hot2

Selasa, 23 Februari 2021

CONTOH WAWANCARA DENGAN GURU BK

 

TEMA : “ MENOLAK BILA DIKELOMPOKKAN DENGAN TEMAN LAKI-LAKI ”

Deskripsi Kasus         :

            Dewi adalah salah seorang siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon menunjukkan gejala tingkah laku yang aneh . Dia tergolong siswa yang terpopuler di antara teman-temannya, sebab selain pintar, juga rajin dan ramah. Hal itulah yang membuat sebagian temannya ingin belajar kelompok dengannya. Namun dari sinilah awal masalah yang dialami Dewi mulai tampak. Hal ini terlihat dari adanya sikap menolak terhadap teman-temannya yang berlainan jenis kelamin (laki-laki), dia takut berdekatan dengan laki-laki. Teman-teman laki-lakinya mengatakan bahwa Dewi tidak pernah dekat dengannya, dia selalu menghindar bila diajak bicara. Demikian pula informasi dari guru bidang studi yang mengajar Dewi di kelas bahwa Dewi selalu menolak bila dikelompokkan dengan teman laki-laki, sehingga banyak teman laki-lakinya yang merasa kecewa karena ingin belajar dengan Dewi tapi selalu ditolaknya.

Klien    : Assalamualaikum Wr.Wb.

Kons    : Walaikumsalam Wr.Wb.

              Eh Dewi, mari silakan duduk.

Klien    : Terima kasih, bu.

Kons    : Apa kabar Dewi, pelajaran apa yang baru ikuti di kelas?

Klien    : Baik bu, pelajaran matematika.

Kons    : Oh ya, Dewi sudah tahu mengapa ibu memanggil ke sini?

Klien    : Belum bu. Tapi saya kira ada hal penting yang ingin ibu sampaikan pada  saya.

Kons    : Betul sekali apa yang kamu bilang Dewi, malah saya senang sekali karena Dewi mau 

menemui ibu setelah memanggilmu melalui Diah.

   Begini Dewi, ada yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan pelajaranmu di sekolah.

Klien    : Pelajaran saya bu.

Kons    : Bukan langsung pada pelajaranmu tapi ada hubungannya dengan pelajaranmu. Saya  

  mendengar bahwa Dewi selalu menolak bila dikelompokkan dengan teman laki-laki

  dalam belajar. Apa betul demikian?

Klien    : Memang betul bu (sambil menunduk).

Kons    : Ibu ingin tahu mengapa Dewi bila dikelompokkan dengan teman laki-laki selalu

  menolak? apa ada masalah apa dewi?

Klien    : Ah tidak ada apa-apa bu, malah mereka baik-baik semua.

Kons    : Dewi tadi bilang mereka baik-baik saja, lalu kenapa kamu tidak mau berkelompok

  dengan mereka.

Klien    : (Terdiam dan merunduk). Saya …… saya tidak tahu bu, kenapa saya tidak mau

  berkelompok dengan teman saya yang laki-laki pada hal mereka semua baik-baik pada

 saya. Dan ……………..

Kons    : Teruskan tak usah ragu-ragu. Ibu akan merahasiakannya.

Klien    : Saya malah kadang-kadang merasa benci pada laki-laki.

Kons    : Dewi tadi mengatakan bahwa  kadang-kadang benci pada teman laki-laki, namun tidak

  tahu kenapa hal itu terjadi. Bolehkah Dewi menceritakan pada ibu tentang keadaan

  keluarga Dewi?.

Klien    : Boleh saja, bu.

Kons    : Oh…….ya Dewi apakah kedua orang tua mu masih utuh atau hidup semuanya?

Klien    : (Menunduk) kalau ibu masih hidup sedangkan ayah sudah lama meninggal, bahkan kata

  ibu sejak saya masih bayi. Hal ini baru saya ketahui pada waktu saya mau naik kelas

  VIII SMP.

Kons    : Apa saja yang Dewi baru tahu dari ibu Dewi?

Klien    : Begini, bu. Sebenarnya selama ini saya tidak tahu bahwa ayah yang selama ini saya

  panggil ayah ternyata ayah tiri saya, bukan ayah kandung saya.

Kons    : Dewi mengatakan bahwa ayah  yang mengasuhnya selama ini ternyata bukan ayah

              kandung, terus dari siapa Dewi mengetahui keadaan yang sebenarnya itu?

Klien    :  Semua itu saya ketahui dari ibu saya sendiri, sebab dia menganggap saya sudah besar

   dan sudah bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Tetapi yang lebih menyakitkan

   lagi bu, sebab ayah tiri saya itu selama ini kasar pada saya, sama sekali tidak ada rasa

  kasih sayang pada saya.

Kons    : Dewi tadi mengatakan bahwa sikap ayah tirimu itu kasar, maksudmu bagaimana?

Klien    : Betul bu………malah dia selalu menganggap saya lebih rendah dari adik tiri saya.

Kons    : Dapatkah Dewi menceritakan maksud dianggap lebih rendah dari adik tirimu.

Klien    : Begini bu, ayah tiri saya selalu berkata kasar pada saya, begitu juga dalam membelikan  

  pakaian, anak kandungnya dibelikan lebih banyak dan kualitasnya lebih bagus dari

  saya.

Kons    : Apakah hal itu berlangsung sampai sekarang?

Klien    : Tidak lagi bu, sebab ayah tiri saya itu sudah tidak ada lagi di rumah.

Kons    : Mengapa ayah tirimu tidak ada di rumah?

Klien    : Sebab ia kawin lari dengan pembantu ibu. Dari sinilah awalnya ibu menceritakan   

              semuanya.

Kons    : Lalu bagaimana adik tirimu sekarang apa dia masih bertingkah laku seperti waktu ada

  ayahnya?

Klien    : Tidak lagi bu, malah dia sudah berubah sebab dia pun sudah tahu bahwa saya tidak se

  ayah. Malah sekarang dia selalu membantu mengerjakan pekerjaan yang harus saya  

  kerjakan Hanya saja ……………………

Kons    : Hanya saja kenapa, kemukakanlah …………………

Klien    : Saya tidak bisa melupakan sikap ayah tiri saya itu sehingga khawatir dan sering

  dihantui oleh perasaan takut, Itulah mungkin yang menjadi sebab sehingga saya selalu

  menolak berkelompok dengan teman laki-laki saya. Bahkan bu…………… saya tidak

  tahu mengapa tiba-tiba saya benci dengan laki-laki.

Kons    : Jadi Dewi belum bisa melupakan perlakuan ayah tirimu itu?

Klien    : Betul bu, memang saya heran juga pada diri saya sendiri mengapa saya bersikap seperti

itu, tapi saya juga tidk dapat mengingkari kata hati saya yang selalu menolak keadaan seperti itu, malahan barangkali sikap saya yang seperti itulah yang membuat saya selalu menghindar dari teman laki-laki saya,bu. Tapi saya tidak punya perasaan tertarik pada laki-laki. Malah bu, ada yang sampai kirim surat pada saya, namun saya tidak membalasnya.

Kons    : Jadi Dewi tidak ada perasaan tertarik pada laki-laki.

Klien    : Betul bu……….malah saya selalu menghindar kalau teman-teman saya mulai bercerita

tentang pergaulannya dengan teman laki-lakinya.

Kons    : Apakah Dewi sudah perneh mengusahakan untuk menghilangkan perasaan yang

menyebabkan takut dan tidak tertarik pada laki-laki.?

Klien    : Saya sudah pernah mencoba tapi tidak berhasil bu.

Kons    : Dewi menyatakan sudah pernah mencoba, usaha-usaha apa sajakah yang telah Dewi

lakukan untuk menghilangkan perasaan takut pada laki-laki?

Klien    : Saya berusaha menghilangkan pikiran yang tidak baik terhadap perlakuan ayah tiri

saya yang kasar dan sudah membekas dalam diri saya, dengan mengingat dan membayangkan hal-hal yang baik-baik saja seperti diperlihatkan oleh teman-teman laki-laki di sekolah, namun kalau saya sudah mulai berusaha mendekatinya muncul lagi perasaan takut sebab masih selalu terbayang perlakuan kasar ayah tiri saya. Oh ya bu………. Kira-kira apa yang dapat saya lakukan supaya saya bisa dekat dengan teman laki-laki seperti teman-teman wanita  yang lain?

