HUBUNGAN PERILAKU SISWA MENCARI PERHATIAN
DI KELAS
DENGAN PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PADA
SISWA
KELAS VIII SMP NEGERI 1 PULOKULON
KABUPATEN GROBOGAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Proses belajar mengajar
di sekolah merupakan suatu hubungan timbal balik antara guru dan siswa yang
dibimbingnya. Guru dalam mengajar pasti mengharapkan siswa mampu belajar secara
efektif dan mempunyai peningkatan motivasi belajar sehingga dapat berprestasi
dengan baik.
Kenyataan yang ada di lingkungan
SMP Negeri I Pulokulon selama ini belum efektif, karena ada siswa yang motivasi
belajarnya rendah. Ciri-ciri siswa yang motivasi belajarnya rendah antara lain
: Sering membolos pada jam-jam pelajaran tertentu, tidak konsentrasi dalam
mengikuti pelajaran, sering tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan
rumah, tidak mempunyai cita-cita, sering terlambat datang disekolah, tidak
mematuhi tata tertib sekolah, tidak memiliki buku-buku pelajaran, tidak mempunyai
cacatan pelajaran yang lengkap, nilai prestasi rendah, sering membuat
kegaduhan, memakai pakaian atau asesoris yang berlebihan.
Motivasi belajar adalah
semangat yang ditimbulkan adanya dorongan dari luar sehingga pada diri individu
terjadi perubahan-perubahan untuk mengetahui sesuatu missal merubah sikap dan
sebagainya. Tinggi rendahnya gairah belajar siswa dipengaruhi oleh faktor
intern dan faktor ekstern. Faktor intern atau dari dalam individu adalah
motivasi, yaitu pendorong kemauan atau keinginan seseorang untuk belajar
sehingga tujuan yang telah dirncanakan dapat tercapai. Motivasi dalam
penelitian ini adalah motivasi belajar, sehingga apabila siswa mempunyai
motivasi belajar yang tinggi maka akan bisa berdampak positif terhadap
peningkatan prestasi belajar siswa. Sedangkan faktor dari luar individu yaitu
faktor lingkungan yaitu : lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Kenyataan menunjukkan SMP Negeri I Pulokulon sebagaimana diharapkan di dalam
tujuan pendidikan nasional belum dapat diwujudkan secara maksimal terbukti ada
beberapa siswa berperilaku negative yaitu mencari perhatian di kelas. Gejala mencari perhatian dapat dilihat antara lain
sering bertanya kepada guru yang menyimpang dari materi pelajaran, sulit untuk
diajak berkelompok, selalu mementingkan diri sendiri yang pada akhirnya
mengakibatkan proses belajar mengajar kacau dan mengganggu proses belajar teman
yang lain. Gejala tersebut akan mempengaruhi proses belajar siswa, sehingga
siswa tidak dapat mengikuti pelajaran secara optimal.
Guna mengatasi perilaku
siswa yang mencari perhatian di kelas
tersebut, diperlukan kemampuan guru untuk memasukkan unsur mendidik dalam
setiap usaha pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan
saja melainkan juga pengertian tentang cara hidup dalam masyarakat, penghargaan
atas sumbangan dan jasa bangsa orang lain, toleransi terhadap orang yang
berlainan pendapat, agama, dan adat istiadat, minat untuk mempelajari
bangsa-bangsa lain secara professional upaya mengenali secara mendalam tentang
masalah yang dihadapi siswa tersebut, yaitu perilaku mencari perhatian di kelas.
Berdasarkan latar belakang
diatas maka peneliti tertarik untuk membuat judul: Hubungan perilaku siswa mencari perhatian di kelas dengan
peningkatan motivasi belajar pada siswa
kelas VIII SMP Negeri I Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2011/2012.
B.
Identifikasi Masalah
Sehubungan dengan latar
belakang masalah tersebut, maka masalah yang perlu diidentifikasi masalah
adalah :
1.
Ada beberapa siswa sering yang mencari
perhatian ketika proses belajar mengajar berlangsung.
2.
Ada beberapa siswa yang motivasi
belajarnya rendah sehingga prestasi belajarnya mengalami penurunan.
3.
Ada hubungan antara perilaku mencari
perhatian dengan motivasi belajar siswa yang rendah.
C. Pembatasan Masalah
Agar
penelitian ini lebih terpusat dan terarah pada tujuan penelitian maka
diperlukan pembatasan masalah. Diharapkan masalah dapat dikaji secara lebih
mendalam untuk memperoleh hasil yang maksimal. Permasalahan penelitian ini
dibatasi pada” hubungan perilaku siswa mencari perhatian di kelas dengan
peningkatan motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten
Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 ”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana perilaku siswa mencari
perhatian di kelas pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon?
2.
Bagaimana motivasi belajar kelas VIII
SMP Negeri 1 Pulokulon?
3.
Adakah hubungan yang signifikan antara
perilaku siswa mencari perhatian di kelas dengan peningkatan motivasi belajar
pada siswa VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun pelajaran
2011/2012?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan
yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data yang
empiris tentang :
1.
Perilaku siswa mencari perhatian di kelas
pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon
2.
Motivasi belajar siswa kelas VIII SMP
Negeri 1 Pulokulon
3.
Ada tidaknya hubungan perilaku siswa
mencari perhatian dikelas dengan Peningkatan motivasi belajar pada siswa kelas
VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun pelajaran 2011/2012
F.
Manfaat Penelitian
Segala sesuatu yang
dimulai dengan suatu prosedur yang sistematik, pasti mempunyai kegunaan baik
secara teoritis maupun secara praktis.
Demikian juga dalam penelitian ini , adapun penelitian yang diharapkan adalah
sebagai berikut :
1.
Manfaat teoritis
Secara
teoristis, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan
dalam perilaku siswa mencari perhatian dikelas dengan motivasi belajar siswa
2.
Manfaat Praktis
a. Bagi
Peneliti
Penelitian ini
dimaksudkan untuk menambah pengalaman, wawasan serta menambah pengetahuan dalam
melaksanakan proses belajar mengajar secara professional terutama dalam
perilaku siswa mencari perhatian dikelas dengan motivasi belajar siswa
b. Bagi
Sekolah
Hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan khususnya
pelaksanaan bimbingan belajar.
c. Bagi
Orang Tua
Dapat dijadikan pedoman
bagi orang tua dalam usaha meningkatkan motivasi belajar anak dirumah. Setelah
orang tua atau wali murid mengetahui keadaan putra putrinya maka orang tua bisa
lebih memperhatikan, bisa memberikan dorongan atau motivasi yang diperlukan
sehingga dapat mencapai hasil yang sesuai dengan yang diinginkan orang tua.
d. Bagi
Siswa
Sebagai masukan bagi
siswa agar dapat meningkatkan motivasi belajarnya dan upaya lebih mengetahui
arti penting motivasi belajar bagi kelanjutan pendidikannya.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.
Deskripsi
Teori
1.
Tinjauan
Tentang perilaku siswa mencari perhatian dikelas
a.
Pengertian Perilaku
Menurut Bloom dalam
Soerjono Soekamto (2002:179), perilaku adalah tindakan / perbuatan yang layak
bagi manusia. Perilaku mengacu pada tindakan atau aktivitas. Perilaku social seseorang
menggambarkan system sikap dalam mengevaluasi obyek positif atau negative.
Unsure perilaku ada 3 (tiga), yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif
mencakup perilaku yang berkenaan dengan aspek inteletualitas seseorang.
Terjadinya perilaku dikawasan kognitif belum menjamin timbulnya rasa suka
seseorang dalam melakukan sesuatu. Karena itu perubahan perilaku yang
berhubungan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang termasuk dalam
kawasan afektif. Perubahan perilaku pada kawasan psikomotorik terjadi jika
seseorang telah melaksanakan apa yang telah menjadi sikapnya.
Lebih lanjut Soejono
Soekanto menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan yang
dilakukan untuk merealisasikan keinginan. Maksudnya bahwa kata perilaku secara
sederhana berarti kelakuan seseorang yang dijumpai dalam suatu keadaan.
Maufur (2003: 12),
mengemukakan bahwa perilaku adalah suatu perbuatan atau tindakan, baik yang
tersurat maupun tersirat untuk memperlakukan obyek tertentu baik dalam bentuk
kata-kata maupun tanda-tanda non verbal, seperti gerakan badan raut muka dan
sebagainya. Maksudnya bahwa perilaku merupakan cerminan sikap seseorang yang
tampak dalam kelakuan seseorang, sehingga perilaku dapat diukur baik arah
maupun intensitasnya.
Pada dasarnya perilaku
ada dua jenis yaitu perilaku yang dikehendaki dan perilaku yang tidak
dikehendaki (Siti Rahayu Hadinata, 2004:51). Perilaku yang dikehendaki dan
perilaku yang tidak dikehendaki dibedakan atas derajat perilaku itu,
mengecewakan atau tidak mengecewakan individu dan lingkungannya, sebab dua
perilaku itu dipelajari dengan cara yang sama. Dalam hal ini perilaku yang
dikehendaki di hasilkan dari proses belajar individu dengan lingkungannya yang
secara benar. Perilaku yang tidak dikehendaki dihasilkan dari proses interaksi
belajar dengan cara yang tidak benar atau tidak tepat.
