reliabilitas angket dengan menggunakan rumus
Alpha.

Dengan kriteria:
Antara 0,00 s/d 0,200 = sangat rendah
0,201 s/d 0,400 = rendah
0,401 s/d 0,600 = cukup
0,601 s/d 0,800 = tinggi
0,801 s/d 1,00 = sangat tinggi
Jika
maka soal tes tersebut reliable.
F. Teknik Analisa Data.
Penelitian ini
menggunakan teknik analisis data statistik. Alasan penelitian
menggunakan tehnik analisis statistik adalah :
1. Cukup praktis untuk menguraikan.
2. Bersifat Objektif.
3. Mampu menarik kesimpulan melalui cara-cara yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
4. Dapat menentukan seberapa jauh taraf signifikannya.
Analisis data
dalam penelitian ini adalah teknik statistik dengan menggunakan rumus test,
yaitu :

Keterangan :
MD : Mean dari perbedaaan pre test dengan
post test
d : Deviasi masing-masing subjek (d –
Md)
∑d2 : Jumlah Kuadrat deviasi
N : Jumlah subjek pada
sampel
Db : Dapat ditentukan dengan (N-1)
(Sutrisno Hadi,
2004: 487)
Untuk mengambil
keputusan, menggunakan pedoman dengan taraf signifikasi 5 % dengan ketentuan :
a. Ho ditolak dan Ha diterima apabila t hitung sama
atau lebih besar dari t tabel.
b. Ho diterima dan Ha ditolak apabila t hitung lebih
kecil dari t tabel.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Diskripsi Data
1. Sejarah
berdirinya SMP Negeri 2 Wirosari
Atas prakarsa para tokoh masyarakat dan dukungan dari masyarakat,
maka SMP Negeri 2 Wirosari berdiri. Para
tokoh masyarakat ini melihat kondisi Siswa yang memerlukan pendidikan dan juga
terbatasnya daya tampung siswa di SMP Negeri 1 dan di SMP Swasta di Wilayah
Wirosari. Dengan bertambahnya perkembangan jaman, maka kebutuhan pendidikan
merupakan kebutuhan yang mendesak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh orang
tua.Akhirnya SMP Negeri 2 Wirosari berdiri tepatnya pada tanggal 23 September
1986 dengan No. SK : I.103/O/1986. Pada waktu itu tahun pelajaran dimulai pada bulan
Januari, sehingga secara resmi pada tahun ajaran 1987 telah siap menerima siswa
baru dan mendapatkan 2 ruang untuk siswa
kelas 1. Secara geografis SMP Negeri 2 Wirosari terletak di dusun Tambak desa
Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten
Grobogan .
2. Gambaran keadaan fisik sekolah
Sarana fisik yang dimiliki
oleh SMP Negeri 2 Wirosari termasuk cukup memadai untuk mendukung proses
pembelajaran. Adapun rincian sarana
fisik tersebut terlihat pada tabel berikut :
Table 1:
Sarana Fisik SMP
Negeri 2 Wirosari
Sarana /Ruang
|
Jumlah
|
Luas M²
|
Kondisi
|
|
Baik
|
Rusak
|
|||
Ruang Teori /
Kelas
|
15
|
945
|
√
|
-
|
Ruang Multi
Media
|
2
|
126
|
√
|
-
|
Ruang
Laboratorium
|
1
|
120
|
√
|
-
|
Ruang
Keterampilan
|
1
|
124
|
√
|
-
|
Ruang
Perpustakaan
|
1
|
84
|
√
|
-
|
Ruang Kesenian
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Ruang Olah
Raga
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Ruang OSIS
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Ruang Ibadah
|
1
|
48
|
√
|
-
|
Ruang BP
|
1
|
12
|
√
|
-
|
Ruang Kepala
Sekolah
|
1
|
21
|
√
|
-
|
Ruang Guru
|
1
|
63
|
√
|
-
|
Ruang Tata
Usaha
|
1
|
63
|
√
|
-
|
Ruang UKS
|
1
|
9
|
√
|
-
|
KM / WC
|
3
|
27
|
√
|
√
|
Luas Tanah : 20.000 M²
3. Kondisi Guru dan Karyawan SMP Negeri 2 Wirosari
SMP Negeri 2 Wirosari pada saat ini dikepalai oleh Bapak Drs. Dodo Budi
Santoso dan memiliki 4 Guru Bimbingan dan Konseling. Para Guru dan Tata Usaha
SMP Negeri 2 Wirosari memiliki kinerja yang rata-rata cukup baik, karena
disamping sebagian besar mereka masih muda, juga didukung oleh keterampilan
ataupun job diskripsi yang sesuai dengan bidangnya, sehingga dapat menjadi modal dan pendukung
dalam proses pembelajaran.