Kons    :  Itu semua tergantung dari diri Dewi, maksud ibu tidak bisa langsung memberikan obat

untuk menyembuhkan persoalan itu seperti seorang dokter memberikan resep pada pasiennya dan sesudah obatnya diminum langsung sembuh. Tetapi dalam hal ini yang dituntut adalah kemauan

Klien    : Saya mengerti apa yang ibu maksudkan,tapi apakah dewi bisa bu?

Kons    : Oleh karena itu secepatnya masalah Dewi itu dapat diatasi dengan baik …………..

Begini ya ……… Dewi, tadi kamu sudah kemukakan bahwa sering berusaha melupakan peristiwa yang Dewi alami dengan cara menggantikan memikirkan hal-hal yang positif, nah keinginan Dewi untuk keluar dari masalah yang membelenggu itu dapat Dewi lakukan dengan memperkembangkan dan membiasakan melihat yang baik dari seorang laki-laki. Dalam arti jangan terlalu menututi perasaan, kalau perasaan itu muncul, maka segera kamu berusaha menghilangkannya. Seperti misalnya dalam kegiatan belajar kelompok di kelasmu, biasakanlah dan janganlah menolak berkelompok dengan laki-laki, hal ini dapat membiasakan kamu bersama laki-laki yang memberikan dampak positif kepada dirimu. Memang ibu akui bahwa pertamanya Dewi akan merasa sulit, namun kalau sudah sering akan terbiasa juga kan. Seperti orang bilang sudah bisa karena terbiasa. Mengapa hal ini tidak Dewi biasakan?

Klien    : Memang bu selama ini Dewi belum berusaha keras membiasakan berteman dengan laki-

laki malah saya hanya menuruti perasaan saya sendiri. Namun saya akan berusaha untuk membiasakan diri seperti apa yang ibu katakan.

Kons    : Baiklah kalau itu , sudah Dewi pikirkan dan perlu ibu sampaikan bahwa tidak selamanya

laki-laki itu sama sifatnya dengan ayah tiri Dewi, dan tidak mustahil Dewi akan menemukan laki-laki yang kebaikannya melebihi dari apa yang Dewi bayangkan. Sebab selama ini Dewi tidak pernah mempunyai teman dekat laki-laki. Jadi supaya pikiran buruk tentang laki-laki itu hilang, maka Dewi harus berusaha menghilangkan dan menyakinkan dirimu sendiri bahwa tidak selamanya laki-laki akan bersikap sama seperti ayah tirimu itu. Dan yang lebih penting lagi tidak ada orang yang sama persis sifat dan tabiatnya walaupun itu kembar adanya.

Klien    : Sepertinya pikiran saya lebih terbuka dengan nasihat ibu. Saya akan berusaha

menghilangkan perasaan benci dan takut pada laki-laki, sehingga saya dapat seperti teman-teman yang lain. Saya tidak akan menolak lagi berkelompok dengan laki-laki supaya saya dapat terbiasa dengannya.

Kons    : Oh ya ……… persoalan yang Dewi hadapi ini tidak dapat hilang dengan hanya satu kali

saja melakukannya, dalam arti membutuhkan proses dan waktu, tetapi tidak perlu khawatir kalau memang Dewi sudah dapat mengendalikan diri, itu semua akan bisa berubah jadi baik. Dan jangan berhenti untuk terus bertekad menghilangkan perasaan dan khayalan yang buruk pada seorang laki-laki.

Klien    : Terima kasih bu ……….rasanya terbuka pikiran apa yang harus saya lakukan sekarang

untuk mengatasi persoalan saya itu. Mudah-mudahan saya dapat melakukannya dengan baik. Nanti kalau saya mengalami hambatan lagi dalam melakukannya, maka saya akan ke sini lagi bu.

Kons    : Ibu akan senang sekali jika Dewi datang kembali melaporkan perubahan-perubahan yang

telah terjadi pada diri dewi serta ibu yakin sekali Dewi dapat membiasakan dirinya dekat pada laki-laki dan belajar bersama dalam satu kelompok.

Klien    : Ya saya akan berusaha keras melakukannya bu, permisi dulu bu ( Sambil berjabat

tangan). Assalamualaikum Wr.Wb.

Kons    : Walaikumussalam Wr.Wb


PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI BK 2021

 

PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI BK

 

1.      PENGARUH PELAYANAN BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PULOKULON , KABUPATEN GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2020/2021.

 

2.      KORELASI ANTARA LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PULOKULON , KABUPATEN GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2020/2021.

 

 

3.      HUBUNGAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DENGAN PERILAKU SISWA MENCARI PERHATIAN DI KELAS PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2020/2021.

 

4.      STUDI KASUS TENTANG PERILAKU SISWA MENCARI PERHATIAN DI KELAS  PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN  TAHUN PELAJARAN 2020/2021.

CONTOH SURAT KETERANGAN PENELITIAN 2021

 

PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN

DINAS PENDIDIKAN

SMP NEGERI 1 PULOKULON

Jalan Raya Panunggalan, 416, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan

 

S U R A T   K E T E R A N G A N

Nomor : 424 / 081 / D / 2021

 

Kepala SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan  menerangkan bahwa :

 

NAMA                                                 : SRI MARIAWATI

NIM                                                     : D.0110.121

FAK/PROGRAM STUDI                     : BIMBINGAN KONSELING

 

Adalah mahasiswa UTP Surakarta yang telah mengadakan penelitian pada tanggal 14 Maret 2012 s/d 01 April 2012 di SMP Negeri 1 Pulokulon tentang “ HUBUNGAN PERILAKU SISWA MENCARI PERHATIAN DI KELAS DENGAN PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 “

 

 

Dengan catatan :

1.      Pelaksanaan penelitian tidak mengganggu proses belajar mengajar

2.      Hasil penelitian tidak untuk disajikan kepada pihak luar

 

Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan seperlunya

 

 

 

Pulokulon, 16 April  2021

                                                                                                         Kepala Sekolah,

HOME VISIT GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) SANGAT DI BUTUHKAN DALAM MASA PANDEMI COVID 19

 


HOME VISIT GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (BK)SANGAT DI BUTUHKAN DALAM MASA PANDEMI COVID 19

 

OLEH: SRI MARIAWATI, S.Pd., M.Pd ( Guru BK SMPN 1 Pulokulon )

Tidak bisa dipungkiri adanya pandemic covid 19 membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah sangat terganggu. Hal ini disebabkan oleh peraturan dari pemerintah melalui kementerian Pendidikan yang tidak memperbolehkan sekolah meyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Untuk keberlangsungan proses belajar mengajar pemerintah melalui kementerian Pendidikan sangat menganjurkan metode pembelajaran jarak jauh lewat media Internet. Banyak sarana yang bisa digunakan dalam pembelajaran Jarak Jauh diantaranya memberikan tugas tugas lewat media social Whatsapp, Facebook, ataupun bertatap muka secara Daring melalui Google classroom, zoom, dan lain sebagainya.

Pada situasi seperti ini peran guru BK sangat diperlukan. Guru BK memiliki peran penting dalam menunjang proses pembelajaran di saat masa pandemi. Memotivasi ataupun memberikan penguatan kepada siswa merupakan hal utama yang harus dilakukan. Guru BK dapat menjadi jembatan antara guru dan sekolah dalam hal keluhan-keluhan yang di alami oleh peserta didik, juga dapat menjembatani antara sekolah dengan wali murid sehingga terjalin komunikasi yang seimbang antara sekolah dan wali murid. Semua informasi bisa disampaikan bahkan kesulitan-kesulitan akan bisa teratasi berkat peran guru BK yang aktif.

Hal ini bisa dilakukan saat dibutuhkan oleh guru Mapel atau wali kelas setelah mendapati masalah seperti keterlambatan pengantaran tugas, tidak mengerjakan tugas, ataupun tidak mengerti menggunakan aplikasi dan lain sebagainya. Selain itu, guru BK juga bisa membantu orang tua dalam memberikan pengawasan sekaligus pengertian agar siswa lebih tertarik terhadap pembelajaran dibandingkan bermain game atau sekedar catting di media sosial.