Perilaku seseorang
dilakukan secara terus-menerus dan dapat dibedakan menjadi beberapa bagian
serta dapat dipelajari tanpa menghilangkan unsur-unsur utama dari perilaku itu
sendiri dan kondisi lingkungannya. Lutfi Fauzan, (2003:10) mengemukakan bahwa
unsur-unsur utama dalam menganalisis perilaku itu meliputi: stimulasi,
organism, respon, dan konsekuensi dari perilaku atas individu yang bersangkutan
dan lingkungannya. Untuk lebih jelasnya akan dibahas sebagai berikut:
1) Stimulus : Stimulus adalah
gejala rangsangan yang dapat ditangkap indera. Untuk dapat tertangkap indera, stimulus tersebut harus berada pada
ambang batas tangkap stimulus
(thersholdstimulus). Stimulus harus memiliki intensitas tertentu. Aspek
gelap dan aspek terang serta jarak menentukan ambang stimulus yang di maksut.
2) Organisme : Organisme menunjukkan
factor biologis manusia yang mempengaruhi pola perilaku. Variabel biologis akan mempengaruhi respon seseorang stimulus lingkungannya, dan berpengaruh
pula ktur terhadap kemampuan individu untuk merubah respon. Strktur anatomi seseorang mempengaruhi
system respond an usaha individu untuk merubah perilaku
3) Respon : respon manusia
ada dua macam, yaitu respondentbehavior ,
perilaku yang tidak perlu dipelajari, dan operant behavior,
perilaku yang harus diperlancar atau diproleh dari hasil belajar. Perilaku yang
tidak dipelajari adalah bawaan, berifat reflektif,
dan otomotif, tidak dibawah control individu.
4) Konsekuensi : suatu
perbuatan diikuti oleh beberapa peristiwa yang terdapat dalam lingkungan individu
dan yang menhasilkan kepuasan, maka kemungkinannya perilaku itu akan diulangi
atau meningkat pada masa yang akan datang. Jadi operant behavior dipengaruhi oleh reinforcement yang dapat dalam bentuk materi maupun social.
Peningkatan respon yang diikuti oleh peningkatan reinforcement dapat menyebabkan conditioning.
Terkait dengan pendapat
di atas dapat diketahui bahwa perilaku adalah cermin sikap seseorang baik yang
tersurat maupun yang tersirat yang dilakukan untuk merealisasikan keinginannya.
Perilaku dapat diketahui sebagai tindakan nyata ataupun perbuatan dan dapat
berupa sikap seseorang yang menggambarkan tentang dirinya. Manusia berperilaku
karena adanya rangsangan yang dapat menimbulkan respon. Rangsangan itu dapat
berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Pada dasarnya rangsangan
adalah suatu dorongan yang muncul pada manusia untuk bertindak dalam rangka
mencapai tujuan. Dari rangsangan yang timbul akan muncul respon yang merupakan
langkah-langkah untuk mencapai tujuan.
b. Pengertian Perhatian
Kata perhatian tidaklah
selalu digunakan dalam arti yang sama. Benard Poduska (2000:202) mengemukakan
bahwa “Perhatian adalah suatu tindakan memberi atau berhubungan dengan
seseorang”. Perhatian sering dihubungkan dengan penguat yang sudah diramalkan
oleh kondisi sebelumnya.
Moh. Uzer Usman (2001 :
28) mengemukakan bahwa “Dalam kegiatan belajar mengajar didapat 2 macam tipe perhatian, yaitu
perhatian yang berpusat (terkonsentrasi) dan perhatian terbagi (tidak
terkonsentrasi)”. Pengertian tersebut menunjukkan perhatian terpusat hanya
tertuju pada suatu objek secara sekaligus.
Menurut Bimo Walgito
(2005:110), perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh
aktivitas individu yang dituukan kepada suatu objek atau sekumpulan objek.
Kalau individu sedang memperhatikan sesuatu misalnya, ini berarti bahwa seluruh
aktivitas individu dicurahkan atau dikonsentrasikan kepada benda
tersebut.tetapi disamping itu individu juga dapat memperhatikan banyak objek
sekaligus dalam suatu waktu. Jadi yang dicakup bukanlah satu objek tetapi
sekumpulan objek-objek.
Perhatian sangatlah
penting dalam mengikuti kegiatan dengan baik,dan hal ini akan berpengaruh pula
terhadap minat siswa dalam belajar. Menurut Sumadi Suryabrata (2000:14)
“Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas
yang dilakukan. “Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih
sukses dan prestasinya pun akan lebih tinggi. Maka dari itu sebagai seorang
guru harus selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya sehingga
mereka mempunyai minat terhadap pelajaran yang diajarkannya. Orang yang menaruh
minat pada suatu aktivitas akan memberikan perhatian yang besar. Ia tidak segan
mengorbankan waktu dan tenaga demi aktivitas tersebut. Oleh karena itu seorang
siswa yang mempunyai perhatian terhadap suatu pelajaran, ia pasti akan berusaha
keras untuk memperoleh nilai yang bagus yaitu dengan belajar.
Atensi atau perhatian
adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar
informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun
proses kognitif lainnya, proses atensi membantu efisiensi penggunaan sumberdaya
mental yang terbatas yang kemudian akan membantu kecepatan reaksi terhadap
rangsang tertentu. Ada yang mengatakan bahwa perhatian adalah aktivitas jiwa.
Perhatian juga dikatakan modus dari fungsi. Modus yaitu cara berposisi dan
menggerakkan. Jadi perhatian adalah cara menggerakkan bentuk umum cara
bergaulnya jiwa bahan-bahan dalam medan tingkah laku. Perhatian Berhubungan
erat dengan kesadaran jiwa terhadap sesuatu obyek yang direaksi suatu waktu.
Terang tidaknya kesadaran kita terhadap sesuatu obyek tertentu tidak tetap, ada
kalanya kesadaran kita meningkat (menjadi terang), ada kalanya menurun (menjadi
samar-samar). Taraf kesadaran kita meningkat kalau jiwa kita dalam mereaksi
sesuatu meningkat. Apabila taraf kekuatan kesadaran kita naik atau menjadi giat
karena suatu sebab, maka kita berada pada permulaan perhatian. Perhatian timbul
dengan adanya pemusatan kesadaran kita terhadap sesuatu. Obyek yang menjadi
sasaran mungkin hal-hal yang ada dalam dirinya sendiri, misalnya : tanggapan,
pengertian, perasaan. Dan hal-hal yang berada diluar dirinya, misalnya: keadaan
alam, keadaan masyarakat, social ekonomi dan sebagainya.
c.
Jenis
Perhatian
Perhatian
itu sangat dipengaruhi oleh perasaan dan suasana hati, dan ditentukan oleh
kemauan. Sesuatu yang dianggap sebagai luhur, mulia dan indah, akan memikat
perhatian. Sesuatu yang menimbulkan rasa ngeri dan ketakutan, akan mencekam
juga merupakan perhatian. Sebaliknya segala sesuatu yang menjemukan,
membosankan, sepele, dan terus menerus berlangsung secara otomatis bagaikan
mesin, tidak akan bisa memikat perhatian.
Menurut
Sumadi Suryabrata (2004:14), jenis perhatian adalah sebagai berikut :
1)
Atas dasar intensitasnya, yaitu banyak
sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas atau pengalaman batin,
maka dibedakan menjadi :
a)
Perhatian intensif
b)
Perhatian tidak intensif
Makin
banyak kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas atau pengalaman batin berarti
makin intensiflah perhatiannya. Selain itu semakin intensif perhatian yang
menyertai sesuatu aktivitas akan makin sukseslah aktivitas itu.
2)
Atas dasar cara timbulnya, perhatian
dibedakan menjadi :
a) Perhatian
Spontan (perhatian tak sekehendak, perhatian tak sengaja).
b) Perhatian
sekehendak (perhatian disengaja, perhatian refleksif).
Perhatian jenis
pertama timbul begitu saja, seakan-akan tanpa usaha, tanpa disengaja, sedangkan
perhatian jenis yang kedua timbul karena usaha dan kehendak.
3)
Atas dasar obyek yang dikenai perhatian,
perhatian dibedakan menjadi :
a)
Perhatian terpencar (distributive)
b)
Perhatian terpusat (konsentratif)
Perhatian
terpancar pada suatu saat dapat tertuju kepada bermacam-macam obyek. Perhatian yang
terpusat pada suatu saat hanya dapat tertuju kepada obyek yang sangat terbatas.
Perhatian yang demikian itu misalnya pada seorang tukang jam yang sedang memperbaiki
jam.