Sebagai gambaran jumlah Guru dan
Tata Usaha serta Penjaga di SMP Negeri 2 Wirosari adalah seperti pada tabel
berikut ini :
Tabel 2:
Daftar Tenaga Kependidikan
SMP Negeri 2 Wirosari
No.
|
Jabatan
|
Ijazah
terakhir yang dimiliki
|
|||||||
SLTA
|
PGSLP/DI
|
D2/A2
|
SM/D3/A3
|
S- 1
|
S- 2
|
JUMLAH
|
|||
1
|
Kepala Sekolah
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
1
|
|
2
|
Wakasek
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
1
|
|
3
|
Guru Tetap
|
-
|
-
|
-
|
22
|
4
|
26
|
||
4
|
GTT
|
-
|
-
|
-
|
-
|
4
|
-
|
3
|
|
5
|
Pegawai Tetap
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
3
|
|
6
|
Pegawai
Honorarium
|
2
|
-
|
-
|
1
|
1
|
-
|
4
|
|
Jumlah
|
6
|
-
|
-
|
-
|
29
|
4
|
39
|
||
Kondisi Guru menurut mata pelajaran yang diajarkan :
Guru Agama Islam : 2 orang
Guru Bahasa Indonesia : 3 orang
Guru PKn : 2 orang
Guru Bahasa Inggris : 3 orang
Guru Matematika : 3 orang
Guru IPA : 3 orang
Guru IPS : 3 orang
Guru Seni Budaya : 2 orang
Guru Penjaskes : 2 orang
Guru TIK : 2 orang
Guru PKK : 2 orang
Guru Bahasa Jawa : 2 orang
Guru BK : 4 orang
4. Kondisi Siswa SMP Negeri 2 Wirosari
Siswa kelas VII sebanyak 197 terbagi menjadi 5 kelas
Siswa kelas VIII sebanyak 198 terbagi menjadi 5 kelas
Siswa kelas IX sebanyak 210
terbagi menjadi 6 kelas
5. Sarana
pendukung
Selain memiliki
gedung sebagai tempat pembelajaran, proses pembelajaran kurang berhasil bila
tanpa di dukung oleh sarana lain, misalnya halaman sekolah yang luas sebagai
tempat upacara, parkir, pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler, ataupun tempat
olah raga. Untuk sarana pendukung yang lain berupa kegiatan ekstra kurikuler
dan pengembangan diri. Untuk kegiatan ekstra kurikuler dan pengembangan
diri dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4:
Sarana Pendukung SMP Negeri
2 Wirosari
No
|
Jenis Kegiatan
|
1
|
Pramuka
|
2
|
Seni Baca dan Tulis Al-Qur`an
|
3
|
Bulu Tangkis
|
4
|
Tenis Meja
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
5
|
Bola Volly
|
6
|
Bola Basket
|
7
|
Sepak Bola
|
8
|
Seni Tari
|
9
|
Seni Musik
|
10
|
Tata Boga
|
11
|
Komputer
|
Berdasarkan data
yang disajikan dalam tabel diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran,
sehingga mutu atau kwalitas Siswa akan lebih mantap dan dapat memberikan bekal
pengetahuan kepada mereka untuk meningkatkan pendidikan ke jenjang pendidikan
diatasnya yaitu SMA.