Di SMP Negeri 1 Pulokulon yang notabenenya tergolong di lokasi yang jauh dari perkotaan (di tengah pedesaan) hal-hal yang berbau teknologi informasi masih merupakan hal yang mewah, sehingga menjadi kendala bagi terlaksananya pembelajaran secara daring. Jaringan internet yang lambat kadang membuat jengkel baik bagi para guru maupun siswa yang mengikuti proses belajar mengajar secara online. Ditambah lagi perangkat HP/gadget yang tidak mendukung untuk melakukan pembelajaran secara online. Dari pihak orang tua karena kesibukan pekerjaannya terkadang tidak sepenuhnya memperhatikan kondisi anaknya dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring.

Di sinilah guru BK di SMP Negeri 1 Pulokulon berperan aktif untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, diantaranya adalah HOME VISIT ke rumah – rumah siswa untuk memberikan solusi se-optimal mungkin sehingga dapat mengurai kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh sekolah, siswa ataupun orangtua siswa. Dari pengalaman penulis setelah aktif mengadakan program home visit dari guru BK  didapat berbagai masukan dan saran bahkan berbagai keluhan yang disampaikan oleh siswa dan orang tua dalam pelaksanaan belajar mengajar secara daring. Semua masukan dan saran bahkan keluhan dari siswa maupun orangtua siswa, oleh guru BK disampaikan ke Pihak sekolah dan akan menjadi bahan rapat koordinasi baik guru mapel maupun wali kelas serta menjadi rujukan untuk pengambilan kebijakan sekolah dengan mengingat peraturan Pemerintah demi kelancaran proses belajar mengajar di SMP Negeri 1 Pulokulon.

Memang tidaklah mudah bagi guru BK untuk melaksanakan home visit bagi seluruh siswa yang berjumlah ratusan bahkan ribuan yang rumahnya kadang sulit dijangkau, namun demikian dengan cara pengambilan sampel yang tepat akan memudahkan guru BK untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Inilah langkah yang harus diambil guru BK dalam masa pandemic covid 19 yaitu 1. Lakukan kordinasi dengan pihak sekolah, siswa, dan orang tua siswa; 2. Lakukan home visit ke rumah siswa sebanyak-banyaknya; 3. Tampung saran, masukan dan keluhan siswa dan orang tua siswa sebagai bahan masukan bagi sekolah; 4. Selalu beri motivasi dan penguatan baik kepada siswa maupun orang tua siswa agar tetap melaksanakan pembelajaran di rumah; 5. Kalau terpaksa dengan teknik sampling, ambilah sampel siswa yang tepat dan relevan untuk dijadikan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan sekolah.

Mari kita bersama-sama membantu siswa untuk tetap melaksanakan pembelajaran dalam masa pandemic covid 19 walaupun tetap belajar di rumah demi tujuan Pendidikan Nasional.

Selasa, 07 Maret 2017

PROPOSAL HUBUNGAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN KEBIASAAN BELAJAR EFEKTIF

PROPOSAL
HUBUNGAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN KEBIASAAN BELAJAR EFEKTIF
BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu siswa untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis kepada terbentuknya kepribadian siswa. Strategi belajar-mengajar atau kegiatan belajar-mengajar dapat menjadi peluang pengembangan kebiasaan belajar efektif dimana siswa dituntut mengambil prakarsa dan memikul tanggungjawab belajar di sekolah.
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan suatu hubungan timbal balik antara guru dan siswa yang dibimbingnya bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah dan belajar secara efektif sehingga dapat berprestasi dengan baik.
Kenyataan yang ada dilingkungan SMP Negeri I Pulokulon, beberapa siswa kebiasaan belajar efektifnya rendah. Ciri-ciri siswa yang kebiasaan belajar efektifnya rendah antara lain : Tidak memiliki target, penurunan konsentrasi, tidak mampu mengulangi apa yang dipelajari, sering belajar sistem kebut semalam,tidak dapat memilih waktu belajar yang tepat, selalu terforsir, suasana belajar tidak mengasyikkan, dan tidak dapat mengatur jadwal belajar. Belajar diartikan sebagai proses mendapatkan pengetahuan dengan menggunakan pengalaman yang mengarahkan perilaku pada masa yang akan datang ditandai dengan adanya interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang disengaja diciptakan.
Siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan makna tentang hal-hal yang dipelajari. Kegiatan ini merupakan suatu proses bukan suatu hasil dengan demikian belajar berlangsung aktif dan interaksi dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan.
Kebiasaan belajar, baik dari segi cara belajar, waktu belajar, keteraturan belajardan suasana belajar merupakan faktor penunjang keberhasilan siswa. Kebiasaan ini perlu diketahui oleh guru bukan hanya untuk menyelesaikan pengajaran dengan kebiasaan yang menunjang prestasi atau sebaliknya. Kebiasaan belajar yang salah harus ditinggalkan dan harus diperbaiki oleh guru dengan mencoba untuk mengembangkan kebiasaan belajar yang baru dan lebih bermakna dengan layanan bimbingan belajar.
Belajar dalam penelitian ini adalah belajar efektif, sehingga apabila siswa mempunyai kebiasaan belajar efektif  maka akan bisa berdampak positif terhadap prestasi belajar. Efektif artinya sejauh mana materi itu dapat dikuasai dengan hasil yang memuaskan. Kenyataan menunjukkan SMP Negeri I Pulokulon sebagaimana diharapkan di dalam tujuan pendidikan nasional belum dapat diwujudkan secara maksimal terbukti ada beberapa siswa berperilaku negatif yaitu kebiasaan belajar efektifnya rendah. Gejala kebiasaan belajar kurang efektif dapat dilihat antara lain tidak adanya target prestasi di semester ini, hilangnya konsentrasi ketika mendengarkan pelajaran di sekolah, tidak pernah mengulangi apa yang dipelajari, tidak memiliki buku catatan, sering belajar kebut semalam ketika mau ujian. Gejala tersebut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa, sehingga siswa tidak dapat berprestasi dengan baik.
Guna mengatasi kebiasaan belajar yang kurang efektif tersebut, diperlukan kemampuan guru memberikan layanan bimbingan belajar di SMP Negeri 1 Pulokulon kepada beberapa siswa yang mempunyai kebiasaan belajar efektifnya rendah untuk mengarahkan pemahaman siswa akan pemanfaatan waktu khususnya untuk kegiatan belajar meraih prestasi dan memahami semua pengetahuan dengan mudah, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan saja melainkan juga pengertian tentang memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial lebih luas terhadap kegiatan belajar.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk membuat judul: Hubungan layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif siswa SMP Negeri I Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014.
B.            Identifikasi  Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut, maka diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.             Kurangnya pemberian layanan bimbingan belajar kepada siswa dalam  kegiatan belajar.
2.             Beberapa siswa yang memiliki kebiasaan belajar efektif rendah sehingga prestasi belajarnya mengalami penurunan.
3.             Kebiasaan belajar efektif siswa rendah sehingga pentingnya pemberian layanan bimbingan belajar.
C.           Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terpusat dan terarah pada tujuan penelitian maka diperlukan pembatasan masalah. Diharapkan masalah dapat dikaji secara lebih mendalam untuk memperoleh hasil yang maksimal. Permasalahan penelitian ini dibatasi pada “Hubungan layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014”.
D.           Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1.             Bagaimana layanan bimbingan belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon?
2.             Bagaimana kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon?
3.             Adakah hubungan yang signifikan antara layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun pelajaran 2013/2014?
E.            Tujuan Penelitian
            Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data empiris tentang :
1.             Layanan bimbingan belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
2.             Kebiasaan belajar efektif siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
3.             Ada tidaknya hubungan layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran  2013/2014
F.            Manfaat Penelitian
Segala sesuatu yang dimulai dengan suatu prosedur yang sistematik, pasti mempunyai kegunaan baik secara teoritis maupun secara  praktis. Demikian juga dalam penelitian ini, adapun penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1.             Manfaat teoritis
Secara teoristis, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dalam layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif siswa.
2.             Manfaat praktis
a.              Bagi Peneliti
Penelitian ini dimaksudkan untuk menambah pengalaman, wawasan serta menambah pengetahuan dalam melaksanakan proses belajar mengajar secara professional terutama dalam layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif siswa.
b.             Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan khususnya pelaksanaan bimbingan belajar.
c.              Bagi Orang Tua
Dapat dijadikan pedoman bagi orang tua dalam usaha meningkatkan kebiasaan belajar anak dirumah. Setelah orang tua atau wali murid mengetahui keadaan putra putrinya maka orang tua bisa lebih memperhatikan, bisa memberikan dorongan atau motivasi yang diperlukan sehingga dapat mencapai hasil yang sesuai dengan yang diinginkan orang tua.
d.             Bagi Siswa
Sebagai masukan bagi siswa agar dapat meningkatkan kebiasaan belajar dan upaya lebih mengetahui arti penting kebiasaan belajar efektif bagi kelanjutan pendidikannya.