Perhatian
merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan
bertambahnya aktivitas, daya konsentrasi, dan pembatasan kesadaran
terhadap,satu obyek. Sumberdaya mental manusia yang terbatas untuk memroses suatu
rangsang membutuhkan bantuan untuk mempercepat proses waktu reaksi. Mengarahkan
pada suatu informasi tertentu akan mempercepat proses mental mengolah suatu
ransang. Misalnya dalam mengemudi, atensi yang menarahkan pengemudi pada
situasi jalan raya akan mempercepat reaksinya menginjak pedal rem jika
menghadapi situasi membahayakan. Atensi juga terpengaruh oleh perbedaan usia,
terutama pada masa anak.
Menurut
Bino Walgito (2005:112), ada bermacam-macam perhatian yaitu:
1)
Ditinjau dari segi timbulnya perhatian,
perhatian dpat dibedakan menjadi perhatian spontan dan perhatian tidak spontan.
-
Perhatian spontan yaitu perhatian yang
timbul dengan sendirinya timbul dengan secara spontan. Perhatianya ini erat
dengan hubunganya dengan minat individu. Apabila individu telah mempunyai minat
terhadap sesuatu objek maka terhadap obyek itu biasanya timbul perhatian yang
spontan.
-
Perhatian tidak spontn, yaitu perhatian
yang ditimbulkan dengan sengaja, karena itu harus ada kemauan untuk
menimbulkannya.
2)
Dilihat dari banyaknya obyek yang dapat
dicakup oleh perhatian pada suatu waktu, perhatian dapat dibedakan, perhatian
sempit dan perhatian yang luas.
-
Perhatian yang sempit, yaitu perhatian
individu pada sustu waktu hanya dapat memperhatikan obyek.
-
Perhatian yang luas, yaitu perhatian
individu yang pada suatu waktu dapat memperhatikan banyak obyek sekaligus.
3)
Dilihat daru fluktuasi perhatian, maka
perhatian dapat dibedakan menjadi perhatian statis dan perhatian yang dinamis.
-
Perhatian yang statis yaitu individu
dalam waktu tertentu dapat dengan statis atau tetap perhatiannya tertuju kepada
obyek tertentu.
-
Perhatian yang dinamis, yaitu individu
dapat memindahkan perhatiannya secara lincah dari sat obyek ke obyek lain.
4)
Dilihat berdasar keadaannya terbagi
kepada 3, yaitu adalah sebagai berikut:
a)
Macam-macam perhatian atas dasar
intensitasnya, dibedakan menjadi:
(1)
Perhatian intensif, yaitu perhatian yang
banyak dikuatkan oleh banyaknya rangsang atau keadaan yamg menyertai aktifitas
atau pengalaman batin
(2)
Perhatian tidak intensif, yaitu
perhatian yang kurang di perkuat oleh rangsangan atau beberapa keadaan yang
menyertai aktifitas atau pengalaman batin.
b)
Macam-macam perhatian atas dasar
timbulnya atau menurut cara kerjanya:
(1)
Perhatian spontan, yaitu perhatian yang
tidak sengaja atau tidak sekehendak.
(2)
Perhatian refleksif, yaitu perhatian
yang di sengaja atau sekehendak subjek.
(3)
Macam-macam perhatian atas dasar objek
yang di kenai perhatian:
-
Perhatian terpencar (distibrutif), yaitu
perhatian yang pada suatu saat tertuju pada lingkup objek yang luas atau
terjadi pada bermacam-macam objek.
-
Perhatian terpusat (konsentratif), yaitu
perhatian yang tertuju pada lingkup objek yang sangat terbatas.
Berdasarkan
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa jenis perhatian adalah:
1)
perhatian disengaja yaitu perhatian yang
timbulnya didorong oleh kemauan karena adanya tujuan tertentu.
2)
Perhatian statis dan dinamis
Perhatian statis
ialah perhatian yang tetap terhadap sesuatu. Ada orang yang dapat mencurahkan
perhatianya kepada sesuatu seolah-olah tidak berkurang kekuatanya. Dengan perhatian
yang tetap itu maka dalam waktu yang agak lama orang dapat melakukan sesuatu
dengan perhatian yang kuat. Pengertian dinamis yaitu perhatian yang mudah
berubah-ubah, mudah bergerak, mudah berubah dari objek yang satu ke objek yang
lain. Supaya perhatian kita terhadap sesuatu tetap kuat, maka tiap-tiap kali
pelu diberi perangsang baru.
3)
Perhatian konsentratif dan distributive
Perhatian
konsentratif (perhatian memusat), yakni perhatian yang hanya ditujukan kepada
suatu objek (masalah) tertentu. Perhatian distributive (perhatian
terbagi-bagi). Dengan sifat distributive ini orang dapat membagi-bagi
perhatianya kepada beberapa arah dengan sekali jalan/dalam waktu yang
bersamaan.
4)
Perhatian sempit dan luas
Perhatian
sempit: orang yang mempunyai perhatian sempit dengan mudah dapat memusatkan
perhatianya kepada suatu obyek yang terbatas, sekalipun ia berbeda dalam
lingkungan ramai. Dan lagi orang semacam itu juga tidak mudah memindahkan
perhatiannya ke obyek lain, jiwanya tidak mudah tergoda oleh keadaan
sekelilingnya. Perhatian luas: orang yang mempunyai perhatian luas mudah sekali
tertarik oleh kejadian-kejadian sekelilingnya, perhatiannya tidak dapat
mengarah hal-hal tertentu, mudah terangsang dan mudah mencurahkan jiwanya
kepada hal yang baru.
5)
Perhatian fiktif dan fluktuatif
Perhatian fiktif
(perhatian melekat), yakni perhatian yang mudah dipusatkan suatu hal dan boleh
dikatakan bahwa perhatianya dapat melekat lama pada objeknya. Biasanya teliti
sekali dalam mengamati sesuatu. Perhatian fluktuatif (bergelombang). Pada
umumnya dapat memperhatikan bermacam-macam hal sekaligus, tetapi tidak seksama.
Yang melekat hanya hal yang dirasa penting.
Terkait
dengan pengertian di atas dapat ditegaskan bahwa atas perhatian di kelas adalah
suatu tindakan siswa yang di bangun atas kebutuhannya untuk memperoleh
penilaian ataupun objek perhatian dari teman-temannya dengan membentuk keadaan
yang beda atau lain dari pada yang lain di kelas. Tindakan membentuk tindakan beda
yang dimaksud seperti berpenampilan beda dari teman, berdandan rambut dan
memakai asesoris yang tidak umum, saat berperilaku berpenampilan beda dan bertanya tidak sesuai
dengan materi yang disampaikan tersebut berharap memperoleh perhatian dari
teman-temannya di kelas.
Perilaku
mencari perhatian di kelas adalah tanggapan
atau reaksi dari individu terhadap rangsangan lingkungan, terwujud dalam bentuk
gerakan atau sikap untuk memperoleh respon sebagai objek perhatian di kelas
ketika langsung proses belajar mengajar. Contoh mencari perhatian di kelas ini seperti
memainkan bola pingpong di atas meja belajar ketika guru sedang menyampaikan
pelajaran dan bertanya pada guru dengan pertanyaan yang menyimpang dari materi.
Tindakan tersebut dimaksudkan oleh individu yang bersangkutan untuk memperoleh
perhatian dari teman-temannya. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa perilaku
mencari perhatian dikelas adalah suatu tindakan siswa yang dibangun atas
kebutuhannya untuk memperoleh penilaian atauipun perhatian dari teman-temannya
dengan membentuk keadaan yang berbeda atau lain daripada yang lain di kelas.
Tindakan
yang membentuk keadaan beda yang digolongkan termasuk perilaku mencari
perhatian di kelas seperti memakai model baju dan celana yang berbeda dari
teman-temannya, menyanyi sambil menabuh meja belajar pada saat temantemannya
sedaang menulis. Harapan yang di inginkan dari sikap siswa tersebut adalah
memperoleh perhatian dari teman-temannya di kelas. Diinginkan dari sikap siswa
tersebut adalah memperoleh perhatian dari teman-temannya di kelas.
Moh.
Uzer Usman (2001:28) mengemukakan bahwa secara umum ciri-ciri atau gejala siswa
berperilaku mencari perhatian:
a.
Bertanya menyimpang dari materi
pelajaran
b.
Sombong terhadap teman-temannya
c.
Merasa lebih pintar daripada yang lain
d.
Senang mencari perhatian dari teman
e.
Mendomonasi pembicaraan dalam proses
belajar mengajar
f.
Mementingkan diri sendiri.