B. Pengujian Validitas dan
Reliabilitas
Setelah
angket diujicobakan pada responden di luar sampel selanjutnya dianalisa untuk
mencari validitas dan
reliabilitasnya (terlampir pada lampiran validitas) sebagai berikut :
Tabel IV : Hasil Uji
Validitas Konsep Diri Siswa
SMPN 2 Wirosari Kabupaten Grobogan
Tahun Pelajaran 2011/2012
ITEM TOTAL
|
|
ITEM 1 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
0.01
|
ITEM 2 Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
772**
|
ITEM 3 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
484*
|
ITEM 4 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
1.000**
|
ITEM 5 Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
550*
|
ITEM 6 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
505**
|
ITEM 7 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
552**
|
ITEM 8 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
641**
|
ITEM 9 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
616**
|
ITEM 10 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
545**
|
ITEM 11 Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
950**
|
ITEM 12 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
414
|
ITEM 13 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
513*
|
ITEM 14 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
487*
|
ITEM 15 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
616**
|
ITEM 16 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
513*
|
ITEM 17 Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
429
|
ITEM 18 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
484*
|
ITEM 19 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
346
|
ITEM 20 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
505*
|
ITEM 21 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
505*
|
ITEM 22 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
552*
|
ITEM 23 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
499*
|
ITEM 24 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
1.000**
|
ITEM 25 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
550*
|
ITEM 26 Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
283
|
ITEM 27 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
552*
|
ITEM 28 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
641**
|
ITEM 29 Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
505*
|
ITEM 30 Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
|
641**
|
Dari perhitungan validitas yang ada pada
lampiran validitas diperoleh hasil sebagai berikut : dari 30 item angket
kenakalan siswa ternyata ada 4 item yang
tidak valid yaitu item 1, item 12, item17 dan item 26 sehingga ada 26 item yang
dinyatakan valid.
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Dari perhitungan dari lampiran realibilitas diperoleh nilai
reliabilitas angket kenakalan siswa siswa sebesar 0,687. Dari
daftar tabel koefisien korelasi diketahui bahwa nilai r dalam tabel dengan N =
27 dalam taraf signifikansi 5% = 0,381. Sedangkan nilai koefisien korelasi
hasil uji coba = 0,687 dengan demikian nilai-nilai yang diperoleh dari uji coba
lebih besar dari nilai r dalam tabel pada taraf signifikansi 5%. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa instrumen kenakalan siswa tersebut cukup reliabel dan layak
digunakan untuk alat mencari data.

C. Deskripsi Data
1. Konsep
Diri Antara Siswa Yang Tidak Diasuh Orang Tua Kandung

Berdasarkan
data Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari
Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012, diketahui untuk nilai
tertinggi = 93 dan untuk nilai terendah = 79. Mean atau nilai rata-rata sebesar
= 25,87 dan untuk standar deviasi (SD) diperoleh nilai = 4.13545.
Berdasarkan data hasil konsep diri tidak diasuh orang tua
kandung tersebut dapat dibuat tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.3 : Distribusi Tentang Konsep
Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten
Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012

Berdasarkan tabel
distribusi tersebut diatas, maka langkah selanjutnya adalah membuat grafik
histogram dan polygon. Adapun grafik histogram dan polygon dapat dilihat
sebagai berikut :

Gambar 4.5 :
Grafik Histogram dan
Polygon Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua
Kandung pada Siswa Kelas VIII SMP
Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012
2. Konsep Diri Yang Diasuh Oleh Orang Tua Kandung Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2
Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012

Berdasarkan
data konsep diri yang diasuh oleh orang tua lain, diperoleh untuk nilai tertinggi = 120 dan untuk nilai terendah
= 106. Mean atau rata-rata diperoleh nilai sebesar = 26,67 dan untuk standar deviasi (SD) diperoleh nilai =
4.38412. Dari data hasil konsep diri yang diasuh oleh orang tua lain tersebut, kemudian dapat
dibuat tabel distribusi frekuensi sebagai berikut :
Tabel 4.6 : Distribusi
Tentang Yang
Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari
Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012

Berdasarkan
tabel distribusi tersebut diatas, maka langkah selanjutnya adalah membuat
grafik histogram dan polygon. Adapun grafik histogram dan polygon dapat dilihat
sebagai berikut :

Gambar 4.7 : Grafik
Histogram Konsep Diri Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain
Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran
2011/2012.
C.
Pengujian Hipotesis

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS 14 dengan uji t
diperoleh nilai t-hitung (to) yang diperoleh, lebih besar dari pada t
tabel, atau
(-52.490
> -1.685). Pada taraf signifikan 5%
dengan N (jumlah siswa:39) diperoleh – 1.685 sedangkan t observasi diperoleh =
- 52.490. Jadi nilai t-observasi yang
diperoleh lebih kecil dari pada t tabel, atau (- 52.490 < - 1.685).
Berdasarkan pengolahan data
tersebut di atas, ternyata nilai t-observasi yang diperoleh lebih kecil dari
pada t tabel baik pada taraf
signifikansi 5% maupun 1%, atau : (2,023 < -52.490 > -1.685) maka Ho
ditolak, artinya bahwa: "Ada Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang
Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran
2011/2012", terbukti kebenarannya. Perbedaan konsep diri siswa yang
diasuh orang tua kandung dengan yang tidak diasuh orang tua dapat dilihat dari
t- hitung
negative
berarti rata – rata konsep diri siswa yang tidak diasuh orang tua lebih rendah
daripada yang diasuh oleh orang tua kandung.