BAB II
KERANGKA TEORITIS

A.           Deskripsi Teori
1.             Tinjauan Tentang Layanan Bimbingan Belajar
a.             Pengertian Layanan bimbingan belajar
Prayitno dan Erman Amti (1999:279) memandang layanan bimbingan belajar sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah, sebagaimana dikemukakan bahwa :
layanan bimbingan belajar adalah salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.
Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap: (1) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar, (2) pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar, dan (3) pemberian bantuan pengentasan belajar.
1)             Pengenalan siswa yang mengalami masalah
            Siswa yang  mengalami masalah belajar dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar, dan pengamatan.
a)             Tes hasil belajar yaitu suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang diterapkan sebelumnya.
b)             Tes kemampuan dasar yaitu hasil belajar yang dicapai siswa dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimiliki. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil  belajar tinggi pula. Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya, maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar.
c)             Tes Diagnostik merupakan instrument untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata oelajaran berhitung/matematika apakah dijumpai kesalahan-kesalahan dalam operasi berhitung, atau pemakaian rumus-rumus; untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam operasi berhitung, atau pemakaian rumus-rumus; untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing.
d)            Analisis hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostik. Tujuannya yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi  hasil belajar yang ditampilkan siswa,  baik melalui tulisan, bentuk grafik atau gambar, bentuk tiga dimensi yang berupa model, maket, dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya, serta gerak dan suara. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto, film, ataupun rekaman video.
2)             Pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar
Mengungkapkan sebab-sebab timbulnya masalah belajar siswa yaitu :
a)             Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
b)             Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa.
c)             Mewawancarai orangtua untuk mengetahui keharmonisan dalam keluarga.
d)            Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ).
e)             Melakukan observasi lingkungan sekolah.
f)              Mewawancarai teman sepermainan siswa.
Faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam yaitu :
a)             Faktor intern siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan psikis-fisik siswa yaitu :
(1)          Bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/inteligensi siswa.
(2)          Bersifat afektif ( ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
(3)          Bersifat psikomotor ( rasah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
b)             Faktor ekstern siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi :
(1)          Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
(2)          Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh ( slum area ), dan teman sepermainan ( peer group) yang nakal.
(3)          Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
3)             Pemberian bantuan pengentasan belajar
Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan, (b) kegiatan pengayaan, (c) peningkatan motivasi belajar, dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.
a)             Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar. Dalam hal ini, bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpahaman, dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Apabila kesalahan-kesalahan itu diperbaiki, maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
b)             Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluaskan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan pelajaran dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik. Misalnya, sistem pengajaran dengan modul, paket belajar, dan pengajaran yang terprogram lainnya.
c)             Peningkatan motivasi belajar
Di sekolah sebagian siswa mungkin telah memiliki motif yang kuat untuk belajar, tetapi sebagian lagi mungkin belum. Disisi lain, mungkin juga ada siswa yang semula motifnya amat kuat, tetapi menjadi pudar. Tingkahlaku seperti kurang semangat, jera, malas, dan sebagainya, dapat dijadikan indikator kurang kuatnya motif (motivasi)dalam belajar.
Prayitno dan Erman Amti (1999:286) memandang guru dan staf sekolah lainnya berperan meningkatkan motivasinya dalam belajar, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Guru dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan yaitu :
1)             Memperjelaskan tujuan-tujuan belajar. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila siswa mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapai.
2)             Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa.
3)             Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan.
4)             Memberikan hadiah (penguatan).
5)             Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan siswa, serta siswa dan siswa.
6)             Menghindari tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu (seperti suasana yang menakutkan, mengecewakan, membingungkan, menjengkelkan)
7)             Melengkapi sumber dan peralatan belajar.


d)            Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik
Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan tidak diharapkan atau tidak efektif. Apabila siswa memiliki kebiasaan seperti itu, maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik, karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras.
Prayitno dan Erman Amti (1999:287) mengemukakan bahwa sebagian siswa memerlukan bantuan untuk melihat sikap dan kebiasaan belajarnya, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Sebagian siswa memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang siswa miliki. Melalui bantuan ini, siswa diharapkan dapat menentukan kelemahan-kelemahannya dalam belajar, selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahan-kelemahan itu. Untuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar yaitu :
1)             Belajar berarti melibatkan diri secara penuh, lebih dari sekadar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks.
2)             Efektifitas belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur.
3)             Kata-kata, ungkapan-ungkapan, dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian.
4)             Sebagian bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar.
5)             Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik.
6)             Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang nyaman, kesehatan yang baik, tidur teratur, dan rekreasi yang memadai.
Prayitno dan Erman Amti (1999:287) mengemukakan bahwa kebiasaan belajar perlu ditumbuhkan melalui bantuan terencana, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan sering kali perlu ditumbuhkan melalui bantuan terencana, terutama oleh guru dan orang tua siswa. Untuk itu siswa hendaklah dibantu dalam hal sebagai berikut :
1)             Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar.
2)             Memelihara kondisi kesehatan yang baik.
3)             Mengatur waktu belajar, baik di sekolah maupun di rumah.
4)             Memilih tempat belajar yang baik.
5)             Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya, seperti buku-buku teks dan referensi lainnya.
6)             Membaca secara baik dan sesuai kebutuhan, misalnya: kapan membaca secara garis besar, kapan secara terinci dan sebagainya.
7)             Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru, teman atau siapa pun juga.
Di sekolah, di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti, angka-angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa-siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. Upaya membantu siswa yang mengalami masalah belajar melalui pengajaran perbaikan, yaitu bentuk bantuan yang diberikan kepada seseorang atau kelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar siswa, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
Achmad Juntika Nurihsan (2010:15) mengemukakan bahwa layanan bimbingan belajar adalah layanan bimbingan dan konseling yang diarahkan untuk membantu siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah akademik.
Adapun yang termasuk masalah-masalah akademik, yaitu pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar, penyelesaikan tugas-tugas dan latihan, cara belajar, penyelesaikan tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan, dan lain-lain. Siswa akan lebih berhasil dalam belajar apabila guru menerapkan prinsip-prinsip dan memberikan bimbingan waktu mengajar. Layanan bimbingan belajar yang dapat dilakukan oleh guru berupa menjelaskan tujuan dan manfaat belajar, cara belajar, dorongan untuk berprestasi, dan membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa.
Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2010:25), bimbingan yang dapat diberikan guru sambil mengajar adalah (1) mengenal dan memahami siswa secara mendalam; (2) memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual; (3) memperlakukan siswa secara manusiawi; (4) memberikan kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal; dan (5) menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2010:25), suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan prinsip-prinsip bernuasa bimbingan yaitu sebagai berikut :
1)             Tercipta iklim kelas yang  permitif, bebas dari ketegangan dan menempatkan individu sebagai subjek pengajaran.
2)             Adanya pengarahan/orientasi agar terselenggaranya belajar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhan proses belajar.
3)             Menerima dan memperlakukan siswa sebagai siswa yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya.
4)             Mempersiapkan serta menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.
5)             Membina hubungan yang dekat dengan siswa, menerima siswa yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan.
6)             Guru berusaha mempelajari dan memahami siswa untuk menentukan kekuatan, kelemahan, kebiasaan, dan kesulitan yang dihadapinya, terutama dalam hubungannya dengan bidang studi yang diajarkannya.
7)             Memberikan bantuan kepada siswa yang menghadapi kesulitan, terutama yang berhubungan bidang studi yang diajarkannya.
8)             Pemberian informasi tentang masalah pendidikan, pengajaran, dan jabatan/karier.
9)             Memberikan bimbingan kelompok di kelas.
10)         Membimbing siswa agar mengembangkan kebiasaan belajar yang baik.
11)         Memberikan layanan perbaikan bagi individu yang memerlukannnya.
12)         Bekerja sama dengan tenaga pendidik lainnya dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh siswa.
13)         Memberikan umpan balik atas hasil evaluasi.
14)         Memberikan pelayanan rujukan (referal) bagi siswa yang memiliki kesulitan yang tidak dapat diselesaikan oleh guru sendiri.
. Layanan bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar-mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar. Guru membantu siswa mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif, membantu siswa agar sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan.
Dewa Ketut Sukardi (2008:62), mengemukakan bahwa layanan bimbingan belajar adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
Dewa Ketut Sukardi (2008:62-63), mengemukakan bahwa adanya materi kegiatan dalam layanan bimbingan belajar. Sebagaimana dikemukakan bahwa :
Didalam layanan bimbingan belajar perlunya materi kegiatan yang diberikan kepada siswa. Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi :
a.              Mengembangkan pemahaman tentang diri, terutama pemahaman sikap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahan dan penanggulangannya, dan usaha-usaha pencapaian cita-cita/perencanaan masa depan.
b.             Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat luas.
c.              Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secara efektif dan efisien.
d.             Teknik penugasan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi, dan kesenian.
Sukiman (2011:93), mengemukakan bahwa layanan bimbingan layanan belajar adalah layanan yang membantu siswa dalam menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Terkait dengan pendapat di atas dapat diketahui bahwa layanan bimbingan belajar adalah layanan bantuan kepada siswa untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar dengan mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif, membantu siswa agar sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan. Bimbingan belajar dapat dilakukan dengan pendekatan remedial yaitu pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada siswa yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuannya untuk membantu memperbaiki kekurangan/kelemahan yang dialami siswa.
b.                  Pengertian Belajar
Belajar adalah key term, istilah kunci paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar yaitu kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Menurut Muhibbin Syah (2012:68) mengemukakan bahwa belajar secara kualitatif adalah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Cara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan tingkahlaku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.
Rita L. Atkinson (2001:420) mengemukakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan yang relative permanen pada perilaku yang terjadi akibat latihan, perubahan perilaku yang terjadi karena maturasi (bukannya latihan), atau pengkondisian sementara suatu organism (seperti kelelahan atau akibat obat) tidak dimasukan.
Udin S. Winataputra (2010:14) mengemukakan belajar adalah sebagai proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan sebagai proses mendapatkan pengetahuan yang memandu perilaku pada masa yang akan datang.
Abu Ahmadi (2003:127) memandang belajar merupakan perubahan tingkahlaku, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkahlakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar berlangsung aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan.