Gejala mencari perhatian dapat dilihat antara lain
sering bertanya kepada guru yang menyimpang dari materi pelajaran, sulit untuk
diajak berkelompok, selalu mementingkan diri sendiri yang akan pada akhirnya
mengakibatkan proses belajar mengajar
kacau. Perilaku merupakan ungkapan jiwa, demikian pula mencari perhatian
di kelas juga merupakan ungkapan jiwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dengan
menjadikan dirinya sebagai objek perhatian orang lain. Bahwa bukan hal yang
aneh kalau dibidangpelajarannya, anak ingin menang dibidang lain. Pernyataan
ini menunjukkan bahwa penyebab mencari perhatian bentuk kompensasi yang
dilakukan anak, karena merupakan perilaku menutupi kekurangan dengan suatu yang
lebih unggul atau positif untuk menutupi kekurangan. Perilaku mencari perhatian
di kelas merupakan salah satu bentuk perilaku yang tidak diharapkan sehingga
faktor penyebabnya juga merupakan faktor-faktor penyebab perilaku malas.
2. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar
a.
Pengertian Motivasi
motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan atau
menggerakkan. “Motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas manusia
karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung
perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang
optimal”(Melayu S.P Hasibuan, 2001:141).
Kata “Motif”, diartikan sebagai daya
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dilakukan
sebagai daya penggerak dari dalam dan subyek untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan Motif dapat
diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan). Berawal dari kata
“motif” itu, maka motifasi itu dapat menjadi aktif pada saat-saat tertentu,
terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak.
Menurut G.R. Terry yyang diterjemahkan
oleh J Smith D.F.M (2003:130), “Motivasi dapat diartikan sebagai suatu usaha
agar seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat karena ada
tujuan yang ingin dicapai”. Manusia mempunyai motivasi yang berbeda tergantung
dari banyaknya factor seperti kepribadian, ambisi, pendidikan dan usia. Jado
motif adalah daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya sesuatu tujuan sedangkan motivasi
adalah keseluruhan daya pengaruh di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin
kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan
dapat tercapai.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002 :
114) motivasi adalah perubahan energy dalam diri seseorang itu berbentuk suatu
aktivitas nyata berupa kegiatan fisik, karena seseorang mempunyai motivasi yang
kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dilakukan untuk
mencapainya. Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila didalam dirinya
sendiri ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang akan di
pelajari dan tidak memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari, maka
kegiatan belajar mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan. Keinginan atau
dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi.
Motivasi orang akan terdorong untuk
bekerja mencapai sasaran dan tujuan karena yakin dan sadar akan kebaikan,
kepentingan dan manfaatnya. Bagi siswa motivasi ini sangat penting karena dapat
menggerakkan perilaku siswa kearah yang positif sehingga mampu menghadapi
segala tuntutan, kesulitan serta menanggung resiko dalam belajar.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
motivasi adalah merupakan sejumlah proses-proses psikologikal, yang menyebabkan
timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela
(volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau
eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasisme
dan persistensi. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan
mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Motivasi terkandung
adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dan insentif.
b.
Pengertian Belajar
Menurut pendapat Dimyati (2000:39),
“Belajar adalah perilaku kompleks pada individu yang melibatkan ranah-ranah
kognitif, efektif, dan psikomotor, yang kesemuanya itu terkait dengan tujuan
pembelajaran”. Belajar adalah suatu perubahan tingkahlaku individu dari hasil
pengalaman dan latihan. Perubahan tingkah laku tersebut, baik dalam aspek
pengetahuannya(kognitif), keterampilannya (psikomotor), maupun sikapnya
(afektif).
Suatu kegiatan melalui jalan latihan
(apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari
perubahan-perubahan oleh beberapa factor-faktor”. Maksudnya bahwa prestasi
belajar dapat dicapai melalui kemauan dan usaha yang maksimal yang dibuktikan
dengan penilaian hasil belajar sehingga hasil usaha kegiatan tersebut dapat di
tunjukkan dalam bentuk hasil evaluasi (raport)
Dari beberapa pendapat tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yan g melibatkan
ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotor untuk memperoleh berbagai
perubahan kecakapan dan keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Perubahan itu berbentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu yang
relative lama. Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha sadar yang
dilakukan oleh individu yang belajar dalam upaya meningkatkan wawasan sebagai
wujud sifat dan kodrat manusia. Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari
tidak mengerti menjadi mengerti. Belajar mempunyai sifat yang sangat luas. Jika
diamati hampir semua pengetahuan, kecakapan, keterampilan, kebiasaan, sopan
santun, akan berkembang karena kagiatan belajar. Jadi seseorang dikatakan belajar
jika orang itu telah mengalami perubahn tertentu.
Motivasi belajar adalah merupakan faktor
fsikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal
penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan
mempunyai banyak energy untuk melakukan kegiatan belajar. Seseorang siswa yang
memiliki intelegensi yang cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kurangnya
motivasi. Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi yang tepat dan
semakin meningkat. Maka dari itu kegagalan belajar siswa jangan begitu saja
mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam
memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa
berbuat/belajar. Jadi tugas guru sebagai pembimbing adalah memberikan layanan
bimbingan belajar untuk lebih meningkatkan motivasi dalam belajar.
c. Macam Motivasi Belajar
Menurut
Mohammad Asrori (2008:183), motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua macam
yaitu:
1)
Motivasi
Instrinsik, adalah motivasi yang bersumber dari
dalam diri seseorang yang atas dasar kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu
pekerjaan belajar.
2)
Motivasi
Ekstrinsik, adalah motivasi yang datangnya dari luar
diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan
belajar.
Ini
berarti bahwa mtivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah,
semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi
mempunyai energy yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Motivasi
intrinsic atau motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu:
a)
Tingkat kesadaran siswa atas kebutuhan
ya g mendorong perbuatanya.
b)
Sikap guru terhadap kelas
c)
Pengaruh kelompok siswa,
d)
Suasana kelas juga berpengaruh terhadap
muncul sifat tertentu pada motivasi belajar siswa.
Jenis-jenis
motivasi belajar, menurut Sadirman (2004:88-90) motivasi dibagi menjadi dua
tipe atau kelompok yaitu intrinsic dan ekstrnsik:
1)
Motivasi intrinsik
Motivasi
intrinsic merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak
perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada
dorongan untuk melakukan sesuatu. Contohnya seseorang yang senang membaca tidak
usah disuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin membaca buku-buku untuk
dibacanya.
2)
Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik
merupakan motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari
luar. Contohnya seseorang itu belajar, karena tahu besok pagi ada ujian dengan
harapan akan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapatkan hadiah. Jadi kalau
dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung
bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu.
Ngalim
Purwanto (2004 : 62) menggolongkan motivasi ada tiga golongan, yaitu :
1)
Kebutuhan-kebutuhan
organis yakni motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian
dari tubuh seperti lapar, haus, kebutuhan bergerak, istirahat, dan sebagainya.
2)
Motif-motif
yang timbul secara tiba-tiba yaitu motif yang timbul jika situasi menurut
timbulnya tindakan kegiatan yang cepat dan kuat. Motif ini timbul karena ada
rangsangan dari luar yang menarik.
3)
Motif
objektif yaitu motif yang diarahkan kesuatu objek tertentu disekitar kita.
Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam.
Berarti bahwa
motivasi terdiri dari keinginan yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan
dari dalam tubuh. Motivasi berasal dari rangsangan luar yang menarik seseorang
serta dorongan dari dalam untuk tujuan yang berada dilingkungan sekitar
individu.
Dari
uraian pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi timbul karena dorongan
dari dalam dan luar yang berhubungan dengan organ-organ tubuh yang berlangsung
secara kuat untuk mencapai tujuan tertentu. Ini bisa diartikan bahwa antara
kebutuhan-motivasi-perbuatan atau tingkah laku, tujuan dan kepuasan terdapat
hubungan dan kaitan yang erat. Setiap perbuatan disebabkan motivasi.
Menurut
Syaiful Bahri Djamarah (2002 : 117) yang tergolong bentuk motivasi belajar
ekstrinsik antara lain :
a). Belajar demi memenuhi kewajiban.
b). Belajar demi menghindari hukuman yang diancam.
c). Belajar demi memperoleh hadiah material yang
dijanjikan.
d). Belajar demi meningkatkan gengsi social.
e). Belajar demi tuntutan jabatan yang
ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan jenjang.
f). Belajar demi memperoleh pujian dari
orang yang penting.
Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi
intrinsic adalah bentuk motivasi yang didalam aktivitas belajar dimulai dan
diteruskan berdasarkan dorongan secara mutlak berkaitan dengan aktivitas
belajar. Yang tergolong dalam motivasi intrinsic adalah :
a). Belajar karena ingin mengetahui
seluk-beluk masalah selengkap-lengkapnya.
b).
Belajar karena ingin menjadi orang terdidik atau menjadi ahli bidang
studi pada penghayatan kebutuhan dan siswa berdaya upaya melalui kegiatan
belajar untuk memenuhi kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat.
Motivasi juga berfungsi mengaktifkan
atau meningkatkan kegiatan. Menurut sifatnya motivasi dibedakan atas tiga
macam, yaitu :
(1)
Individu melakukan sesuatu perbuatan
karena takut
(2)
Individu melakukan sesuatu perbuatan
untuk mendapatkan sesuatu insentif ;
(3)
Sikap atau attitude motivation atau self
motivation. Motivasi ini lebih bersifat intrinsik, muncul dari dalam individu.