F. Pembahasan Hasil Analisis Data
Berdasarkan pengolahan data
tersebut di atas, maka dapat diambil
suatu interprestasi bahwa pada hakekatnya pengasuhan atau bimbingan orang tua adalah suatu proses pemberian bantuan
kepada seorang anak yang dilakukan oleh ayah atau ibu secara berkesinambungan
supaya anak tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan
dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan
lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Maksudnya
bahwa orang tua yang mempunyai kewajiban mendidik dan bertanggung jawab
terhadap anak-anaknya sejak lahir hingga dewasa. Jadi bimbingan orang tua
sangat penting dalam menentukan pendidikan anak-anaknya.
Pada umumnya orang tua selalu menuntut anak untuk
menjadi individu yang sangat diharapkan oleh mereka. Tuntutan yang dirasakan
anak akan dianggap sebagai tekanan dan hambatan jika tuntutan tersebut ternyata
tidak dapat dipenuhi oleh anak. Selain itu sikap orang tua yang berlebihan
dalam melindungi anak akan menyebabkan anak tidak dapat berkembang dan
mengakibatkan anak menjadi kurang tingkat percaya dirinya dan memiliki konsep
diri yang rendah.
Peran orang tua terhadap pendidikan anaknya sangat penting karena orang
tua merupakan lingkungan primer, hubungan yang paling intensif dan paling awal
terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang lebih
luas, ia terlebih dahulu mengenal orang tuanya. Karena itu sebelum ia mengenal
norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali ia akan menyerap
norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarganya untuk dijadikan
bagian dalam kepribadiannya. Maka kita dapat menyaksikan perilaku orang tua
atau suku yang berbeda satu sama lain, kelas sosial, juga agama dan pendidikan,
yang dapat mempengaruhi kelakuan seseorang. Semua itu pada hakikatnya
ditimbulkan oleh norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga, yang diturunkan
melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak-anak mereka secara
turun- temurun.
Salah satu tugas orang tua adalah mendidik
anaknya, melibatkan diri dalam kesejahteraan psikis anak agar dapat beradaptasi
dengan lingkungannya. Pola asuh orang tua harus kontinyu melatih agar anak
mampu mengendalikan intriknya yang akhirnya menjadi manusia beradab : Jika pola
asuh orang tua cenderung memberikan anaknya lepas bebas, maka anak menjadi
tidak terkendali dan tidak mempunyai disiplin, namun jika terlalu dilarang anak
tersebut menjadi kurang kreatif. Seperti pendapat dari Cooper Smith dalam Clara R
Pudjijogyanti (2000: 30-31) menjelaskan bahwa kondisi keluarga yang buruk dapat
menyebabkan konsep diri yang rendah.
Dalam melakukan tugas-tugas
perkembangannya seorang individu banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua dan
lingkungan lainnya. Peranan orang tua tersebut akan memberikan lingkungan yang
memungkinkan anak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Sebenarnya
setiap orang tua itu pasti menyayangi anak-anaknya, akan tetapi mengungkapkan
rasa kasih sayangnya berbeda-beda dalam penerapannya. Perbedaan itu tampak
dalam pola asuh yang diterapkannya. Metode yang paling penting mendidik anak
dalam keluarga adalah dengan keteladanan, karena keteladanan merupakan metode “influentif” yang paling menyakinkan keberhasilannya dalam
mempersiapkan dan membentuk anak didalam moral, spiritual dan sosial.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa orang tua harus memperhatikan
sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai
segala usahanya. Tetapi orang tua juga
harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah,
membuat pekerjaan rumah, tidak disita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan
rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam
belajar.
G. Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa “Ada Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang
Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran
2011/2012”, namun demikian hasil ini belum tentu reliabel. Adanya hasil
penelitian ini apabila diterapkan pada penelitian dengan populasi, sampel dan
waktu yang berbeda-beda, hasilnya belum tentu sama. Hal ini disadari, karena
dalam penelitian ini terdapat kelemahan atau keterbatasan-keterbatasan.
Keterbatasan itu antara lain :
1.
