hot2

Selasa, 23 Februari 2021

CONTOH WAWANCARA DENGAN GURU BK

 

TEMA : “ MENOLAK BILA DIKELOMPOKKAN DENGAN TEMAN LAKI-LAKI ”

Deskripsi Kasus         :

            Dewi adalah salah seorang siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon menunjukkan gejala tingkah laku yang aneh . Dia tergolong siswa yang terpopuler di antara teman-temannya, sebab selain pintar, juga rajin dan ramah. Hal itulah yang membuat sebagian temannya ingin belajar kelompok dengannya. Namun dari sinilah awal masalah yang dialami Dewi mulai tampak. Hal ini terlihat dari adanya sikap menolak terhadap teman-temannya yang berlainan jenis kelamin (laki-laki), dia takut berdekatan dengan laki-laki. Teman-teman laki-lakinya mengatakan bahwa Dewi tidak pernah dekat dengannya, dia selalu menghindar bila diajak bicara. Demikian pula informasi dari guru bidang studi yang mengajar Dewi di kelas bahwa Dewi selalu menolak bila dikelompokkan dengan teman laki-laki, sehingga banyak teman laki-lakinya yang merasa kecewa karena ingin belajar dengan Dewi tapi selalu ditolaknya.

Klien    : Assalamualaikum Wr.Wb.

Kons    : Walaikumsalam Wr.Wb.

              Eh Dewi, mari silakan duduk.

Klien    : Terima kasih, bu.

Kons    : Apa kabar Dewi, pelajaran apa yang baru ikuti di kelas?

Klien    : Baik bu, pelajaran matematika.

Kons    : Oh ya, Dewi sudah tahu mengapa ibu memanggil ke sini?

Klien    : Belum bu. Tapi saya kira ada hal penting yang ingin ibu sampaikan pada  saya.

Kons    : Betul sekali apa yang kamu bilang Dewi, malah saya senang sekali karena Dewi mau 

menemui ibu setelah memanggilmu melalui Diah.

   Begini Dewi, ada yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan pelajaranmu di sekolah.

Klien    : Pelajaran saya bu.

Kons    : Bukan langsung pada pelajaranmu tapi ada hubungannya dengan pelajaranmu. Saya  

  mendengar bahwa Dewi selalu menolak bila dikelompokkan dengan teman laki-laki

  dalam belajar. Apa betul demikian?

Klien    : Memang betul bu (sambil menunduk).

Kons    : Ibu ingin tahu mengapa Dewi bila dikelompokkan dengan teman laki-laki selalu

  menolak? apa ada masalah apa dewi?

Klien    : Ah tidak ada apa-apa bu, malah mereka baik-baik semua.

Kons    : Dewi tadi bilang mereka baik-baik saja, lalu kenapa kamu tidak mau berkelompok

  dengan mereka.

Klien    : (Terdiam dan merunduk). Saya …… saya tidak tahu bu, kenapa saya tidak mau

  berkelompok dengan teman saya yang laki-laki pada hal mereka semua baik-baik pada

 saya. Dan ……………..

Kons    : Teruskan tak usah ragu-ragu. Ibu akan merahasiakannya.

Klien    : Saya malah kadang-kadang merasa benci pada laki-laki.

Kons    : Dewi tadi mengatakan bahwa  kadang-kadang benci pada teman laki-laki, namun tidak

  tahu kenapa hal itu terjadi. Bolehkah Dewi menceritakan pada ibu tentang keadaan

  keluarga Dewi?.

Klien    : Boleh saja, bu.

Kons    : Oh…….ya Dewi apakah kedua orang tua mu masih utuh atau hidup semuanya?

Klien    : (Menunduk) kalau ibu masih hidup sedangkan ayah sudah lama meninggal, bahkan kata

  ibu sejak saya masih bayi. Hal ini baru saya ketahui pada waktu saya mau naik kelas

  VIII SMP.

Kons    : Apa saja yang Dewi baru tahu dari ibu Dewi?

Klien    : Begini, bu. Sebenarnya selama ini saya tidak tahu bahwa ayah yang selama ini saya

  panggil ayah ternyata ayah tiri saya, bukan ayah kandung saya.