Motivasi ini datang dari dirinya sendiri karena adanya rasa senang atau suka
serta factor-faktor subjektif lainnya (Sardiman,2007:11).
Kompleksnya masalah motivasi ini, berhubungan
erat dengan kompleksnya kepribadian individu, sebab motivasi bukan hanya
memegang peranan penting dalam kepribadian, tetapi pribadi individu itu
terbentuk dari jaringan hubungan bermacam-macam motif.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis motivasi tersebut dapat
menjadi dasar dalam upaya menggerakkan motivasi belajar siswa. Upaya-upaya
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut melalui proses pembelajaran hanya
dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu.
d.
Ciri-ciri
Motivasi
Karakter
individu yang memiliki motivasi tinggi (Ibrahim, 2005:27) yaitu :
1). Senang bekerja
keras untuk mencapai keberhasilan.
2). Selalu khawatir
mengalami kegagalan.
3). Cenderung bertindak
atau menetapkan suatu pilihan yang realistis.
4). Senang berkompetisi
yang sehat.
5). Bertanggung jawab
atas pilihan atau perbuatannya.
Menurut
Tension reduction motivation, motivasi
terbentuk karena adanya kebutuhan (needs)
yang tidak terpenuhi, sehingga individu mengalami tekanan. Pada saat kebutuhan
belum terpenuhi, individu mengalami ketidakseimbangan. Untuk mengurangi tekanan
tersebut individu melakukan suatu usaha (drive)
tertentu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga ada keseimbangan dalam
dirinya. Tinggi rendahnya motivasi menunjukkan pada perbedaan kecenderungan
individu dalam berusaha untuk meraih suatu prestasi.
Landasan
pemikiran diatas, sejalan dengan konsep motivasi berprestasi Mc Clelland (dalam
salam, 2000:12). Maksudnya bahwa motif yang ada pada setiap individu, meliputi
motif berprestasi, persahabatan dan berkuasa. Motivasi berprestasi merupakan
kondisi psikologi yang mendorong atau menggerakkan, untuk memenuhi keinginan
atau kebutuhannya. Manusia bertingkah laku karena didorong oleh adanya
kebutuhan, sehingga tingkah laku seseorang bergantung pada factor kebutuhan
tersebut.
1).
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja secara terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti
sebelum selesai)
2).
Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak cepat puas dengan
prestasi yang telah dicapainya.
3).
Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa (politik,
penentangan terhadap tindak criminal, amoral dan sebagainya)
4).
Lebih senang bekerja mandiri
5).
Cepat bosan pada tugas-togas rutin (hal-hal yang bersifat mekanis,
berlang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif)
6).
Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)
7).
Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya itu
8).
Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Apabila
seseorang memiliki ciri-ciri seperti diatas berarti seseorang itu selalu
memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi itu sangat penting dalam
kegiatan belajar. Kegiatan belajar akan berhasil baik kalau siswa tekun
mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan masalah dan hambatan. Siswa yang
belajar dengan baik tidak akan terjebak sesuatu yang rutinitas. Dengan tidak
bermaksud mengabaikan factor-faktor yang lain, dalam penelitian ini ciri-ciri
motivasi yang akan diungkap adalah :
a).
Senang bekerja keras untuk mencapai keberhasilan.
b).
Ulet menghadapi kesulitan belajar
c).
menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah belajar.
d).
Lebih senang bekerja sendiri.
e).
Cenderung bertindak atau menetapkan pilihan yang realistis.
f). Senang berkompetisi secara sehat.
g).
Tidak mudah melepas hal yang diyakini.
h). Bertanggung
jawab atas pilihan atau perbuatannya.
e. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Mengingat
seseorang untuk belajar diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essential condition of learning. Menurut Sardiman
(2007 : 85) terdapat tiga fungsi motivasi dalam belajar, antara lain :
1)
Mendorong manusia untuk berbuat, jadi
sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energy ;
2)
Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah
tujuan yang hendak dicapai.
3)
Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan
perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan
dengan menyisikan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut.
Berarti
bahwa motivasi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam suati kegiatan, akan
mempengaruhi kekuatan dari individu yang melakukan kegiatan tersebut, tetapi
motivasi juga dipengaruhi oleh tujuan. Makin tinggi dan berarti suatu tujuan,
makin besar motivasinya, dan makin besar motivasi akan makin kuat kegiatan
individu dilaksanakan. Ketiga komponen kegiatan atau perilaku individu tersebut
saling berkaitan erat dan membentuk suatu kesatuan yang disebut sebagai proses
motivasi . proses motivasi meliputi tiga langkah yaitu :
1)
Adanya suatu kondisi yang terbentuk dari
tenaga-tenaga pendorong (desakan, motif, kebutuhan dan keinginan) yang
menimbulkan suatu ketegangan atau tension.
2)
Berlangsungnya kegiatan atau tingkah
laku yang diarahkan pada pencapaian sesuatu tujuan yang akan mengendurkan atau
menghilangkan ketegangan,
3)
Pencapaian tujuan dan berkurangnya atau
hilngnya ketegangan. (Oemar Hamalik,2000:72),
Motivasi
mempunyai dua fungsi yaitu :
a)
Mengarahkan atau directional function,dan
b)
Mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan activating and energizing function.
Maksudnya bahwa dalam
mengarahkan kegiatan, motivasi berperan mendekatkan atau menjauhkan individu
dari sasaran yang akan dicapai. Apabila sesuatu sasaran atau tujuan merupakan
sesuatu yang diinginkan oleh individu, maka motivasi berperan mendekatkan (approach motivation), dan bila sasaran
atau tujuan tidak diinginkan oleh individu, maka motivasi berperan menjauhi
sasaran (avoidance motivation). Karena
motivasi berkenaan dengan kondisi yang cukup kompleks, maka terjadi bahwa
motivasi tersebut sekaligus berperan mendekatkan dan menjauhkan sasaran (approach – avoidance motivation).
Motivasi
intrinsik maupun ekstrensik sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan
penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan.
Dorongan adalah fenomina psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk
bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik
dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi
dalam setiap perbuatan dalam belajar (Syaiful Bahri djamrah,2002:122). Siswa
yang memiliki motivasi belajar
Motivasi
juga berfungsi mengaktifkan atau meningkatkan kegiatan.
Menurut sifatnya
motifasi dibedakan atas tiga macam, yaitu:
1)
Individu melakukan sesuatu perbuatan karena
takut;
2)
Individu melakukan sesuatu perbuatan
untuk mendapatkan sesuati insentif;
3)
Sikap atau attitude motivation atau self
motivation. Motivation ini bersifat intrinsic, muncul dari dalam diri
individu.motivasi ini datang dari dirinya sendiri karena adanya rasa senang
atau suka serta factor-faktor subjektif lainya (Sardiman, 2007:11).
Kompleknya
masalah motivasi ini, berhubungan erat dengan kompleksnya kepribadian individu,
sebab motivasi bukan hanya memegang peranan penting dalam kepribadian, tetapi pribadi
individu itu terbentuk dari jaringan hubungan bermacam-macam motif.
Motivasi
mendasari semua perilaku individu, bedanya sesuatu perilaku mungkin dirasakan
dan di dasari pada perilaku lain tidak, pada sesuatu perilaku sangat kuat dan
pada perilaku lain kurang. Bagi seorang guru atau pendidik peran motivasi ini
penting sekali. Mendidik atau mengajar merupakan pekerjaan yang rumit dan
kompleks. Kompleks karena banyak hal yang harus difahami, dipersiapkan dan
dilakukan. Rumit karena subjek didik adalah manusia yang serba misterius.
Mendidik dan mengajar memerlukan kesabaran, ketekunan, ketelitian, tetapi juga
kelincahan dan kreativitas. Semuanya itu membutuhkan adanya motivasi mendidik
dan mengajar yang cukup tinggi dari guru atau pendidik, agar ia tidak lekas
bosan dan putus asa.
Dalam
kaitanya dengan belajar, motifasi sangat erat hubungannya dengan kebutuhan
aktualisasi diri sehingga motivasi palingbesar pengaruhnya pada kegiatan
belajar siswa yang bertujuan untuk mencapai prestasi tinggi. Apabila tidak ada
motivasi belajar dalam diri siswa, maka akan menimbulkan rasa malas untuk
belajar baik dalam mengikuti proses belajar mengajar maupun mengerjakan
tugas-tugas individu dari guru. Orang yang mempunyai motivasi yang tinggi dalam
belajar maka akan timbul minat yang besar dalam mengerjakan tugas, membangun
sikap dan kebiasaan belajar yang sehat melalui penyusun jadual belajar dan
melaksanakannya dengan tekun. Indicator dari motivasi menurut (Max Darsono,
2000:65 ; Dimyati dan Mudjiono,2000:90-92), yaitu:
1)
Cita-cita
Cita-cita
adalah sesuatu target yang ingin dicapai. Target ini diartikan sebagai tujuan
yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang.