Waktu Penelitian sangat terbatas
2.
Populasi dirasakan sangat sedikit
3.
Sampel yang diambil dimungkinkan kurang representative
4.
Dimungkinkan adanya kesesatan alat pengumpul
data
5. Teknik analisis data yang digunakan dimungkinkan kurang tepat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data tersebut di atas, ternyata nilai t-observasi yang diperoleh lebih kecil dari pada t tabel baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1%, atau : (2,042 < 1 0,571 > 2,750), dengan demikian hipotesis yang diajukan yaitu: "Ada Perbedaan Konsep Diri Antara Siswa Yang Diasuh Orang Tua Kandung Dengan Siswa Yang Diasuh Oleh Orang Tua Lain Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Wirosari Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012", terbukti kebenarannya. Berarti bahwa orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Tetapi orang tua juga harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah, tidak disita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam belajar. Karena peran orang tua bagi pendidikan anaknya adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup beragama. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
Sikap orang tua dalam memberikan
bimbingan kepada anaknya di rumah akan sangat mempengaruhi konsep diri anak di sekolah,
sering kali kita jumpai anak-anak yang jika di sekolah tidak pernah
memperhatikan gurunya, dalam proses belajar mengajar sering ijin keluar kelas,
berangkat terlambat, bahkan tidak pernah mengejarkan PR (Pekerjaan Rumah),
sikap anak tersebut sangat dipengaruhi oleh cara orang tua dalam memberikan
pola asuhnya di rumah, karena pola asuh orang tua merupakan cermin bagi
kehidupan anak mereka baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dengan
pola asuh yang baik maka keaktifan anak khususnya dalam belajar akan
terbentuk.
B.
Implikasi.
Keluarga merupakan
tempat pertama dan utama dalam membentuk konsep diri anak. Perlakuanperlakuan
yang diberikan orang tua terhadap anak akan membekas hingga anak menjelang
dewasa dan membawa pengaruh terhadap konsep diri anak baik konsep diri ke arah
positif atau ke arah negatif. Cooper
Smith dalam Clara R Pudjijogyanti (2000: 30-31) menjelaskan bahwa kondisi
keluarga yang buruk dapat menyebabkan konsep diri yang rendah. Yang dimaksud
dengan kondisi keluarga yang buruk adalah tidak adanya pengertian antara orang
tua dan anak, tidak adanya keserasian hubungan antara ayah dan ibu, orang tua
yang menikah lagi, serta kurangnya sikap menerima dari orang tua terhadap
keberadaan anak-anak. Sedangkan kondisi keluarga yang baik dapat ditandai
dengan adanya intregitas dan tenggang rasa yang tinggi serta sikap positif dari
anggota keluarga. Adanya kondisi semacam itu menyebabkan anak memandang orang
tua sebagai figur yang berhasil dan menganggap orang tua dapat dipercaya
sebagai tokoh yang dapat mendukung dirinya dalam memecahkan seluruh persoalan
hidupnya. Jadi kondisi keluarga yang sehat dapat membuat anak menjadi lebih tegas,
efektif, serta percaya diri dalam mengatasi masalah kehidupan dirinya sebagai
pembentuk kepribadiannya.
Peran orang tua adalah fungsi yang dimainkan oleh
orang tua yang berada pada posisi atau situasi tertentu dengan karakteristik
atau kekhasan tertentu pula. Adapun peran orang tua terhadap pendidikan anak
adalah salah satunya dengan cara memperhatikan tentang sarana dan prasarana
belajar anaknya. Karena hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab orang tua
kepada anak dalam hal penyediaan fasilitas belajar. Orang tua adalah orang
pertama yang dikenal oleh seorang anak sebagai pengasuh, pembimbing dan sebagai
peletak dasar perilaku bagi anak dalam mengenal lingkungan keluarganya. Pendidikan dalam keluarga lebih mengarah pada proses
pengaturan dan pemberian motivasi bagi anak, bukan pada aspek materi pelajaran
sebagaimana yang diajarkan di sekolah. Nilai-nilai yang merupakan karakter dari
dalam diri yang harus mampu diserapi dan diimplementasikan oleh anak-anak. Etos
kerja, tidak mudah menyerah, dan semangat belajar yang tinggi adalah
nilai-nilai yang harus ditanam dalam kepribadian anak.