Kons    : Dewi mengatakan bahwa ayah  yang mengasuhnya selama ini ternyata bukan ayah

              kandung, terus dari siapa Dewi mengetahui keadaan yang sebenarnya itu?

Klien    :  Semua itu saya ketahui dari ibu saya sendiri, sebab dia menganggap saya sudah besar

   dan sudah bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Tetapi yang lebih menyakitkan

   lagi bu, sebab ayah tiri saya itu selama ini kasar pada saya, sama sekali tidak ada rasa

  kasih sayang pada saya.

Kons    : Dewi tadi mengatakan bahwa sikap ayah tirimu itu kasar, maksudmu bagaimana?

Klien    : Betul bu………malah dia selalu menganggap saya lebih rendah dari adik tiri saya.

Kons    : Dapatkah Dewi menceritakan maksud dianggap lebih rendah dari adik tirimu.

Klien    : Begini bu, ayah tiri saya selalu berkata kasar pada saya, begitu juga dalam membelikan  

  pakaian, anak kandungnya dibelikan lebih banyak dan kualitasnya lebih bagus dari

  saya.

Kons    : Apakah hal itu berlangsung sampai sekarang?

Klien    : Tidak lagi bu, sebab ayah tiri saya itu sudah tidak ada lagi di rumah.

Kons    : Mengapa ayah tirimu tidak ada di rumah?

Klien    : Sebab ia kawin lari dengan pembantu ibu. Dari sinilah awalnya ibu menceritakan   

              semuanya.

Kons    : Lalu bagaimana adik tirimu sekarang apa dia masih bertingkah laku seperti waktu ada

  ayahnya?

Klien    : Tidak lagi bu, malah dia sudah berubah sebab dia pun sudah tahu bahwa saya tidak se

  ayah. Malah sekarang dia selalu membantu mengerjakan pekerjaan yang harus saya  

  kerjakan Hanya saja ……………………

Kons    : Hanya saja kenapa, kemukakanlah …………………

Klien    : Saya tidak bisa melupakan sikap ayah tiri saya itu sehingga khawatir dan sering

  dihantui oleh perasaan takut, Itulah mungkin yang menjadi sebab sehingga saya selalu

  menolak berkelompok dengan teman laki-laki saya. Bahkan bu…………… saya tidak

  tahu mengapa tiba-tiba saya benci dengan laki-laki.

Kons    : Jadi Dewi belum bisa melupakan perlakuan ayah tirimu itu?

Klien    : Betul bu, memang saya heran juga pada diri saya sendiri mengapa saya bersikap seperti

itu, tapi saya juga tidk dapat mengingkari kata hati saya yang selalu menolak keadaan seperti itu, malahan barangkali sikap saya yang seperti itulah yang membuat saya selalu menghindar dari teman laki-laki saya,bu. Tapi saya tidak punya perasaan tertarik pada laki-laki. Malah bu, ada yang sampai kirim surat pada saya, namun saya tidak membalasnya.

Kons    : Jadi Dewi tidak ada perasaan tertarik pada laki-laki.

Klien    : Betul bu……….malah saya selalu menghindar kalau teman-teman saya mulai bercerita

tentang pergaulannya dengan teman laki-lakinya.

Kons    : Apakah Dewi sudah perneh mengusahakan untuk menghilangkan perasaan yang

menyebabkan takut dan tidak tertarik pada laki-laki.?

Klien    : Saya sudah pernah mencoba tapi tidak berhasil bu.

Kons    : Dewi menyatakan sudah pernah mencoba, usaha-usaha apa sajakah yang telah Dewi

lakukan untuk menghilangkan perasaan takut pada laki-laki?

Klien    : Saya berusaha menghilangkan pikiran yang tidak baik terhadap perlakuan ayah tiri

saya yang kasar dan sudah membekas dalam diri saya, dengan mengingat dan membayangkan hal-hal yang baik-baik saja seperti diperlihatkan oleh teman-teman laki-laki di sekolah, namun kalau saya sudah mulai berusaha mendekatinya muncul lagi perasaan takut sebab masih selalu terbayang perlakuan kasar ayah tiri saya. Oh ya bu………. Kira-kira apa yang dapat saya lakukan supaya saya bisa dekat dengan teman laki-laki seperti teman-teman wanita  yang lain?