Munculnya cita-cita seseorang di sertaidengan perkembangan akar, moral kemauan,
bahasa dan nilai-nilai kehidupan yang juga menimbulkan adanya perkembangan
kepribadian.
2)
Kemampuan belajar.
Setiap
siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Hal ini diukur melalui taraf
perkembngan berfikir siswa, dimana siswa yang taraf perkembangan berfikirnya
konkrit tidak sama dengan siswa yang sudah sampai pada taraf perkembangan
berfikir rasional. Siswa yang merasa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan
sesuatu, maka akan men dorong dirinya berbuat sesuatu un tuk dapat mewujudkan
tujuan yang ingin diperolehnya dan sebaliknya yang merasa tidak mampu akan
merasa malas untuk brbuat sesuatu.
3)
Kondisi siswa.
Kondisi
siswa dapat diketahui dari kondisi fisik dan kondisi psikologis, karena siswa
adalah makhluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Kondisi fisik siswa lebih
cepat diketahui daripada kondisi psikologis. Hal ini dikarenakan kondisi fisik
lebih jelas menunjukkan gejalanya daripada kondisi psikologis.
4)
Kondisi Lingkungan
Kondisi
lingkungan merupakan unsure yang datang dari luar diri siswa yaitu lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan fisik sekolah, sarana dan
prasarana perlu ditata dan dikelola agar dapat menyenangkan dan membuat siswa
merasa nyaman untuk belajar. Kebutuhan emosional psikologis juga perlu mendaat
perhatian, misalnya kebutuhan rasa nyaman, berprestasi, dihargai, diakui yang
harus dipenuhi agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.
5)
Unsure-unsur dinamis adalah unsure-unsur
yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat,
kadang-kadang lemah, dan bahkan hilang sama sekali misalnya gairah belajar, emosi
siswa dan lain-lain. Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan
pikiran yang mengalami perubahan selama proses belajar, kadang-kadang kuat atau
lemah.
6)
Upaya guru membelajarkan siswa.
Upaya
guru membelajarkan siswa adalah usaha guru dalam mempersiapkan diri untuk
membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik
perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru hanya
sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titik tolak, besar
kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga motivasi belajar siswa
menjadi melemah atau hilang.
Motivasi
sangat penting dalam proses dalam proses belajar mengajar, karena motivasi
dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang
berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Dalam proses balajar mengajar
tersebut diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan motivasi siswa,
sehingga siswa yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Gejala kurang motivasi belajar akan dimanifestasikan, baik secara langsung
maupun tidak langsung dalam tingkah laku. Beberapa ciri tingkah laku yang
berhubungan dengan rendahnya motivasi belajar :
a)
Malas melakukan tugas kegiatan belajar,
seperti malas mengerjakan PR, malas dalam membaca dan lain-lain.
b)
Bersikap acuh tak acuh, menentang dan
sebagainya.
c)
Menunjukkan hasil belajar yang rendah di
bawah nilai rata-rata yang dicapai kelompoknya atau kelas.
d)
Menunjukkan tingkah laku sering
membolos, tidak mengerjakan tugas yang diberikan dan sebagainya.
e)
Menunjukkan gejala emosional yang tidak
wajar seperti pemarah, mudah tersinggung.
Motivasi
mempunyai fungsi yang sangat penting dalam belajar siswa, karena motivasi akan
menetukan intensitas usaha belajar yang dilakukan oleh siswa. (Yusuf, 2003 :
14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi yang tinggi, belajarnya
lebih baik dibandingkan dengan para siswa yang memiliki motivasi rendah. Hal
ini berarti siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun dalam
belajar dan terus belajar secara kontinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat
mengesampingkan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar.
Dari
pendapat diatas sangat jelas bahwa motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong
usaha dan pencapaian prestasi. Dengan adannya motivasi yang baik dalam belajar
akan menunjukkan hasil yang baik pula. Dengan kata lain bahwa dengan adanya
usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seorang siswa yang
belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi
seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar.
Motivasi sanagat penting dalam proses belajar mengajar, karena motivasi dapat
mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan
dengan kegiatan belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersebut
diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan motivasi siswa, sehingga siswa
yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
f. Cara-cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Ada
beberapa cara untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain dengan :
memberi angka, hadiah, saingan/kompetisi, ego-invilvement, member ulangan,
mengetahui hasil, pujian, hukuman hasrat untuk belajar, minat dan tujuan yang
diakui (Sardiman,A.M,2001 :90).sebagai seorang guru/pembimbing dalam hubunganya
dengan kegiatan belajar, yang penting adalah bagimana dapat mengarahkan siswa
melakukan aktivitas belajar secara optimal. Dalam hal ini sudah barang tentu
peran para guru sangat penting. Bagaimana guru melakukan usaha-usaha untuk
dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar siswa melakukan aktivitas
belajar dengan baik. Karena untuk dapat belajar dengan baik diperlukan proses
dan motivasi yang baik pula. Untuk itulah para ahli psikologi pendidikan mulai
memperhatikan soal motivasi yang baik.
Ada
empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan
dan peningkatan motivasi belajar siswa/anak didik, yaitu:
1) Guru
harus dapat meningkatkan motivasi anak didik,
2) Memberi
harapan yang realitas,
3) Memberi
insentif,
4) Mengarahkan
perilaku anak didik kea rah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran,
(Syaiful Bahri D,2002 : 135).
Dalam
hal ini perlu ditegaskan bahwa motivasi itu tidak pernah dikatakan meningkat,
apabila tujuan yang di inginkan tidak tercapai dan makin lama semakin menurun.
Memberikan motifasi kepada para siswa berarti menggerakkan siswa untuk
melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan
si subjek belajar itu merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan
belajar.
Jadi
ada bermacam-macam cara yang bisa dikembangkan dan diarahkan dalam memberikan
layanan bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Mungkin pada
mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi
pembimbing harus mampu memberi dorongan dari tahap rajin belajar itu bisa
diarahkan menjadi kegiatan belajar yang makin meningkat dan bermakna, sehingga
hasilnyapun akanmemuaskan dan bermakna bagi kehidupan siswa.
g.
Hubungan Perilaku mencari perhatian di Kelas dengan Peningkatan Motivasi
Belajar Siswa
Motivasi
belajar siswa adalah kecenderungan siswa untuk mencapai aktivitas akademis yang
bermakna dan bermanfaat serta mencoba untuk mendapatkan keuntungan dari
aktivitas tersebut. Menurut Santrock, terdapat dua aspek motivasi belajar yang
dimiliki siswa, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsic. Motivasi
ekstrinsik yaitu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara
untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif
eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid belajar keras dalam
menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Sedangkan motivasi
intrinsic yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu
sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid belajar menghadapi ujian karena
dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu.
Banyak
cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan baik dengan cara yang wajar ataupun
tidak wajar seperti mencari perhatian. Anak mencari perhatian di kelas adalah
sebagai berikut:
1) Tidak
terpenuhinya kebutuhan memperoleh kasih sayang
2) Tidak
terpenuhinya kebutuhan memperoleh harga diri
3) Tidak
terpenuhinya kebutuhan memperoleh penghargaan yang sama dengan orang lain
4) Tidak
terpenuhinya kebutuhan ingin dikenal
5) Tidak
terpenuhinya kebutuhan memperoleh prestasi dan potensi
6) Tidak
terpenuhinya kebutuhan untuk merasa dibutuhkan orang lain.
Faktor
lain yang menunjang keberhasilan belajar siswa adalah minat siswa untuk belajar
dan berusaha. Hal ini berarti kesempatan belajar makin banyak dan optimal jika
siswa tersebut menunjukkan keseriusanya dalam belajar sehingga dapat
membangkitkan minat dan motivasi belajar.
B. Kerangka pikiran
Motivasi
belajar adalah faktor yang dapat menumbuhkan gairah dan semangat untuk belajar.
Setiap siswa diharapkan mempunyai motivasi belajar yang tinggi, untuk itulah
perlu diberikan pelayanan bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi belajar
siswa, sehingga diharapkan ada peningkatan motivasi belajar pada siswa.
Penyebab
anak berperilaku mencari perhatian di kelas adalah adanya pengaruh dari sikap
orang tua yang buruk atau tidak tidak baik:
a.
Menghukum secara kasar
b.
Sering tidak hadir
c.
Mengalangi minat dan kegiatan anak
d.
Berusaha membentuk anak menurut suatu
pola
e.
Memberikan contoh yang buruk
f.
Suka jengkel dan marah
g.
Menunjukkan sedikit kasih sayang
terhadap anak
h.
Marah-marah bila anak itu membuat
kesalahan tidak sengaja
i.
Menunjukkan sedikit perhatian terhadap
anak atau kegiatan anak
j.
Melarang atau tidak mendorong teman
untuk berkunjung
k.
Bersikap jahat terhadap anak
l.
Tidak mendorong anak melarang anak
bermain dengan temannya
m. Berusaha
mengikat anak
n.