Ngalim Purwanto (1997:85) memandang belajar merupakan perubahan tingkahlaku mengarah kepada perubahan lebih baik, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkahlaku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkahlaku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkahlaku yang lebih buruk. Tingkahlaku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan,kebiasaan, ataupun sikap.

Dalyono (2009:213) mengemukakan belajar merupakan perubahan yang harus relative mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang. Beberapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
Terkait dengan pendapat di atas dapat diketahui bahwa belajar itu membawa perubahan dalam hal ini diperolehnya kecakapan baru yang terjadi karena usaha. Belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberikan makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
c.              Cara Belajar Efektif
Menurut Slameto (2013:73) mengemukakan cara belajar efektif yang dapat diberikan kepada siswa yaitu :
1)             Perlunya bimbingan
Siswa perlu pengawasan dan dibimbing dalam proses belajar.
2)             Kondisi dan Strategi Belajar
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini :
a)             Kondisi Internal
Yaitu kondisi (situasi) yang ada di dalam diri siswa itu sendiri misalnya kesehatannya, keamanannya, ketenteramannya, dan sebagainya. Siswa dapat belajar dengan baik apabila kebutuhan-kebutuhan internalnya dapat dipenuhi. Menurut Maslow ada 7 jenjang kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yakni :
(1)          Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan jasmani manusia.
(2)          Kebutuhan akan keamanan.
(3)          Kebutuhan akan kebersamaan dan cinta.
(4)          Kebutuhan akan status (misalnya keinginan akan berhasil).
(5)          Kebutuhan self-actualisation.
(6)          Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti.
(7)          Kebutuhan estetik.

b)             Kondisi Eksternal
Yaitu kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia. Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan yang baik dan teratur, misalnya:
(1)          Ruang belajar harus bersih, tidak ada bau-bau yang menganggu konsentrasi pikiran.
(2)          Ruangan cukup terang, tidak gelap yang dapat menganggu mata.
(3)          Cukup sarana yang diperlukan untuk belajar, misalnya alat pelajaran, buku-buku, dan sebagainya.

c)             Strategi belajar
Belajar yang efektif dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin.
Hal yang perlu diperhatikan dalam strategi belajar yaitu :
(1)          Keadaan jasmani.
(2)          Keadaan emosional dan sosial.
(3)          Keadaan lingkungan.
(4)          Memulai belajar.
(5)          Membagi pekerjaan.
(6)          Adanya control.
(7)          Pupuk sikap optimis.
(8)          Waktu bekerja.
(9)          Buatlah suatu rencana kerja.
(10)      Menggunakan waktu.
(11)      Belajar keras tidak merusak.
(12)      Cara mempelajari buku.
(13)      Mempertinggi kecepatan membaca.
(14)      Jangan membaca belaka.
3)      Metode Belajar
Metode Belajar adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Belajar bertujuan mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan dan ketrampilan
a)       Membuat jadwal pelajaran
Pembagian waktu untuk sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang setiap harinya.
b)      Membaca dan membuat catatan
Membaca buku dan kemudian membuat catatan untuk dibaca sebagai proses pengulangan atau mengingat materi yang dipelajari.
c)       Mengulangi Bahan Pelajaran
Adanya pengulangan materi yang belum dikuasai dalam belajar.
d)     Konsentrasi
Pemusatan pikiran terhadap suatu hal atau materi yang dipelajari.
e)       Mengerjakan Tugas
Mengerjakan latihan soal dan tugas-tugas yang diberikan guru.
Menurut Suranto (2007:15), efektif artinya sejauhmana materi itu dikuasai dalam waktu yang singkat dan biaya yang murah, dengan hasil yang memuaskan. Agar siswa dapat meraih prestasi dan memahami semua pengetahuan yang diajarkan dengan mudah, maka siswa harus mengatur strategi belajar yang efektif.
Suranto (2007:16-20) mengemukakan bahwa strategi belajar yang harus siswa terapkan  yaitu :
1)             Menentukan prestasi yang ingin dicapai.
2)             Mengupayakan peningkatan konsentrasi dalam belajar.
3)             Melakukan kegiatan belajar dengan metode pengulangan.
4)             Meningkatkan kemampuan mendiskusikan hasil yang dipelajari bersama teman.
5)             Memiliki buku catatan yang berisi materi ringkas.
6)             Melakukan pengulangan materi dengan mengajari teman lain tentang materi baru yang diperoleh.
7)             Menghindari waktu belajar secara mendadak menjelang tes ujian.
8)             Meningkatkan kemampuan memilih waktu yang tepat untuk belajar.
9)             Pentingnya memperhatikan kondisi fisik dalam belajar.
10)         Memilih suasana mengasyikkan untuk belajar.
11)         Berlatih akan kewajibannya yaitu belajar.
12)         Menentukan sendiri mana yang penting bagi diri siswa.
13)         Mengerjakan dulu prioritas-prioritas yang telah ditentukan.
14)         Berlatih bekerja sama dan berkompetensi dalam berprestasi bersama teman lainnya.
15)         Menghargai penilaian guru terhadap hasil belajar.
16)         Aktif mencari solusi untuk menyelesaikan masalah belajar.
17)         Mengaktifkan diri untuk terus maju.
18)         Pengaturan waktu dengan cara membuat jadwal belajar.
19)         Membuat daftar waktu belajar.