Kons    :  Itu semua tergantung dari diri Dewi, maksud ibu tidak bisa langsung memberikan obat

untuk menyembuhkan persoalan itu seperti seorang dokter memberikan resep pada pasiennya dan sesudah obatnya diminum langsung sembuh. Tetapi dalam hal ini yang dituntut adalah kemauan

Klien    : Saya mengerti apa yang ibu maksudkan,tapi apakah dewi bisa bu?

Kons    : Oleh karena itu secepatnya masalah Dewi itu dapat diatasi dengan baik …………..

Begini ya ……… Dewi, tadi kamu sudah kemukakan bahwa sering berusaha melupakan peristiwa yang Dewi alami dengan cara menggantikan memikirkan hal-hal yang positif, nah keinginan Dewi untuk keluar dari masalah yang membelenggu itu dapat Dewi lakukan dengan memperkembangkan dan membiasakan melihat yang baik dari seorang laki-laki. Dalam arti jangan terlalu menututi perasaan, kalau perasaan itu muncul, maka segera kamu berusaha menghilangkannya. Seperti misalnya dalam kegiatan belajar kelompok di kelasmu, biasakanlah dan janganlah menolak berkelompok dengan laki-laki, hal ini dapat membiasakan kamu bersama laki-laki yang memberikan dampak positif kepada dirimu. Memang ibu akui bahwa pertamanya Dewi akan merasa sulit, namun kalau sudah sering akan terbiasa juga kan. Seperti orang bilang sudah bisa karena terbiasa. Mengapa hal ini tidak Dewi biasakan?

Klien    : Memang bu selama ini Dewi belum berusaha keras membiasakan berteman dengan laki-

laki malah saya hanya menuruti perasaan saya sendiri. Namun saya akan berusaha untuk membiasakan diri seperti apa yang ibu katakan.

Kons    : Baiklah kalau itu , sudah Dewi pikirkan dan perlu ibu sampaikan bahwa tidak selamanya

laki-laki itu sama sifatnya dengan ayah tiri Dewi, dan tidak mustahil Dewi akan menemukan laki-laki yang kebaikannya melebihi dari apa yang Dewi bayangkan. Sebab selama ini Dewi tidak pernah mempunyai teman dekat laki-laki. Jadi supaya pikiran buruk tentang laki-laki itu hilang, maka Dewi harus berusaha menghilangkan dan menyakinkan dirimu sendiri bahwa tidak selamanya laki-laki akan bersikap sama seperti ayah tirimu itu. Dan yang lebih penting lagi tidak ada orang yang sama persis sifat dan tabiatnya walaupun itu kembar adanya.

Klien    : Sepertinya pikiran saya lebih terbuka dengan nasihat ibu. Saya akan berusaha

menghilangkan perasaan benci dan takut pada laki-laki, sehingga saya dapat seperti teman-teman yang lain. Saya tidak akan menolak lagi berkelompok dengan laki-laki supaya saya dapat terbiasa dengannya.

Kons    : Oh ya ……… persoalan yang Dewi hadapi ini tidak dapat hilang dengan hanya satu kali

saja melakukannya, dalam arti membutuhkan proses dan waktu, tetapi tidak perlu khawatir kalau memang Dewi sudah dapat mengendalikan diri, itu semua akan bisa berubah jadi baik. Dan jangan berhenti untuk terus bertekad menghilangkan perasaan dan khayalan yang buruk pada seorang laki-laki.

Klien    : Terima kasih bu ……….rasanya terbuka pikiran apa yang harus saya lakukan sekarang

untuk mengatasi persoalan saya itu. Mudah-mudahan saya dapat melakukannya dengan baik. Nanti kalau saya mengalami hambatan lagi dalam melakukannya, maka saya akan ke sini lagi bu.

Kons    : Ibu akan senang sekali jika Dewi datang kembali melaporkan perubahan-perubahan yang

telah terjadi pada diri dewi serta ibu yakin sekali Dewi dapat membiasakan dirinya dekat pada laki-laki dan belajar bersama dalam satu kelompok.

Klien    : Ya saya akan berusaha keras melakukannya bu, permisi dulu bu ( Sambil berjabat

tangan). Assalamualaikum Wr.Wb.

Kons    : Walaikumussalam Wr.Wb


Tidak ada komentar:

Posting Komentar