Mempunyai harapan yang tidak realistic
untuk anak
o.
Mengancam atau menyalahkan anak bila
gagal
p.
Membuat suasana rumah tegang dan tidak
menyenangkan bagi semua.
Sifat-sifat
tersebut diatas bila terjadi pada seorang anak, akan mengakibatkan anak
frustasi, mengalami gangguan mental perkembangan anak menjadi lambat, anak
cenderung menjadi penakut dan minder. Untuk itu anak cenderung melakukan
pelampiasan mencari perhatian di kelas. Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat
kerangka pikir sebagai berikut:
|
Perhatian
|
|
Peningkatan
Motivasi Belajar
|
Gambar 1. Kerangka Pikir
C.
Hipotesis
Menurut Nana Sudjana, “Hipotesis adalah
dugaan sementara terhadap pernyataan penelitian”.(Nana Sudjana, 2001 : 12).
Menurut Husaini Usman dan Purnomo (2003
: 38),”Hipotesis adalah pernyataan atau jawaban sementara terhadap rumusan
penelitian yang dikemukakan”.
Dari dua pendapat di atas dapat di
analisa bahwa hipotesis merupakan dugaan sementara atau jawaban sementara
terhadap rumusan penelitian yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut: “Terdapat hubungan perilaku siswa mencari
perhatian dikalas dengan peningkatan motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP
Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 ”.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A . Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pulokulon
Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan
2. Waktu
penelitian
Penelitian dilakukan selama 3 bulan dari bulan
Desember sampai Februari 2011
B
. Metode Penelitian
Mengadakan
sesuatu penelitian pasti akan menggunakan cara-cara khusus untuk mendapatkan
bahan penelitian maupun dalam usaha menemukan permasalahan. Maka sebelum
membicarakan mengenai metode ataupun prosedur penelitian, terlebih dahulu perlu
untuk memahami masalah metode dalam penilaian sendiri.
Banyak
pengertian tentang metodologi, seperti yang dikemukakan oleh Sudjana, yaitu
sebagai berikut: “Metodologi berasal dari bahasa yunani yaitu Meta dan Hodos,
Meta artinya melalui atau melewati, dan Hodos artinya jalan atau cara yang
harus dicapai untuk meraih tujuan tertentu. Logi dari kata logos yang artinya
ilmu. Dengan demikian arti dari Metodologi adalah suatu yang membicarakan
tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu”.
(Sudjana, 2000 : 10).
Berdasarkan
uraian tersebut diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa metodologi
adalah merupakan suatu jalan yang harus dilakukan untuk menemukan,
mengembngkan, dan menguji kebenaran dari penelitian yang dilakukan dengan
menggunakan metode ilmiah.
Menurut
pendapat Winarno Surakhmad, tentang pengertian metodologi adalah sebagai
berikut: “Metodologi adalah usaha untuk menetukan, mengembangkan dan menguji
kebenaran dari suatu pengetahuan, usaha mana dilakukan dengan menggunakan
metode-metode”. (Winarno Surakhmad, 2000 : 6)
Jadi
metode penelitian adalah cara kerja atau jalan yang harus ditempuh untuk memecahkan
masalah pada suatu penelitian. Dalam metode penelitian sendiri diharapkan dapat
diperoleh data ilmiah yang dapat diterima oleh pikiran atas dasar bukti-bukti
konkret dan sistematis, yang sebenarnya dalam metode penelitian itu terkadang
suatu maksud usaha efektivitas untuk menguji kebenaran.
Penelitian
ini adalah penelitian deskriptif korelasional yang bermaksud mengkaji korelasi
mencari perhatian di kelas dengan peningkatan motivasi belajar pada siswa kelas
VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
Purwanto (2008 : 177) berpendapat,
“Penelitian korelasi adalah penelitian yang melibatkan hubungan satu atau lebih
variable dengan satu atau lebih variable lain. “ Saiffudin Azwar (2007:21)
berpendapat hampir sama, bahwa, “penelitian korelasional bertujuan untuk
mengetahui keeratan hubungan diantara variable-variabel yang diteliti tanpa
melakukan suatu intervensi terhadap variable-variabel yang bersangkutan.”
Dengan demikian, penelitian korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
dua atu lebih variable.
C
. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Saifuddin
Azwar, (2007:77) berpendapat, “populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek
yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian”. Suhasimi Arikunto
(2006:130) mengemukakan pendapat senada, “populasi adalah keseluruhan subyek
penelitian.”Encyclopedia of Educational
Evaluation, tertulis, “A population
is a set all elements prosessing one or more attributes of interest; artinya,
populasi adalah suatu set (atau kumpulan) dari semua elemen yang memproses satu
atau lebih sifat-sifat kepentingan.” Dengan demikian, populasi adalah
keseluruhan subyek yang mempunyai satu sifat atau beberapa karakteristik yang
sama yang dijadikan subyek penelitian.
Adapun
yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP
Negeri 1 Pulokulon Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012 sebanyak 332
siswa.
2. Sampel
Suharsimi
Arikunto (2006:131) berpendapat, “sampel adalah sebagian atau wakil populasi
yang diteliti”, sedangkan Soenarto (dalam Purwanto, 2008:242) mengatakan bahwa,
“sampel adalah suatu bagian yang dipilih dengan cara tertentu untuk mewakili
keseluruhan kelompok populasi “. Dengan demikian, sampel adalah bagian atau
wakil dari populasi yang diteliti. Sampel yang diambil dari populasi bukan semata
–mata sebagian populasi, tetapi haruslah representative (mewakili).
Apakah
suatu sampel merupakan representasi yang baik bagi populasinya sangat
tergantung pada sejauh mana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik
populasinya. Saifuddin Azwar (2007:79) mengatakan,”karena analisis penelitian
didasarkan pada data sampel, sedangkan kesimpulanya nanti akan diterapkan pada
populasi, maka sangatlah penting untuk memperoleh sampel yang representative
bagi populasinya.”Pendapat senada dikemukakan Soegiyono ( dalam
Purwanto,2008:243) yang mengatakan bahwa, “bila sampel yang dipilih tidak
representative maka kesimpulan yang dibuat atas populasi menjadi salah.” Dengan
demikian, sampel yang dipilih harus mewakikili populasi penelitian agar tepat
dalam penarikan kesimpulan sampel (sampling
techniques) yangtepat. Sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 30 siswa.
3. Teknik Sampling
Teknik
Sampling adalah teknik untuk menetukan sampel. Menurut Muhadjir (2002:63)
konsep dasar pengambilan sampel adalah representative terhadap populasi,
setidaknya dilakukan melalui empat cara yaitu:
1)
Pengambilan secara sistematik
2)
Acak
3)
Kuota
4)
Purposive
Penelitian
ini pengambilan sampel dilakukan secara acak atau random. Menurut Cholid
Narbuko dan Abu Ahmadi (2003 :111-112), cara ini lebih mantab untuk dipilih
karena pengambilan sampel yang tanpa dipilih atau tanpa pandang bulu didasarkan
atas prinsip-prinsip matematis yang telah diuji dalam praktek.
Berdasarkan
pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian dari
jumlah populasi yang mewakili seluruh populasi yang ada. Dalam penelitian ini
teknik sampling g yang digunakan adalah Propotional Randum Sampling yaitu cara
pengambilan sampel secara random didasarkan pada kelompok, tidak didasarkan
pada kepentingan anggota-anggotanya. Ukuran sampel yang diambil sebesar 10%
lebih dari populasi. Hal ini sesuai ketentuan bahwa jika subyek penelitian
lebih besar dari 100 dapat diambil 10-15% atau 20-25% sebesar 30 siswa.
D . Variabel Penelitian
Variable adalah obyek yang akan
diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto (2002:144) variable adalah obyek
penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Menurut Y.W Best dalam Sanapiah Faisal (
Cholid dan Abu Ahmad, 2003:118) lebih tegas mengatakan bahwa variable
penelitian merupakan kondisi-kondisi atau serenteristik-serenteristik yang oleh
peneliti dimanipulasikan, diobservasi dalam suatu penelitian.
Variable dalam penelitian tentang
hubungan mencari perhatian di kelas dengan peningkatan motivasi belajar siswa
kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon ini ada 2 yaitu:
a.
Variable Independent/variable bebas (x)
adalah perilaku siswa mencari perhatian di kelas.
b. Variable
dependent/terikat (y) adalah peningkatan motivasi belajar siswa.
E
. Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan
metode dokumentasi, observasi maupun metode angket.
1.
Metode Dokumentasi
Dokumentasi
berasal dari bahasa inggris “documentation” yang berarti pembuktian dengan
memperlihatkan naskah-naskah yang bertalian.
Winarno
Surachman merumuskan pengertian dokumentasi sebagai laporan tertulis dari suatu
peristiwa, yang isinya terdiri atas penjelasan-penjelasan dan
pemikiran-pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk
mengumpan atau meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut.