Pada era globalisasi sekarang ini, orang
tua tidak tepat lagi untuk menerapakan 'pola pengasuhan yang terlalu menuntut (push parenting). Pola pengasuhan semacam
ini bisa dilihat di sekitar kita dan tampak jelas melalui perilaku seperti: (1)
mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya, dengan kursus-kursus program
sosialisasi dan kegiataan 'pengayaan' lainnya; (2) menuntut prestasi tinggi di
sekolah dan di berbagai bidang lain nyaris dengan segala cara (emosional,
psikologis, fisik, dan dana); (3) menekan anak memilih kursus, pelatihan atau
minat lebih untuk tujuan membuat curriculum vitae alias daftar riwayat hidup
yang mengesankan, daripada memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat
pribadi; (4) mencampuri persahabatan atau hubungan anak dengan guru dan
pelatihnya.
C.
Saran-Saran
Sehubungan dengan hasil
penelitian di atas, maka diajukan saran yang nantinya dapat meningkatkan
perkembangan motorik anak. Adapun saran-saran tersebut sebagai berikut :
- Kepada Sekolah.
a. Hendaknya
pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha untuk meningkatkan konsep
diri siswa, yaitu dengan mengadakan komunikasi dengan orang tua tentang
perkembangan anaknya disekolah.
b.
Memfasilitasi tenaga pengajar dengan
kemampuan/teknik mengajar yang kreatif dan inovatif
c.
Memfasilitasi sekolah dengan berbagai sarana
dan prasarana yang diperlukan sekolah
d.
Memotivasi memfasilitasi tenaga pengajar dan
karyawan agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan penuh
tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi.
- Kepada Orang Tua.
Untuk menunjang keberhasilan putra Bapak/Ibu dalam hal perkembangan
konsep diri siswa hendaknya disamping memberikan kebutuhan dalam bidang material
tapi juga memberikan pengasuhan yang tepat dirumah sehingga konsep diri dapat
berkembang dengan baik.
3.
Kepada guru.
Hendaknya guru sebagai
seorang pengajar disamping memberikan materi pelajaran, juga memberikan
bimbingan dalam pengajaran sehingga diharapkan konsep diri siswa akan
berkembang dengan baik.
- Kepada siswa.
Siswa diharapkan mampu mengembangakan
konsep dirinya dengan cara, mengembangkan kemampuan sosialnya dan siswa
hendaknya selalu mengikuti semua kegiatan yang diadakan di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Burns.
2000. Konsep Diri. Jakarta : Arean
Calhoun alih bahasa Satmoko, 2000. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang : IKIP
Semarang Press.
Centi. 2000. Mengapa Rendah Diri. Yogyakarta : Kanisius.
Hasbullah. 2000.
Rahasia Sukses belajar. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
HB. Sutopo. 2002. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press.
Hurlock. 2000. Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta : Erlangga. Psikologi Perkembangan (Suatu
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan) Edisi Kelima. Jakarta
: Erlangga.
Iskandar,
2008. Metodologi Penelitian Pendidikan
dan Sosial( Kuantitatif dan Kualitatif).
Jakarta: gaung Persada Press (GP Presss)
Rakhmat, 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Rimm. 2003. Psychology of
Child. New York: John Wiley and Sons, Inc.
Rini,
2002: http: /www.e-psikologi. com/ dewa/ 16050.htm
Mulyana. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Purwanto.
2008.
Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Saifuddin Azwar, 2007. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar
Sally S. Adiwardhana. 2002. Pola Pengasuhan Ideal. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Sarlito Wirawan. 2000. Dasar-Dasar
Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Save M Dagun, 2002. http://
lusiana – solita. Blog.spot. com/ search/ label/ makalah
Shochib, M. 2002. Pola Asuh Orang Tua. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sudjana . 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algensindo
Sumadi Suryabrata . 2001. Pengembangan
Alat Ukur Psikologis. Andi Offset. Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto. 2000. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan.
Jakarta : Rineka Cipta.
. 2002. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta.
. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (edisi
revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta.
Sutrisno
Hadi, 2000. Statistik
2, Yogyakarta : Andi Offset.
Taty Krisnawaty, 2001. Skripsi Studi tentang Pengaruh Pola
Asuhan Orang Tua terhadap Perkembangan Penalaran Moral Remaja Awal Siswa SMPN
IKIP Yogyakarta. Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM.
Winarno Surakhmad, 2001. Pengantar
Interaksi Mengajar Belajar, Dasar dan Teknik Metodologi. Bandung : Tarsito.