Menurut Ruslani (2010), cara belajar efektif yaitu siswa harus menghargai setiap detik dari waktu jam pelajaran di sekolah. Siswa harus bisa mengabaikan segala sesuatu yang dapat menganggu fokus belajar. Setiap pelajaran yang diajarkan di sekolah harus pahami dengan sangat cepat.
Terkait dengan pendapat di atas dapat diketahui cara belajar efektif yaitu :
1)             Memiliki dahulu tujuan belajar yang pasti.
2)             Mengusahakan adanya tempat belajar yang memadai.
3)             Jaga kondisi fisik jangan sampai menganggu konsentrasi dan keaktifan mental.
4)             Menyelingi belajar dengan waktu istrahat yang teratur.
5)             Merencanakan dan mengikuti jadwal untuk belajar.
6)             Mencari kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari tiap paragraf.
7)             Selama belajar menggunakan metode pengulangan dalam hari (silent recitation).
8)             Melakukan metode keseluruhan (whole method) bilamana mungkin.
9)             Mengusahakan agar dapat membaca cepat tetapi cermat.
10)         Membuat catatan-catatan atau rangkuman yang tersusun rapi.
11)         Mengadakan penilaian terhadap kesulitan bahan untuk dipelajari lebih lanjut.
12)         Menyusun dan membuat pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan mengusahakan untuk menemukan jawaban.
13)         Memusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada waktu belajar.
14)         Mempelajari dengan teliti tabel-tabel, grafik-grafik, dan bahan ilustrasi lainnya.
15)         Membiasakan membuat rangkuman dan kesimpulan.
16)         Membuat kepastian untuk melengkapi tugas-tugas belajar itu.
17)         Mempelajari baik-baik pernyataan (statement) yang dikemukakan oleh pengarang.
18)         Meneliti pendapat beberapa pengarang.
19)         Belajar menggunakan kamus sebaik-baiknya.
20)         Menganalisa keiasan belajar yang dilakukan dan mencoba untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
Menurut Taufani C.K (2008:55), kebiasaan belajar dapat dilihat dari segi cara belajar, waktu belajar, keteraturan belajar, suasana belajar dan lain-lain yang merupakan faktor penunjang keberhasilan siswa. Kebiasaan ini perlu diketahui oleh guru bukan hanya untuk menyelesaikan pengajaran dengan kebiasaan yang menunjang prestasi atau sebaliknya.
Dalam kaitan ini, guru mencoba untuk mengembangkan memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar baru dan lebih bermakna. Untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar siswa, guru menggunakan teknik observasi atau pengamatan terhadap cara belajar, misalnya bagaimana cara siswa membaca buku, cara mengerjakan tugas, cara menjawab pertanyaan, cara mengerjakan tugas, cara menjawab pertanyaan, cara memecahkan masalah dan berdiskusi. Guru dapat melakukan hal ini setiap saat proses pengajaran berlangsung agar diperoleh informasi yang akurat.
Menurut Bimo Walgito (2010:142) bahwa “Cara belajar efektif yang lebih bersifat praktis harus sesuai dengan situasi yang dihadapi dengan memperhatikan faktor-faktor yang ada di dalam proses belajar”.
Menurut Bimo Walgito (2010:142-148), Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar yaitu:
1)             Faktor anak/individu
Faktor siswa/individu merupakan faktor dari diri siswa atau individu. Individu terbentuk dari fisik dan psikis yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain atau dengan lainnya saling mempengaruhi.
a)             Faktor fisik
Ini berhubungan erat dengan soal kesehatan fisik.
b)             Faktor psikis
Dalam hal ini, individu harus mempunyai kesiapan mental (mental set) untuk menghadapi tugas. Mental set ini dapat mempengaruhi beberapa hal berikut ini:
(1)          Motif
Motif merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi minat atau keinginan.
(2)          Minat
Salah satu faktor yang turut menentukan atau mempengaruhi motif ialah minat atau keinginan.
(3)          Konsentrasi dan perhatian
Seluruh perhatian harus dicurahkan kepada apa yang dipelajari.
(4)          Natural curiousity
Natural curiousity ialah keinginan untuk mengetahui secara alami.
(5)          Balance personality (pribadi yang seimbang)
Keadaan individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi disekitarnya dengan baik.
(6)          Self confidence
Self confidence, yaitu kepercayaan kepada diri sendiri bahwa dirinya juga mempunyai kemampuan.
(7)          Self discipline
Ini merupakan disiplin terhadap diri sendiri.
(8)          Inteligensi
Faktor ini akan turut menentukan taktik atau cara apa yang diambil di dalam menghadapi materi yang harus dipelajari.
(9)          Ingatan
Kemampuan mengingat dan kemudian melakukan pengulangan materi dengan baik.
2)        Faktor lingkungan
Faktor lingkungan ini berhubungan dengan:
a)             Tempat belajar
b)             Alat-alat untuk belajar
c)             Suasana
d)            Waktu
e)             Pergaulan
3)             Faktor bahan yang dipelajari
Bahan yang dipelajari akan menentukan cara atau metode belajar apa yang akan ditempuh.
Menurut Eko Suprapto (2009), Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar yaitu :
1)             Faktor internal
Factor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
a)             Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.  
Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain adalah : 
(1)          Menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena  kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu , dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk belajar.
(2)          Rajin berolah raga agar tubuh selalu bugar dan sehat.
(3)          Istirahat yang cukup dan sehat.

b)       Faktor psikologis
Faktor–faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
(1)          kecerdasan /intelegensia siswa
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar siswa.
(2)          Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa.
(3)          Minat
Minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu hal yang disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya.
(4)          Sikap
Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon.
(5)          Bakat
Kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
2)             Faktor-faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa. faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a)             Lingkungan sosial
(1)          Lingkungan sosial sekolah.
(2)          Lingkungan sosial masyarakat yaitu kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa.
(3)          Lingkungan sosial keluarga.
b)             Lingkungan non sosial.     
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah :
(1)          Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dantenang.
(2)          Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yaitu : gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga, kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, dan silabus.
(3)          Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa).

Terkait dengan pendapat di atas dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar yaitu :
1)             Faktor-faktor yang berasal dari luar dari siswa
a)             Faktor-faktor non sosial
Misalnya : keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi atau siang, atau malam), tempat (letaknya, pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat tulis menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita sebut alat-alat pelajaran).
b)             Faktor-faktor sosial dalam belajar
Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial adalah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Faktor-faktor tersebut menganggu konsentrasi, sehingga perhatian tidak dapat ditunjukkan kepada hal yang dipelajari atau aktivitas belajar.
2)             Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa
a)             Faktor-faktor fisiologis
Yang dimaksud dengan faktor-faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani seperti keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar dan keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang tidak lelah serta berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar berlangsung dengan baik.
b)             Faktor-faktor psikologis dalam belajar
Hal yang mendorong seseorang untuk belajar yaitu
(1)          Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.
(2)          Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.
(3)          Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati orangtua, guru, dan teman-teman.
(4)          Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, melalui kompetensi.
(5)          Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.
d.             Hubungan Layanan Bimbingan Belajar dengan Kebiasaan Belajar Efektif Siswa
Dalam kaitan ini, guru mencoba untuk mengembangkan memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar baru dan lebih bermakna melalui layanan bimbingan belajar. Untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar siswa, guru menggunakan angket dan teknik observasi atau pengamatan terhadap cara belajar. Guru dapat melakukan hal  ini setiap saat agar diperoleh informasi yang akurat tentang belajar siswa terkait layanan bimbingan belajar.
Layanan bimbingan belajar adalah layanan bantuan kepada siswa untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar dengan mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif, membantu siswa agar sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan.
B.            Kerangka Pikir
            Pengaturan strategi belajar yang efektif membantu siswa meraih prestasi dan memahami semua pengetahuan yang diajarkan guru dengan mudah dan menjadi kebiasaan dalam belajar. Setiap siswa diharapkan mempunyai kebiasaan belajar efektif dalam mengatur strategi belajar, untuk itulah perlu diberikan pelayanan bimbingan belajar untuk meningkatkan pemahaman tentang kebiasaan belajar efektif siswa, sehingga diharapkan ada peningkatan prestasi belajar pada siswa.
Gejala kebiasaan belajar kurang efektif dapat dilihat antara lain tidak adanya target prestasi di semester ini, hilangnya konsentrasi ketika mendengarkan pelajaran di sekolah, tidak pernah mengulangi apa yang dipelajari, tidak memiliki buku catatan, sering belajar kebut semalam ketika mau ujian.
Sifat-sifat tersebut diatas bila terjadi pada seorang siswa akan mengakibatkan ketidakmampuan menentukan strategi belajar efektif yaitu tidak dapat menguasai materi dalam waktu singkat dan biaya yang murah.  Untuk itu siswa cenderung memiliki kebiasaan belajar efektif rendah. Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat kerangka pikir sebagai berikut:

Kebiasaan Belajar
SISWA
                                                    
Peningkatan Kebiasaan Belajar Efektif
Layanan Bimbingan Belajar
 






                                    Gambar 1. Kerangka Pikir
Berdasarkan bagan kerangka berpikir diatas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan dengan pemberian layanan bimbingan belajar kepada siswa dapat meningkatkan kebiasaan belajar efektif.
C.           Hipotesis
Menurut Nana Sudjana (2001 : 12), “Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap pernyataan penelitian”. Sedangkan menurut Husaini Usman dan Purnomo (2003 : 38), “Hipotesis adalah pernyataan atau jawaban sementara terhadap rumusan penelitian yang dikemukakan”.
Menurut Sugiyono (2010:96) mengemukakan bahwa Hipotesis yaitu jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, sebagaimana dikemukakan bahwa :
Hipotesis yaitu jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui penggumpulan data.

Dari pendapat di atas dapat di analisa bahwa hipotesis merupakan dugaan sementara atau jawaban sementara terhadap rumusan penelitian yang sedang diteliti.
Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ho (Hipotesis nol)                   : Tidak ada hubungan antara layanan bimbingan belajar  dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014.
Ha (Hipotesis Alternatif)        : Ada hubungan antara layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014.












BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.           Tempat dan Wktu Penelitian
1.             Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pulokulon Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Dalam penelitian ini mengambil kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014. Sebab kemampuan belajar efektif siswa kelas VIII SMP N 1 Pulokulon masih rendah. Permasalahan ini belum pernah diteliti di SMP N 1 Pulokulon.
2.             Waktu penelitian
Penelitian dilakukan selama 3 bulan dari bulan April sampai Juni 2014.
B.            Metode Penelitian
Mengadakan sesuatu penelitian pasti akan menggunakan cara-cara khusus untuk mendapatkan bahan penelitian maupun dalam usaha menemukan permasalahan. Maka sebelum membicarakan mengenai metode ataupun prosedur penelitian, terlebih dahulu perlu untuk memahami masalah metode dalam penilaian sendiri.
Banyak pengertian tentang metodologi, seperti yang dikemukakan oleh Sudjana, yaitu sebagai berikut: “Metodologi berasal dari bahasa yunani yaitu Meta dan Hodos, Meta artinya melalui atau melewati, dan Hodos artinya jalan atau cara yang harus dicapai untuk meraih tujuan tertentu. Logi dari kata logos yang artinya ilmu. Dengan demikian arti dari Metodologi adalah suatu yang membicarakan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu”. (Sudjana, 2000 : 10).
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa metodologi adalah merupakan suatu jalan yang harus dilakukan untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran dari penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.
Menurut pendapat Winarno Surakhmad, tentang pengertian metodologi adalah sebagai berikut: “Metodologi adalah usaha untuk menetukan, mengembangkan dan menguji kebenaran dari suatu pengetahuan, usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode”. (Winarno Surakhmad, 2000 : 6)
Jadi metode penelitian adalah cara kerja atau jalan yang harus ditempuh untuk memecahkan masalah pada suatu penelitian. Dalam metode penelitian sendiri diharapkan dapat diperoleh data ilmiah yang dapat diterima oleh pikiran atas dasar bukti-bukti konkret dan sistematis, yang sebenarnya dalam metode penelitian itu terkadang suatu maksud usaha efektivitas untuk menguji kebenaran.
Purwanto  (2008 : 177) berpendapat, “Penelitian korelasi adalah penelitian yang melibatkan hubungan satu atau lebih variabel dengan satu atau lebih variabel lain”. Saiffudin Azwar (2007:21) berpendapat hampir sama, bahwa, “penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan diantara variabel-variabel yang diteliti tanpa melakukan suatu intervensi terhadap variabel-variabel yang bersangkutan”. Dengan demikian, penelitian korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua atu lebih variabel.
Dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif korelasional yang bermaksud mengkaji korelasi layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014.
C.           Populasi Sampel dan Sampling
1.             Populasi
Saifuddin Azwar, (2007:77) berpendapat, “Populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian”. Suharsimi Arikunto (2002:130) mengemukakan pendapat senada, “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”.  Encyclopedia of Educational Evaluation, tertulis, “A population is a set all elements prosessing one or more attributes of interest; artinya, populasi adalah suatu set (atau kumpulan) dari semua elemen yang memproses satu atau lebih sifat-sifat kepentingan”. Dengan demikian, populasi adalah keseluruhan subyek yang mempunyai satu sifat atau beberapa karakteristik yang sama yang dijadikan subyek penelitian.
Sugiyono (2010:297) mengemukakan populasi diartikan sebagai wilayah genelisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakter tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 330 siswa.
2.             Sampel
Suharsimi Arikunto (2002:131) berpendapat, “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”, sedangkan Soenarto (dalam Purwanto, 2008:242) mengatakan bahwa, “Sampel adalah suatu bagian yang dipilih dengan cara tertentu untuk mewakili keseluruhan kelompok populasi ”.
Menurut Sugiyono (2010:118) mengemukakan yang dimaksud Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut.
Dengan demikian, Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sampel yang diambil dari populasi bukan semata-mata sebagian populasi, tetapi harus representative (mewakili).
Apakah suatu sampel merupakan representasi yang baik bagi populasinya sangat tergantung pada sejauh mana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik populasinya. Saifuddin Azwar (2007:79) mengatakan, “karena analisis penelitian didasarkan pada data sampel, sedangkan kesimpulanya nanti akan diterapkan pada populasi, maka sangatlah penting untuk memperoleh sampel yang representative bagi populasinya”. Pendapat senada dikemukakan Soegiyono ( dalam Purwanto,2008:243) yang mengatakan bahwa, “Bila sampel yang dipilih tidak representative maka kesimpulan yang dibuat atas populasi menjadi salah”. Dengan demikian, sampel yang dipilih harus mewakili populasi penelitian agar tepat dalam penarikan kesimpulan sampel (sampling techniques) yang tepat.
Dalam penelitian ini menggunakan sampel sebesar 33 siswa dipilih untuk mewakili populasi penelitian yaitu :

SAMPEL
KELAS
JUMLAH SISWA
8A
4 Siswa
8B
4 Siswa
8C
4 Siswa
8D
4 Siswa
8E
4 Siswa
8F
4 Siswa
8G
5 Siswa
8H
4 Siswa

3.             Teknik Sampling
Menurut Sugiyono (2010: 118) mengemukakan teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan yaitu Probability Sampling dan Nonprobality Sampling.
Menurut Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi (2003:111-112), cara ini lebih mantap untuk dipilih karena pengambilan sampel yang tanpa dipilih atau tanpa pandang bulu didasarkan atas prinsip-prinsip matematis yang telah diuji dalam praktek. Penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara acak atau random.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang mewakili seluruh populasi yang ada. Dalam penelitian ini teknik sampling  yang digunakan adalah Propotional Randum Sampling yaitu cara pengambilan sampel secara random didasarkan pada kelompok, tidak didasarkan pada kepentingan anggota-anggotanya.
Dalam penelitian ini, ukuran sampel yang diambil sebesar 10% lebih dari populasi. Hal ini sesuai ketentuan bahwa jika subyek penelitian lebih besar dari 100 dapat diambil 10-15% atau 20-25% sehingga subjek penelitian sebesar 33 siswa.
D.           Variabel Penelitian
Sugiyono (2010:61) mengemukakan variabel penelitian adalah atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diharapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel adalah obyek yang akan diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto (2002:144) variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Menurut Y.W Best dalam Sanapiah Faisal ( Cholid dan Abu Ahmad, 2003:118) lebih tegas mengatakan bahwa variabel penelitian merupakan kondisi-kondisi atau serenteristik-serenteristik yang oleh peneliti dimanipulasikan, diobservasi dalam suatu penelitian.
Variabel dalam penelitian tentang layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon ini ada 2 yaitu:
1.             Variable Independent/variable bebas (x) adalah layanan bimbingan belajar.
2.             Variable dependent/terikat (y) adalah kebiasaan belajar efektif.
E.            Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan metode dokumentasi, observasi maupun metode angket.
1.             Metode Dokumentasi
            Dokumentasi berasal dari bahasa inggris “documentation” yang berarti pembuktian dengan memperlihatkan naskah-naskah yang bertalian.
Winarno Surakhmad merumuskan pengertian dokumentasi sebagai laporan tertulis dari suatu peristiwa, yang isinya terdiri atas penjelasan-penjelasan dan pemikiran-pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk mengumpan atau meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut.
Teknik dokumentasi adalah teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dengan usaha mempelajari dan membuktikan laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran yang bertalian dengan yang dibutuhkan.
Pengumpulan data dengan mempergunakan metode dokumentasi berarti suatu cara pengumpulan data dengan mengambil data dari sumber-sumber dokumen yang ada. Di dalam penyelidikan ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang siswa sebagai subyek penelitian.
2.             Metode Angket
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:128), Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui.
Menurut Banun Sri Haksasi (2007:15) mengemukakan bahwa angket adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang diselidiki atau sering disebut responden. Angket berfungsi sebagai teknik pengumpulan data sekaligus sebagai alat penggumpul data.
Menurut Sugiyono (2010:1999), Angket adalah teknik penggumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode angket adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan serangkaian pernyataan atau pertanyaan tertulis yang diajukan kepada responden untuk memperoleh jawaban secara tertulis pula. Teknik pengumpulan data ini merupakan cara yang praktis untuk mendapatkan sejumlah informasi atau keterangan pada responden dalam jumlah yang besar dengan waktu yang singkat.
Teknik ini dapat mengungkap gejala yang tidak dapat diperoleh dengan jalan observasi yang cenderung pada aspek tingkahlaku yang kasat mata. Angket dapat mengungkap suasana kejiwaan seperti: tanggapan, harapan, pendapat, prasangka, sikap, kecenderungan, dan sebagainya. Adapun isi pertanyaan ini meliputi: pertanyaan tentang fakta, pertanyaan tentang pendapat dan sikap, pertanyaan tentang informasi, dan pertanyaan tentang persepsi diri. Data dapat dikumpulkan langsung pada individu secara langsung maupun pihak lain.
Banun Sri Haksasi (2007 : 22) menjelaskan tentang kebaikan dan kelemahan teknik kuesioner atau angket sebagai metode pengumpulan data yaitu sebagai berikut :
a.    Kebaikan :
1)   Dapat dipergunakan untuk mengumpulkan data kepada sejumlah responden dalam waktu yang singkat
2)   Dari segi biaya relatif murah
3)   Dari segi tenaga, hanya sedikit tenaga yang dibutuhkan
4)   Dapat dilakukan serempak terhadap sejumlah obyek yang ingin diselidiki
5)   Setiap responden menerima pertanyaan yang sama
6)   Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan keterangan/jawaban
7)   Responden mempunyai waktu yang cukup untuk menjawab
8)   Pengaruh subyektivitas dapat dihindarkan.
b.    Kelemahan :
1)   Responden tidak dapat dijamin untuk memberikan jawaban secara tepat
2)   Hanya terbatas pada responden yang dapat membaca serta menulis
3)   Kemungkinan berhadapan muka secara langsung tidak ada/kecil sehingga bila ada pertanyaan kurang jelas, responden tidak dapat meminta keterangan
4)   Kemungkinan responden tidak selesai dalam menjawab pertanyaan yang disajikan, sehingga perkiraan waktu sangat dibutuhkan
5)   Pertanyaan yang tersaji telah tetap dan tertentu, tidak dapat diubah sesuai kondisi dan kemampuan respon sehingga sifatnya agak kaku
6)   Kadang-kadang ada responden yang tidak bersedia untuk mengisi angket/kuesioner
7)   Pertanyaan yang disajikan bersifat terbatas sehingga tidak dapat mengungkap data lebih lengkap atau ada hal-hal yang mungkin tidak dapat diungkap.
            Metode dalam penilaian ini menggunakan metode angket. Angket digunakan untuk mencari informasi dan mengungkap data tentang hubungan layanan bimbingan belajar dengan kebiasaan belajar efektif pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2013/2014. Variable Independent/variable bebas (x) adalah layanan bimbingan belajar dan variable dependent/terikat (y) adalah kebiasaan belajar efektif.
Angket yang digunakan pada penelitian ini bersifat tertutup karena pertanyaan yang diberikan pada responden telah disediakan jawaban dengan taraf kesetujuan atau ketidaksetujuan dalam variasi-variasi sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Berdasarkan isinya, angket dalam penelitian ini memuat pertanyaan mendukung atau positif dengan skor : SS=4,S=3,TS=2, dan STS=1.
F.        UJI Validitas dan Reliabilitas
1.             Validitas
Menurut Sugiyono (2010:363) mengemukakan bahwa validitas adalah derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti.
Menurut Anwar Sutoyo (2009:67), validitas mengandung arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya, atau apakah sebuah tes mengukur apa yang seharusnya diukur.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Prinsip validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang berprinsip keandalan instrument dalam mengumpulkan data. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran dan pengamatan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus korelasi Product Moment (Arikunto, 2002:146) sebagai berikut:


rxy        = Koefisien korelasi
N         = Jumlah responden
Sxy      = Jumlah hasil x dan y
Sx       = Jumlah x
Sy       = Jumlah y
X        = Variabel bebas
Y         = Variabel terikat
Setelah diperoleh hasil perhitungan r xy, kemudian dicocokan dengan nilai r tabel. Bila, hasilnya lebih dari  r tabel (r hitung>rtabel ) maka angket tersebut valid.
2.             Reliabilitas
            Reliabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa suatu instrument tercukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrument tersebut sudah baik. Instrument yang baik akan bersifat tendensius yaitu responden untuk memilih jawaban tertentu. Reliable artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan (Arikunto, 2002:154).
Menurut Anwar Sutoyo (2009:67), reliabel mengacu pada skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji ulang dengan tes yang sama pada ketepatan berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen yang berbeda, atau dalam kondisi pengujian yang berbeda.
            Untuk mengetahui reliabilitas angket digunakan rumus Spearman Brown sebagai berikut :

              ri          = Reliabilitas instrumen
              rb             = Korelasi product moment
Setelah diperoleh hasil perhitungan ri , kemudian dicocokan dengan nilai r tabel. Bila, hasilnya lebih dari  r tabel (r hitung>rtabel ) maka angket tersebut reliable.
G.           Teknik Analisis Data
Analisis statistik yang terdiri dari :
1.             Analisis deskriptif
Yaitu statistik yang digunakan untuk  menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Menurut Nana Sudjana (2001:153), perhitungan indeks persentasi dihitung dengan rumus sebagai beikut :

Keterangan :
            % Skor            = Tingkat keberhasilan yang dicapai
            n                      =  Jumlah nilai yang diperoleh
            N                    =  Jumlah seluruh nilai
            Pengukuran pada variabel yang diungkap dengan dilakukan pemberian skor dari jawaban angket yang diisi siswa.
2.             Analisis Korelasi
            Yaitu teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diperlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random.Menurut Sugiyono (2010:255), perhitungan koefisien korelasi dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rxy`             = Koefisien korelasi
Sxy           = Jumlah hasil x dan y
Sx             = Jumlah x
Sy             = Jumlah y
Setelah diperoleh hasil perhitungan r xy, kemudian dicocokan dengan nilai r tabel. Bila, hasilnya lebih dari  r tabel (r hitung>rtabel ) maka Ha diterima.