Teknik
dokumentasi adalah teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dengan
usaha mempelajari dan membuktikan laporan tertulis dari suatu peristiwa yang
isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran yang bertalian dengan yang
dibutuhkan.
Pengumpulan
data dengan mempergunakan metode dokumentasi berarti suatu cara pengumpulan
data dengan mengambil data dari sumber-sumber dokumen yang ada. Di dalam
penyelidikan ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang
siswa sebagai subyek penelitian.
2.
Metode Angket
Menurut
Suharsimi Arikunto (2002:128), Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya atau hal-hal yang diketahui.
Pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa metode angket adalah teknik pengumpulan data
yang berupa daftar sejumlah pertanyaan mengenai sesuatu hal secara tertulis
yang harus dijawab atau diisi oleh responden.
Pengguna
angket sebagai metode pengumpulan data, karena mempunyai beberapa kelebihan
antara lain:
1)
Jawaban responden dapat dinyatakan
benar, jujur, dan dapat dipercaya,
2)
Pemahaman responden tentang
pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner adalah sama dengan yang dimaksud oleh
peneliti,
3)
Hasilnya mudah diolah, diberi kode dan
diskor, bahkan dapat diolah dengan menggunakan program computer
4)
Responden merupakan orang yang paling
tahu tentang dirinya, sehingga kuesioner tepat untuk mengungkap pendapat dan
pandangan orang lain
5)
Memberikan waktu yang cukup kepada
responden untuk berpikir dalam menjawab kuesioner ( Suharsimi Arikunto, 2002 :140-141),
6)
Mempermudah siswa dalam meberi jawaban
7)
Data yang diperolehdapat cepat samapai
pada peneliti
8)
Mempermudah peneliti dalam menganalisis
9)
Reponden/siswa dapat mengungkapkan
dirinya tanpa ada tekanan dari orang lain
Meskipun
demikian pengumpulan data dengan metode angket juga terdapat kelemahan, antara
lain:
1)
Responden tidak dapat di jamin untuk
memberikan jawaban secara tepat
2)
Ada kemungkinan seluruh lembar kuesioner
tidak diisi semua sehingga hal ini perlu dipertimbangkan
3)
Pertanyaan dan jawaban dalam angket
tertentu tidak dapat diubah sesuai dengan kemampuan responden sehingga sifatnya
kaku
4)
Pertanyaan yang disajikan bersifat
terbatas, sehingga tidak dapat mengungkapkan data lebih, lengkap atau hal-hal
yang mungkin tidak dapat terungkap (Suharsimi Arikunto, 2002:33).
Metode
dalam penilaian ini menggunakan metode angket. Angket digunakan untuk mencari
informasi dan mengungkap data tentang hubungan mencari perhatian di kelas
dengan motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten
Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
Angket
yang digunakan pada penelitian ini bersifat tertutup krena pertanyaan yang
diberikan pada responden telah disediakan jawaban dengan taraf kesetujuan atau
ketidak stujuan dalam variasi-variasi sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju
(TS) dan sangat tidak setuju (STS). Berdasarkan isinya, angket dalam penelitian
ini memuat pertanyaan mendukung atau positif dengan skor : SS=4,S=3,TS=2, dan
STS=1, sedangkan untuk sekor tidak mendukung atau negative adalah:
SS=1,S=2,TS=3 dan STS=4. Alternative jawaban yang di sediakan menggunakan
pilihan sebagai berikut: sangat sesuai (SS) diberi skor 4, sesuai (S) diberi
skor 3, Ragu-ragu (RR) diberi skor 2, sedangkan Tidak Sesuai (TS) diberi skor
1.
F . Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas
Validitas
adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesalahan
suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas
tinggi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus korelasi Product Moment
(Arikunto, 2002:146) sebagai berikut:
rxy =Koevisien korelasi
N =Jumlah responden
Sxy =Jumlah hasil x dan y
Sx =Jumlah x
Sy =Jumlah y
X =Variabel bebas
Y =Variabel terikat
2.
Relibialitas
Reliabilitas
menunjukkan pada satu pengertian bahwa suatu instrument tercukup dapat
dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrument
tersebut sudah baik. Instrument yang baik akan bersifat tendensius yaitu
responden untuk memilih jawaban tertentu. Reliable artinya dapat dipercaya,
jadi dapat diandalkan (Arikunto, 2002:154).
Untuk
mengetahui reliabilitas angket digunakan rumus Alpha sebagai berikut :
r
11 = Relibilitas instrument
k = Banyaknya butir pertanyaan
Sb2 = Jumlah Varians butir
St2 =
Varians total
Setelah
diperoleh hasil perhitungan r 11, kemudian
dicocokan dengan nilai r tabel. Bila
, hasilnya lebih dari r tebel
(r
tabel>rtabel
)
maka angket tersebut reliable.
G.
Teknik Analisis Data
Pada prinsipnya analisis (pengolahan
data ada dua cara, hal ini tergantung dari datanya yaitu :
1.
Analisis non statistic
2.
Analisis statistic yang terdiri dari :
a.
Stautistik deskriptif
b.
Statistik inferensial
Dalam
penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis jenis statistic inferensial karena
peneliti akan menarik kesimpulan dari hipotesis. Peneliti akan menguji
hipotesis dan seberapa besar “Hubungan siswa mencari perhatian dikelas dengan
peningkatan motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pulokulon Kabupaten
Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012”. Karena dari judul ini diketahui hanya ada
satu predictor maka dalam analisis data menggunakan teknik “Analisis Regresi Linier Sederhana ‘
dengan persamaan :
Keterangan:
X =variable yang telah
diketahui
a
dan b =Bilangan konstan
(Sudjana N dkk,2001:159)
DAFTAR
PUSTAKA
Bernard
apoduska. 2000. 4 teori kepribadian
(Eksistensialis Behavioris, Psikoanalitik,
Aktualisasi Diri). Disadur oleh R. Turman Sirait, Jakarta : Restu Agung.
Bimo Walgito,
2005. Bimbingan dan Konseling.
Yogyakarta : Andi Offset,
Bloom dalam
Soerjono Soekanto. 2002. Pengendalian
Sosial. Jakarta : Rajawali.
Cholid Narbuko
dan Abu Ahmadi. 2003. Psikologi Belajar.
Jakarta : Rineka Cipta.
Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
Rineka cipta.
Ernes R. Hilgard
dalam S. Nasution. 2000. Psikologi Perkembangan
Anak dan Remaja. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya Offset.
G.R. Terry yang
diterjemahkan oleh J Smith D.F.M. 2003. Prinsip-prinsip
Manajemen. Terjemahan J Smith D.F.M.
Jakarta: Bumi Aksara
Hawley
dalam Yusuf, 2003. Motivasi Dalam Belajar.
Jakarta. P2LPTK.
Husaini
Usman dan Purnomo. 2003. Metodologi
Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.
Ibrahim, 2005. Dasar-dasar Komunikasi dan Keterampilan
Dasar mengajar, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
Lutfi Fauzan,
2003. Konseling Behavioral Kelompok.
Malang : FIP Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Mc
Clelland dalam Salam, 2000. Administrasi
Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia
Malayu S.P
Hasibuan, 2001. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Maufur S.P
Hasibuan, 2003. Belajar dan Pembelajaran
Dalam Taraf Usia Dini, Jakarta : Prehalindo.
Max Darsono,
Dimyati dan Mudjiono, 2000. Belajar dam
Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Mohammad Asrori.
2008. Psikologi Remaja. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya Offset
Moh.
Uzer Usman. 2001. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Nana Sudjana.
2001. Penilaian Hasil Proses Belajar
mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ngalim
Purwanto. 2004. Psikologi Pendidikan.
Bandung : Rosda Karya.
Oemar hamalik,
2000. Psikologi Belajar dan Mengajar.
Bandung : sinar baru Algensindo.
Purwanto. 2008. Metodologi penelitian Kuantitatif Untuk
psikologi dan pendidikan. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.
Saiffudin
Azwar. 2007. Realibilitas dan validitas.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sardiman.
2004. Interaksi dan Motivasi belajar
mengajar. Jakarta : CV. Rajawali.
--------------.2007.
Interaksi dan Motivasi belajar mengajar.
Jakarta : rajawali Press.
Siti Rahayu
Hadinata, 2004. Psikologi Perkembangan.
Yogyakarta : Gajahmada University Press.
Suharsimi
Arikunto. 2002. Prosedur penelitian,
Jakarta : Rineka cipta.
--------------------------.
2006. (edisi Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik revisi VI).
Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi
Suryabrata. 2000. Psikologi Pendidikan
(Suatu Penyajian Secara Operasional). Yogyakarta : Rake Press.
---------------------------.
2004. Metodologi Penelitian. Jakarta
: PT Raja Grafindo.
Syaiful
Bahri Djamrah. 2002. Psikologi Belajar.
Jakarta : Bineka Cipta.
Winarno
Surakhmad, 2000. Pengantar Interaksi
Mengajar belajar, Dasar dan Teknik
Metodologi. Bandung : Tarsito.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar